Top Ad 728x90

Monday, September 19, 2016

, , ,

Mainlah Bersama Anak sebelum Train to Busan Dimulai

Mainlah Bersama Anak sebelum Train to Busan Dimulai, train to busan film ayah dan anak membunuh zombie, train to busan puncaki box office, train to busan box office, train to busan laba besar di Korea, Gong Yoo train to busan bagus sekali, pemeran train to busan, review film train to busan, film zombie korea selatan, train to busan film zombie,

 
train to busan film ayah dan anak membunuh zombie
Seok-woo memeluk putrinya, Soo-ahn - frolichawaii.com
Pesan moral TRAIN TO BUSAN; mainlah bersama anak atau luangkanlah waktu bersama anak!

Train to Busan merupakan salah satu film Korea Selatan yang menghipnotis penonton, bisa dikatakan demikian. Satu alasan tentu promosi yang gencar sekali dari film ini dan pemeran utama pria adalah sosok yang sedang dalam kejayaannya, bahkan pria ini merupakan aktor termahal di Korea Selatan untuk tahun 2016. Akting Gong Yoo memang tidak bisa diragukan lagi, saya suka akting pria ini setelah Silenced (Dokani) tahun 2011.  

Film yang sebenarnya cukup “ringan” jika menilik pesan moralnya telah mencapai Box office di Korea Selatan dengan laba 80.2 juta dollar. Train to Busan (Busanhaeng) yang dirilis Juli 2016 hanya mengeluarkan 182.000 dollar untuk produksinya. Sang director Yeon Sang-ho tentu boleh bermain-main setelah kesuksesan film ini. Film yang berdurasi 1 jam 58 menit ini kemudian termasuk ke dalam golongan kelas berat, bukan lagi tontonan untuk anak-anak ketika para zombie mulai menyerang.
Train to Busan dimulai dengan kerinduan Kim Soo-ahn, anak perempuan Seok-woo aka Gong Yoo kepada ibu kandungnya yang telah bercerai dan menetap di Busan. Seok-woo yang bekerja di pasar saham tidak memiliki waktu untuk mengasuh Soo-ahn sehingga anak ini sering kesepian walaupun tinggal bersama neneknya, ibu Seok-woo. Tiap pulang kerja, Soo-ahn akan menagih janji kepada ayahnya agar ke Busan. Seok-woo selalu berjanji namun belum menepatinya sehingga pada ulang tahun anaknya tersebut, pria itu terpaksa harus menepati janji setelah mendapai Soo-ahn menerima telepon dari ibunya. “ibu” hanya tokoh bisu di dalam film ini namun cukup kuat walaupun tidak diperlihatkan nyata. Anak mana yang tidak rindu kepada ibunya sedangkan sosok ayah sibuk dengan aktivitas sendiri.

Permainan ayah dan anak dimulai sejak perjalanan mereka menuju stasiun kereta api cepat. Kedekatan Seok-woo dengan putrinya tidak terlihat secara gamblang di awal perjalanan mereka. Seok-woo sibuk dengan smartphone, tertidur dan mengabaikan putrinya. Dalam hati, saya mengatakan bahwa pria ini hanya melepas “hajat” mengantar anaknya kepada sosok ibu yang dirindui. Saya sengaja tidak membaca resensi Train to Busan sebelum menonton film ini walaupun sangat tergoda karena media sosial menaikkannya ke permukaan. Semula, saya pikir ini hanya film pembunuh zombie yang hambar dan kemenangan ada di pihak tokoh utama. Namun jangan kecewa, rata-rata film Korea Selatan yang saya tonton, endingnya mengecewakan dan mengejutkan. Seperti Silenced, Gong Yoo juga membuat saya kecewa di akhir Train to Busan.

Totalitas Gong Yoo dalam memerankan Seok-woo saya acungi jempol. Kekakuan antara ayah dengan anak di menit-menit awal begitu terasa. Namun hentakan demi hentakan ala Korea mulai maju saat seorang wanita yang telah digigit zombie naik ke dalam kereta api tanpa ada yang tahu. Alur Train to Busan tergolong cepat tetapi tidak hambar. Dialog-dialog amarah dan perdebatan yang menurut saya tidak penting hanya selintas saja. Lebih dari itu, kemasannya adalah seorang anak sedang bermain dengan ayahnya tetapi dikemas dalam permainan mengerikan.

Tokoh-tokoh lain, ada yang penting ada pula yang selintas saja. Wanita hamil, Sung-gyeong, yang diperankan oleh Jung Yu-mi cukup berandil besar. Kamu yang belum menonton jangan berharap akhir dari cerita Train to Busan begitu mengharu-biru. Train to Busan bukan untuk happy-happy ala-ala ayah dan anak. Kedekatan ayah dan anak dibangun dari penumpasan zombie-zombie yang terus berkeliaran. Naluri Seok-woo sebagai seorang ayah tampak nyata saat zombie-zombie mulai tak keruan sifatnya. Siapa saja yang digigit akan berubah menjadi zombie. Seok-woo menjadi ayah yang memainkan permainan petak umpet di dalam kereta api dalam menjaga putrinya. Seok-woo melakukan apa saja agar permainan tersebut selesai dengan bahagia, harapannya tentu sang anak ketemu ibunya di Busan.

Train to Busan menjadi sebuah perjalanan panjang antara ayah dan anak dalam menyelami isi hati masing-masing. Soo-ahn yang menginginkan permainan masa kecil happily ever after malah bermain dengan zombie-zombie. Seok-woo yang tidak memiliki waktu untuk putrinya kemudian mengerti arti pengorbanan seorang ayah. Begitu kisah zombie yang tidak begitu menarik apabila dikemas dengan bunuh-membunuh saja. Train to Busan adalah sebuah permainan “zombie” antara ayah dengan anak. Kedekatan batin antara ayah dengan anak akan terjalin begitu kuat saat sesuatu yang berhubungan dengan nyawa terjadi. Seorang ayah akan rela melakukan apa saja dalam menjaga, menyelamatkan dan memberikan kehidupan lebih baik kepada anaknya kelak. Ayah akan berkorban waktu, tenaga, bahkan cinta untuk anaknya. Gong Yoo dalam Seok-woo telah memberikan semua apa yang saya sebutkan ini. Niscaya ayah akan menyelamatkan nyawa anaknya sekalipun segerombolan zombie mencabik-cabik tenaganya.

Train to Busan bukan film zombie mengerikan. Train to Busan adalah film yang mengajarkan arti kasih sayang dan cinta antara ayah dan anak. Sekali lagi, film ini akan membuat kamu menitikkan air mata di akhir cerita. 
Baca Juga Eksplore Bali dengan Kamera Zenfone 3

10 komentar:

  1. mungkin aku terlanjut jatuh cinta pada film bollywood, sehingga film2 lain terutma Korea jarang menarik minatku :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gua juga ga gitu suka film Korea, tapi untuk film ini, gua kasih rating 9.5/10
      Wajib ditonton, keren abis

      Delete
  2. Gua benci sama si om-om keparat. ARRRGHHHHHH!!!!!! Pengen gua cabik-cabik tuh si Om...GRRRRRRR...

    ReplyDelete
  3. Nonton film ini dan terharu tapi sebel kenapa itu pemain utama nya mesti mati ???? #DrakorMemangBegitu

    ReplyDelete
  4. Aku barusan nonton film ini dan ga terkesan sama sekali. Banyak kali adegan yang ga wajar. hahaha

    ReplyDelete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90