Top Ad 728x90

Friday, October 14, 2016

, ,

Masihkah Kita Menggenggam Falsafah Hidup dari Sujud Padi?

Masihkah Kita Menggenggam Falsafah Hidup dari Sujud Padi?, Masihkah ada Falsafah Hidup dari Sujud Padi, Sujud Padi, Falsafah Sujud padi yang telah ditinggalkan, Mario Teguh, Dirjen HAM dan Gatot, Masihkah Menggenggam Falsafah Hidup dari Sujud Padi, Kasus Mario Teguh yang tidak akui Kiswinar sebagai anak, Mario Teguh tidak akui Kiswinar sebagai anak, Mario Teguh sombong, Mario Teguh angkuh, Cerita Mario Teguh yang sombong dan angkuh,

Falsafah Hidup dari Sujud Padi?
Falsafah Hidup dari Sujud Padi - dream.co.id
Falsafah hidup dari sebatang padi, semakin berisi ia semakin menunduk (sujud). Tafsiran untuk falsafah ini boleh berbeda-beda. Niat tidak memberikan argumen apapun terhadap kehidupan padi juga bukan larangan. Hidup manusia tidak pernah bisa ditebak. Minggu ini, kita diterjang badai cukup kuat. Jas mahal tidak licin disetrika, ranah hukum bermain. Sayangnya hal ini terjadi pada Dirjen HAM, Mualimin Abdi, menuntut Fresh Laundry sebesar Rp.210 juta karena alasan sepele.

Baca Juga
Kalau Jalan-jalan Lagi, Bawa Pulang Pesawat Terbang Ya

Lembaran lebih lama, Ario Kiswinar mengaku ke media bahwa ia adalah anak kandung dari motivator Mario Teguh. Sayangnya di kasus ini, sang motivator bahkan tak berani tampil di media seperti saat memberi semangat hidup kepada orang lain berdasarkan teori-teori.

Kasus yang sedang perkasa, gugatan seorang wanita kepada guru spiritual, Gatot Brajamusti. Sayangnya, Gatot membuat opini publik terkesan tidak baik terhadap agama Islam.

Tiga tokoh, tiga smash, terpukul bagai angin topan dan rata dengan tanah bagai tsunami.

‘Dia Bisa Apa’
Kalimat ini bisa berupa pertanyaan maupun pernyataan. Sederhana namun mengena sampai ke tulang rusuk. Mualimin berangkat dari pertanyaan ini untuk menuntut laundry pakaian. Kekuasaan yang dimilikinya sekonyong-konyong tak akan terpatahkan. Atas dasar hukum, teori hukuman berat, pasal-pasal berlapis, ganti rugi dan segala jenisnya, Mualimin lupa akan hukum sosial yang sedang berlaku di dunia ini.

‘Dia bisa apa’ juga berlaku keras pada kehidupan Kiswinar. Mario Teguh yang telah berada di atas awan dengan petuah-petuahnya, wajar saja merasa superpower. Kiswinar yang tidak memiliki senjata laras panjang, mudah saja didepak oleh Mario Teguh kembali ke dasarnya. Mario Teguh menutup mata terhadap hukum sosial. Padahal dari kehidupan sosial ini pula namanya melambung tinggi.

Gatot memiliki senjata begitu ampuh dalam menjerat korban. Wanita itu bisa apa jika agama dijampi-jampi dengan narkoba dan seks. Gatot menutup semua perangainya dengan benteng agama. Gatot yang bertitel guru spiritual sangat lupa bahwa Tuhan tidak tidur sama sekali. Hukuman Tuhan berlaku begitu saja. Satu pukulan dari hukuman itu, mendatangkan hukuman-hukuman yang lain.

Hukum sosial zaman dulu hanya sebatas mulut ke mulut. Hukum sosial masa kini ada di tangan media sosial itu sendiri. Ketiga tokoh ini pintar bermain api, terbakar sendiri, terkapar, sampai benar-benar lenyap dari muka bumi. Media sosial memberangus semua kemunafikan. Pro dan kontra tercipta begitu saja. Ocehan serius dan datar membuahkan pemikiran akan keputusan. Tendangan dari hukum sosial lebih berat dibandingkan penjara seumur hidup yang bisa keluar “main-main” saat bel jam istirahat.
Hukum sosial biasanya menguak tindakan yang lain. Mualimin, Mario Teguh maupun Gatot baru saja membuka tabir. Gatot lebih maju selangkah, dari narkoba sampai ke pelecehan seksual. Mario Teguh terbirit-birit entah ke rimba mana karena takut cambuk Tuhan lebih besar karena menelantarkan darah daging. Bagaimana dengan Mualimin. Apakah masih bertahan dengan ‘dia bisa apa’ atau menunggu media membuka tabir yang diungkitnya sendiri?

Makin Hebat, Ia Makin Egois
Orang hebat berangkat dari pangkat, jabatan, dan ketenaran. Tiga hal ini sangat berpengaruh kepada seseorang. Tiga hal ini pula seseorang dengan mudah melontarkan ‘dia bisa apa’ kepada orang lain. Orang yang kurus, orang hebat akan mengatakan ‘dia bisa apa’. Orang yang gemuk, orang hebat juga akan menyebutkan pernyataan yang sama. Orang yang pincang lebih dari itu anggapan dari orang hebat ini.

Di mata orang hebat yang egois, semua orang adalah rendah di matanya. Apapun yang orang kerjakan, ucapan dari orang lain, tetap saja bukan pembenaran dari dirinya. Sanjungan demi sanjungan dibutuhkan untuk menunjang kehebatannya. Makin disanjung, ia makin hebat.

Tiga orang hebat di atas, terlalu lama terlena dengan apa yang didapat. Hukum karma yang berasal dari Tuhan telah dimainkan. Kesalahan kecil di masa lalu muncul ke permukaan akibat ulahnya sendiri. Tidak mungkin kasus salah setrika muncul begitu saja tanpa sebab-akibat. Janggal sekali Mario Teguh kabur tanpa mau menemui Kiswinar. Gatot menanggung malu akibat bermain-main dengan agama.

Hidup akan sengsara karena dosa kepada orang lain. Hablumminannas (hubungan antarmanusia) adalah paku yang menancap. Tuhan tidak menjamin maaf antarmanusia. Orang yang meminta maaf, ia telah mengambil falsafah dari sujud padi. Padi yang kian berisi, menguning, semakin menunduk (sujud). Sujudnya padi kurang lebih sebagai kerendahan hati di dalam dirinya.

Baca Juga Benarkah Anak Perlu Liburan?

1 komentar:

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90