Top Ad 728x90

Thursday, August 4, 2016

, , ,

Ikhlaskah Aku Bersuami Seorang Pengangguran?

wanita sedih
Ilustrasi - gambardankata.com
Cerpen Fiksi Karya Fiksi Karya Fiktif- Aku bekerja menafkahi keluarga kecilku. Setiap hari tiada tanggal merah dalam kalender tak tertulis hidupku. Dari pagi sampai malam menjelang waktu kuistirahatkan penat, masih saja tersisa pekerjaan yang membuatku tak bisa memejamkan mata. Sehingga jadi benar filosofi yang kudengar selama ini, tugasku tak akan pernah lekang dari dapur, kasur dan sumur! 

Aku keberatan? Rasa lelah kujawab iya. Jika kulayangkan somasi atas berat tanggung jawabku, aku harus mengirim surat permohonan ganti posisi kepada Tuhan. Kodratku adalah perempuan yang secara tidak tertulis wajib menjalankan tiga kewajiban tersebut. Mau tidak mau, dari masa ke masa aku memikul beban yang sama dengan perempuan mana pun. 

Saat mengandung, akulah yang susah menunggu kelahiran anak sampai sembilan bulan. Saat menyusui, akulah yang terbangun di tengah malam gulita. Saat mengajarkan huruf-huruf abjad, akulah yang ditanyai. Saat anakku paham bahasa, akulah yang menjadi pusat kebenaran. Saat semua masih terlelap, akulah yang pontang-panting menyiapkan sarapan di pagi buta untuk keluarga. Saat semua sudah tertidur, akulah yang rutin memeriksa seluruh isi rumah sampai benar-benar aman tak ada pintu atau jendela yang masih terbuka. 

Kujalani semua amanah Tuhan kepadaku, menjaga suami dan anak-anak selalu dalam keadaan baik-baik saja. Mungkin orang menganggap baik, keluargaku selalu baik. Aku pun membenarkan jika keluargaku tak ada prahara yang sampai membuat suami main perempuan lain, atau anak-anak mencari kesenangan masing-masing. Selama ini, aku masih mampu mengendalikan keluarga kami agar tetap harmonis. Dalam hal apa pun, aku selalu menuruti keinginan suami dan anak-anak. Namun, dalam hal tertentu aku kadang sangat lelah ingin segera membaringkan tubuh di alas lembut. 

Aku punya suami seorang pengangguran. Seharusnya tidak perlu kukatakan begitu, tapi aku harus mengatakannya. Di kota kami, suamiku termasuk seorang lelaki yang tidak punya pekerjaan tetap. Sewaktu lajang, suamiku kerja semrautan memenuhi kebutuhan hidupnya yang tak seberapa. Benar saja, suamiku tidak merokok sehingga tidak perlu merongoh kocek lebih banyak dibandingkan laki-laki lain. Untuk urusan keluarganya pun, suamiku tak ambil pusing karena anak bungsu dengan suka hati menjalani hidupnya yang mewah. Kebutuhan suamiku ditanggung saudaranya yang lain, bahkan mertuaku. 

Kini? Semua beban material rumah tangga aku yang pikul. Akulah perempuan penuh kekuatan yang bekerja siang malam. Sebagai seorang pegawai negeri, tentu aku harus menghemat tenaga agar pekerjaanku tidak menumpuk. Sebagai ibu rumah tangga, aku juga punya tanggung jawab yang tidak sedikit dibandingkan laki-laki mana pun. 

Aku bekerja di salah satu kantor milik pemerintah di kota kecil kami. Keseharianku penuh dengan pekerjaan yang berhubungan dengan kesehatan masyarakat, sesekali aku melakukan penyuluhan keluarga sehat ke kampung-kampung terpencil. Aku memang bukan seorang dokter, namun pekerjaanku sangat berhubungan dengan dunia medis. Di bawah perlindungan kantorku, para dokter bisa mengepak sayap ke mana-mana memberikan pelayanan kesehatan mereka. 

Aku mengejar rejeki yang berserak, kebutuhan suami dan anak-anak harus terpenuhi sampai akhir bulan. Suamiku sudah mengganti posisi ibu untuk kedua anak kami. Nayla yang berumur enam tahun sudah duduk dibangku kelas satu sekolah dasar. Adiknya Nayla, Raka, baru saja berumur satu setengah tahun. Dan kedua anakku ini dibawah kendali ayah mereka. Sering pula Nayla jadi sangat keras kepala waktu kuminta mengerjakan tugas sekolah, kuperhatikan sejenak, hal itu tak lain dari watak suamiku yang sering mengajarkannya pada Nayla. Putri sulung kami ini sudah sangat berprinsip, di usianya yang masih kanak-kanak Nayla sudah berpikir kritis akan banyak hal dan tentu saja sudah punya keputusan kuat. Sekali Nayla katakan benar, tak akan pernah Nayla udah jadi tidak. Sekali Nayla ingin baju yang baru dilihat di iklan, sampai kapan pun Nayla tak akan pernah mau menerima baju yang sama walau harganya lebih mahal. 

Entahlah, aku tidak begitu tahu apa yang dilakukan suamiku sejak pagi sampai sore hari dengan kedua anak kami. Sedikit tidaknya, watak suamiku sebagai lelaki keras dan tangguh sudah tertular pada Nayla. Aku pun tidak bisa memungkiri bahwa anak seusia Nayla sangat mudah meniru sesuatu yang baru. Dan yang lebih mencengangkan bagiku, Raka pun ikut-ikutan rewel saat tidak ayahnya tak ada di rumah. Raka sering melimpahkan airmata di tengah malam buta saat suamiku keluar rumah nonton bola bersama teman-temannya. Raka pun tidak pernah mau menerima dongeng sebelum tidur saat susu formula kebanggaannya habis di lemari kaca rumah kami. Raka juga sama kerasnya dengan Nayla, dalam usia balita putra kami ini kerap menunjuk mainan mobil-mobilan mahal. Entah apa yang terjadi, setiap kali Raka melihat mainan di iklan kami harus membeli yang sama. Aku malah bingung bagaimana Raka bisa membedakan kemauannya. 

***

Suamiku punya tanggung jawab lain diluar pekerjaannya mengurus Nayla dan Raka. Di lorong rumah kami, suami dipercaya jadi ketua lorong. Setiap warga yang tinggal di lorong B perumahan pegawai ini wajib melapor masalah kepada suamiku. Posisi ini menjadikan suamiku bukan lagi pengangguran banyak acara, yang banyak menghabiskan waktu di warung kopi tanpa ada inti pembicaraan berarti. Suamiku sudah dituakan, walau gaji tak seperapa yang sering direkap menjadi tiga bulan sekali, aku patut menghela nafas setengah panjang. 

Pekerjaan sebagai ketua lorong tidak sama dengan kepala desa. Suamiku tidak berkantor, tidak punya tanggung jawab khusus, tidak punya jam kerja padat pula. Orang-orang baru akan mengedor pintu rumah kami saat suatu masalah terjadi, selain rapat sesekali di balai kampung. 

Biar kupaksakan tentang apa pun, dari segi keuangan suamiku tetap seorang pengangguran!

***

Hari itu Nayla sangat terburu. Tidak seperti biasanya Nayla ingin cepat-cepat ke sekolah. Suamiku masih belum siap dan aku pun masih mengurus Raka yang banyak tingkah sejak subuh. 

Nayla mengeluarkan lengkingan panjang di depanku. 

“Mama nggak ada sedikit pun perhatian kepada kakak!” 

Aku terperangah. Belum pernah kudengar Nayla mengeluarkan kata-kata seperti itu. Kulirik suamiku yang masih terbuai dengan berita korupsi di pagi hari. Suara televisi tak kalah besarnya dari suami Nayla. Seandainya rumah kami tak kedap suara, mungkin saja para tetangga akan mendengar pekikan Nayla. 

“Sabar dulu, kakak,” ujarku menenangkan. 

“Nayla tak sabar, Ma! Selalu Raka, selalu dia!” Nayla mulai mengumpat. Herannya, suamiku tak bergeming. Setiap pagi hanya aku yang sibuk menyiapkan keperluan keluarga, suamiku malah duduk manis denga secangkir kopi di depan televisi. Berita-berita terbaru dari media nasional akan memperkaya bahan debat suamiku dengan teman-temannya di warung kopi. 

Nayla terus mengeluarkan nada protes di sampingku. Raka pun melotot karena perhatianku terbagi. Nayla malah makin tak karuan, menarik-narik lenganku yang sedang menyuapi Raka sarapan. Karena aku tidak mengubris maunya, Nayla menyenggol piring nasi Raka sampai tumpah ke lantai berkeramik putih susu. 

“Nayla!” 

Mata Nayla malah menatapku tajam. Raka mulai menangis. Dan suamiku masih belum beranjak. 

“Pa, isiinlah sebentar nasi Nayla ke tempatnya!” perintahku. 

“Biasanya Mama yang isi,” jawab suamiku tak bergeming. 

Mulai lagi?

Pertengkaran di pagi hari hampir selalu terjadi. Tidak hanya karena alasan Nayla atau Raka. Banyak hal sepele yang membuat sabarku hilang entah ke mana. Seharusnya suamiku paham sedikit saja posisiku, paling tidak membantu pekerjaan rumah di pagi hari. Suami sangat mengerti aku sering tidur larut karena Raka mengamuk minta ini itu. Suami tahu juga rutinitasku di pagi hari, tidak hanya menyiapkan keperluan rumah tangga kami namun harus bergegas ke kantor yang jaraknya lima belas menit perjalanan. Dan suami sangat-sangat tahu, di kantor pekerjaanku menggunung sedangkan suamiku hanya menidurkan Raka lalu bisa duduk kembali di depan televisi. 

“Jam segitu mana ada berita lagi, paling berita gosip artis!” alasan suamiku setiap saat ditegur. 

Aku mendengus. Nayla tidak diam setelah menumpahkan nasi Raka. Raka menangis, Nayla ikut-ikutan adu suara dengan adiknya. Pikiranku tambah kacau. Suamiku seperti sudah tutup telinga mendengar kedua anaknya tersedu-sedan. 

Kutinggalkan Raka dan Nayla yang terus berlomba dengan suara paling keras, kudekati suami dan menyambar remote lalu kumatikan televisi yang sedang memberikan pejabat korupsi. Berita-berita itu lagi. Tidak penting-pentingnya untuk kelangsungan keluarga kami. 

“Lho? Kok dimatikan?” protes suamiku. 

“Itu!” tunjukku ke arah Nayla dan Raka. Kedua anak kami masih berlinang air mata. Raka guling-guling di lantai. Nayla berdiri dengan seragam sekolah sudah rapi. 

“Itu kan tugas Mama,” 

“Tugasku? Papa bantu dong sesekali! Sambil nonton berita tak penting itu Raka bisa disuapi, kan?” 

“Setelah Mama pergi kerja, Papa juga yang suapi Raka!” suamiku malah ngotot. 

“Oya? Jadi menurut Papa, Mama tidak ada campur tangan apa-apa dalam keluarga kita? Dari pagi sampai malam, Mama habiskan waktu untuk keluarga ini. Kok tega-teganya Papa berkata begitu?” suaraku meninggi. 

“Jadi Mama sudah capai bekerja? Pensiun saja!” 

Percuma!

Aku tidak akan pernah menang berdebat dengan suamiku. Laki-laki ini selalu berada di garis batas keinginannya. Aku sangat paham, bahkan sudah kuselami wataknya semenjak kami belum menikah. 

“Terserah! Papa ambil Nayla dan antar dia ke sekolah sekarang, biar saja tasnya kosong tak ada makan apa-apa!” putusku. Kularikan badanku ke tempat Raka. Kupungut putra bungsu kami lalu kubawa ke kamar mandi. Biasanya Raka akan mengakhiri tangisannya selesai dimandikan. 

Mudah sekali suamiku bicara putusan pensiun. Dia pikir hidup kami akan sejahtera saat aku pensiun? Tidak akan pernah. Karena akulah tulang punggung keluarga ini! 

Tak lama suara Nayla pun reda, rayuan suamiku berhasil membuat Nayla berhenti menangis. Dari sudut mata kulihat mereka berlalu. Tak lama suara dengungan sepeda motor keluar dari perkarangan rumah kami. 

Aku terpengkur. Kuperhatikan Raka lekat-lekat. Putraku itu sedang memainkan percikan air. 

Apa jadinya putra kami ini kelak? Beban istrinya juga?

Cerpen Fiksi Karya Fiksi Karya Fiktif

6 komentar:

  1. tapi kalau jodohnya emang pengangguran iya harus diterima, dan memotivas agar mendapatkan pekerjaan.... rezeki jodoh yang ngatur Allah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Semua sudah ada yang atur ya :)

      Delete
  2. kok rasanya kayak baca tulisan yang sedang menyindir saya hahaha
    Sebagai pengangguran (pencari kerja) saya begitu tersindiri akan tulisannya :))

    ReplyDelete
  3. Kasus sama tpi aq msh pacaran .. sdh 3 thn cowo aq nganggur semua kperluan dia aq yg nanggung. Tpi lama kelamaan eneq juga mu putus kasian dia. Tpi klo gini terus kadian aq donk. Hrs bgmn? Nyari kerja apalagi cowo susah bgt.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ketemu jalan keluar ya Mbak Helena :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90