Top Ad 728x90

Wednesday, August 10, 2016

, ,

Kisah Muazin Cabul yang Mengintip Wanita Pukul Satu Malam

Kisah Muazin Cabul yang Mengintip Wanita Pukul Satu Malam, Kisah Hidup Muazin, Muazin Penghuni Surga, Muazin Calon Penghuni Surga, Muazin Cabul,

muazin calon penghuni surga
Ilustrasi - bersamaislam.com
“Dia itu tukang cabul!”

Desas-desus yang kian merebak bagai wangi durian tak berbuah musim ini. Ia terus dibicarakan karena melawan arus dengan apa yang dikerjakannya. Mereka mulai membicarakannya, di belakang, di tiap detik tersisa untuk menghujat kelakuan pria itu. Tak ada pula yang menuntut keabsahan berita ini. Namun kami yang mendengar sudah pasti membenarkan dan tak menanyakan alasan mengapa orang lain membicarakannya.


Entah bermula dari apa. Mawar si cantik jelita memulai kehidupan lajang dengan menari-nari di kamar tiap malam. Mendesah-desah saat berbicara dengan kekasihnya melalui pesawat telepon. Malam-malam yang biasa, Mawar sama sekali tidak tahu ada bayangan menggarisbawahi desahannya sebagai petaka kemalangan. Mawar terkikik, Mawar tersedu-sedan, Mawar merajuk, semua itu dibaca sebagai hasrat ingin melampiaskan keinginan seksual. Tetapi sejatinya, Mawar melakukan itu hanya untuk menarik batin kekasihnya lebih dalam ke dalam pelukannya.
Baca Juga
Haruskah Aku Menikah Muda?
Di malam yang beranjak pagi. Pukul satu lewat dua detik. Mawar berhasrat ingin ke kamar mandi. Gendang telingannya masih mendengar ocehan kekasih yang meminta peluk dan cium. Mawar malu-malu mengatakan nggak mau. Mawar pula pernah mengatakan mau jika telah menikah nanti. Pintu kamar mandi dibuka, suara kayu pengerat itu bising. Langkah kaki kabur dari sisi jendela kaca kamar Mawar. Mawar terkejut sekali waktu itu. Di malam berikutnya, Mawar merasakan hal yang sama, suara langkah kaki mendayu-dayu di telinganya. Mawar belum peka, mungkin saja orang lewat di dekat rumahnya. Malam ketiga, Mawar kembali mendengar suara langkah kaki. Mawar memelankan suaranya, pura-pura mendesah saja padahal sudah menutup telepon dengan alasan lelah. Mawar mengeratkan telinga di balik jendela. Disingkapnya sedikit gorden, tubuh hitam menjulang berdiri di sana.

Mawar terpelanting ke tempat tidur. Punggungnya sakit. Ada penguntit di rumahnya. Kemudian Mawar terbiasa, bahwa penguntit itu ada. Keingintahuan yang membuncah membuat Mawar rela bergadang untuk mengetahui siapa penguntit itu. Mawar yakin satu hal bahwa penguntit itu adalah manusia yang bernyali kerupuk, cuma bisa merayu dalam bayangan tanpa mampu membujuk. Mawar masih diam untuk mengatakan. Mawar setidaknya menangkap basah siapa penguntit itu.

Tuhan punya segala cara dalam membuka tabir. Mawar terkejut di malam sembilan bulan lalu saat ia tahu dirinya telah diusik. Napas Mawar ngos-ngosan. Penguntit itu, tukang cabul itu, orang yang selama ini ia bangga-banggakan. Mawar tidak salah lihat. Benar, orang itu, muazin kampungnya!

Mawar kemudian bersikap dingin terhadap pria itu, muazin yang tiap magrib mengumandangkan azan dengan suara melengking. Empatinya telah berkurang. Simpatinya tak ada lagi. Sinisnya berkepanjangan karena ia tahu orang yang telah enggan ia sebut muazin masih memiliki jadwal padat mengunjunginya pukul satu malam.

Setahun setelah itu, Mawar dipinang dan menikah dengan bahagia. Mawar pikir, tidak akan ada lagi penguntit itu. Namun ia salah, jadwal yang telah tersusun rapi itu tak pernah berubah sama sekali. Pria yang malas sekali ia panggil muazin sering terdengar terengah-engah di jendela kamarnya. Mau tak mau Mawar harus berterus terang kepada suami. Baku hantam hampir terjadi namun gorden jendela disibak sedikit, amarah suaminya menghilang. Terkejut dan kalut. Suami Mawar tidak menyangka sang muazin yang dikaguminya seorang yang berbuat cabul.

Muazin itu terus mengumandangkan azan hampir tiap waktu salat. Dini hari ia masih terbirit-birit ke rumah Mawar. Sekejap saja ia tak mau terlupa akan apa yang terjadi di kamar Mawar. Mawar dan suami yang lelah dikuntit, mengetuk-ketuk jendela begitu suara langkah mendekat. Kadang sengaja menghadirkan suara birahi. Kadang pula bercakap-cakap keras-keras.

Tabiat tak bisa diubah. Muazin yang baru saja azan waktu isya, tetap datang ke sisi kamar Mawar. Lama berdiri di sana padahal – mungkin – sadar perilakunya telah diketahui Mawar dan suami. Di malam yang telah lama bosan, Mawar berujar dengan lantang sambil menyalakan lampu.

“Aku sudah tahu siapa kamu sebenarnya!”

Dipikir ubah, malam berikutnya pria itu tetap datang. Mawar dan suami menaruh iba dan kasihan. Muazin yang telah beristri itu kenapa tidak mencumbu wanita yang telah sah di dalam hidupnya. Mawar pikir pula, lebih baik mendiamkan daripada diladeni. Namun pola pikir itu berubah ketika besoknya, Mawar mendengar curahan hati Keumala.

“Ada orang iseng intip aku tidur, War!” kata Keumala senja itu. Keumala sudah tidak tahan lagi dengan apa yang dialaminya.

“Kamu tahu siapa?” desak Mawar.

“Awalnya nggak, sekarang aku tahu!”

“Aku juga diintip!”

Mawar telah memiliki teman senasib. Semula Mawar malu bercerita selain kepada suami. Namun tabiat pria yang dihormati seisi kampung itu telah sirna. Keumala menggebu-gebu mengeluarkan amarah. Keumala yang masih lajang merasa amat terhina ketika jendela kamarnya yang terbuat dari kayu dicongkel. Keumala pula ketakutan saat membalas intip pria cabul itu sedang menahan sesak di dadanya sambil menggesek-gesek tubuh ke dinding.

“Sudah saatnya kita balas, War!”

“Iya, kita siram pakai air panas!”

Aksi pun dilancarkan. Mawar melempar air panas melalui jendela kamarnya. Tak ada suara yang menjerit. Besok pagi, ia melihat gerak-gerik pria itu namun tak pincang maupun susut wajahnya. Heran berujar panjang, Keumala juga telah menembak senjatanya. Namun si muazin tidak pincang sama sekali.

“Apa Tuhan melindunginya?” tanya Keumala.

“Banyak sekali orang jahat mendapat perlindungi kalau begitu!”

Mawar kembali menyiram air panas melalui jendela kamarnya. Berkali-kali sampai sebulan namun tak pula ia melihat perubahan. Mawar lelah. Keumala pun lelah. Jelas mereka tahu siapa pria cabul itu namun tak ada bukti untuk menariknya ke kenyataan.

Pria cabul itu terus mengintip, tak hanya ke rumah Mawar dan Keumala saja. Satu lorong rumah mereka tahu tentang itu. Mereka cuma bisa menghujat dari belakang, tak dapat menjerat dari depan. Muazin yang malang, apa yang membuat pintu hatinya tertutup rapat?
Baca Juga
Semusim yang Lalu Ada Cinta di Hatiku Untukmu

2 komentar:

  1. ya ampun itu muadzin kenapasih, kenapa bisa begitu coba. percuma deh jadi adzan setiap hari.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90