Top Ad 728x90

Saturday, August 20, 2016

,

Inilah Konstribusi Astra Honda dalam Dunia Pendidikan Indonesia

Inilah Konstribusi Astra Honda dalam Dunia Pendidikan Indonesia, Konstribusi Honda, Konstribusi Astra Honda, Konstribusi Astra Honda, Sehat dan Nyaman Anak Diantar ke Sekolah Dibanding Berkendara Sendiri, Sehat dan Nyaman berkendara, Berkendara dengan Sehat dan Nyaman, Usia anak-anak dilarang berkendara, Hukum berkendara bagi anak-anak, Kesemalatan berkendara, asuransi berkendara,


konstribusi Astra Honda dalam pendidikan Indonesia

Pagi yang menyalak begitu cepat. Suara dengung kendaraan bermotor sesak di jalan. Perkampungan yang semula hening tiba-tiba saja telah gaduh. Semua terburu-buru. Semua mengejar waktu. Lebih lagi bagi mereka yang masih usia belia, waktu pagi adalah bencana jika terlambat sedetik saja. Hormat bendera bisa mereka alami apabila terlambat ke sekolah. Anak-anak kini berbeda dengan zaman saya dulu. Dulu, sepeda mendominasi. Sekarang, sepeda motor, salah satunya ASTRA HONDA tampak terparkir di perkarangan sekolah.

Pukul 14.00 waktu Aceh, pintu gerbang sekolah kembali dibuka. Anak-anak bertaburan ke jalan raya dengan semarak, berharap sebentar lagi perut mereka terisi nasi dan bisa segera beristirahat sebelum main bola di sore hari bagi anak laki-laki. Pulang ke rumah usai sekolah merupakan waktu terbaik tiap hari. Entah karena alasan apa, anak-anak selalu senang jika pulang cepat. Letih akan terobati walaupun di meja makan hanya tersedia telur dadar atau ikan asin saja.

Pemandangan tiap pagi dan siang hari di sekolah saya adalah biasa demikian adanya. Anak-anak berkendara seorang diri, berboncengan dan satu dua diantar oleh orang tua. Anak berkendara ke sekolah sudah sangat wajar di lingkungan kami, di tempat saya mengajar yang jauh dari kota besar maupun di Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat, Meulaboh. Anak-anak begitu bangga mengendarai sepeda motor ke sekolah. Ajang pamer ini bukan soal bagus, baru atau mengilapnya kendaraan, namun lebih kepada siapa yang “kokoh” dalam menarik gas. Jiwa muda yang masih mengebu membuat anak-anak sangat telaten menarik gas. Jika di pagi mereka terburu untuk segera sampai tepat waktu, di siang hari melaju kencang karena perut telah sangat keroncongan. 

Sisi hati saya sangat khawatir dengan ajang balapan liar sepulang sekolah. Anak-anak yang masih berusia belasan tahun ini sangat sukar mengartikan makna keselematan. Gundah yang saya rasakan di jalan raya tidak mengalir di dalam diri mereka yang ingin memamerkan kekuasaan saat berkendara. Kehati-hatian yang saya lakukan saat menarik gas tidak dilakukan oleh anak-anak sekolah menengah pertama ini saat mereka melaju kencang. Padahal, kami sama-sama pulang, ke rumah; makan sekenyang perut dan istirahat untuk melelapkan mata letih. 

Tentu, kebiasaan yang tidak baik melepas anak-anak berkendara seorang diri ke sekolah. Jarak dekat atau jauh bukan pertimbangan aman di jalan. Seorang pengendara memang tidak selamanya mendapat sebuah keberuntungan. Ada alasan kenapa seorang calon pengendara mendapatkan Surat Izin Mengemudi (SIM) begitu mereka lulus SMA atau 17 tahun ke atas. Usia memengaruhi pola pikir dan mematangkan segala sisi. Anak-anak yang belum melampaui batas usia yang telah ditentukan tersebut, memiliki rasa yang disebut darah muda. Keinginan di dalam diri mereka tidak dibentengi dengan kewaspadaan sehingga malapetaka mudah terjadi. Jika ini dialami, bukan hanya dirinya saja yang kalut namun orang tua, kerabat dan juga sekolah. 

tips berkendara aman

Kebiasaan mengendarai ke sekolah sepatutnya diubah untuk kebaikan anak-anak di usia mereka. Aksi kebut-kebutan sepulang sekolah pun dapat dihindari dan anak-anak tidak mudah memanipulasi diri sendiri apabila terjadi tabrak lari. Kebiasaan ini tidak hanya milik pandangan saya saja di sekolah ini, di tempat kamu pun barangkali sudah menjadi sangat wajar. Tidak ada yang menarik diri untuk memberikan solusi agar anak-anak tidak berkendara ke sekolah. Orang tua pun lebih memilih membeli sepeda motor lunas atau kredit daripada membeli sepeda konvensional. Zaman yang terus tergerus perubahan, berkendara saja sudah tidak nyaman. Anak-anak yang sebenarnya tidak terburu-buru namun tetap mengebut bisa saja menyenggol pengendara lain yang mengendara sesuai jalurnya. 

Darah muda yang mengalir dalam diri anak-anak membuat mereka tidak berpikir panjang, walaupun sedetik kemudian. Balapan liar di jalan sudah biasa biarpun tak ada pemenang sama sekali, tidak ada podium untuk mengambil tropi seperti persaingan sengit Valentino Rossi dan Marc Marquez dalam ajang MotoGP dunia. Satu kendaraan bertiga menjadi bagian yang lumrah karena alasan jalan pelan-pelan atau jalan di jalur kiri. Helm tidak pernah dipakai karena jarak dekat dan tidak akan terkena tilang polisi lalu lintas. Seakan-akan, keselamatan saat berkendara itu adalah milik polisi yang sedang sweeping kelengkapan administrasi kendaraan bermotor. Namun, begitu seorang anak tersenggol di jalan, orang tua akan menuntut asuransi padahal si anak belum memiliki hak berkendara.

Begitulah yang terjadi di lapangan. Padahal, berkendara dengan aman itu milik semua orang. Anak sekolah yang masih usia remaja lebih aman diantar oleh orang tua mereka ke sekolah daripada dibiarkan berkendara sendiri. Patuh kepada hukum negara karena aturan ini bermain atas dasar keselamatan bersama. Sehat dalam berkendara bukanlah soal jalan di jalur kiri saja, namun kepada bagaimana tidak membuat kendaraan sampai pegal gas lecet, tidak menyalip orang lain seindah deburan ombak di pantai, tidak berhenti tiba-tiba tanpa menghidupkan lampu aba-aba, dan memakai helm walaupun dalam jarak dekat. Nyaman di jalan raya bukan pula milik satu orang saja. Terkadang, sering sekali karena baru bisa berkendara tarikan gas sampai habis dan akhirnya jatuh ke selokan.
Sehat dan nyaman berkendara tidak hanya berbicara soal fitur kendaraan namun juga tentang siapa pengendaranya. Dalam Undang-undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sudah sangat jelas bahwa siapa yang mau mengendarai motor atau mobil harus berusia minimal 17 tahun. Jika tidak diindahkan, hukumannya jelas tertulis.
- Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah). - Pasal 281 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. -
Anak-anak usia sekolah adalah mereka yang termasuk ke dalam bagian belum layak berkendara. Sehat atau nyaman selama ia berkendara tetaplah hukum lebih kuat yang akan berbicara atas dasar ini. Sebagai guru dari anak-anak yang sedang pulang di dalam foto ini, saya tidak bisa menjaga mereka semua sampai dengan selamat ke rumah masing-masing. Walaupun mereka menarik gas dengan sangat halus, senggolan truk besar bisa saja membuat mereka tergilir. Biarpun tangki bensin kendaraan telah terisi penuh, bisa saja motor berhenti mendadak dan anak-anak bingung harus berbuat apa. Saat ban kendaraan itu bocor, mereka terpaksa mendorong sampai ke rumah karena uang jajan telah habis untuk membeli makanan saat jam istirahat.

Berkendara saja sesuai hukum yang berlaku di negara kita, sehat dan nyaman itu akan datang dengan sendirinya. Letakkan sesuatu pada tempatnya, senantiasa ia akan berada pada bahagia yang hakiki. Saya berkendara, kamu juga demikian. Kita sama-sama tahu apa yang akan dirasa jika terjadi celaka.

Berkaca dari pengalaman di atas, ASTRA HONDA sudah sangat erat memegang janji pada dunia pendidikan. Lepas dari kepentingan bahwa anak-anak tidak dibenarkan berkendara sendiri ke sekolah, namun faktanya tidak bisa dimanipulasi. Beragam alasan kemudian muncul saat berbicara mengenai anak ke sekolah dengan mengendara sepeda motor. Di satu sisi, orang tua yang mempunyai kesibukan tidak sempat mengantar dan menjemput. Di sisi lain, di daerah – luar kota besar – pengaruh keselamatan berkendara masih sangat minim. Orang tua tidak merasa khawatir anaknya kena tilang karena tidak memakai helm, bonceng bertiga atau berkendara di bawah umur. Orang tua tidak was-was karena bukan jalan lintas provinsi bahkan lintas kabupaten yang dilalui anak-anak mereka. 

Konstribusi ASTRA HONDA dalam dunia pendidikan telah tampak nyata. Lantas, bagaimana ASTRA HONDA menyikapi kasus yang terjadi di atas. Mau tidak mau, ke manapun dilihat, fenomena ini tetaplah ada. Guna menunjang pendidikan yang semakin maju di negeri ini, saya berharap konstribusi yang diberikan oleh ASTRA HONDA lebih dekat lagi dengan masyarakat, terutama siswa-siswi yang berangkat ke sekolah. Larangan anak-anak ke sekolah tanpa sepeda motor bukan solusi terbaik untuk saat ini. Namun ASTRA HONDA sebagai salah satu produsen sepeda motor tentu harus bijaksana menyikapi masalah ini. Harapan saya ke depan, ASTRA HONDA dapat melakukan beberapa hal penting ini dalam rangka menyelamatkan generasi penerus bangsa dari kecelakaan lalu lintas. 

Pertama, sosialisasi berkendara aman. Seperti yang telah saya sebutkan bahwa anak-anak sangat suka berkendara dalam ajang “pamer” ke teman-teman, pengguna jalan lain, atau siapapun bahwa mereka adalah Lorenzo atau Rossi. Isu berkendara aman tentu semua orang tahu namun belum tentu mau mengerjakannya. Kendaraan yang dilengkapi rem terbaik sekalipun tak bisa menghindari lubang besar saat melaju kencang. Sosialisasi ini penting mengingat di daerah-daerah anak-anak akan selalu mengendarai sepeda motor ke sekolah. Sasaran dari ASTRA HONDA adalah sekolah-sekolah di pelosok-pelosok yang minim edukasi dari pihak berwenang. Hal yang semestinya dilakukan adalah memberikan arahan dan bimbinganbagaimana cara berkendara dengan aman. 

Kedua, kesadaran memakai helm. Jarak dekat atau jauh helm sangat penting. Kampanye menggunakan helm ini perlu dilakukan mengingat anak-anak enggan memakainya. Promosi yang dilakukan berupa kampanye sadar keselamatan yang dekat dengan anak-anak. Apabila pembagian helm tidak dapat dilakukan, brosur-brosur menarik mengenai penggunaan helm demi keselamatan wajib diberikan. Dengan begitu, anak-anak akan tertarik untuk menggunakan helm saat berkendara. 

Ketiga, bimbingan orang tua. Orang tua yang melepas anak-anak mereka ke sekolah tentunya tidak boleh lepas tangan begitu saja. Evaluasi kendaraan yang dipakai anak sangat penting. Orang tua berhak untuk cek kendaraan saat anak pulang sekolah. Lecet sedikit saja patut dipertanyakan. Orang tua perlu didekati untuk menegur anaknya saat salah mengendara. Hal ini perlu karena tiap saat anak akan kembali kepada orang tua mereka. Perkataan orang tua pun lebih mudah didengar dan dipatuhi oleh anak daripada teguran orang lain.

ASTRA HONDA akan terus berkonstribusi dalam dunia pendidikan Indonesia. Di manapun dan kapanpun, kendaraan adalah hal wajib untuk mendapat sekolah.

6 komentar:

  1. Saya sering terintimidasi sm pelajar yg naik motor terutama yg masih anak2.. semena2 di jalan hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga ke depan dapat perhatian khusus ya mbak :)

      Delete
  2. Anak di bawah umur buat semua di jalan raya deg-degan. Sama halnya dengan ibu-ibu naik motor, nyala sein kiri beloknya ke kanan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebiasaan yang sulit diubah tanpa kesadaran sendiri ya.

      Delete
  3. Sangat inspiratif mas...semoga menjadi perhatian bersama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga generasi Indonesia menjadi lebih baik ya :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90