Top Ad 728x90

Monday, August 1, 2016

, , ,

Maaf, Aku Jatuh Cinta Begitu Adanya

wanita jatuh cinta
Wanita jatuh cinta - flackrplex.blogspot.com
Jatuh Cinta Seadanya - Sebentar lagi aku akan melepas masa lajang. Bagi setiap perempuan ini merupakan waktu yang paling ditunggu-tunggu. Bagaimana tidak? Aku akan hidup berpisah dengan keluarga, dan memulai lembaran baru dengan seorang laki-laki yang sama sekali belum aku kenal. Memang, hubungan kami dimulai dari pertemuan antara kedua keluarga, merasa cocok akhirnya kami memutuskan untuk menikah. 
Namun, bukan itu yang menjadi masalah besar dalam hidupku menjelang masa yang sangat sakral itu. Aku masih ragu apakah aku benar-benar bisa mencintai dia seperti aku mencintai diriku sendiri. Hanya sebentar perkenalan kami sebelum kedua keluarga memaksa untuk terus segera menjalin ikatan lebih erat. 

Aku tidak bisa berkutik waktu itu, ingin rasanya membantah dan tidak menyetujui perjodohan ini namun aku tidak bisa menyakiti mata tua ayah ibu. Mereka sudah sangat lelah menunggu aku memilih seorang lelaki yang selalu aku dambakan. Bukan aku tidak pernah dekat dengan laki-laki, pilihanku selalu membuahkan kecewa pada keluarga. Aku kenalkan laki-laki dengan wajah tampan, mereka menolak halus. Lalu kubawa seorang laki-laki kaya raya, mereka hanya tersenyum dan mengeleng. 

Aku kalut. Keinginan mereka tidak aku ketahui. Sampai suatu ketika, ayah dan ibu memperkenalkan lelaki itu. Seorang lelaki yang belum aku kenal sebelumnya. Tidak setampan dan sekaya teman lelaki yang pernah kukenalkan pada mereka. Ada keistimewaan lain dari laki-laki ini. Sebuah nilai yang luput dari pandanganku, dan ayah ibu mendambakannya. Mungkin, hampir semua perempuan akan merindukannya. 

Aku masih bimbang. Mulai merenda satu per satu ucapan ayah ibu. Lelaki ini, yang sebentar lagi akan tidur sekamar denganku, dia akan bisa membimbingku dan anakku untuk lebih mengenal Tuhan kami. Perempuan mana yang tidak menginginkan hal ini? Aku seperti terhempas dalam sebuah renda yang kusut dan susah diluruskan. Tanyaku kembali hadir. Apakah sebuah pernikahan itu harus didasari rasa cinta? 

Aku perempuan. Banyak memilih tentu saja aku akan ketinggalan rajutan yang sedang kurenda hingga jari terasa pegal. Aku juga perempuan yang sudah melewati kepala tiga, bukan waktu main-main untuk mulai mengakhiri kesendirian. Teman perempuanku bahkan sudah mempunyai momongan dan hidup bahagia dengan laki-laki idaman mereka. Bahkan ada pula yang menikah dengan orang yang sama sekali tidak dicinta dari awal. 

Lalu, kenapa aku begitu ragu menerima kehadirannya? Dia adalah laki-laki terbaik yang dihadiahkan ayah ibu untukku. Bukan membanding-bandingkan dengan laki-laki yang pernah kukenal. Laki-laki ini sangat menghargai aku sebagai seorang perempuan. Memberikan apa yang aku inginkan jika ia sanggup dan menolak jika dia tidak berkenan. 

Ibarat benang yang sedang kurenda menjadi kain panjang, yang nantinya bisa kukenakan di hari istimewa kami. Hubungan antara aku dan lelaki tidak banyak bicara ini pun berjalan perlahan-lahan. Sesekali kami keluar di akhir pekan untuk saling mengenal satu sama lain. Aku masih merasa tidak dekat dengannya. Dia hanya duduk diam tanpa memulai sebuah pembicaraan. Aku juga ikut-ikutan tidak menyuara karena suaraku hilang di kerongkongan melihat sikapnya yang sangat dingin. Mungkin aku salah, sikapnya bukan dingin, dia hanya tidak bisa memulai. Aku bertanya dia akan jawab, aku meminta dia akan beri, dan aku tidak merespon apa-apa dia akan diam saja. 

Dia memang istimewa. Sangat menjaga aku sebagai seorang perempuan. Tidak pernah menyentuhku seperti teman lelaki yang pernah dekat denganku. Juga tidak pernah meminta apa-apa seperti teman laki-laki yang pernah aku kencani. Malam panjang di sebuah kafe remang hanya dihabiskan dengan menyantap makanan. Jika aku bicara dia akan tegur untuk menghabiskan makan di depanku. Jika selesai makan, dia hanya diam dan sesekali memberi senyum. Menandakan dia tidak punya topik untuk dibicarakan. Malam beranjak ke depan layar bioskop, jika semua orang histeris dia hanya tersenyum. Jika aku memang tangannya, dia tidak balas menggenggam jemari lentikku. 

Malam menepi di kendaraan yang dia kemudi perlahan. Pelan sekali. Seakan aku merasa tidak akan pernah sampai ke rumah. Dia memelankan motornya agar aku tidak terjatuh. Dia bahkan menjaga jarak duduk denganku. Aku bertanya, dia hanya menjawab dengan nada biasa saja, tidak datar, belum saatnya untuk saling menyentuh dan merasakan satu sama lain. 

Begitukah? Segala keistimewaan dia rajut menjadi renda romantis untukku. Namun aku tidak merasakan apa-apa. Romantis baginya belum tentu bagiku. Bayangnya saja tidak pernah hadir dalam mimpi dan anganku. Terkadang, kedatangannya menjenguk ayah ibu kuabaikan begitu saja. Aku menyibukkan diri dengan hal lain. 

Aku menjauh. Dia tidak mengatakan apa-apa. Dia selalu memberi semua inginku. Perasaanku dijaga dengan baik dalam sebuah renda benang emas. Perasaan ayah ibu dia pelihara dalam ikatan yang aku tidak mengerti sekuat apa. Asam rasa sikapku dia perlihatkan sangat manis di depan ayah ibu. Renggang rajutan yang sedang kamu renda ia sembunyikan dengan tawa canda bersama ayah ibu. 

Rajutan benang berwana pernikahan akan kami renda tidak lama lagi. Semua persiapan sudah dilakukan. Menjahit baju pengantin. Perlengkapan kamar pengantin. Mengenakan inai di tangan dan kakiku seperti kebiasaan. Undangan sudah disebar luas. Banyak teman yang datang khusus sebelum hari pernikahan, hanya untuk membantu dan mengucapkan selamat. Aku tidak keberatan dengan kehadiran mereka. Namun aku tidak suka mereka bertanya tentang lelaki yang akan bersanding denganku. Rasa itu masih belum ada, walau semua orang memuji dan merindukan hadirnya. 

Aku menghitung waktu. Ingin rasanya mengulur setiap detik agar rajutan yang akan kami renda itu tidak terajut dengan bagus. Waktu tetap tidak bisa aku hentikan begitu saja, rumahku sudah dipenuhi sanak keluarga. Suara riuh terdengar sampai membuat pendengaranku ingin pecah. Aku harus mengabaikan mereka yang membuatku semakin bimbang menerima kehadiran lelaki itu. 

Besok aku akan mendua. Aku merasa tidak kuat. Mata tua ayah ibu terus membayangiku. Umur semakin beranjak jauh meninggalkanku. Aku tidak bisa menghentikan semua ini. Tapi aku tidak sanggup! 

Kurenda malam dengan rajutan yang semakin panjang, rajutan ini sudah lama kutinggal, benang emas bermanik mutiara pemberian lelaki itu saat pertunangan kami. Sedikit lagi, renda itu selesai, namun sayang terputus karena tanganku menjangkau rendaan warna biru tua yang sudah selesai beberapa waktu lalu. 

Seiring dengan putusnya rendaan benang emas bermanik mutiara pintu kamarku dibuka. Ibu berdiri disana. Mata tuanya tidak seteduh dan segembira beberapa hari yang lalu. Ibu mendekat dan langsung memelukku. Pikiranku tidak karuan. Firasat mengatakan telah terjadi sesuatu pada keluarga ini. 

Ibu memandangku lekat-lekat, lalu mengambil tanganku dan meremas erat-erat. Aku semakin tidak mengerti. 

Pelan suara ibu terdengar. Petir seperti menyambar rendaan benang emas bermanik mutiara di tanganku. Kabar itu begitu menghentakkanku. Ibu memelukku lagi, aku diam terpaku. Suaranya hilang bersama malam yang kian pekat. 

Beginikah? Tiada hari esok untukku. Aku memang tidak menginginkan lelaki itu. Dulu. Belum tentu besok dan seterusnya. Mulai malam ini aku sudah merasa kehilangan. Suara tawanya, senyumnya, perhatiannya kepadaku dan keluarga, sikapnya yang selalu menjagaku, diamnya dan semua yang ada pada dirinya. 

Aku tidak sanggup menatap mata ibu. Mata tua itu sudah terlalu lama memendam duka karena aku belum dipinang lelaki idaman. Ibu juga yang membawa lelaki itu untukku. Karena dia yang terbaik dari setiap lelaki yang pernah kukenal. 

Aku tidak menginginkan dia hadir, dan kini doa itu benar-benar telah dikabul. Doa yang tidak kupanjatnya dan selalu kusesali dalam kata-kata yang akhirnya menjadi doa besar. Lelaki itu dipanggil. Kembali pada yang hak. Bukan kepelukanku. 

Lelaki itu pergi, sebelum aku menjanda karena ketidak inginku kepadanya. Tuhan mendengar sedihnya yang tidak kuketahui. Aku yakin dia merasa sedih dan kecewa karena kuabaikan dalam setiap rajutan waktu kebersamaan kami. 

Lukanya adalah lukaku sekarang. Jatuh Cinta Seadanya. 
***

4 komentar:

  1. Sungguh menyayat hati cerita ini mba, saya kira akan berahir bahagia tapi ternyata berujung penyesalan ya mba :(

    ReplyDelete
  2. Makjleb banget cerita nya. Semoga lelaki itu bahagia dialam sana
    Dan buat wanita, baru merasa kehilangan setelah benar2 pergi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih MasCum, semoga saja ya :)

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90