Top Ad 728x90

Sunday, August 7, 2016

, , ,

Jodoh di Telapak Kaki Ibu

Jodoh di Telapak Kaki, Jodoh di Tangan Ibu, Jodoh Pilihan Ibu, Pria Pilihan Ibu, Laki-laki Pilihan Ibu, Menikah dengan Pria Pilihan Ibu, Menikah atas Restu Ibu,

jodoh di tangan ibu
Ilustrasi - centroone.com
Jodoh di Telapak Kaki Ibu - Sulit sekali rasanya mengutarakan isi hatiku pada perempuan setengah baya yang tak pernah beranjak dari kursi belakang rumah kami, kecuali untuk ibadah dan tidur di malam hari. Kursi itu terbuat dari rotan berwarna cokelat muda, terdapat bagian meletakkan kaki di ujung memanjang ke depan, alasnya kami lekatkan bantal tipis berwarna biru muda, dan tempat sandaran kami balut dengan kain warna putih. 

Aku ingin menikah, Bu!

Ibu tidak pernah mau diganggu, ingatan Ibu masih tajam walaupun usianya sudah mendekati angka delapan puluh. Satu hal yang tidak pernah Ibu tinggalkan, berdoa dan membaca kitab suci di pagi hari. Belakangan, Ibu sudah tidak bisa lagi membaca karena matanya kian kabur, Ibu masih tetap mengenali kami satu persatu. Termasuk Ustad Wahed yang selalu datang tiap jumat sore, mendiskusikan hukum-hukum agama dengan Ibu. 

Sebagai bungsu dari lima bersaudara, aku selalu menuruti semua keinginan Ibu. Keempat kakak perempuanku sudah berkeluarga dan memiliki karir yang sangat benderang. Kakak tertua, Sita, baru saja pulang dari luar negeri menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Kakak kedua, Irma, sudah menjadi dokter spesialis kandungan yang sangat disegani di kota kami. Kakak ketiga, Mina, menjadi satu-satu perempuan terpenting bagi keluarga dan kota kami, dua tahun lalu Kak Mina menjabat sebagai wakil walikota dan sangat sibuk dengan kegiatannya. Kakak keempat, Wati, belum lama ini dipromosikan menjadi dekan di kampusnya. Dan aku? 

Entahlah. Mungkin hanya aku satu-satunya putri termalang dalam keluarga ini. Di usia 30 tahun aku seperti pesuruh bagi keluargaku sendiri. Kak Wati memang tinggal bersama kami di rumah Ibu, tetapi semua pekerjaan rumah kukerjakan sendiri tanpa dibantu Kak Wati maupun kedua anaknya yang sibuk kuliah. Usai subuh aku sudah ke pasar membeli kebutuhan dapur dengan sepeda motor butut satu-satunya pemberian Ibu, setelah itu aku membersihkan rumah, menyiapkan sarapan untuk Ibu dan keluarga Kak Wati, bolak-balik memapah Ibu ke kamar kecil saat dibutuhkan, sepanjang hari tiada henti aku bekerja, lewat jam sebelelas aku baru bisa beristirahat dengan tenang. Belumlah terasa tidurku sudah nyenyak, belum pula suara azan subuh, Ibu kembali memanggilku ke kamar mandi untuk wudhu dan menemaninya shalat malam dalam terkantuk. 

Aku lupa kapan terakhir bersenang-senang!

Dalam pendidikan aku jauh tertinggal dibandingkan keempat kakakku. Ibu hanya mengizinkanku belajar sampai sarjana. Lima tahun lalu, aku sangat bahagia ketika dinyatakan lulus beasiswa keluar negeri. Tetapi Ibu, “Kamu tidak boleh jauh-jauh dari Ibu, Cut! Siapa yang ngurus Ibu kalau kamu pergi, siapa yang masak, siapa yang bersihkan debu di rumah, siapa yang nyapu lantai kotor, siapa yang…”

Keputusanku sudah bisa ditebak. Aku gagal berangkat keluar negeri. Keempat kakakku? Satu pun tidak membela adik bungsu mereka. Bahkan mereka hanya mementingkan keperluan masing-masing, pamer telah pernah singgah di negeri ini dan itu. Semuanya membuatku iri, membuatku tidak berharga, tidak ada yang bisa kubangga-banggakan di depan saudara-saudaraku saat mereka berkunjung ke rumah. Tetap saja, dengan baju lusuh, kerudung kusam, aku menyiapkan minum untuk tamu sedangkan kakak-kakakku dengan baju mahal dan wangi hanya duduk manis di kursi empuk. 

Dan soal usiaku yang terus bertambah, tidak ada satu pun dari mereka yang menawarkan lelaki untukku. 

Mereka tahu, aku tidak kenal dekat dengan laki-laki mana pun!

***
Mungkin, hari ini menjadi sangat spesial bagi kami. Ibu mengumpulkan seluruh keluarga di rumah sesusai magrib. Seorang diri pula aku membuatkan makanan enak seperti pesanan Ibu sebelumnya. Keempat kakakku dan suami mereka sudah datang dan berada di meja makan. Sepertinya, ini masalah serius, pertemuan ini hanya dihadiri orang-orang dewasa tanpa anak-anak. 

“Kalian sudah menebak maksud undangan ini, Ibu rasa tidak perlu juga berpanjang ucapan. Ibu sudah memutuskan akan mewariskan rumah dan segala isinya pada anak Ibu yang telah lelah merawat Ibu selama ini. Kalian sudah punya harta sendiri dan pekerjaan, Ibu tidak berikan jatah apa-apa lagi walaupun kalian memaksa. Peninggalan Ayah hanya rumah dan isinya, tidak ada emas maupun permata yang Ibu simpan untuk kalian!” 

Keempat kakakku sama-sama tidak menyahut. Dari wajah mereka dapat kulihat penolakan, terlebih Kak Wati yang sudah berharap rumah ini menjadi miliknya. Kak Wati belum membangun rumah, lebih memilih membeli mobil mewah untuk dirinya, suaminya dan kedua anaknya. Jika malam hari, bisa dibayangkan tiga mobil berdiri di depan rumah kami. 

Malam yang semakin bisu, suara denting piring terdengar sesekali. Kami tidak ada yang membantah dan menolak perkataan Ibu. Sepertinya Kak Wati juga menerima, walau dalam keadaan tertekan. 

“Ibu tidak mengusir kamu, Wati,” mungkin Ibu mengerti risau hati Kak Wati. “Kamu beserta keluarga masih bisa tinggal di sini jika Cut tidak keberatan, Ibu pun bisa tidak diizinkannya jika dia mau. Ibu memberikan rumah ini kepada Cut tanpa mengucilkan kalian. Kalian paham ke mana pembicaraan ini, sudah lama Ibu mengistimewakan kalian!” 

Aku sangat berniat memotong perkataan Ibu, melihat reaksi keempat kakakku yang lain akhirnya aku memilih diam juga. 

“Kabar terakhir, Ibu pun tidak meminta pendapat kalian setuju atau tidak. Pilihan Ibu ini harus kalian setujui walau dengan berat hati. Cut sudah harus kita kawinkan, laki-laki yang beruntung itu sudah Ibu putuskan adalah Ustad Wahed,” 

Ini yang paling mengejutkan dibandingkan perkara warisan. Bagaimana bisa Ibu mengambil keputusan demikian? 

Jodoh itu soal rasa, Bu!

Ustad Wahed? Laki-laki itu memiliki wajah berseri-seri, tutur katanya teramat sopan, dalam diam saja memiliki daya tarik tersendiri. Ibu terlalu berlebihan menjodohkanku dengan laki-laki yang mungkin lebih muda dariku. Ustad Wahed pun sudah hafal kebiasaanku mulai dari pintu masuk sampai belakang rumah, di dekat kursi Ibu, depan kolam ikan, tanaman kecil-kecilan, jemuran pakaian, gudang penuh barang, dan beragam pemandangan yang merusak penglihatan lainnya. 

“Sudah Ibu tanyakan baik-baik pada Ustad Wahed, beliau setuju dan menerima Cut sebagai jodohnya. Kita memerlukan orang alim agama dalam keluarga, semenjak Ayah tiada shalat magrib berjamaah saja sudah kita tinggalkan. Cut sudah lama menunggu kapan dikawinkan. Ibu paham isi hati Cut selama ini, mengurus Ibu seorang diri tanpa meminta imbalan apa-apa,” 

Sudah, Bu. Aku tidak berani mengutarakannya,mengenai jodoh itu. 

Malam terus merangkak, ketiga kakakku pulang ke rumah masing-masing. Tinggal kami bertiga setelah suami Kak Wati pamit istirahat. 

“Pilihan Ibu pasti terbaik, Cut,” ujar Kak Wati. Kupikir Kak Wati akan menyinggung warisan rumah yang jatuh kepadaku secara tidak sah di mata hukum.

“Apakah pantas, Kak?” tanyaku hati-hati. Ibu duduk sambil memejamkan mata di tempat semula. 

“Ustad Wahed sudah menerima artinya kalian berjodoh, beliau pasti sudah lama sekali memperhatikanmu. Ibu pun memperhatikan kalian berdua. Orang tua terkadang lebih peka terhadap sesuatu tanpa kita sadari, kamu harus mendengarkan Ibu!” 

Aku mendengarkan, kali ini aku akan mengikuti, seperti yang sudah-sudah. 

Jodoh memang soal rasa, kupikir Ibu telah memilih yang sangat tepat untuk pendamping hidupku. Selama ini aku terus menyalahkan Ibu, karena alasan yang menurutku tidak masuk akal saat Ibu melarangku berhubungan dengan laki-laki lain, melarang pula saatku ingin keluar negeri, melarangku kuliah lagi walau di dalam kota ini saja. 

Seorang Ibu telah merencanakan dengan baik setiap putusannya.

Dan aku, kembali harus menurutinya. - Jodoh di Tangan Ibu
***

1 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90