Cerita Wanita Hamil Dicerai Suami Jelang Operasi Caesar

 
Cerita Wanita Hamil Dicerai Suami Jelang Operasi Caesar
Ilustrasi wanita yang menunggu kabar dari suami - vemale.com
Kumulai cerita ini saat anakku, Nabila, berumur enam tahun. Anak yang malang, manis, bergairah dalam mengerjakan segala sesuatu, bersenang-senang dalam harinya. Ia sama sekali tidak tahu permasalahan yang menimpa orang dewasa. Ia hanya tahu bermain dengan santai, bersama sepupunya, Faiz, anak adikku yang hidup bahagia bersama suaminya.

Baca Juga 

Inilah Daerah yang Jadi Kiblat Pariwisata Indonesia

Dan aku?

Malang tak kunjung usai. Pernikahan yang kujalani sangat bahagia di awalnya. Awal yang hanya berumur pendek. Seumur jagung kata orang-orang. Aku berkenalan dengan Candra saat kami masih aktif di lembaga swadaya masyarakat. Candra begitu perhatian kepada wanita ini, wanita yang semula nggak peduli dengan kehadiran Candra lebih dari seorang teman, wanita yang menyebut dirinya begitu egois karena merasa pria hanya akan mempermainkannya, wanita ini yang bernama Nana. Itulah aku.

Pernikahanku dengan Candra berlangsung cepat. Cinta yang singkat terjadi antara aku dengan Candra. Candra terlahir dengan watak periang. Di mana ada Candra dunia seakan-akan hidup dalam gairah kembang api. Adat-istiadat pun digelar saat pernikahan kami. Kedua belah pihak meramaikan suasana hari bahagia tersebut. Aku cukup merasa satu hal, bahwa tiada hari selain itu untuk membuatku benar-benar bahagia.

Aku butuh seorang pria! Akhirnya aku berani mengutarakan ini saat Candra menggenggam erat tanganku. Rona bahagia tidak hanya milik kami berdua. Bahagia milik semua orang yang mengantar bahtera rumah tangga kami menuju kemenangan yang didiam-idamkan semua orang.

Pikiranku selalu positif terhadap kehidupan yang hadir sebagaimana mestinya. Aku tidak menolak kehidupan menjadi tidak normal karena hidup ini memang demikian adanya. Cekcok antara aku dan Candra mulai terjadi begitu usia pernikahan kami masuk dua bulan. Candra lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah, di warung kopi bersama teman-temannya, berbicara panjang lebar tanpa peduli urusan rumah tangga. Waktu itu, kontrak kerja Candra telah berakhir dan di wajahnya kelihatan beban yang berat. Aku tidak mempersoalkan masalah itu. Aku masih bisa hidup saja bersamanya lebih dari cukup. Candra tidak demikian. Lepas dari pekerjaan itu, ia tidak lantas mencari pekerjaan yang lain. Aku tidak bisa berpangku tangan begitu saja. Rumah tangga kami benar-benar harus bertahan sampai di mana mauku dan Candra.

Empat bulan pernikahan, aku hamil. Wajah Candra biasa-biasa saja. Aku nggak mau ngurusin beban yang ada di pikiran Candra karena baru setelah menikah aku paham betul tabiatnya. Dari luar Candra boleh saja ceria, dari dalam batinnya tertekan entah karena apa. Ada rahasia yang mungkin saja Candra tidak mau membaginya denganku. Wanita yang telah ditidurinya dan sebentar lagi akan melahirkan anaknya.

Kehidupan rumah tanggaku tidak bagai dalam kapal pecah. Tetapi kapal yang sedang membawaku dan Candra bisa saja karam tak sepengetahuan kami. Bisa juga diamuk badai kencang sehingga tali-temali lepas dan aku terpelanting ke dasar lautan.

Sikap Candra biasa-biasa saja. Candra lebih banyak diam daripada menyampaikan unek-unek di dalam pikirannya. Pagi hari Candra selalu berangkat. Malam baru pulang. Aku tidak mengubris karena kupikir Candra butuh ketenangan. Aku menyiapkan semua kebutuhan Candra di sela-sela kesibukan di pekerjaan yang baru dan masa-masa kehamilan yang sulit.

Aku baru merasa hatiku perih saat Candra tidak mau menemani check-up  ke dokter di usia kandungan masuk tujuh bulan. Candra terlalu egois dalam diamnya dan melakukan sesuatu di luar batas kemampuanku untuk menggapainya. Aku mau Candra berbicara, memberi alasan, sepatah kata saja. Tetapi Candra tidak mau membuka suara sampai aku lelah menghardiknya dengan kata-kata pedas sekalipun.

Candra diam.

Aku frustasi.
Baca Juga 

Mengapa Aceh Layak Bawa Pulang Piala Wisata Halal Dunia?


Rasanya, aku tidak ikhlas mengandung anak dari pria yang entah sedang berada di langit mana saat bersamaku. Tak ada guna aku mencak-mencak meminta kepastian dari pria itu, tentang sesuatu yang aku bingung menjelaskannya. Aku nggak paham masalah apa yang mendera Candra sampai dirinya benar-benar berlaku demikian.

Aku butuh manusia bersuara. Aku butuh alasan. Katakan. Tapi Candra tetap diam. Sampai semua menjadi sangat kalut di usia kandungan lebih sembilan bulan. Tinggal menghitung hari aku akan melahirkan. Beban di pikiranku sama sekali tidak berkurang. Beban itu bertambah parah begitu aku mengetahui Candra mengabaikanku.

Candra tidak pulang sudah lebih tiga hari. Aku melapor kepada dua adik laki-laki. Aku meminta mereka mencari Candra. Berulangkali pula aku menghubungi nomor ponsel pria itu. Suara operator menjawab dengan manisnya. Aku mengeluarkan teriakan-teriakan tak tentu tujuan. Tetangga berdatangan. Ibu menangis tersedu-sedu. Aku tidak tahu apa yang mesti kulampiaskan. Aku gagal memahami salah di dalam diriku.

Teriakanku semakin menggelegar saat kedua adik tidak menemukan posisi Candra. Pria yang telah enggan kusebut suami. Sikap manisnya tak lagi terbayang di dalam benakku. Suaranya tak pernah lagi terngiang di pikiranku. Caranya berpakaian telah hilang dari penglihatanku. Caranya makan membuatku enggan menyentuh piring.

Candra telah lenyap. Kedua adikku bela-belain diri datang ke rumah Candra yang jaraknya ratusan kilometer. Keduanya membawa pulang kabar duka. Lebih baik aku mati suami daripada ditinggal pergi. Keluarga Candra juga tidak mengetahui di mana dan ke mana anak mereka pergi. Dunia rasanya telah kiamat. Tetapi aku tidak bisa mati. Kontraksi di dalam perutku tak jadi-jadi. Sakit tiada tara. Hatiku panas. Amarahku memuncak. Pada siapa aku meminta pertolongan. Aku malu!

Keluarga melarikanku ke rumah sakit. Aku butuh oksigen tambahan. Aku butuh pertolongan untuk melahirkan bayi ini. Aku tak dapat melahirkan normal dalam kondisi setengah gila. Rambutku acak-acakan. Badanku panas mendidih. Napas tersengal-sengal. Tangan keram. Kaki keram. Pikiran mengawang-awang. Suara menyebut-nyebut entah apa.

Lima menit sebelum aku masuk ke ruang operasi, kusempatkan diri membuka ponsel. Kupanggil nomor Candra. Suara tersambung. Hatiku mulai sedikit tenang. Hingga panggilan terputus Candra tidak mengangkat telepon dariku. Kuulang sekali lagi. Tetap sama. Sekali lagi. Ditolak. Sekali lagi. Ditolak kembali.

Dan, sebuah pesan masuk setelah itu.

Aku ceraikan kamu mulai hari ini, Nana!

Kepalaku meledak. Aku meraung-raung. Ponsel berpindah tangan ke adik perempuanku. Perutku perih luar biasa tetapi bayi itu tak juga mau keluar. Aku dilarikan ke ruangan operasi. Aku tak sadar diri setelah itu. Entah karena pingsan. Entah karena telah dibius untuk kebutuhan operasi.

Aku terbangun dalam remang. Aku bersyukur jika telah mati. Tetapi suara bayi menangis di sampingku membuat rasa syukur itu kutarik kembali. Bayi itu dipeluk Ibu dengan hangat. Aku iba kepada bayi itu. Kasihan kepadanya yang tidak bersalah.

Enam tahun ini, aku tidak pernah mencari Candra. Tidak pernah kukabari apapun tentangku kepada keluarganya. Walau kemudian keluarga Candra ada yang datang meminta maaf. Aku diam seperti diamnya Candra saat bersamaku. Aku tidak tahu di mana dan apa dan mengapa dan seterusnya, salahku kepada Candra. Aku bagaikan pesakitan yang duduk di bangku merah untuk di sidang. Aku seperti dituduh telah berbuat jahat dan akan segera divonis mati atas perbuatan yang tak pernah kuperbuat sebelumnya.

“Aku tak pernah akan menerima kepulangan, Candra!”

Tiap kali ada yang tanya. Teman-teman yang kasihan kepadaku. Tetangga. Siapa pun. Jawaban ini kuberi sebagai penegasan bahwa sakit hatiku kepada Candra teramat lebih dalam dari yang dibayangkan orang banyak.

Hubunganku dengan Candra bukan cinta satu malam. Aku istri. Aku menikah dengannya. Bagian mana yang membuat Candra tidak siap menerimaku, aku tidak tahu. Candra datang dengan berani mengatakan cinta lalu pergi sebagai pengecut setelah menabur benih.

Aku seorang wanita. Aku berhak bahagia bagaimana pun definisinya!
***

Mengapa Saya Menulis Kisah ini?
Dia tidak memaksa menulis tentang ini, dia hanya meminta berulangkali. Dan, untuknya terima kasih telah berbagi.

Saya tahu, sebagaimana orang-orang di lingkungan kami tahu kisah ini. Tetapi tidak ada yang mencemooh bahkan sampai melempar telur seperti dalam drama televisi. Drama yang dialami wanita ini cukup perih untuk saya jabarkan menjadi sebuah kisah, apabila dilihat sendiri.

Wanita ini tegar dalam segala sisi. Dia melupakan semua masalah suaminya yang pengecut dan memulai yang baru sebagai orang tua tunggal. Wanita ini telah membuang luka di kolong yang orang lain tidak tahu.

Kisah ini bagian dari kehidupan yang enggan orang bicarakan karena berlaku universal. Tidak hanya wanita ini yang mengalami hal serupa. Banyak wanita lain yang mengalami persoalan demikian namun tetap berangkat kerja untuk memenuhi kebutuhan. Kasihan tentu saja. Membantu sejauh mana kita sanggup. Semua orang punya kehidupan masing-masing dan bantuan sesekali nggak pernah cukup. Salut saya kepada wanita dalam kisah ini adalah tidak mengiba. Dia bekerja keras walaupun suaminya telah pergi. Jika ia meraung terus-menerus, anaknya tak akan ubah seperti dirinya yang menderita sepanjang waktu.

Tidak mudah memulai kembali kehidupan yang kacau. Pernikahan yang semula ingin bahagia malah terbengkalai karena sifat egois dari seorang saja. Bagi saya, wanita ini tidak bersalah. Justru pria yang menjadi suami wanita ini yang harus duduk di bangku persidangan. Alasan apa sampai meninggalkan istri sedang hamil? Sudah punya wanita lain? Tidak puas? Tidak bahagia?

Wanita ini butuh alasan lho. Dia ditinggal karena apa. Sampai kisah ini saya tulis wanita ini belum mengetahui alasan pasti. Dia memang tidak menghubungi bekas suaminya. Pria itu juga tidak mencoba menghubungi terlebih dahulu, sekadar minta maaf atau apapun itu.

Sakit hati wanita ini tidak saya lihat. Tetapi sakit hati yang dipendam bisa meledak seketika. Tentu pada pria yang mencampakkannya jika kembali suatu saat nanti. Apakah pria itu akan terus membatu sampai suatu saat nanti? Saya tidak tahu. Namun beragam kisah mengajarkan bahwa sebuah kata kembali selalu ada. Saat kata itu dimulai, penyesalan yang muncul menyesak hati.

Catatan penting dari kisah ini, nggak salah memulai dengan saling terbuka sebelum menggunung di kepala. Baik istri maupun suami punya kesempatan yang sama. Mau memulia dari mana, itu adalah hak masing-masing. Penyesalan di kemudian hari cuma bisa dikutuk tetapi tidak bisa dikembalikan menjadi sebuah kesempurnaan. 

Comments

  1. Makanya, jaman sekarang kan banyak yg koar-koar tuh bahwa pacaran itu haram, sebelum nikah ga usah pacaran, kalo cinta langsung lamar saja, dan lain sebagainya. Kalo menurut gua, pemikiran itu tuh udah ga cocok untuk jaman sekarang. Sebelum nikah sebaiknya pacaran dulu, kenali pasangan lu baik2 sebelum melangkah terlalu jauh. Kalo setelah nikah baru ketauan bahwa pasangannya ga bener kan repot, jadinya ya salah satu harus menderita, seperti cerita lu di atas.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua kisah punya makna masing-masing.

      Delete
  2. Perih banget ceritanya. Bacanya sambil elus-elus perut. Semoga saya, kamu dan yang lainnya tidak mengalami kisah seperti ini.

    ReplyDelete
  3. Sedih bangat. Sang wanita yang seharusnya membutuhkan dukungan suami, si suami bukannya memberikan semangat malah memberian tekanan.

    ReplyDelete
  4. Tega banget suaminya, bukannya jagain n beri semangat malah gugat cerai..

    ReplyDelete
  5. Tega sekali suaminya, di cerai saat istri sedang melahirkan, di caesar pula, rasanya sungguh sakit hati. Orang seperti itu dalam islam, amalnya tak pernah di terima selama hidupnya

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"