Top Ad 728x90

Sunday, October 9, 2016

, ,

Salah Klik Iklan di Media Sosial seperti Tubuh Terbakar Api dan Perang Batin Meledak Seketika

Etika media sosial, iklan media sosial yang semakin meresahkan, aplikasi media sosial yang merugikan, aplikasi media sosial menjerumus orang menjadi gay, Salah Klik Iklan di Media Sosial seperti Tubuh Terbakar Api dan Perang Batin Meledak Seketika, media sosial sangat berpengaruh terhadap orang menjadi gay, aplikasi blued membuat orang jadi gay, etika media sosial sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi etika di media sosial, hilang etika di media sosial, kenalan di media sosial berujung penipuan dan pemerkosaan,

kenalan di media sosial berujung penipuan dan pemerkosaan
Kenalan di media sosial berujung penipuan - vemale.com
Begitu mudahnya pengiklan menjual produk mereka di media sosial. Mainan media sosial telah menguntungkan banyak pihak. Apapun yang sedang populer atau ingin dipopulerkan, lempar saja ke media sosial, nicaya keunikan itu akan meledak bagaikan bom.

Baca Juga

Media sosial begitu berpengaruh terhadap perkembangan individual. Jika Nabi Muhammad saw. menekankan belajarlah dari ayunan sampai liang lahat, efek samping dari media sosial, mainlah ia dari ayunan sampai tak pernah bosan. Wajar apabila media sosial telah menjadi raja. Anak usia sekolah bahkan lebih hapal akun media sosialnya dibandingkan perkalian atau tata bahasa Indonesia.

Pengaruh zaman tak pernah bisa diubah. Dulu kita cukup bersantai dengan perjodohan dari orang tua. Anak muda sekarang lebih banyak bermain api di media sosial, berkenalan, lalu ada yang ditipu sampai akhirnya ada yang benar-benar serius ke jenjang pernikahan.

Perkembangan Media Sosial
Siapa saja yang terlarut dalam internet pada tahun 2000-an tentu mengenal Friendster. MIRC menjadi salah satu perpesanan instan yang mengibuli pecandunya. Yahoo! Messenger kemudian hadir dengan tatap wajah yang lebih serius. Di akhir cerita dari YM ini banyak sekali kisah cabul dibalik bilik warung internet karena telah mendukung video call dan voice call.

Tahun 2009 sampai sekarang adalah masa di mana dua media sosial berkuasa dan bersaing sangat ketat. Facebook dan Twitter menjadi dua raksasa media sosial yang masih digemari. Naik-turun saham Facebook dan Twitter di lantai saham dunia tak urung membuat keduanya membeku. Belakangan, Twitter diembuskan sedang mencari suntikan agar mampu kembali berjaya.

Kehidupan di dalam Facebook dan Twitter tentu sangat berbeda. Pengguna Twitter terkesan lebih profesional dibandingkan dengan Facebook. Namun keduanya memiliki sisi yang berani, tak takut diblokir pemerintah suatu negara, terbuka dan tiba-tiba membela diri apabila sedikit salah melangkah. Kedua media sosial ini kemudian bergerak ke urusan perjodohan, percintaan klise, dimulainya kekerasan dan pemerkosaan. Sekali lagi, Facebook dan Twitter tetap dapat membungkam tekanan yang datang dari pemerintah atau lembaga swasta.

Awal kemunculan Facebook dan Twitter, pertemanan media sosial ini lebih kepada mengakrabkan rekanan yang telah renggang atau teman lama yang tak ada kabar. Belakang, tampilan Facebook jadi lebih berani, user friendly, gambar yang mudah dilihat, status yang mudah dibaca dan tak ada batasan karakter, serta perpesanan online yang memiliki tanda seseorang sedang aktif atau tidak.

Keberanian Facebook membuat membernya juga lebih bernyali. Akun-akun abal-abal muncul silih-berganti. Kebijakan Facebook yang datang setelah itu juga bisa dikibuli dengan masih bertaburan akun-akun dengan nama dan foto profil disamarkan.

Iklan di Media Sosial
Siapa bilang media sosial seperti Facebook dan Twitter bisa hidup tanpa iklan? Kedua media sosial ini telah disusupi iklan untuk membuat mereka bertahan lebih lama. Iklan-iklan yang bertaburan di Facebook dan Twitter terintegrasi dengan mudah. Twitter versi Android dan iOS bahkan disusupi oleh iklan aplikasi yang mengharuskan pengguna membuka karena tergiur gambar dan slogan.

Kebijakan iklan di Facebook dan Twitter yang berbeda membuat Twitter lebih mudah mengibuli user. Iklan di Twitter tampil lebih vulgar, nyata dan seperti wajib untuk mengekliknya. User yang semula tidak tahu, tabu, bahkan malu-malu menjadi lebih terbuka tentang sesuatu.

Salah klik di iklan Twitter bisa nyasar ke ranah mematikan. Akun abal-abal yang semula hanya bermain di Facebook, Facebook Messenger bahkan Twitter itu sendiri lantas bermain di aplikasi dari iklan yang tayang. Apa yang tayang itu? Salah satu di antaranya adalah aplikasi Blued yang baru saja diblokir oleh pemerintah. Sejatinya, pemerintah terlambat bangun dari tidur panjang dalam memblokir aplikasi ini.

Blued merupakan salah satu aplikasi perpesanan instan yang khusus diciptakan untuk kaum pecinta sesama jenis. Sloganya jelas. Gambarnya juga akurat. Sayangnya iklan dari aplikasi ini begitu mudah tampil di Twitter versi Android maupun iOS. Tabu yang semula dibungkam oleh Facebook dan Twitter dengan akun asal-asalan kemudian menjadi terbuka. Migrasi ke Blued dilakukan oleh mereka secara sadar dan tidak sadar. Tidak pernah ada yang tahu karena iklan di media sosial ini seseorang mencoba-coba, menyasar, bermain dengan Blued yang notabene bisa bermain live streaming dengan kenalan baru.

Iklan di media sosial tanpa diseleksi sungguh disayangkan mengingat betapa banyak pengguna Facebook dan Twitter. Proses coba-coba itu tidak hanya dialami oleh remaja saja, orang dewasa yang telah memiliki tanggung jawab juga akan melakukan hal serupa. Di Facebook dan Twitter akun abal-abal sangat berani, bagaimana mungkin di aplikasi Blued mereka akan berdiam diri.

Kebijakan Pemerintah
Pemerintah bukan saja hanya mengejar pajak dari Google semata. Banyak sekali pekerjaan rumah di ranah internet untuk diperbaiki. Indonesia akan buta segala rupa tanpa Google. Indonesia akan tetap disegani oleh negara luar apabila berani bersikap, bertanggung jawab dan menetralisir suasana di ranah maya.

Facebook dan Twitter masih termasuk ‘rumah’ yang aman untuk user. Terlepas dari lepasnya kendali seseorang, kedua media sosial ini masih lebih banyak manfaatnya. Kehadiran iklan yang seronok, aplikasi yang satu visi seperti tersebut di atas, membuat nilai edukasi dari internet berkurang.

Baca Juga

Pemerintah mempunyai kebijakan menghalau iklan dan aplikasi-aplikasi yang serupa. Pengguna internet juga mampu menyeleksi apa yang layak dan tidak layak. Iklan salah satu media yang mudah mempengaruhi seseorang. Iklan media sosial termasuk primadona sebelum salah klik oleh warga maya. 

hilang etika di media sosial

1 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90