Aku Akan Mencintaimu Kalau Kau Butuh

Aku Akan Mencintaimu Kalau Kau Butuh
Gong Yoo dalam Goblin - koreandrama.org
Aku akan mencintaimu kalau kau butuh. Lembut, tanpa ekspresi berlebihan, antara serius dan kurang yakin, berbawa emosi dan kasihan mendengar pertanyaan “Apakah kamu mencintaiku?” Petikan dialog yang landing sempurna dalam babak kelima drama seri Goblin, garapan penulis yang sama dengan Descendants of the Sun, penutup tahun yang cukup melegakan setelah dibuka dengan awal tahun yang mengejutkan.

“Aku akan mencintaimu kalau kau butuh!” tepat sasaran untuk aku yang selalu merasa bahwa dunia asmara itu gelap gulita. Ke mana langkah dipijak hanya sindiran yang didapat dari wanita-wanita cantik, elegan, ramping semampai, berseri menggoda, memesona dengan suara, mengejutkan dengan tatapan manja, dan menggiurkan dengan sentuhan nyata. Wanita yang seperti deskripsi pria pikirkan saat ini adalah idaman.

“Kamu terlalu tinggi setelan, makanya nggak laku-laku?” aku terhempas ke luar angkasa, bermain-main dengan bintang-bintang mati, membeku antara komet menjalar dan menjaring musuh, terbakar saat mendekat ke bintang hidup dengan api merona tajam, dan aku kurang yakin bisa kembali lagi ke Bumi. Soal hati itu – kamu menganggap aku egois dan ini adalah pembelaan diri – tidak bisa menebak ke mana muara akan dilabuhi kapal persiar semegah bahkan sekeren Titanic yang dianggap oleh pemiliknya, White Star Line, tidak akan tenggelam walau menghalau karang. Sekuat apapun menjaga dan merawatnya juga akan meledak, terbakar, merugi di suatu ketika, sama dengan Titanic yang menabrak gunung es pada 15 April 1912 berlayar dari Southampton, Inggris ke New York City.

Wanita itu, kamu, berdiri di depan mata, pesona yang kuat, seakan-akan menjulang seperti Elsa dengan gaun gunung es. Tetapi di sisi lain kamu lebih ganas dari CatWomen yang nggak mudah ditangkap sekali sentuh. Bahkan, kamu akan lebih agresif dari wanita biru, Jennifer Lawrence dalam X-Men. Ataupun tatapan pintarnya melebihi Emma Watson dalam serial Harry Potter. Mungkin saja rajukanmu mengalahi vampire Twilight Saga. Tetapi soal rasa tidak ada yang mengenal rupa. Rasa sekuat itu jika telah menusuk ke hati bisa mual-mual dan tak muntah walaupun dipaksa sampai perut kembung dan badan dibilang masuk angin. Diangin-anginkan juga tak kunjung keluar sebelum berani menyatakan perasaan. Tetapi egoku hanya ada padaku saja. Kamu boleh saja menghadang dengan segenap teori tetapi aku juga mempunyai perasaan yang enggan kuutarakan sedetail kamu mau.

“Kamu pemilih!” kawan lain dengan wajah terangkat tinggi mengeluarkan kalimat megahnya. Tidak satu kali, beberapakali malah menusuk sampai aku lupa bangun di pagi hari. Aku tidak mungkin melepaskan sisa hati yang ada untuk kamu yang enggan melirik ke arahku. Dan kamu juga jangan meminta aku untuk mengatakan, I love you, saranghae, aku mencintaimu, tiap waktu, tiap saat, menyentak bagai petir siang hari. Aku tidak akan melakukan hal itu. Aku hanya akan mencintaimu kalau kau butuh, dengan caraku yang sederhana, kaku, tak romantis dengan bunga-bunga musim semi, tak semerbak kembang api penutup tahun, dan tidak semanis gula-gula yang akan menemani pertemuan kita nanti di bibir pantai, menatap langit yang memudar di senja.

Aku akan mencintaimu kalau kau butuh saja. Aku tidak akan memberikan segenap perasaan untuk kamu yang semena-mena. Aku tidak akan terlarut dalam kubangan bersalju sampai membeku dalam pusaran permainan asmara milikmu. Aku tidak akan bersemi sendirian lalu menangis tersedu karena kamu kurang perhatian. Aku akan memberi perhatian seperti mau kamu saja.

Jika kamu tidak butuh, aku tidak akan memberikannya. Kebutuhan kamu akan cinta yang ada padaku karena kamu melihat sisi jeleknya dalam diriku. Butuhnya kamu akan keberadaanku karena wangi tubuh yang melekat. Inginnya kamu untukku peluk karena melodi yang berdentang di dadaku berada di atas nada-nada termegah dalam melodi bagai gerimis siang hari.

Aku sama seperti Goblin yang akan mati suatu ketika. Begitu pedang yang melekat di jantung dicabut, maka Malaikat Pencabut Nyawa akan melayangkan suratan takdir. Aku akan mencintaimu kalau kau butuh, selagi kamu butuh, selagi aku mampu memberikannya. Kamu tidak butuh, aku tidak akan berikan dan tidak akan kukejar sampai berdarah-darah di badan. Kamu lari melihat wajahku yang hanya tampan menurut definisiku sendiri, aku bahkan terlebih dahulu berpaling dari wajah cantikmu.

Aku akan mencintaimu kalau kau butuh. Gong Yoo mendalami karakter Goblin cukup baik sehingga serius dan lucunya dapat. Kim Eun-sook sudah tidak diragukan lagi dalam melahirkan drama-drama terbaik Korea Selatan. Selain dua drama ini, wanita kelahiran 1973 juga menulis The Heirs, Gentleman’s Dignity, Secret Garden dan beberapa judul lain yang cukup laku di pasaran. Eun-sook mampu menciptakan dialog-dialog dan alur cerita yang masuk akal, tidak mengada-ada seperti kebanyakan drama yang lahir saat ini. Ringan namun menendang. Kamu yang di sana, jangan terlalu serius mengakhiri tulisan ini!

Comments

  1. wahhh, cerita drama korea memang bagus-bagus ya. Istri saya kebetulan suka drama korea juga, jadi kadang saya suka nonton juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alurnya terarah dan settingnya kuat mas :)

      Delete
  2. wahhh, aku baru aja nonton hear your voice, film tahun 2012. tau ga, gegra setiap episode bikin penasarn selalu lanjut sampe begadang

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"