Top Ad 728x90

Sunday, August 28, 2016

, ,

Kopi Jessica, Kopi Sianida yang Dibesarkan dari Janin Hingga Dewasa

Kopi Jessica, Kopi Sianida yang Dibesarkan dari Janin Hingga Dewasa, Kopi Jessica, Kopi Sianida, Kopi Jessica Sianida, Jessica Kumala Wongso, Wayan Mirna Salihin, Alasan Jessica bunuh Mirna, Kasus Jessica Wongso, Jessica Wongso selalu tampil cantik, Make-up Jessica, Make-up Jessica Wongso, Sidang Jessica Wongso, Hasil Sidang Jessica, Hasil Sidang Jessica Wongso, Apa benar Jessica bunuh Mirna, Apa benar Jessica dan Mirna pasangan,

kopi sianida
Jessica Wongso yang tampil cantik bermake-up - liputan6.com
Kopi Jessica Sianida - “Siapa sih Jessica itu sampai sidangnya live pula di televisi?” tanya seorang teman kemarin pagi. Nama Jessica memang langsung melambung bagai burung camar lupa pulang ke sangkarnya akhir-akhir ini. Jessica ini bukanlah selebriti Indonesia, Jessica Iskandar yang penuh humor dan lugu dalam memandu acara tawa, bukan pula mantan personel girl band papan atas Korea Selatan, Jessica Jung, yang melejit sebagai perancang mode dan solois setelah hengkang dari Girl Generation (SNSD). Dia hanya Jessica Kumala Wongso, seorang yang dianggap psikopat oleh netizen, seorang yang dianggap sangat pintar memainkan peran, berkarakter sekuat petir musim hujan saat sidang perkara, dan penuh perhitungan saat mencampur kopi dengan sianida, mungkin jika dia benar tersalah.


Tak perlu saya jabarkan siapa Jessica Kumala Wongso lebih jauh. Wanita yang raut wajah berubah-ubah ini didakwa sebagai pembunuh sahabatnya, Wayan Mirna Salihin. Cukup panjang perjalanan seorang Jessica menjadi selebriti sepanjang tahun 2016. Sidang perkara yang bertele-tele memakan waktu teramat panjang. Bukti otentik yang diumbar belum cukup menguatkan wanita yang selalu tenang ini untuk makan enak di dalam bui. Bahkan, seorang teman saya yang lain membuat status di media sosial yang isinya kurang lebih seperti ini.

“Jessica kok sidang melulu, kapan wisudanya?”

“Jessica nggak siap-siap S1, kapan mau S2 dan S3?”

“Jessica sibuk sidang bunuh orang, kapan di sidang munakahat?” – pernikahan –

Jessica telah membesarkan kopi sianida dari janin sampai dewasa. Wanita ini cukup pandai meramu kopi agar terhindar dari rasa pahit atau bahkan terlalu manis. Ia mengaduk kopi sianida dengan sangat pelan sampai sendok tak menyentuh permukaan gelas. Tak akan kita mendengar suara berdenting penuh irama asmara saat Jessica menyuguhkan kopi kepada Mirna. Jessica yang piawai memainkan peran antagonis seperti Meriam Bellina, begitu tahu posisinya akan berada di mana jika rencana manis itu berasa durian. Tercium menyengat namun belum tentu orang tahu di mana disimpannya. Anggapan demi anggapan muncul ke permukaan karena sebagian kasihan dengan Jessica yang dimain-mainkan oleh jaksa. Namun kopi yang dipesan Jessica tak akan mudah layu seperti pesan singkat di perpesanan online, WhatsApp, yang terhapus bagai dicuri hacker tingkat dewa yang baru saja memenangkan hadiah miliaran dolar dari Bill Gates karena menemukan bug kecil pada Windows 10.
Baca Juga Rokok, Walaupun Kau 50 Ribu Tetap Kucintai Sepenuh Hati 
Tokoh utama drama berjudul Kopi Sianida Jessica ini sebenarnya hanya mereka berdua, Jessica Kumala Wongso dan Wayan Mirna Salihin. Permainan ini justru mudah sampai ke klimaks sebelum antiklimaks dimulai. Mirna langsung terkapar dan Jessica menyembunyikan celana jeansnya yang barangkali telah diberikan kepada Pelahap Maut yang masih gentayangan di sekitar istana kebesaran Albus Damboldor, Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry. Permainan Jessica terus bergema sampai ke bab demi bab yang tak lagi semanis rasa kopi. Kekuasaan Jessica dalam setiap bab tak ubah seperti Abaddon, The Lord of Avernus dalam game online, DOTA 2.

“Jessica itu orang kaya ya?” teman saya kembali melemparkan pertanyaan yang sebenarnya tidak mungkin ada jawaban. Wajah Jessica yang terus-menerus menggerogoti layar televisi, kanal berita online, bahkan share media sosial membuatnya memiliki sayap bak peri. Jessica terbang terlalu tinggi karena kafein yang diteguknya bersama Mirna di CafĂ© Olivier, Jakarta. Kepakan sayapnya membentang khatulistiwa, menyilaukan mata seluruh rakyat Indonesia yang berpihak kepadanya dan juga menghujatnya. Jessica yang tampak lelah terlihat biasa-biasa saja karena hukuman itu paling 3 tahun penjara seperti Saiful Jamil, walaupun pada kenyataannya benar-benar bersalah di kemudian hari.

Kekuasaan pada dasarnya dapat dibeli dengan kekayaan. Jika saja tidak tertangkap tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Saiful Jamil pasti terbahak saat ini. Sisi keuntungan dari Jessica adalah dirinya yang terkenal ke seluruh negeri. Media massa menghardik kamera hanya kepadanya tiap kali persidangan. Tidak tertutup kemungkinan, jika Jessica nanti bebas bahkan mendapat hukuman ringan, sorot kamera akan masih mengikutinya. Acara reality show yang gemar mengumbar kejelekan orang juga akan berlomba mengundang Jessica sebagai tamu kehormatan dengan honor fantastis. Begitulah negeri kita, walaupun sesaat tampil di televisi, setahun saja, iklan sana-sini, talkshow di televisi ini dan itu, jadi figuran di drama tak habis episodenya walaupun melebihi angka 1000, ia akan mampu menutupi kerugian selama persidangan ini.

Masyarakat yang sebenarnya tidak terlena ikut ambil bagian di dalam kasus Jessica. Sekilas info yang muncul saat drama Tukang Bubur Naik Haji atau Uttaran, selalu wajah Jessica yang ditata dengan make up tipis bagai gaya anak-anak muda masa kini saat jalan-jalan ke mal. Kopi yang cuma sekali teguk habis kini berubah menjadi jeli yang diteguk nggak akan habis. Cangkir pelangi pemberian Jessica kepada Mirna akan terus mengisi sendiri isinya. Kopi itu, si sianida yang dibesarkan Jessica dari janin sampai kini telah dewasa. Semakin tumbuh besar, semakin kuat akar pemikiran, semakin matang menghadapi masalah, semakin bijaksana mengambil keputusan, semakin jeli melihat celah dan semakin picik menilai sesuatu.

Kasus Jessica yang terlarut bagai ditergen dalam ember berisi pakaian menggunung, membuat masyarakat sebagai penonton budiman bosan lalu memilih Ranveer dan Ishani (Meri Aashiqui Tum Se Hi) atau Anak Jalanan daripada berita terkini 30 menit sampai 1 jam. Gara-gara Kopi Jessica, kehidupan layak di tengah masyarakat telah dimanipulasi oleh berita-berita yang sama hampir tiap channel khusus berita. Kata remaja, “Lu lagi, lu lagi!”

Pakar dalam talkshow kemudian menjadi seseorang yang mengeluarkan pendapat buram. Masyarakat yang menonton lebih baik menarik tarikan kabel ke listrik daripada mendengar ocehan yang tidak membenarkan atau menyalahkan Jessica maupun Mirna. Pendapat-pendapat di atas awan ini menjadi ninabobo bagi masyarakat karena hanya menakar gula di dalam karung bolong semulut tikus. Perdebatan panjang sampai urat leher muncul sudah tidak layak lagi ditayangkan pada televisi yang menyisipkan 13+ di sudut bawah layar kaca.

Sikap bosan itu sangat manusiawi sekali. Saat masyarakat berpaling dari berita utama tentang Jessica yang tak kunjung usai, masyarakat tak akan tahu telah terjadi gempa di pinggir barat Indonesia yang diletakkan di tengah bahkan akhir siaran. Persidangan Jessica yang disiarkan secara langsung, memamerkan kepongahan antara pengacara dan jaksa penuntut. Kisah Jessica bukanlah drama seri Korea, The Good Wife, yang memperlihatkan kelicikan dan keangkuhan selama jalannya sidang sebuah kasus. Sidang Jessica adalah konsumsi keluarga penggugat dan tergugat. Kami sebagai masyarakat awam, berada di luar pagar luar angkasa, kami cukup kok tahu selintas dari permainan cantik Jessica, namun kami tak perlu tahu sampai isi underware yang dipakai oleh Jessica maupun Mirna.

Patutkah kita berbangga saat semua media menyorot isu itu saja sedangkan di kampung nan jauh dari kota, bukan berasal dari keluarga kaya, didakwa sebagai pembunuh walaupun cuma lewat saja menolong orang terbunuh. Tak ada yang bela, tak ada empati, tak ada media yang membesar-besarkan kasus ini. Paling nyata, tidak pernah kita lupakan seorang nenek mencuri tetapi dihukum terlalu berat karena pengacara enggan memilihnya. Hukum di Indonesia terlalu manis apabila kekayaan keluarga miliaran sampai triliunan. Hukum negeri ini akan lemah seperti bukti otentik kasus Jessica apabila hanya bermodal suara.

Kopi Sianida Jessica membuat wanita ini terkenal ke seluruh negeri. Besok-besok, tinggal muncul saja anak kota penuh gaya perlente dengan kasus bermacam rupa, lalu disorot media massa, lantas usaha keluarganya melambung tinggi. Banyak orang kasihan, banyak pula yang mengemis empati. Semakin terdakwa memelas, semakin mudah menipu masyarakat Indonesia. Saya teringat ucapan Bebi Romeo saat Fatin Shidqia Lubis menyanyikan lagu kemenangan Aku Memilih Setia, pada ajang X-Factor Indonesia musim pertama tahun 2015. Bebi berujar kurang lebih begini, “Waktu adegan peluk-pelukan itu, kok jadi sedih ya. Tapi orang Indonesia begitu, berasa sedih, beli!

Kopi sianida yang diramu Jessica telah dibeli oleh masyarakat Indonesia, walau itu cuma secuil saja!

*** 
Artikel ini ditulis karena pemberitaan media yang tidak berhenti dan kasus lain jadi kabur, tidak terekspos dengan benar.  
Baca Juga Review Izin untuk Penataan Perizinan Kelapa Sawit 

16 komentar:

  1. Replies
    1. Iya, biasanya Indonesia sampai ribuan kan, Ibnu :)

      Delete
  2. Jadi ingat kasus Munir yang udah sejak 2004 tapi sampai sekarang belum terungkap siapa dalang di balik semua itu, dan jessica ini memang bener-bener bikin heran kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar. Kemarin saya tonton video anak Munir baca puisi, merinding sekali.

      Delete
  3. Mungkin bisa spanjang gini sidangnya karena orang kita pun suka ngikutin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi. Berada drama terdahsyat tahun ini ya.

      Delete
  4. Sinetron aja bai. Sekaligus pengalihan isu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Bang, honornya gede banget ini.

      Delete
  5. Nggak mudeng jg kenapa persidangan Jessica ditayangkan live, apa ga ada yg lbh penting yg lbh besar dan berpengaruh signifikan ke masyarakat gtu? :(

    ReplyDelete
  6. Menurut saya juga sudah berlebihan penayangannya di media, terutama televsi itu --

    ReplyDelete
  7. Karena di Indonesia, yg negatif malah jadi terkenal. Liat tuh Farhat Abbas, Ahmad Dhani, Awkarin...dan sekarang, Jessica.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul Mas. yang berprestasi jadi tertelan ya.

      Delete
  8. Sidang ini kayak nya sengaja di tarik ulur di perpanjang jd bagian derama kehidupan di indonesia

    ReplyDelete
  9. Sistem media kita= pelaku dihujat dan ekspos terus-terusan, kemudian berbalik media malah memberitakan kesedihan pelaku.

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90