Top Ad 728x90

Sunday, October 2, 2016

,

Star Trek Beyond Copian dari Film Sebelumnya

Star Trek Beyond Copian dari Film Sebelumnya, Review film Star Trek Beyond,

Star Trek Beyond - trailers.apple.com
Hollywood masih tetap didominasi oleh film-film superhero atau science fiction. Satu sisi, film science fiction memang hadir hanya sekadar menghibur penonton, setelah itu nggak ada beban sama sekali. Kondisi ini jauh berbeda dengan film yang berangkat dari kehidupan nyata, pesan moralnya lebih terasa dan beban pikiran akan lebih berat usai menontonnya.

Baca Juga

On the Way to the Airport Ketika Cinta Datang Terlambat

Salah satu film science fiction yang tayang bulan Juli adalah Star Trek Beyond, di mana salah seorang aktor Indonesia, Joe Taslim, berperan sebagai Manas, ajudannya Krall, si penjahat di versi Star Trek tahun 2016. Jujur saja, menonton film-film sejenis science fiction saya sudah tidak memiliki ekspektasi lebih tinggi daripada menonton film-film bergenri romantis atau sosial.

Film science fiction – superhero – tetap sama saja di opening dan ending. Tokoh utama dirasuki mata-mata, lalu memulai konflik dan penumpasan musuh. Jika film sosial, penumpasan kemiskinan akan menyorot tempat-tempat termiskin, film science fiction hadir dengan penuh tipu daya, sorot lampu di mana-mana, senjata nggak masuk akal, tokoh utama yang nggak mati atau sekarat berat walaupun terkena peluru, namun penonton tetap menikmatinya.

Mungkin, karena saya sudah tahu ending film science fiction akan bermuara ke mana, saat menonton Star Trek Beyond juga biasa-biasa. Sampai bagian akhir pun saya tidak menemukan kejutan yang membuat mata terbelalak. Justin Lin memang sukses membawa pasukan luar angkasa sampai ke 335.8 juta dolar Amerika. Sebuah tanda bahwa film ini tetap komplit untuk superhero atau science fiction.

Penonton sebenarnya diajak untuk menonton saja, menghibur diri dari penat karena Star Trek Beyond akan sama hasilnya dengan versi sebelumnya. James T. Kirl yang diperankan oleh Chris Pane memandu USS Enterprise dengan caranya yang sama, tak ada kejutan yang sebenarnya ingin saya dapatkan dari sang kapten. Benar dugaan dari sebelum film ini tayang, Star Trek Beyond membawa isu sesama jenis. Hikaru Sulu yang diperankan oleh John Cho terlihat menggandeng pasangan sejenisnya di menit-menit pertama dan di akhir cerita.

Kejutan manis yang membuat Star Trek Beyond beda dari science fiction lain tak saya rasakan. Kisah mencari kebenaran, menguak kehidupan tokoh yang telah menjadi jahat, menjadi bagian yang hambar untuk ukuran film Hollywood. Saya memang tidak menginginkan Spock (Zachary Quinto) atau dokter Leonard McCoy (Karl Urban) mati di film ini.

Tema dan alur yang sama membuat film science fiction lebih monoton dari film romantis. Adegan demi adegan di Star Trek Beyond telah saya duga dari sejak memulai play. Wanita penyusup – anak buahnya Krall – juga telah saya tuliskan di hati sejak awal dia susupi telekomunukasi dengan Yorktown. Dialog yang mengurat leher tak terlihat walaupun sebenarnya bisa saja dibuat lebih hebat dan mengesampingkan adegan lain. Misalnya, saat Montgomery Scott (Simon Pegg) merayu Jaylah (Sofia Boutella) bisa lebih ditekankan emosi penonton. Jaylah yang pintar berkelahi bisa menghantam kepala Scott terlebih dahulu atau merusak salah satu bagian mesin USS Franklin. Jaylah begitu mudah mengangguk hanya karena sepatah dua patah kata dari Scott.

Flashback mengapa USS Franklin terdampar ke planet tidak terpeta tersebut juga tidak terlihat. Simon Pegg yang juga menulis Star Trek Beyond seharusnya membubuhkan alasan USS Franklin terdampar ke planet penuh nebula lebih detail.

Star Trek Beyond hadir ke tengah-tengah penonton sebagai pelengkap dari film science fiction. Mau menebak-nebak ending sepertinya tidak akan sampai kening berkerut. 

2 komentar:

  1. kalau saya malah penasaran sama sih Joe Taslimnya.. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Joe Taslim cuma selintas-selintas aja, dialognya juga gk banyak.

      Delete

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

Top Ad 728x90