Top Ad 728x90

Saturday, October 8, 2016

, ,

Hidup Sengsara Akibat Sakiti Orang Lain

Hidup Sengsara Akibat Sakiti Orang Lain, Hidup Sengsara karena orang lain, Hidup sengsara, kehidupan sengsara, hidup bahagia, kehidupan bahagia, definisi sengsara, definisi bahagia, arti sengsara, arti bahagia,

hidup sengara akibat ulah manusia
Ilustrasi - kompasiana.com
Hablumninannas seringkali kita dengar. Hubungan antarmanusia memang harus diselesaikan dengan manusia. Tuhan tidak menjamin apapun dari hubungan sesama manusia. Kesalahan dan kebenaran terkecil telah tercatat di buku malaikat kiri dan kanan, Ratib dan ‘Atib. Kita tidak bisa menghindari jenis kesalahan dengan pura-pura lupa, anggap sepele dan biar mengalir seperti air.
Baca Juga

Kalimat ‘dia bisa apa’ bisa berimbas lebih buruk dari yang dibayangkan. Kalimat ini sangat sensitif dan bermaksud merendahkan manusia dari beragam definisi. Siapapun dia, mau bentuk fisik seperti apa, mau lemah terkesan di luar, mau garang seperti ombak, mau kasar seperti angin topan, tak lain manusia yang berguna dari sisi yang tidak kita ketahui.

Tuhan tidak menciptakan sesuatu tanpa manfaat. Rumput diciptakan untuk alas kaki di atas tanah berlumpur. Nyamuk diciptakan untuk menetralisir aliran darah yang tak bermanfaat. Hinaan terhadap apa yang dianggap rendah telah menyakitinya secara tidak langsung. Hinaan kepada manusia maka itulah penyakit yang kurang baik. Orang tersakiti, belum tentu memaafkan. Jika meminta maaf dimaafkan akan lebih baik. Jika lupa meminta maaf, bertumpuk dengan beda orang, karma akan berlaku.

“Oh, saya sakit darah manis!”

“Saya nggak enak pikiran, seakan-akan ada yang bisik di telinga!”

Manusia tidak pernah sadar dengan apa yang telah dilakukan. Semakin tinggi mendaki, semakin banyak yang didapat, semakin sering menghina, menyakiti orang lain bahkan merendahkannya lebih dari binatang.

Hidup akan sengsara akibat menyakiti orang lain. Selama ini saya pikir kalimat tersebut biasa-biasa saja. Namun semakin diselami, semakin diresapi, dirasakan, kalimat tersebut membenarkan tentang karma. Sakit – misalnya – ada sebab-akibat, terlepas dari kondisi tubuh. Contoh, si ganteng itu memakan harta anak yatim, tak lama kemudian ia gagal ginjal. Contoh lain, kepala sekolah itu menyulap dana untuk membeli mobil mewahnya, seminggu kemudian ia harus operasi kanker prostat yang diketahui secara tiba-tiba.

Teguran berupa sakit bisa menjadi cambuk untuk mereka yang berpikir. Namun untuk mereka yang terlena, ia akan semakin menanjak sampai melayang seperti pesawat terbang pada rutenya. Kehilangan yang dirasa adalah ‘cobaan Tuhan’ dan selalu menyalahkan Tuhan akibat hilangnya sehat bahkan nyawa orang tercinta.

Pernahkah kita sekali berpikir, “Ini kesalahan saya!” lalu perbaiki bagian yang timpang ini.

Tampilan luar seringkali menipu. Kita terlalu sering berargumentasi bahwa orang yang hidup mewah; punya mobil, rumah gedung, uang banyak, adalah tipikal orang bahagia. Tetapi dasarnya, kebahagiaan tersebut bukan karena uang menggunung, mobil berderet di garasi, rumah bertingkat di mana-mana. Bahagia itu saat kita merasa cukup, tidak susah melihat orang lain senang.

Bahagia itu sederhana saja. Bagaimana cara kita mengintepretasikan kebahagiaan di saat orang lain susah karena satu kalimat ‘dia bisa apa’. Bahagia dan sengsara bermain atas hukum yang sama. Selaras dan tak berpindah ke jalur lain. Ibarat pesawat terbang yang apabila pindah ke beda jalur tanpa memberitahu ke petugas bandara terdekat, maka tabrakan dengan pesawat lain tidak bisa dihindari. Hidup kita diambang kesengsaraan karena telah menyakiti orang lain.

Karma itu berlaku. Hanya saja kita lupa. Tidak mau tahu atau memang keras kepala. Secuil saja menyakiti hati orang lain, bisa berlipat hukuman yang diberikan kepada kita. Setetes saja airmata jatuh di pipi orang lain, bisa bertetes airmata jatuh di pipi kita. Tidak sekarang, nanti, kapan-kapan. Tunggu tanggal mainnya.

Di hari akhir, Tuhan hanya akan menuntut amalan sesuai anjuran agama. Urusan dengan sesama manusia, maka selesaikan sebelum mati. Kita buat orang lain sengsara, maka kita akan merasakan kesengsaraan itu juga. Kita buat orang lain bahagia, maka kebahagiaan akan menyertai kita.

Baca Juga

Percaya atau tidak, terapkan saja pola pikir demikian. Berkaca kepada tokoh masyarakat, sering tampil di televisi, diidolakan, jatuh ke lantai berlumpur karena sebuah kalimat hinaan. Tuhan tak pernah ingkar janji. Tuhan selalu ada cara untuk membuka jalan. Semakin sering kita menyakiti orang lain, semakin terbuka jalan menuju kesengsaraan di dalam hidup kita. 

4 komentar:

  1. Mantap mas tulisannya... saya sendiri berusaha dan berhati2 agar tak memyakiti orang lain ��

    ReplyDelete
  2. Setuju. Makanya aku pribadi berusaha banget biar gak menyakiti orang lain. Dan kalok pun gak sengaja, ngerasa bersalah banget sampe berhari-hari :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita jauh dari hal beginian ya mbak.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90