Top Ad 728x90

Saturday, August 6, 2016

, ,

Mimpi Ahong Memeluk Tembok Besar China

China Muslim
Ilustrasi - islam21.com
Cerita Orang China Rindu Kampung Halaman - “Saya ingin memeluk Tembok Besar China, Bang!” ujar lelaki tua itu dengan logat Aceh yang kental. Saya duduk terpaku di depannya senja itu. Ombak di pantai menderu sangat kencang sekali. Kafe yang menjurus ke pelabuhan barang tersebut tampak sepi karena mungkin sebagian besar anak muda sedang duduk di pinggir pantai menghadap ke barat. Matahari terbenam menjadi pemandangan terindah di bibir pantai.

Ahong, sebut saja namanya begitu. Seorang lelaki berusia lebih dari lima puluh tahun duduk dengan mata terbinar di depan saya. Ahong mengaduk kopi pahit di cangkir putih itu perlahan-lahan. Saya menelan ludah membayangkan bagaimana rasa kopi tanpa gula. 

Ahong cukup senang ada orang yang bertanya mengenai kampung halaman yang tersembunyi di batinnya. Telah lama ia tak mendengungkan sebutan negara adidaya Asia tersebut. Hanya hatinya saja yang terlalu sering menyebutkan pertanyaan mengenai rupa negara yang kerap datang dalam mimpinya di malam panjang. Ia bahkan terlampau lupa untuk mengingat kenangan manis apa yang pernah dikecap dari darah yang mengalir dalam dirinya. Ia rindu namun tak pernah bisa menjawab kerinduan tersebut dengan cara bagaimana. Ia ingin tetapi tak pernah bisa berkunjung ke sana karena sebab-sebab tak terdefinisi. Ia akan ke sana tetapi tak pernah tahu waktu itu kapan memberi jawaban pasti. 

Lelaki tua itu hanya bekerja di toko mi bakso miliknya. Berbeda dengan keturunan China lain di wilayah barat Aceh ini, Ahong tidak seberuntung mereka. Dahulu, keluarga Ahong memang pernah dimanja harta keluarga. Tetapi perlahan-lahan kekayaan itu surut setelah pembagian warisan dan mereka bekerja masing-masing. Adik-adik Ahong cukup beruntung dalam usaha mereka. Ia teramat lelah memikirkan usahanya yang terus merosot semenjak memeluk Islam. 

“Mungkin ini cobaan bagi saya,” logatnya tetap sama dengan logat saya. Tak ada bumbu-bumbu China sama sekali. Mungkin Anda membayangkan Ahong berbicara dengan logat China yang kental. Walaupun matanya sipit tetapi jiwa dan raganya tetap milik Aceh. Ahong memilih memeluk Islam sekitar tahun 1990-an. Ia bahkan tak ingat kapan tepatnya waktu itu mengetuk pintu hatinya. Ia hanya tahu setelah pisah usaha dengan keluarga besarnya, ia mencintai Islam lebih dari raga dan jiwa yang dikandungnya. Ia yakin dengan menjadi muslim hidupnya akan lebih baik dari apa yang pernah ia harapkan. Tampaknya, waktu berkata lain dan Ahong tak pernah bisa berbuat banyak di masa tuanya. 

“Saya China yang malang…,” ujar Ahong seakan berdesis. Raut wajahnya tampak lelah sekali. Usahanya memang tak mujur namun Ahong tak pernah ingin mengubah haluan kembali ke agama lahirnya. Tiap waktu beribadah menurut Islam, ia selalu merasa ketenangan tak terperi walaupun ia tak pernah mampu mengendarai mobil mewah seperti adik-adiknya. Berulangkali keluarga besarnya mengajak Ahong kembali ke keyakinan mereka, ia menolak dengan halus bahwa kedamaian dalam hidupnya telah ia temui. Ia tak memerlukan harta benda cukup banyak apabila tidak tenang dan nyaman. Hari tuanya ia butuhkan untuk mencari jati diri yang telah lama terbengkalai. 

Namun, sebagai seorang keturunan China, Ahong tak serta-merta melupakan kegagahan negara nenek moyangnya. Ia percaya sekali bahwa China tetaplah negara daratan yang mewah dan megah sejak dulu kala. 

“Saya sangat terharu saat tahu Rasulullah bersabda untuk menuntut ilmu sampai ke negeri China!” 

Ada kebanggaan dalam diri Ahong saat mengucapkan kalimat tersebut. Bulu kuduk saya pun berdiri. Telah lama sekali saya mendengar hadis ini. Sejak dulu pula China merupakan negara kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sekilas mengulang sejarah, tidak mungkin Nabi Muhammad menganjurkan pembelajaran ke China tanpa sebab-akibat. Nyatanya terlihat jelas sampai kini. China berdiri sebagai sebuah negara kuat tanpa perlu ikut campur negara lain. China menguasai hampir seluruh – saya berani mengatakan ini karena fakta di lapangan demikian adanya – infrastuktur teknologi mulai dari perangkat keras sampai perangkat lunak. China menguasai dunia dengan bahasa dan mata uang mereka. China memengaruhi dunia dengan kebudayaan mereka. China menghibur dunia dengan film-film laga yang tak pernah pudar ide brilian mereka bahkan perfilman barat mengakuinya. Bela diri dari China, Kungfu, merupakan salah satu bagian terpenting dari sejarah panjang negara tersebut dalam mempertahankan kekuatan mereka. Corak pakaian masyarakat China tradisional masih dipakai pada acara-acara besar sehingga kebudayaan mereka tidak pernah memudar. 

Siapa yang tidak tergoda untuk mengunjungi negeri China? Saya saja yang tak ada sangkut-paut dengan China merasakan sebuah panggilan untuk ke sana. Mana mungkin Ahong tidak mendamba pergi ke negeri nun jauh tersebut? 

Pantas Ahong merindu. Wajar Ahong ingin menjejakkan langkah di tanah China. Peradaban dan ilmu pengetahuan begitu memukau di negeri tirai bambu. Salah satu peradaban terindah dan termegah tak lain adalah Tembok Besar China. 

“Tak ada orang China yang tidak merindukan bangunan megah itu!” mata Ahong berkaca-kaca. Nada suaranya bergetar. Kerinduan itu menyala sampai ke mata dan suaranya. Saya pun merasakan semangat yang sama, yang entah bagaimana saya deskripsikan di sini. Sulit sekali saya menjabarkan kerinduan Ahong yang tak terperi kepada China – Tembok Besar China – karena di sanalah peradaban negara tersebut dikenal dunia. Ingat China, mata akan tertuju pada tembok terpanjang di dunia itu. Sebut China, orang-orang pasti bermimpi menelusuri tembok dengan arsitektur mewah khas zaman dahulu. Jika saya tak apa-apa apabila kaki tidak pernah sampai ke sana. Ahong tentu berbeda. 

“Saya sangat ingin…,”

Saya tak bisa memberi solusi pada cinta ini. Darah dalam diri Ahong mengantarkan sebuah keperihan pada nama besar itu. Cinta yang melekat tak lain adalah nasionalisme yang mendarah daging dalam dirinya. Walaupun ia terlahir sebagai orang Aceh, identitas lengkap di Aceh, namun fisiknya tetapkan seorang China, separuh jiwanya mengembuskan napas China. 

“Saya tidak punya keluarga di sana,” sebut Ahong pesimis. “Saya lahir dan besar di Aceh, begitu juga orang tua saya. Kami tak tahu asal-usul keluarga besar dari China. Darah China mengalir dalam diri kami. Ayah dan Ibu saya China. Saudara-saudara saya juga China. Tak ada satupun dari kami yang tahu siapa saudara sedarah yang masih tinggal di China daratan!” 

Angin sore membelai rambut Ahong yang lurus. Lelaki tua itu memiliki rambut halus dan dibelah tengah. Rata-rata orang China memang demikian, bukan? Cuma warna kulit Ahong tidak seperti warna kulit orang China pada umumnya. Kulit Ahong lebih gelap dan tidak memiliki bintik-bintik atau tahi lalat seperti orang China lain. 

Ahong terus mengartikan sebuah mimpi dalam kegusaran hatinya. Kata-kata Ahong saya dalami sebagai sebuah cinta teramat dalam kepada China. Dirinya boleh berwarga negara Indonesia, menetap di Aceh, China tetap tumpah darah yang tak pernah bisa ia buang jauh. 

“Bapak masih bisa ke China walaupun tak ada saudara di sana?” tanya saya pelan. 

“Saya tak masalah soal saudara itu. Sesama China kami tetap satu persatuan!” ujar Ahong sambil menambahkan bahwa dalam keluarganya bahasa Mandarin adalah wajib. “Saya cuma ingin melihat China itu bagaimana rupanya. Apakah tanah di sana sama dengan di sini. Apakah bahasa yang saya ajarkan kepada anak-anak sama dengan orang-orang China itu ucapkan. Apakah gerakan kungfu yang diajarkan turun-temurun dalam keluarga kami sama dengan gerakan kungfu di sana…,” 

Ibarat cinta, dari tatapan jauh pun tak apa. Cinta Ahong pada China telah demikian dalamnya. 

“Apakah Bapak pernah berusaha untuk menggapai mimpi itu?” 

“Saya tak mau egois. Saya punya keluarga, anak-anak butuh sekolah waktu itu, istri saya Aceh tulen yang tak mau saya menggantungkan mimpi setinggi angkasa. Baginya usaha saja semampu kita, hasilnya serahkan kepada pemilik nyawa!” 

Saya tersenyum getir. Apabila istri Ahong orang China mungkin akan berbeda ceritanya. Bisa saja Ahong telah sampai ke China entah dari waktu kapan. Kadang orang Aceh memang keras kepala. Kadang pula penuh pemikiran matang sebelum merealisasikan sebuah mimpi. Tidak mudah untuk Ahong terbang ke China dengan penghasilan seadanya. Mi bakso yang dijualnya semakin hari semakin banyak persaingan. Walaupun anak-anaknya telah selesai pendidikan namun untuk biaya hidup bersama istri ia harus bekerja keras. Anak-anaknya – tiga orang – telah berkeluarga dan hidup mapan sesuai pekerjaan mereka. Ia tak mau membuat anak-anaknya terbeban karena ia sangat paham bagaimana kondisi seseorang setelah menikah dan mempunyai anak. 

“Apakah sekarang Bapak tak ingin mewujudkan mimpi itu lagi?” tanya saya hati-hati. 

Ahong tidak langsung menjawab. Ia meneguk kopi pahit yang hampir dingin. Deru ombak semakin ganas menjelang magrib. Biasanya memang demikian. Ombak-ombak terkesan girang sekali menjumpai malam. Angin yang menerpa wajah kami pun tak lagi bersahabat dengan baik. Angin itu telah berganti lebih dingin dibandingkan sebelumnya. 

Saya juga mengaduk-aduk teh dalam cangkir bening itu untuk sekadar basa-basi saja. Padahal teh tersebut telah lama dingin dan tak enak lagi diminum. Sekadar menghormati Ahong yang sedang menyeruput kopi pahitnya, saya pun meneguk seteguk teh dengan perasaan tak lezat. 

“Tak pernah lagi,” 

“Karena Ibu?” maksud saya istrinya. 

“Saya tak mau menyakiti diri saya sendiri,” 

“Cinta tak bisa memiliki itu rasanya sakit sekali, bukan?” 

“Cinta saya tak sakit karena dalam diri saya adalah China!” 

Kokoh jawaban Ahong membuat saya tidak bisa berkutik. Cinta itu memang kejam, kawan! 

“Jika saya pergi, bisa saja tak kembali,” ujar Ahong gusar. “Bisa juga saya mengubah keyakinan lagi…,” Ahong berkorban untuk banyak hal sehingga tidak berangkat ke China.

“Dalam kata lain, Bapak juga mencintai Aceh?” 

“Aceh dan Islam!” 

Bukankah ini semacam cinta segitiga? Maju atau mundur tetap terbilah sembilu. Maju sakitnya ditanggung banyak orang. Mundur sakitnya hanya ditanggung sendiri. Ahong ke China akan meninggalkan luka pada keluarga apabila tak kembali. Ahong tidak ke China hanya sakit sesaat yang ia rasakan sedangkan kedamaian dan kebahagiaan sejati telah ia dapatkan dalam Islam dan keluarga besarnya kini. 

“Ibu dan anak-anak bagaimana?” 

“Mereka tak pernah menyinggung China?” 

“Apa karena Ibu orang Aceh?” 

“Ibu menjaga perasaan saya!” 

Cinta yang lain, yang lebih abadi dibandingkan rasa cinta terhadap tanah darah – bukan tanah air karena darah China mengalir dalam tubuh Ahong. Saya salut dengan istri Ahong yang menemani luka suaminya sebagai sebuah rahasia sepanjang hayat. 

“Pernahkah Bapak mengutarakan isi hati ingin ke China kepada Ibu?” 

Saya hampir menjelma sebagai seorang wartawan media massa yang memburu berita seorang pembunuh kucing kabur. Pertanyaan demi pertanyaan muncul begitu saja. Kucing yang kabur belum tentu ditemui walaupun rentetan pertanyaan telah saya gali. 

“Tak pernah,” 

Ahong menghela napas panjang. 

“Cinta saya cukup untuk keluarga yang telah menjaga saya dengan baik di sini. Tak apa saya tidak ke China asalkan saya tetap mencintainya sepenuh hati. China selalu di hati saya. Aceh selalu saya banggakan. Islam harga mati dalam diri saya!” 

Akhir yang membawa senyum pada saya dan Ahong. Apabila dipikir-pikir, cinta itu memang selalu menghadirkan kegalauan panjang. Cinta itu juga sangat rumit. Namun apabila kita mudah survive, cinta itu tak akan membuat kita menjadi babu. Di usia yang tak lagi muda, Ahong mendayuh cinta sedalam samudera. Bahteranya cukup luas untuk menampung banyak cinta. Menjaga dengan baik. Menghadirkan rasa nyaman dan aman walaupun tak pernah terucap jelas. 

Bagaimana dengan kita? Cinta seperti apa yang kita harapkan? 

***
Cerita Orang China Islam. 

0 komentar:

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90