Drama Teror di Suram

Ilustrasi - repelita.com
Ini sebuah naskah drama yang saya tulis sebagai pembelajaran. Baru pertama menulis tentang ini, saya merasa butuh banyak proses sebelum melempar ke pembaca. Inilah hasilnya, saya berharap banyak masukan dari pakar yang membaca penulisan naskah drama ini. Untuk Anda yang ingin mengambil naskah drama ini sebagai pementasan di sekolah-sekolah, saya izinkan. Namun tidak untuk plagiasi tempat lain. 

PARA PEMAIN:
AMINULLAH           : GURU HONOR
PAK ARIF                 : KEPALA SEKOLAH, TIDAK DISIPLIN
BU FATIMAH           : GURU PEGAWAI, WAKA. KURIKULUM
BU NAILA                : GURU PEGAWAI
PAK YUDHI             : BUPATI KABUPATEN SURAM, OTORITER
KHARISMA              : GURU KONTRAK, PONAKAN PAK YUDHI
AMINAH                   : IBU AMINULLAH, PENYAYANG, SABAR
IGA                             : SISWA PATUH, BERPRESTASI
DINA                          : SISWA TERLAMBAT MENERIMA PEMAHAMAN
MAULANA               : SISWA BANDEL
PENEROR 1
PENEROR 2

01. SEMINGGU JELANG PILKADA
SEPEDA MOTOR MERAUNG DI JALAN KAMPUNG GADUH PUKUL SATU MALAM. BATU DILEMPAR KE JENDELA KACA RUMAH AMINULLAH. JENDELA PECAH KE LANTAI.

AMINAH           : Ya Allah!!! Amin, cepatlah kau bangun, Nak! (Aminah tergopoh ke kamar Aminullah) Siapa yang melempar jendela rumah kita malam-malam begini? (panik, mondar-mandir di ruang tamu).
AMINULLAH   : Ibu tenang ya, kita lihat sama-sama. (Aminullah mengintip dibalik gorden). Ndak ada siapa-siapa di luar, Bu. Mungkin mereka telah pergi. (Aminullah mengintip sekali lagi, di perkarangan tidak ada siapa-siapa).
AMINAH           : La ilaha illa anta, subhanaka, inni kuntu minaz zhalimin…(Aminah membaca doa keselamatan berulangkali).
AMINULLAH   : Ibu masuk saja kembali ke kamar, saya akan berjaga sesaat.
AMINAH           : Ndak bisa, Amin. Ibu khawatir kamu kenapa-kenapa.
AMINULLAH   : Ndak apa-apa, Bu. Ndak ada yang jahat sama kita.
AMINAH           : Siapa juga yang menganggu kita malam-malam?
AMINULLAH   : Mungkin saja salah alamat, Bu.
AMINAH           : Ndak mungkin…
AMINULLAH   : Allah Maha Mengetahui, Bu!
AMINAH           : Baiklah. Jangan lama-lama kamu berjaga, besok sudah ke sekolah pagi-pagi.

02. AMINULLAH DUDUK SENDIRI
AMINULLAH   : Ya Allah, siapa yang keji berbuat jahat kepada hamba? (melihat kiri kanan dengan mata was-was).

AMINULLAH MENGINTIP KEMBALI KE HALAMAN RUMAH DARI BALIK JENDELA. TIDAK ADA SIAPA-SIAPA DI LUAR SANA. TETANGGA PUN TIDAK TERBANGUN PADAHAL SUARA BATU YANG DILEMPAR CUKUP KERAS.

AMINULLAH   : Batu. Ya. Batu itu ke mana? (Aminullah mencari-cari ke seluruh ruangan).
AMINULLAH   : Apa ini? (Aminullah mengambil bongkahan batu yang tergeletak di bawah kursi kayu, dibalut kertas putih)
AMINULLAH   : Ampuni hamba, Ya Allah. Hamba tidak tahu salah di mana dan sama siapa. Mohon beri petunjuk-Mu agar hamba terbebas dari musibah. (tangan Aminullah bergetar sambil membuka kertas putih itu).

SUARA KERTAS DISOBEK. MATA AMINULLAH MELOTOT. ISI KERTAS PUTIH ITU MEMBUAT TUBUHNYA BERGETAR. BIBIR AMINULLAH MEMBIRU. TEROR MALAM ITU JELAS DITUJU KEPADANYA.

03. SUASANA SEKOLAH PAGI HARI
ANAK-ANAK TELAH BERDIRI DI HALAMAN, MENGHADAP KE KANTOR DEWAN GURU. TIAP HARI SEKOLAH AMINULLAH MEWAJIBKAN ANAK-ANAK MEMBACA AL-QURAN. TIAP KELAS BERGILIRAN MENJADI PIKET HARIAN DALAM MEMIMPIN PEMBACAAN AL-QURAN. ANAK-ANAK MEMBACA AL-QURAN SELAMA 10 MENIT MENGIKUTI SEORANG PEMIMPIN DI DEPAN.

BU NAILA         : Saya paling ndak suka guru-guru datang terlambat!
BU FATIMAH   : Saya sudah tegur guru-guru itu, Bu.
BU NAILA         : Tegur saja ndak cukup lho, Bu!
BU FATIMAH   : Mereka tahu sendiri dong tugas dan tanggung jawab. Jangan tiap hari saya tegur, saya kirim pesan singkat, lama-kelamaan manja mereka itu. Roster sudah saya print dan warnai nama mereka. Masa nggak paham juga jam berapa harus masuk kelas.
BU NAILA         : Tugas Ibu kan memang begitu.
BU FATIMAH   : Itu korupsi kecil lho, Bu.
BU NAILA         : Kenapa Ibu melihat ke saya. Saya selalu on time lho. Saya juga tuh yang ngurus anak-anak ngaji tiap hari.
BU FATIMAH   : Tugas piket lho atur anak-anak tiap pagi. Lagi pula, anak-anak sudah ada piket sendiri kok.

AMINULLAH MASUK KE KANTOR DEWAN GURU SAMBIL MENGUCAP SALAM. TANGAN AMINULLAH BERGETAR. BIBIRNYA MASIH MEMBIRU.

BU NAILA         : Ini anak, masuk-masuk kok ndak ucap salam.
AMINULLAh    : Sudah, Bu.
BU NAILA         : Saya ndak dengar. Ulang lagi sana!
BU FATIMAH   : Ibu ini ada-ada saja. (menatap Aminullah lekat-lekat). Kenapa pula dengan kamu, Amin?
AMINULLAH   : Saya baik-baik saja, Bu.
BU FATIMAH   : Kamu tampak pucat. Kamu sudah sarapan?
BU NAILA         : Ibu Fat tiap hari perhatian sama si Amin. Macam si Amin suami kedua saja!
BU FATIMAH   : Kasihan lajang ini, Bu. Katakan, apa yang salah dengan kamu pagi ini? Biasanya kamu selalu semangat.
AMINULLAH   : Semalam ada yang teror saya, Bu.
BU FATIMAH   : Teror bagaimana? Minta kamu cepat kawin atau ada anak gadis orang yang kamu hamili?
BU NAILA         : Cepatlah kau kawin. Lapuk kau itu lama-kelamaan!
AMINULLAH   : Ada orang lempar batu ke rumah saya.
BU NAILA         : Seriuslah kau ngomong. Mana ada zaman begini ada kejadian macam itu?
BU FATIMAH   : Bagaimana kejadiannya?

AMINULLAH MENCERITAKAN KRONOLOGI KEJADIAN SEMALAM. KHARISMA YANG BARU DATANG MEMBENARKAN APA YANG DIALAMI AMINULLAH. KHARISMA MENDAPAT KABAR DARI TEMAN-TEMANNYA YANG MENDAPAT TEROR YANG SAMA.

KHARISMA      : Gawat kali, Ibu-ibu. Saya di kasih tahu teman kena teror. Saya nggak percaya tapi mereka kirim foto ini. (memperlihatkan foto di smartphone warna putih ukuran 5 inci).
BU FATIMAH   : Kamu kena teror itu juga?
KHARISMA      : Saya aman, Bu.
BU FATIMAH   : Kenapa ya kamu nggak diteror? Perasaan kamu juga masih berstatus guru kontrak.
KHARISMA      : Teman-teman saya juga heran. Saya pun heran, kenapa pula guru kontrak dan guru honor saja yang diteror.
BU NAILA         : Kamu kan ponakan si peneror!
BU FATIMAH   : Nggak baik berprasangka, Bu.
BU NAILA         : Coba kau kasih lihat lagi isi kertas itu, Amin. Jelas-jelas itu pamannya si Kharisma. Apa ada bupati dua orang di kabupaten kita?
AMINULLAH   : PILIH KAMI KEMBALI! (membaca isi teror yang dicetak bold dan huruf besar).
KHARISMA      : (mencocokkan kertas di tangan Aminullah dengan di smartphone-nya) Ini persis sama.
BU FATIMAH   : Mungkin saja ada orang lain.
BU NAILA         : Kenapa pula si Kharisma ndak diteror kalau bukan bupati itu?

04. KELAS YANG RIBUT PADA JAM PERTAMA
AMINULLAH   : Anak-anak, beri waktu Bapak bicara lima menit. Bapak punya cerita untuk kalian.
IGA                     : Cerita apa, Pak?
DINA                  : Bapak selalu cerita, kami nggak bosan kok dengarnya. (tidak paham apa yang diucapkan).
MAULANA       : Diam sajalah kau, Dina. Kau banyak bicara, sakit kepala abang!
DINA                  : Aku nggak ngomong sama kamu ya. Aku tuh pengen dengar Bapak cerita kebanjiran kemaren.
MAULANA       : Kau pasang telinga yang kuat!
DINA                  : Aku benar kok. Ya kan, Bu, eh, Pak?
IGA                     : Cerita saja, Pak. Nggak sudah dengar mereka.
AMINULLAH   : Baiklah. Kita mulai ceritanya ya. (Aminullah memulai cerita) Pada zaman dahulu, ada seorang raja yang zalim.
MAULANA       : Nggak menarik, Pak!
DINA                  : Cerita Bapak nggak up to date sih.
IGA                     : Lanjutkan, Pak!
AMINULLAH   : Raja dari Kerajaan Tak Bernama, sebut saja namanya demikian, memerintah hampir satu abad.
MAULANA       : Kelamaan, Pak, satu abad, mana ada itu!
IGA                     : Dengar sajalah dulu, Maulana.
MAULANA       : Iya, ya, puteri pintar sedunia!
AMINULLAH   : Bapak lanjutkan ya. Raja Tak Bernama dikenal sebagai seorang diktator. Rakyat tidak lagi percaya kepadanya. Rakyat melakukan kudeta untuk menurunkan raja dari tahtanya. Raja menumpas rakyat yang membangkang. Raja kembali naik ke tahta dan meneror semua orang yang tidak memihak kepadanya. Rakyat banyak yang dibunuh, anak-anak kelaparan, perempuan jadi janda, rumah-rumah dibakar. Rakyat banyak yang mengungsi ke daerah lain untuk mencari perlindungan.

KELAS YANG SEMULA GADUH JADI SEPI. AMINULLAH KEMBALI BERSEMANGAT MELANJUTKAN CERITANYA.

AMINULLAH   : Nah, anak-anak. Dari cerita di atas, apakah layak kita memilih pemimpin yang demikian?
Anak-anak           : Tidak, Pak!
DINA                  : Itu kan zaman dulu, Pak!
MAULANA       : Woi! Kau pasang telinga yang lebar, itu cerita!!!
DINA                  : Cerita nggak bagus kok diceritain lagi sih, Pak!
IGA                     : Menurut saya, Pak. Seorang pemimpin itu harus mengayomi rakyatnya. Pemimpin yang bijaksana sebisa mungkin akan menjaga rakyatnya, tidak melakukan praktik korupsi dan nepotisme!
AMINULLAH   : Betul sekali, Iga.
DINA                  : Betul banget, Bapak!
MAULANA       : Kau itu selalu telat mikir, Dina!

05. RUMAH PAK YUDHI MALAM HARI
PAK YUDHI      : Bagaimana pekerjaan kalian?
PENEROR 1       : Beres, Pak!
PAK YUDHI      : Malam ini lakukan lagi!
PENEROR 2       : Siap, Pak!

06. SEKOLAH KEMBALI GADUH DENGAN ISU TEROR
KHARISMA      : Kamu masih kena teror, Amin?
AMINULLAH   : Semalam dua kali saya menerima teror.
KHARISMA      : Bagaimana bentuknya?
AMINULLAH   : Jam satu jendela rumah saya kembali dilempar batu. Isi tulisannya sama dengan malam sebelumnya. Teror kedua menjelang subuh, pintu rumah saya digedor-gedor. Saya dan Ibu tidak mengubris. Paginya saya menemukan selembar kertas yang isinya ini. (Aminullah mengeluarkan kertas teror dari dalam tasnya).
KHARISMA      : PILIH KAMI ATAU KAU DIPECAT! (mendehem) Mana bisa guru honor dipecat?
BU FATIMAH   : Teror lagi? (berujar sambil lalu di depan Kharisma dan Aminullah).
KHARISMA      : Lebih parah, Bu!
BU FATIMAH   : Kamu kena juga?
AMINULLAH   : Saya saja, Bu.
BU FATIMAH   : Kita diam-diam saja dulu. Lihat perkembangan ya. Kalau sudah parah baru kita lapor ke kepala sekolah.
KHARISMA      : Ini sudah parah, Bu!
AMINULLAH   : Kita tunggu saja.
KHARISMA      : Kamu bagaimana sih?
AMINULLAH   : Saya setuju dengan Bu Fat. Saya tunggu sampai nanti malam.

07. TEROR LAGI DI KAMPUNG GADUH
PINTU RUMAH AMINULLAH DIGEDOR-GEDOR PUKUL TIGA PAGI. AMINAH TERSEDU-SEDAN DI DALAM KAMARNYA. AMINULLAH MONDAR-MANDIR DALAM GELAP DI RUANG TAMU. GEDORAN PINTU BERLANGSUNG SELAMA SEPULUH  MENIT. AMINULLAH MENGINTIP DARI BALIK GORDEN.

PENEROR 1       : Kita taruh saja seperti kemarin.
PENEROR 2       : Kau lupa kali ini tak boleh ada kesalahan?
PENEROR 1       : Kau lihat sendiri orang itu diam saja. Mereka sudah tahu kita datang.
PENEROR 2       : Kita gedor lagi lebih keras!

PINTU RUMAH AMINULLAH KEMBALI DIGEDOR. AMINULLAH MAJU KE GAGANG PINTU. TIBA-TIBA LENGANNYA DITARIK OLEH AMINAH.

AMINAH           : Biar saja. (berbisik).
AMINULLAH   : Tapi, Bu…
AMINAH           : Ambil wudhu’, salat tahajjud, baca Surat Yasin dan berdoa!
AMINULLAH   : Baiklah, Bu.

08. SURAT PERJANJIAN DARI KEPALA SEKOLAH
PAK ARIF SELALU DATANG TERLAMBAT. PAK ARIF YANG MERENCANAKAN PROGRAM MENGAJI TIAP PAGI, SEKALI PUN TAK PERNAH MELIHAT AKTIVITAS TERSEBUT. PAK ARIF MEMANGGIL AMINULLAH UNTUK KE KANTORNYA, PADAHAL AMINULLAH SEDANG MENGAJAR.

PAK ARIF          : Amin, masuklah.
AMINULLAH   : Baik, Pak.
PAK ARIF          : Begini, Kabupaten Suram akan Pilkada, kamu pasti tahu. Saya memiliki wewenang penuh atas sekolah ini. Saya tidak mau ada yang tersakiti dari sekolah kita.
AMINULLAH   : Saya mengerti, Pak.
PAK ARIF          : Kamu tahulah, sekolah lain sudah ndak terima jasa guru honor. Saya pun mau begitu tapi kasihan pada kalian yang telah lama honor. Maka dari itu, kamu ndak boleh banyak tingkah kalau masih mau menjadi guru honor.
AMINULLAH   : Saya ndak paham maksud, Bapak.
PAK ARIF          : Begini, Amin. Sekolah kita telah jadi sorotan karena prestasi. Pilkada kali ini pun sekolah kita menjadi acuan para calon untuk bertarung. (Aminullah mengerutkan kening). Bupati Yudhi telah memberikan banyak konstribusi untuk daerah, termasuk untuk sekolah kita. Beliau meminta pertolongan kepada pegawai di lingkungan Kabupaten Suram, untuk membantu jalan beliau terpilih kembali.
AMINULLAH   : Saya bukan pegawai, Pak.
PAK ARIF          : Justru itu saya panggil kamu ke mari. Ini ada surat perjanjian untuk guru-guru honor di seluruh Kabupaten Suram. (Aminullah membaca isi surat perjanjian tersebut).
AMINULLAH   : Saya ndak bisa menandatangi ini, Pak.
PAK ARIF          : Kamu pelajari dulu, jangan langsung menjawab ndak bisa.

09. PERDEBATAN KHARISMA DENGAN PAK YUDHI
KHARISMA      : Saya nggak habis pikir, Paman kok tega ya sama kami?
PAK YUDHI      : Kamu aman, Kharisma!
KHARISMA      : Teman-teman saya bagaimana?
PAK YUDHI      : Itu resiko mereka. Mau ndak memihak kepada saya? Kalau ndak mau ya keluar saja dari Suram.
KHARISMA      : Mereka berhak untuk hidup.
PAK YUDHI      : Bukan di Suram kalau begitu.
KHARISMA      : Mereka lahir dan besar di Suram, Paman. Semua yang mereka miliki itu ada di Suram. Mustahil mereka keluar dari tanah kelahiran dan memulai yang baru.
PAK YUDHI      : Siapa suruh lahir di Suram.
KHARISMA      : Paman paham betul itu salah. Kenapa paman mempraktikkan kesalahan tersebut?
PAK YUDHI      : Kharisma, Paman telah banyak buat Suram ini maju. Wajarlah Paman naik sekali lagi. Paman belum mengambil secuil keuntungan pun dari Suram. Kali kedua ini kesempatan Paman untuk mengambil sisa tersebut.
KHARISMA      : Tindakan Paman itu sangat keji.
PAK YUDHI      : Itulah politik, Kharisma.
KHARISMA      : Paman salah dengan meneror guru honor.
PAK YUDHI      : Mereka punya hak suara!

10. TANDA TANGAN SURAT PERJANJIAN
BU NAILA         : Bapak-bapak, ibu-ibu, ini surat perjanjian ya. Kita pilih aman saja, saya ndak mau dimutasi ke sekolah terpencil. (sambil membubuhkan tanda tangan).
BU FATIMAH   : Saya ikhlas dipindah ke mana saja. Saya mengajar karena panggilan jiwa!
BU NAILA         : Bapak-bapak, ibu-ibu, terserah ya mau ikuti siapa. Saya paling takut kalau dipecat lho.
BU FATIMAH   : Rejeki itu Allah yang atur. Saya nggak takut dengan rejeki dari Allah.
BU NAILA         : Manusia harus berusaha.
BU FATIMAH   : Usaha yang bersih bukan kotor begini.
BU NAILA         : Kita memilih pemimpin ini juga untuk kelangsungan hidup lho. Saya cukup senang dengan Pak Yudhi. Saya dapat tunjangan lebih banyak, pelatihan lebih sering, dan sekolah kita jauh dari masalah.
BU FATIMAH   : Saya kerja nggak tergantung kepada pemimpin.
BU NAILA         : Saya juga ndak. Tapi Pak Yudhi sudah kasih saya lebih banyak.
BU FATIMAH   : Saya rasa, Ibu salah paham. Soal gaji dan tunjangan itu kan bukan soal dari kabupaten saja tetapi dari provinsi dan pusat juga.
BU NAILA         : Pokoknya saya ndak mau cari masalah, apalagi sampai dipecat!
BU FATIMAH   : Nggak semudah itu pecat pegawai negeri, Bu!

11. RUANG KEPALA SEKOLAH
PAK ARIF          : Kamu sudah buat keputusan?
AMINULLAH   : Sudah, Pak.
PAK ARIF          : Kalau begitu, jangan sita waktu saya. Kumpulkan saja surat perjanjian tersebut kepada Bu Naila. Saya masih banyak urusan lain di kantor.
AMINULLAH   : Mohon maaf, Pak. Saya tidak bisa menandatangani surat perjanjian ini. (menyerahkan surat perjanjian kepada Pak Arif).
PAK ARIF          : Mati satu tumbuh seribu. Saya ndak perlu mengeluarkan surat keterangan pemecatan. Pintu sekolah ini telah saya tutup untuk kamu. Saya ndak mau membangkang. Kamu yang membangkang, tanggung sendiri akibatnya!
AMINULLAH   : Saya paham, Pak. Terima kasih telah menerima saya selama ini.
PAK ARIF          : Ya. Kamu boleh keluar. Saya masih banyak pekerjaan.
AMINULLAH   : Baik, Pak.

12. RUANG GURU
AMINULLAH MENGEMASI BUKU-BUKU DI ATAS MEJA. TIDAK BANYAK YANG HARUS DIBAWA PULANG. AMINULLAH BERPAMITAN KEPADA GURU-GURU YANG SEDANG MENANDATANGANI SURAT PERJANJIAN UNTUK MEMILIH KEMBALI PAK YUDHI SEBAGAI BUPATI KABUPATEN SURAM SATU PERIODE LAGI.

BU FATIMAH   : Apa yang terjadi dengan kamu, Amin?
AMINULLAH   : menyalami tangan Bu Fatimah tanpa bisa berkata-kata.
BU NAILA         : Itu contoh orang yang egois. Sudah baik sekolah kita terima dia sebagai guru honor, eh ndak tahunya malah…
BU FATIMAH   : Bu Naila tanda tangan saja surat itu!
BU NAILA         : Saya ndak heran. Baru honor saja sudah belagu, bagaimana kalau sudah jadi pegawai?
AMINULLAH   : Saya mengikuti hati nurani, Bu.
BU NAILA         : Kau pikir juga dong masa depan itu!
BU FATIMAH   : Kita nggak tahu masa depan orang lain, Bu.
BU NAILA         : Jangan salah ya, Bu, dari hal kecil seperti ini masa depan jadi suram. Apa sih susahnya tanda tangan? Ndak susah kok nyoblos di Pilkada. Setelah itu kau urus lagi urusan yang belum selesai, contohnya mengajar dengan benar!
AMINULLAH   : Saya minta maaf kepada bapak-bapak dan ibu-ibu.
BU NAILA         : Sudah saya maafkan. Kau baik-baik sajalah di mana itu kau kerja lagi!
BU FATIMAH   : Saya mau jumpai Pak Arif. Ini tidak benar!
AMINULLAH   : Ndak perlu lagi, Bu. Saya ndak mau memperkeruh keadaan. Rejeki saya bukan di sini.
BU FATIMAH   : Keadilan harus ditegakkan!
BU NAILA         : Bu Fat diam sajalah. Saya ndak mau karena si Amin, Bu Fat malah dipecat bukan dimutasi!
KHARISMA      : Saya minta maaf atas tindakan Paman Yudhi, Amin. (berbisik ke telinga Aminullah).
AMINULLAH   : Ndak apa-apa, Kharisma.

13. HALAMAN SEKOLAH
AMINULLAH MENGANGKAT BUKU-BUKU YANG TELAH DIMASUKKAN KE DALAM PLASTIK. IGA DAN DINA YANG KEBETULAN LEWAT MENGHAMPIRI.

IGA                       : Bapak mau pulang ya? Kok cepat kali. Nanti kan masuk kelas kami, Pak.
AMINULLAH      : Bapak ndak pulang. Bapak telah mengundurkan diri dari sekolah.
IGA                       : Kenapa, Pak?
AMINULLAH      : Kalian ingat cerita raja yang bapak sampaikan? Bapak adalah rakyat dari raja tersebut.
IGA                       : Bapak jangan pergilah!
DINA                    : Daerah kita kan nggak ada raja, di sini cuma ada bupati. Bapak gimana sih?
MAULANA          : Bapak serius dipecat? (ngos-ngosan berlari dari ruang guru). Barusan saya dengar dari kantor Bapak dipecat.
IGA                       : Bapak dipecat?
DINA                    : Kok Bapak dipecat. Bapak kan baik.  
AMINULLAH      : Bapak tidak dipecat. Bapak mengundurkan diri.
MAULANA          : Saya nggak salah dengar, Pak. Bu Naila tadi bilang Bapak dipecat karena nggak mau pilih Pak Yudhi bupati lagi.
IGA                       : Masya Allah. Saya nggak menyangka Pak Yudhi begitu.
DINA                    : Pak Yudhi siapa?
MAULANA          : Bupati Suram.
IGA                       : Bupati Kita.
DINA                    : Saya baru dengar nama bupati kita.
MAULANA          : Saya baru percaya cerita, Bapak. Ternyata sekarang masih ada orang yang zalim seperti itu.
DINA                    : Cerita Bapak yang mana?

AMINULLAH MENGELENG KEPALA. MAULANA MENGERAM. IGA TERSEDU-SEDU.

AMINULLAH      : Bapak pamit ya. Gantunglah cita-cita setinggi langit. Suatu saat kalian akan bisa terbang untuk sampai ke sana.
IGA                       : Amin.
MAULANA          : Amin.
DINA                    : Bapak mau pergi jalan-jalan ya?
MAULANA          : DINAAA!
IGA                       : Bapak jangan pergi!
MAULANA          : Iya, jangan pergi, Pak!
AMINULLAH      : Bapak harus pergi. Belajar yang tekun ya. Bapak doakan kalian menjadi orang yang sukses dan tidak zalim di kemudian hari!

AMINULLAH MENINGGALKAN IGA, DINA DAN MAULANA YANG MENANGIS. DARI KANTOR DEWAN GURU, BU FATIMAH IKUT MENANGIS.
***


Comments