Masjid Besar Al-Hidayah di Tepian Pura Ulun Danu Bratan Bali

masjid di bali
Masjid Besar Al-Hidayah di Bedugul, Bali - Photo by Bai Ruindra
Masjid di Bali? Barangkali, ini tanda tanya yang besar sekali dalam diri saya. Bali dikenal sebagai negerinya wisata, mayoritas beragama Hindu dan tentu saja ‘kebebasan’ menurut definisi masing-masing. Apa yang saya pikirkan kemudian berubah total saat menemukan masjid-masjid di Bali. Masjid Sudirman di Denpasar, Bali, menjadi masjid pertama yang membuat saya kagum. Belum pernah saya merinding melihat masjid yang ramai dan sesak di waktu salat Jumat, 09 September 2016. Alasannya tentu saja karena ini Bali, Kawan. Kamu tahu sendiri apa, mengapa dan bagaimana rupanya Bali; dari literasi bahkan dari kunjungan kamu sendiri.


Kagum dan bulu kuduk kembali berdiri di keesokan harinya, di tepian Danau Bratan, Bedugul, udara yang sejuk, angin menyalak-nyalak, jalanan padat menanjak, dan wisatawan yang ramai, saya berdiri di depan salah satu masjid yang bangunannya sungguh indah. Bersama Sandi dan Pandu, kami menaiki anak-anak tangga untuk mencapai masjid ini. Masjid ini berada lebih tinggi dari bangunan lain, saat memasukinya seperti meninggalkan bekas pada bangunan di samping kiri dan kanan. Hempasan badan dan hentakan kaki yang melankolis begitu sampai di atas sana. Bangunan bercita rasa Timur Tengah berdiri kokoh dengan menara khas dan menghadap ke danau kebanggaan masyarakat Bedugul.

Masjid Besar Al-Hidayah di tepian Danau Bratan, di antara ramainya wisatawan yang melihat pura dan candi di Pura Ulun Danu Bratan, di ikon uang Rp.50.000 dengan segenap keelokan dan keangkuhannya. Masjid ini begitu gagah dan kokohnya. Keindahannya berasa negeri padang pasir. Warna keemasan yang menawan. Kaligrafi yang indah. Kesejukan yang terasa menusuk sampai ke tulang rusuk yang enggan saya jabarkan kembali.

Ke mana-mana, adalah masjid tempat untuk kembali bagi kami seorang muslim. Kebetulan, kami sampai di Danau Bratan pada 10 September 2016 di siang hari. Namun, jika pun bukan pada siang hari – waktu salat – kami pun akan menyambangi rumah Ilahi ini untuk memanjatkan syukur telah sampai ke Pulau Dewata. Hawa yang terasa begitu syahdu, saya seperti terasing di negeri yang menjelaskan keislaman secara abstrak. Terasing ini karena sepi di dalam masjid padahal azan baru saja dikumandang. Sepi yang lain karena inilah ‘rumah’ untuk kami bersenang-senang, beristirahat, mengadu dan meminta pertolongan jika kaki salah melangkah.



Saya dan Sandi mendapat kesempatan untuk salat berjamaah, sementara Pandu menjaga barang-barang bawaan kami. Salat berjamaah yang diisi satu saf saja ini pun terasa khidmat dan khusyuk. Pikiran saya mengangkasa dan seakan-akan telah kosong untuk kembali ke bumi. Wudhu yang telah dilakukan dengan air sedingin es menambah kesejukan hati. Makna yang tersirat dari setiap doa yang saya panjatkan seperti benar telah dikabulkan pada saat itu juga.


Bersantai sejenak di saung yang menghadap ke Danau Bratan menimbulkan kesan lebih mendalam. Sambil menunggu Pandu salat, kami mengitari masjid dan melihat-lihat sana-sini. Di saung kecil tersebut, rombongan dari Makassar bercerita sambil tertawa. Di pagar menghadap ke Danau Bratan, dua perempuan yang memakai cadar saling bertukar foto dan selfie. Saya dan Sandi juga tak henti-henti memotret keindahan dari atas sini. Boat yang melaju kencang di Danau Bratan, memecah air danau seperti Tongkat Musa.

Perpaduan yang nyata sekali di depan saya. Di bawah sana, orang-orang bersenang-senang dengan keindahan alam Bali. Di atas ini, siapa saja yang terpanggil, dengan segenap imannya datang menunaikan kewajiban dan berdoa untuk keselamatan.


Masjid Besar Al-Hidayah terletak persis di tepian Danau Bratan. Kamu yang baru pertama sekali ke sini dan tidak menggunakan guide pasti akan kebingunan. Namun, masjid ini gampang sekali untuk ditemukan. Dengan jarak kira-kira setengah kilometer dari pintu masuk ke Pura Ulun Danu Bratan, kamu bisa melihat menara masjid di atas ketinggian sebelah kanan. Hal yang paling mudah kamu lakukan adalah bertanya kepada orang-orang di sekitar agar dapat menemukan pintu masuk ke dalam masjid.

Kamu bisa bersantai sejenak di Masjid Besar Al-Hidayah sebelum memulai penjajakan wisata di Pura Ulun Danu Bratan. Di lokasi masjid juga terdapat kamar mandi dan toilet. Saung yang menghadap ke danau juga dapat digunakan sebagai tempat berleha-leha.


Bali dan semua yang dimilikinya telah mengantarkan saya kepada rasa takjub dan kagum. Bicara Bali, tidak selamanya tentang sisi negatif. Satu saja kata kunci, di manapun dan kapanpun, hanya kita sendiri yang memberi nilai negatif dan positif!

Comments

  1. entah mengapa aku suka sekali lihat rumah ibadah agama2 baik mesjid, gereja , vihara. apalagi kalau ada ornamen2 unik di sana dan gaya arsitekturnya yang indah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga jadi referensi terbaik ya mbak Tira :)

      Delete
  2. Di Masjid ini sering digunakan utk tahlilan utk mendoakan waliyullah yg dimakamkan disekitar danau Bedugul :-)

    ReplyDelete
  3. Saya baru tau jug ada masjid deket Bedugul TFS :)

    ReplyDelete
  4. wow Masa ada mesjid di tengah tengan umat yang mayoritasnya hindu/buddha..

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"