Top Ad 728x90

Wednesday, August 24, 2016

,

Pentingnya Review Perizinan Kelapa Sawit di Aceh

kelapa sawit
Kelapa Sawit - Photo by Bai Ruindra
Kelapa sawit. Pesonanya begitu menggiurkan akhir-akhir ini. Seakan wajib, dua tiga batang pun tak apa asalkan bisa dipetik buahnya tiap bulan. Adik saya, tanpa sengaja membawa pulang tiga batang anak sawit lalu ditanamnya di samping rumah. Sebatang tumbuh subur, sebatang seakan hidup enggan mati tak mau, dan sebatang lagi lebih sering disenggol kerbau sehingga malu-malu kucing untuk mekar kembali. Dari sebatang yang semakin menjulang tinggi itu, ibu saya bisa membeli garam atau bawang tiap kali panen. Tak banyak, biasanya harga satu kilo berada di kisaran Rp.800 sampai Rp.1000 saja. Satu bongkah kelapa sawit matang, jika beratnya sedang-sedang saja, paling banyak 15 kilogram.


Primadonanya kelapa sawit membuat orang yang memiliki kekayaan berlomba-lomba dalam membuka lahan. Sakit-sakit dahulu dan senang-senang kemudian masih sangat wajar dalam memulai perkebunan sawit. Masyarakat kelas bawah seperti kami yang tidak mampu membuka lahan besar, cukup dengan satu dua batang kelapa sawit saja.

Sepanjang jalan dari barat selatan Aceh menuju Ibu Kota Provinsi, Banda Aceh, terhempas dengan luas perkebunan kelapa sawit. Tumbuh besar dan menggoda selera para petani di sekitarnya. Perusahaan yang menjalankan usaha tentu girang gembira saat panen. Masyarakat di sekitar paling keren menjadi pengupas anak sawit dari bongkahannya. Padahal, jika ditelusuri lebih jauh, mereka adalah warga setempat yang dengan senang hati menjual tanah warisan kepada perusahaan. Lalu, saat perusahaan bermain dengan perizinan, bertingkah sekuasa mungkin, masyarakat baru sadar bahwa mereka telah dimain-mainkan bagai kembang api, meletus kosong tak berfungsi lebih untuk menyemarakkan kehidupan penuh warna.

Di sinilah pentingnya perizinan perkebunan kelapa sawit. Masyarakat yang telah rela memberikan tanah milik mereka untuk usaha perusahaan bukan lagi sebagai pemanis saja di pinggir jalan. Melalui izin yang telah diberikan, secara tegas, jelas dan transparan masyarakat tahu di mana letak mereka sesungguhnya.
– Kami sudah menerima dana bagi hasil sebesar Rp.250,000 perbulan yang langsung dikirim ke rekening pada awal bulan. – Ainun, warga Suak Pante Breuh, Kecamatan Samatiga, Kabupaten Aceh Barat, yang tanahnya dijadikan lahan kelapa sawit oleh PT. Prima Aceh Argo Lestari (PAAL).
Ainun juga merupakan seorang pekerja pada PT. PAAL sebagai pengupas anak sawit dari bongkahannya. Kejelasan status bagi masyarakat sekitar kebun sawit sangat dibutuhkan karena mereka tidak lagi sebagai penonton namun juga penikmat dari apa yang selama ini dilihat hasilnya begitu besar. Hasil perkebunan sawit yang besar tersebut, walaupun tidak seberapa untuk ukuran perusahaan, namun bagi masyarakat jauh lebih besar daripada menyembunyikan izin dan memanipulasi data sedangkan aturan jelas telah ada.
– Luas lahan yang ada di desa Suak Pante Breuh adalah 480 hektar, sudah menjadi kebun inti plasma milik PT. PAAL. Dari luas lahan yang digarap, pihak perusahaan bertanggung jawab memberikan sekitar 180 hektar kebun plasma kepada masyarakat setempat. – Hasbi Syafi’i, warga Suak Pante Breuh dalam aksi damai tahun 2015. (ajnn.net, 30/09/15).
Pengakuan Hasbi dalam aksi damai menuntut hak kepada PT. PAAL berujung manis. Masyarakat Suak Pante Breuh tidak hanya meneguk manis dari hasil kebun sawit namun juga mendapatkan upah dari pekerjaan mereka di sana. Bagian ini menjadi sangat penting karena masyarakat yang lahannya telah diambil menjadi kebun sawit, kebingungan untuk bekerja. Perekrutan oleh perusahaan terhadap masyarakat sekitar, terutama kaum perempuan, memberikan manfaat lebih besar daripada mendatangkan pekerja dari daerah lain.

Adakah daerah lain yang melakukan aksi serupa? Soal perizinan bukan saja soal tertulis lalu dilupakan begitu saja. Masyarakat sekitar yang masih dalam tatanan kehidupan belum modern setidaknya menerima manfaat lebih besar. Contoh yang diberikan oleh salah satu perusahaan dengan memberikan bagi hasil dan memperkerjakan masyarakat sekitar merupakan wujud tak tertulis dan bukti nyata dari kemampanan hukum (perizinan usaha). Tentu saja, lepas dari kontroversi sebelum itu karena masa depan yang dirasa kini lebih nikmat seperti menikmati sebutir gula-gula musim hujan.

Bicara kebijakan hukum akan lebih menguatkan jika terjadi perkara besar lain. Undang-undang No. 5 Tahun 1960 Pasal 28 tentang Pokok Agraria menyatakan bahwa Hak Guna Usaha (HGU) adalah hak khusus untuk mengusahakan tanah yang bukan miliknya sendiri atau tanah yang dikuasai langsung oleh negara untuk perusahaan pertanian, perikanan, atau peternakan. Hak Guna Usaha dapat diberikan untuk jangka waktu paling lama 25 tahun, pengecualian untuk perusahaan tertentu seperti yang mengelola perkebunan kelapa sawit, hak tersebut diberikan paling lama 35 tahun. Penetapan ini karena kelapa sawit adalah salah satu tanaman berumur panjang.

HGU perkebunan kelapa sawit memiliki dasar hukum pada Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pemerintah daerah memiliki kewenangan penuh dalam menjalankan roda pemerintahan, termasuk semua kebijakan yang dapat meningkatkan potensi yang ada di daerah dimaksud. Pemerintah daerah dapat mengambil kebijakan dalam mendatangkan investor kelapa sawit, misalnya, tanpa menunggu persetujuan dari pemerintah pusat.

Keuntungan apa yang didapat masyarakat sekitar apabila mereka “pintar” melobi perusahaan? 25-35 tahun bukan waktu yang singkat untuk menerima bagi hasil walaupun cuma Rp.250,000 tiap bulan. HGU yang jelas membuat masyarakat di sekitar tidak perlu khawatir kehidupan mereka akan terenggut begitu saja. Dasar ini pula yang menguatkan alasan untuk Pemerintah Aceh – khususnya – untuk mereview kembali izin usaha perkebunan kelapa sawit di Aceh. Review perizinan ini memiliki dampak yang cukup signifikan bagi kelangsungan hidup masyarakat di sekitar HGU. Kebun kelapa sawit yang kian tumbuh pesat akan menjadi napas segar bagi masyarakat yang menerima imbasnya. Jangan sampai masyarakat di sekitar HGU hanya menerima limbah saja sambil gigit jari dan berharap dibelikan permen sebutir berasa manis, asam dan asin. Saatnya masyarakat di sekitar HGU dimanjakan melalui review perizinan ini. Jika tidak sekarang, kapan lagi masyarakat menerima sesuap nasi dari kebun kelapa sawit yang kian membayangi matahari menusuk ke pori-pori pekerja tiap hari.
Gambaran umum saja, secara nasional kelapa sawit merupakan sektor strategis yang memberikan sumbangan ekspor hingga US$19 miliar pada 2015, jauh lebih tinggi dari devisa dari ekspor migas yang bernilai sekitar US$12 miliar. Di Aceh sendiri, sebesar 21,06% dari total luas daratan Aceh telah termanfaatkan untuk ruang perkebunan, di antaranya perkebunan besar seluas 385.435 ha dan perkebunan rakyat 810.093 ha. Perkebunan besar di Aceh tersebar di 15 kabupaten/kota, sedangkan perkebunan rakyat berada di 22 kabupaten/kota. (walhiaceh.or.id, 12/05/16).
Menariknya bahwa kebun kelapa sawit yang tidak mudah mati akan terus menjadi mata pencaharian masyarakat sekitar. Sepuluh tahun ke depan, dua puluh tahun ke depan, kelapa sawit akan tetap kokoh. Dengan demikian, Pemerintah Aceh harus berjuang lebih giat dan memberikan solusi yang terbaik kepada masyarakat sekitar HGU.
Tidak ada pendapatan asli daerah (PAD) yang dihasilkan dan masyarakat di sekitar HGU hidup miskin. Banyak konflik lahan dengan masyarakat. – Baihaqi, Koordinator Bidang Advokasi Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA). (mataaceh.org, 15/08/16).
Kini saatnya membuat masyarakat di sekitar HGU merasakan manfaat dari kebun kelapa sawit. Ainun, Hasbi dan masyarakat lain dari Desa Suak Pante Breuh telah merasakan secuil manis itu. Kejelian Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) dalam melihat kasus ini tentu atas dasar keluhan masyarakat setempat. Hal ini tidak bisa didiamkan begitu saja dan review izin untuk penataan perizinan kelapa sawit perlu segera dilakukan.
– Review izin menyeluruh harus dilakukan terhadap izin usaha perkebunan (IUP), usaha budidaya, maupun usaha industri pengolahan hasil perkebunan yang dilakukan terpadu dan melibatkan masyarakat. – Muhammad Nasir, Kepala Bidang Advokasi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh. (mataaceh.org, 22/08/16).
Dengan dilakukan review terhadap perizinan kebun kelapa sawit, masyarakat yang selama ini tersedu-sedan akan tertawa girang. Tawa mereka akan lebih terbahak apabila solusi yang diberikan oleh Pemerintah Aceh begitu berharga. Bagi hasil seperti kasus di atas cuma segelintir solusi. Bekerja di kebun kelapa sawit dengan upah bulanan juga solusi terbaik untuk masyarakat yang enggan ke kebun karet karena harga jual terus menurun.

Kebun kelapa sawit yang selama ini dipandang sebagai “hama” bagi masyarakat setidaknya berubah menjadi kupu-kupu. Review perizinan kebun kelapa sawit saat ini ada di tangan Pemerintah Aceh, mau dibawa ke mana, mau dimainkan sesuka hati, atau diselewengkan masyarakat akan menerima percikan apinya. Hanya saja, masyarakat sangat menunggu hasil yang lebih baik dari review izin HGU ini.
Kewajiban perusahaan untuk memberikan kebun plasma bagi masyarakat di sekitar HGU, tidak terlaksana. Akibatnya berdampak pada masyarakat setempat seperti gagal panen atau bencana alam (banjir). Efendi Isma, Juru Bicara Koalisi Peduli Hutan Aceh (KPHA). (mataaceh.org, 22/08/16).
Satu perusahaan saja memberikan contoh, ke depannya akan banyak perusahaan mengikuti kebijakan ini. Tak seberapa dari keuntungan yang didapat perusahaan untuk menyisihkan kepada masyarakat sekitar HGU. Saat ini, tugas Pemerintah Aceh adalah melakukan mediasi, mencari celah agar masyarakat dan perusahaan sama-sama mendapatkan keuntungan.

Siapkah Pemerintah Aceh melakukan review izin untuk penataan perizinan kelapa sawit? Siapkah Pemerintah Aceh melakukan review izin perusahaan pemegang Hak Guna Usaha (HGU) kelapa sawit di Aceh?
***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog “Review Izin untuk Penataan Perizinan” oleh Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA).
***
Referensi:
***


6 komentar:

  1. Sawit oh sawit, rumit juga permasalahannya ya. Harus ada solusi memang untuk kesejahteraan penduduk lokal juga untuk mengontrol dampak terhadap lingkunga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak. Solusi terbaik akan memberikan efek di sekitar HGU :)

      Delete
  2. Tulisan yang menarik. Semoga berhasil.

    ReplyDelete
  3. di abdya banyak kali juga masalah sawit

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di mana-mana masalah kebun sawit memang kompleks.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90