Top Ad 728x90

Tuesday, August 9, 2016

, ,

Semusim yang Lalu Ada Sebuah Cinta di Hatiku Untukmu

Pria Jatuh Cinta, Pria Jatuh Cinta Ditolak, Pria Ditolak Cinta, Semusim yang Lalu Ada Sebuah Cinta di Hatiku Untukmu, Aku Jatuh Cinta, Pria Menolak Cinta, Pria Jatuh Cinta Sedih dan Kecewa,

 
pria kesepian
Ilustrasi - jitunews.com
Sore itu, berlalu saja laksana kapal perang dengan meriam penuh mesiu. Aku tertembak dan jatuh ke dasar laut, mengapung di antara hiu yang keroncongan. Namun napasku masih tersengal-sengal walaupun air telah masuk melalui pori-pori. Aku masih bisa bercakap-cakap, mengeluarkan suara entah bermaksud apa. Bukan pula pertolongan yang kuhadirkan, tetapi sebuah dialog, dengan peri, yang berbentuk ubul-ubul dan secantik bidadari, segarang putri duyung dalam Pirates of the Caribbean.


“Kenapa kamu tidak memakanku?”

Duyung bersisik emas itu mengeluarkan aungan keras, memecahkan karang berwarna putih susu di bawah punggungku, aku tertusuk olehnya namun aku tidak merasakan sakit.

“Kamu tak akan sakit jika aku memakannya sampai tulang-belulang!”

“Makanlah aku, itu lebih baik untukmu!”

“Aku lebih senang membiarkanmu dimakan oleh cinta!”

“Aku tidak ingin!”
Baca Juga Haruskah Aku Menikah Muda 
Aku memberontak, tubuhku melayang ringan ke angkasa, bergumul bersama awan putih. Pesawat menari-nari di rute masing-masing. Balon udara memancarkan api hampir meletus sejadi-jadinya. Seekor burung menertawakanku yang malang.

Sepucuk cinta, aku pernah tersakiti olehnya. Sebuah perkenalan semusim yang lalu, denganmu yang memiliki mata sebening embun pagi, hidung semancung Menara Eiffel, semampai meliuk-liuk bagai embusan angin di sekitar aroma tubuhku. Kamu sewangi bunga kasturi, melekat di tanganku walau cuma sekali salaman saja.

Aku terpental. Jatuh ke lautan tak bertuan. Matamu memancarkan teduh yang kuidam teramat panjang. Aroma tubuhmu mengeluarkan wangi menusuk sehingga napasku terasa lebih panjang dari biasanya.

Aku telah jatuh cinta. Perkara sakit yang dikata lebih menyakitkan daripada gigitan taring putri duyung. Aku benar sakit. Kurayu suaramu untuk meneduh di dalam batinku, hanya desahan sinis yang kudengar kemudian. Kusentuh kata-kata untuk bermanja tiap pagi dan menjelang malam, berharap kamu tertidur dalam dekapan mimpi-mimpi bersamaku. Tetapi aku, menghabiskan banyak waktu untuk menanti jawaban darimu. Yang kemudian aku tahu, bahwa kamu membalas atas dasar melepas ketidakenakan dalam dirimu, menghormati sesama manusia saja. Aku butuh jawaban segera seperti aku membutuhkanmu dalam seketika. Aku ingin menyentuhmu tetapi aku terlalu malu untuk memulai seperti yang terbayangkan di dalam khayalku.

Aku menjerit di sepertiga malam. Biarkan aku mencintaimu seadanya. Izinkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Terlalu lama aku mengkhayal untuk bersamamu, sedetik saja tak apa untuk dapat melihat senyum merekah di bibirmu, satu helaan napas pun tak jadi soal asalkan aku dapat mendekap tubuhmu. Kupinta ini karena aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama. Setahun yang lalu. Masa penantian yang panjang untukku mengenal sebuah cinta. Hanya untukmu saja, tak bisa kubuka untuk orang lain, belum untuk saat ini. Terlalu berat untukku mengenangmu dalam cinta, teramat sukar untukku keluar dari kaku bertahun-tahun, tak mudah untukku membuka hati menerima orang lain di dalam diriku, tak bisa kubuang egois ini namun aku rindu. Padamu, itu saja.

Kali pertama pertemuan itu, manismu dan manjamu membuatku candu. Aku membelai kasih sayang dengan begitu manja. Aku melepas semua dahaga cita-cita pada sebuah dekapan manja. Aku terbang tinggi mendengar desahan manis yang keluar dari mulutmu. Kamu meminta, aku memberi. Kamu merajuk, aku membalas peluk.

Kali kedua kita bertemu, kamu telah acuh tak acuh. Suaraku sering tersemat di kerongkongan. Pelukanku kamu renggangkan karena tak ingin.

“Aku tidak mau ribet,”

Aku menurut, karena aku cinta.

“Kita jalani saja,”

Aku jalani kemauanmu. Hingga aku sadar, kamu bukanlah untukku. Pertemuan kita hanya melepas penasaran di hatimu. Aku sungguh tidak tahu alasan kenapa kamu tidak lagi berbalas pantun denganku. Pesan yang kukirim kemudian hari hanya melayang di angkasa raya, mungkin saja telah tersangkut di Tower Base Transceiver Station (BTS) sampai aku benar-benar menatap layar smartphone dengan mata kosong.

Segitukah aku dalam cinta. Putri duyung tak dapat meramal. Aku bertemu dengannya dalam sebuah mimpi. Aku hanya bermimpi bersamamu. Kuraih suatu ketika, tak terbalas pada saat itu juga.

Semusim yang lalu, ada sebuah cinta di hatiku untukmu, begitu dalam sampai tidurku tak nyenyak. Khayalku terlalu tinggi, menjuntai seperti gaun pengantin, meninggi seperti sanggul. Bersamamu, mungkin aku akan bahagia. Menurutku, tetapi belum pasti menurutmu. Kamu punya impian bersama bayang-bayang gagah lain yang tak terjawab dalam auraku.

Maafkan aku, telah jatuh cinta, ingin menjagamu dan mendekapmu sepanjang waktu sampai tak ada butiran debu mencium wangimu!
Baca Juga Jodoh di Telapak Kaki Ibu

8 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90