Destinasi Wisata Halal Terbaik Dunia Jatuh Kepada?

wisata halal terbaik dunia aceh
Pantai Pulau Kapuk dipoles dengan sangat romantis - wulanafriyanti.blogspot.co.id
Destinasi wisata halal terbaik dunia jatuh kepada Aceh dalam ajang bergengsi, The World Halal Tourism Awards 2016. Aceh menang dalam kategori World'sBest Halal Cultural Destination dengan mengalahkan Azerbaijan, Malaysia, Palestina dan Arab Saudi. Hanya Aceh saja yang terlihat ‘kerdil’ di antara nominasi lain. Aceh bertarung melawan negara-negara Islam dunia dengan kekuatan masing-masing. Aceh sendiri hanya provinsi paling barat di Indonesia yang memiliki keistimewaan khusus, atas dasar Undang-undang Nomor 11 tahun 2006 dengan 273 pasal tentang Undang-undang Pemerintah Daerah bagi Aceh secara khusus.

Kemenangan Aceh sebagai daerah tujuan wisata halal dunia memiliki kemewahan tersendiri. Arab Saudi bukan lawan yang bisa dianggap enteng. Arab Saudi dari dulu telah memiliki hukum Islam dan dipandang sebagai ‘kiblat’ ajaran Islam selain memang di sana letak Kabah sebagai kiblat umat dalam beribadah. Negara tetangga Malaysia terlalu gagah untuk ‘digagahi’ dalam kemenangan ini. Kuala Lumpur bahkan mempunyai bandara terbaik untuk saat ini. Turis yang mendatangi Kuala Lumpur jauh lebih besar dibandingkan Aceh yang masih terseok-seok karena kendala tertentu, misalnya tidak boleh berbikini di pantai Aceh. Aturan baku yang ada di Aceh kemudian menjadi ketakutan tersendiri bagi turis yang ingin menikmati alam Aceh. Namun, begitulah ciri khas yang harus dipertahankan Aceh. Jika berbicara tentang Aceh, maka identitas ini yang akan diingat. Identitas apa? Saya akan ukir dengan kanvas terbaik seperti lukisan sunset di Pantai Lampuuk atau dunia bawah laut di Pulau Weh.

“Kamu dari Aceh ya?” orang yang saya temui selalu terbinar begitu tahu saya terbang dari ujung Sumatera. Bagi mereka, selain tsunami Aceh memiliki makna tersendiri. Tentu saja tentang syariat Islam yang telah berlaku berdasarkan Undang-undang Nomor 44 tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 18 tahun 2001. Aceh memikat untuk diselami makna tersirat dan tersurat.

“Bagaimana Aceh setelah tsunami?” tiap saya keluar Aceh karena berkah menulis, pertanyaan ini selalu mampir dengan indah sekali. Padahal, keseharian saya dan masyarakat Aceh pada umumnya telah melupakan tsunami jauh-jauh hari. Aceh cukup cepat bangkit berkat dukungan dari seluruh dunia. Pembangunan di Aceh menyentak-nyentak dada. Tata kota semakin rapi. Daerah wisata yang berdampak tsunami dipoles dengan sangat elok. Kamu yang masih penasaran dengan kondisi Aceh pascatsunami, saya tunggu di terminal kedatangan Bandara Sultan Iskandar Muda yang baru saja mendapatkan gelar Bandara Halal Terbaik Dunia di ajang yang sama.

“Di Aceh nggak boleh pakai pakaian ketat ya?” teman saya yang perempuan sering bertanya demikian. Wanita Aceh pada umumnya memang tidak memakai pakaian ketat dan tunduk kepada aturan syariat. Satu dua wanita yang membandel itu adalah perkara personal yang mau atau tidak untuk diluruskan. Tetapi jika kamu akan ke Aceh aturan ini ‘sah-sah’ saja dilanggar. Namun sebagai tamu istimewa di daerah istimewa pula tentu saja kamu paham betul letak tata krama. Walaupun hanya ke Aceh saja kamu memakai hijab dengan manik-manik permata, bagian ini membuat kamu berbaur dengan kami yang selalu menghormati hukum Islam di sini.

“Mi Aceh sangat enak ya?” soal perut tentu saja kamu sama dengan teman-teman saya yang lain. Mi Aceh menjadi menu terfavorit dan selalu diburu jika ke Aceh. Tetapi yang terpenting bukan saja itu, kamu yang ke Aceh nggak perlu khawatir restoran tidak halal. Kehalalannya terjamin sempurna. Tempat makan di pinggir jalan pun sudah berlabel halal walaupun tidak ada ikon khusus. Kamu bebas keluar masuk rumah makan karena tidak akan menemukan kategori B1, B2 dan B seterusnya yang membuat khawatir.

Saya selalu bangga dengan titel Aceh. Titel istimewa yang diberikan secara hukum tidak hanya tertulis begitu saja. Orang-orang Aceh memang sejak dulu telah berpegang teguh kepada Islam. Orang Aceh bisa mengajak kamu adu parang jika mengatakan “Kamu Islam KTP!” dalam sebuah candaan. Orang Aceh mau berdebat tentang hukum Islam sampai leher berurat di waktu yang sama azan terdengar dari masjid. Islam dan Aceh tidak bisa dipisahkan walaupun kamu mengulang sampai ke sejarah peperangan Belanda dengan lawan tak seimbang dan tipu muslihat Teuku Umar dan kekuatan ‘sihir’ Cut Nyak Dien.

“Pantai di Aceh masih bagus setelah tsunami?” bahkan, kamu akan merasakan tidak ada bekas tsunami di pantai-pantai yang telah menjadi destinasi wisata. Pantai-pantai di Aceh memiliki pesona yang larut dalam keangkuhan dan kelembutan. Ombak yang besar menggulur pasir sampai ke bibir pantai. Lautan seakan menari dengan irama bermelodi memuji dan bertalu-talu meraih simpati dalam kepongahan dalam dirinya.

“Jangan bercanda dengan air laut!” orang tua kami selalu berujar demikian. Candaan yang dimaksud semacam ucapan, “Ayo kejar aku!!!” dan sejenisnya. Kalimat serupa sangat tabu di bibir pantai dan ombak besar akan menari dengan beat cepat.

Aceh menang dalam destinasi halal dunia karena kami memang unik dan menarik. Sebagian besar teman saya dari blogger atau bukan, selalu punya hasrat ingin ke Aceh. Selain Masjid Raya Baiturrahman, jejak-jejak tsunami dan kuliner yang menggugah rasa, Aceh menyimpan misteri yang belum terkuat habis. Sejauh ini pula, Aceh telah sering bergentayangan di salah satu program televisi swasta. Pantai-pantai Aceh di eksplore dengan cara berbeda dengan view yang menarik dari berbagai sudut, termasuk dari udara melalui drone.
destinasi wisata halal terbaik dunia
Pesona lain di Pantai Pulau Kapuk Aceh - lihat.co.id
Layakkah Aceh Menang sebagai Destinasi Wisata Halal Dunia?
Tentu. Bukan karena saya orang Aceh tetapi dari beberapa sudut pandang, Aceh memang layak menang. Dalam sebuah kompetisi perlu aroma baru dan Aceh masuk ke dalam menu terbaru tersebut. Aceh sedang berada di atas puncak promosi wisata halal dengan berbagai kegiatan maupun pembenahan di mana-mana. Negara nominasi lain telah cukup terkenal di dunia dan sangat disegani dengan keislaman mereka. Kini saatnya Aceh menampakkan taring seperti vampire yang meracuni siapa saja.

Aceh telah Syariat Islam
Aceh telah menerapkan hukum Islam seperti tertuang dalam undang-undang di paragraf sebelumnya. Syariat Islam di Aceh berkenaan dengan ibadah, hukum keluarga, hukum perdata (mualamah), hukum pidana (jinayah), peradilan, pendidikan, dakwah, syiar Islam dan pembelaan Islam. Ketentuan pelaksanaan syariat Islam diatur dalam Qanun.

“Bagaimana dengan kami yang ingin ke Aceh?” teman wanita terlalu khawatir akan ditangkap polisi syariat jika ke Aceh. Sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aceh ya Aceh. Islam ya Islam. Kamu bukan seorang muslimah untuk apa dipaksakan memakai kerudung jika tidak mampu melakukannya. Sekadar menghormati, saya sarankan untuk mengenakan selendang yang menutupi anak rambut agar tidak beterbangan di udara Aceh yang sejuk dan tiba-tiba panas.

“Datang saja, aku akan menjaminnya!” saya berani memberi jaminan bahwa kamu akan aman di bawah hukum Islam. Sebagai perbandingan, keturunan Cina itu sangat banyak di Aceh. Mereka berada di bawah payung yang memberi ketenangan dalam bekerja, belajar bahkan beribadah.

Apakah wanita Cina di Aceh berjilbab? Tentu saja tidak. Mereka berada di luar batas kemampuan syariat untuk mengaturnya. Hanya saja, saat bulan puasa mereka ‘dipaksa’ untuk menghormati umat Islam. Tetapi, orang-orang Cina tersebut mudah berbaur dengan hukum yang berlaku dan mereka juga masih kaya raya kok!

Aceh sebagai daerah satu-satunya yang menerapkan hukum Islam di Indonesia memberikan imbas cukup besar. Aceh kemudian menjadi patokan untuk memulai hukum Islam. Sejauh ini Aceh telah berhasil menjalankan hukum Islam dengan mendekati sempurna. Kepincangan di sana-sini itu lumrah terjadi karena hidup ini tak pernah sempurna.

Jika Kamu ke Pantai Aceh, Simpan Dulu Bikini Itu
Begitulah ‘larangan’ yang ada di Aceh. Namun inilah yang menarik, inilah pembeda Aceh dengan destinasi berlabel halal lainnya. Malaysia masih membenarkan beberapa tempat dengan turis berbikini. Di Uni Emirat Arab, sebuah negara modern dengan Islam kuat juga memiliki pantai-pantai dengan halal bikini.

“Kamu harus siap ke kantor polisi syariat!” jika memang bandel memakai bikini di antara wanita berkerudung lain. Di segala sudut pantai Aceh adalah wanita berkerudung rapi bersama pasangan, keluarga bahkan teman-teman mereka. Wanita ini akan mandi laut dengan pakaian lengkap dan kerudung. Memang, beberapa ada saja yang melepas kerudung namun dalam celana panjang dan baju tertutup. Pria yang mau surfing di pantai Aceh pun harus menaati aturan dengan mengenakan celana pendek selutut bukan underwear saja.

Hukum Islam sejalan dengan hukum alam yang berlaku di Aceh. Kebiasaan tersebut bukan lagi karena takut ditangkap oleh polisi syariat namun kesadaran dari diri pribadi. Polisi syariat pun tidak berjaga-jaga seperti penjaga lalu lintas di tempat-tempat wisata. Tanpa polisi syariat, kamu yang berduaan dengan pasangan belum sah di tempat gelap atau sepi akan ‘dihajar’ oleh warga setempat. Siap-siap malu karena kelakuan beda dari orang lain ini. Bahkan, beberapa pantai yang telah dilabeli sebagai pantai mesum di Aceh dengan sendirinya sepi pengunjung atau dicekal oleh warga.

Sejarah Islam yang Kental di Aceh
Sejarah Islam di Aceh cukup mengejutkan. Dikutip dari Wikipedia Indonesia, masyarakat Aceh telah menganut Islam sebelum tahun 1292 saat Marco Polo melakukan ekspedisi dunia dan singgah di Perlak, Aceh Timur. Islam yang masuk ke Aceh dibawa oleh pedagang-pedagang dari Arab. Hamka mengatakan bahwa Islam masuk ke Aceh pada abad pertama Hijriyah atau ke-7 maupun ke-8 Masehi.  Ali Hasjmy berpendapat Islam menjadi agama populer di Aceh pada abad ke-9. Berbeda dengan Snouck Hourgronje yang memberi pendapat Islam masuk ke Aceh pada abad ke-13 dengan ditandai kejayaan Kesultanan Samudra Pasai.

Adakah orang Aceh beragama selain Islam?” saya tidak tahu. Mungkin kamu harus melakukan survei untuk ini. Seperti yang telah saya katakan, orang Aceh mau berperang jika berkenaan dengan hinaan terhadap Islam. Islam dan darah di Aceh telah menjadi kesatuan yang tidak mungkin dipisahkan begitu saja. Orang Aceh telah memeluk Islam sejak lahir dan itu menjadi harkat dan martabat seumur hidup.

“Banyak kok orang Aceh yang dimurtadkan setelah tsunami!” saya juga tidak tahu. Awal-awal tsunami memang terdapat isu yang mengatakan bahwa orang Aceh yang dibawa kabur ke luar negeri, dicuci otak mereka, lalu ‘dilempar’ kembali ke Aceh untuk mengajarkan ajaran baru.

Kehidupan kami di Aceh masih baik-baik saja. Hukum Islam terus disempurnakan. Orang beribadah masih seperti biasa. Orang yang tidak mau beribadah juga sama rupanya. Darah tetap merah walaupun telah dibekukan. Begitu pula dengan Islam di Aceh. Saya bahkan berani mengatakan, Aceh jaya di bawah naungan syariat Islam seperti Kesultanan Iskandar Muda.
wisata halal terbaik dunia
Pantai Lampukk yang indah - acehguide.com
Aceh sebagai destinasi wisata halal terbaik dunia diberikan tidak saja karena voting oleh voter yang mengorbankan paket internet terkuras habis. Aceh layak menerima ini karena apapun tentang Aceh akan kamu cium suatu saat nanti. Kamu yang ingin menyelami betapa damainya kehidupan di sini ubah saja itinerary ke Aceh untuk liburan akhir tahun. 

Comments

  1. Aceh memang sangat eksotis, jika ada kesempatan, pengen juga ke sana
    ~www.arthanugraha.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Saya doakan semoga tercapai ya mas. Kami tunguu kedatangannya di Aceh :)

      Delete
  2. Tunggu aku di Aceh, kakaaa... Insya Allah

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"