Gempa Bulan Desember di Aceh

gempa di aceh
Gempa di Aceh, subuh 07 Desember 2016 dengan kekuatan 6,5 skala richter terasa begitu kuat. Saya terbangun dan panik untuk waktu yang lama. Tidak ada yang saya pikirkan selain tsunami akan terulang kembali setelah 12 tahun lamanya. Saya tidak ingat menit ke berapa setelah gempa, suara mengaji di masjid terdengar bertalu-talu.

Saya memang masih trauma dengan gempa, besar atau kecil pengaruhnya masih sangat terasa. Dalam remang dan tidak bisa mencapai saklar untuk menghidupkan lampu kamar, saya beristigfar berkali-kali. Lutut saya tidak bisa diajak kompromi untuk sekadar naik kembali ke atas tempat tidur. Dada bergemuruh lumayan kencang sampai perut terasa sakit. Sebab yang mungkin akal-akalan namun begitulah keadaan yang sering terjadi. Saya menahan perih di bagian perut sampai ke dada, mencoba setenang mungkin, menelusuri lorong gelap di hati agar tidak terbawa arus ke emosi tidak stabil, berdamai dengan lutut yang gemetaran, berharap tidak terjadi lagi gempa susulan.

Begitu matahari menyingsing, saya menghidupkan smartphone untuk mengecek di mana pusat gempa. Pada detik yang sama, saya langsung mendapatkan informasi beserta gambar-gambar dari Pidie Jaya. Cukup jauh dari rumah saya ke sana, akan memakan waktu seharian jika melewati Banda Aceh maupun Tangse. Gambar yang beredar adalah foto amatir dari warga yang panik. Saya seperti merasakan sendiri bagaimana kepanikan itu. Hampir tiap tahun, bahkan memang tiap tahun sejak 2004, saya akan panik di bulan Desember.

Saya tidak terkejut karena mendengarkan lagu-lagu bertema bulan akhir tahun. Tetapi tiap Desember, di Aceh akan terjadi gempa dengan kekuatan yang hampir mendekati tahun 2004 silam. Hari ini adalah duka dengan segenap bangunan runtuh, rata dengan tanah, korban jiwa bertumbangan, tangis di mana-mana dan tentu saja doa-doa di awal hari dalam keadaan pasrah.
Desember tahun ini adalah waktu yang paling parah setelah gempa yang menimpa Nias tahun 2005. Berikutnya adalah gempa-gempa kecil yang membuat kami panik, berhamburan ke luar rumah bahkan berlarian ke jalanan untuk mencari tempat tinggi. Gempa pagi ini kembali mengulang trauma. Seakan-akan pagi Desember 2004 terulang begitu mudahnya. Kami hanya tahu dan berpencar ke dataran lebih tinggi. Entah itu adalah pusat gempa atau bukan. Takut teramat kalut akan air laut yang tajam menggulung nyawa. Tidak ada pertolongan dalam gulungan dahsyat itu. Namun hari ini, tanpa tsunami, kami juga merasakan begitu perih luka kembali mengurai rindu. Saya tidak kehilangan namun saudara yang lain di Pidie Jaya tentu telah kehilangan saudara, harta benda bahkan lain sebagainya.
Lalu, Aceh dikutuk karena gempa tiap Desember?

Saya tidak ingin memunculkan argumen sampai tak ada pemecahan. Namun tiap bencana ada sebabnya. Di mana letak kesalahan itu bukanlah karena kami di Aceh, bukan pula karena kami terlalu lama berbuat maksiat, bukan karena kami menyelekan syariat Islam, bukan karena kami terlalu lena akan kenikmatan, tetapi karena itulah perputaran, itulah kuasa Ilahi jika memegang teguh kepada keyakinan, itulah pergeseran lempeng Bumi, itulah karena bumi kita telah semakin tua.
Aceh rentan gempa karena berada di lempengan Bumi. Hal ini terjadi sejak 26 Desember 2004. Lempeng Bumi yang satu dengan yang lain menyatu namun patah pada tahun 2004 sehingga butuh waktu untuk penyembuhan kembali. Proses untuk membuat lempeng Bumi kembali stabil ini pula yang kemudian membuat gempa-gempa sering terjadi di Aceh. – Faisal Adriansyah, Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Pengda Aceh. (Serambi Indonesia, 10/11/15).

Kenapa harus Desember?

Kenapa harus Aceh?

Waktu dan tempat adalah segala sesuatu yang gaib. Desember selalu gempa di Aceh satu hal benar berdasarkan teori dalam konteks di paragraf sebelumnya. Teori yang lebih besar dari itu, hanya Tuhan yang tahu letak kebenarannya. Kita tidak bisa meminta jangan gempa di bulan Desember, jangan gempa di Aceh, jangan gempa di sini karena kami patuh agama, jangan gempa malam hari. Beragam permintaan membuat kita tidak menarik kesimpulan lain bahwa semua terjadi karena masa ini waktu untuk berbenah kembali.

Gempa Aceh terjadi akibat pergeseran sesar Sumatra di utara. Pulau Sumatra dari Aceh hingga Lampung masuk ke dalam sesar besar Sumatra. Sesar Sumatra adalah sesar aktif terpanjang di dunia. Uniknya, daerah yang rawan bencana gempa ini wilayahnya sangat indah dan subur. Tipologi sesar Sumatra adalah daerah patahan atau hancuran sehingga mudah menyerap air. – Surono Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). (Republika, 03/07/13).

Secara teori pergeseran tersebut masih terjadi dan Aceh menjadi satu-satunya daerah dengan resiko tertinggi. Teori lahir karena sebab akibat dari sebuah proses. Kami lari dari gempa karena inilah waktu untuk menyelamatkan diri. Kembali ke soal kutukan yang sering dilontarkan sebagian orang, masing-masing punya persepsi tersendiri namun ingatkah bahwa setiap orang memiliki masa ‘paceklik’ tersendiri dalam hidup?

Desember menjadi waktu yang tepat untuk Aceh khawatir, berlari ke arah tinggi sembari berlari kembali ke pelukan Ilahi. Kita boleh saja terpaku kepada teori tetapi pada masanya teori tersebut hangus oleh kejadian sebenarnya. Jika pun kembali kepada dasar agama, Tuhan akan terus menguji umatnya agar bersabar.

– “Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (Q.S. Al-Anbiya’: 35). – (muslim.or.id, 23/04/15). 

“Sungguh menakjubkan perkaranya orang mukmin. Segala sesuatu yang terjadi padanya semua merupakan kebaikan. Ini terjadi hanya pada orang mukmin. Jika mendapat sesuatu yang menyenangkan dia bersyukur, maka itu kebaikan baginya. Jika mendapat keburukan dia bersabar, maka itu juga kebaikan baginya.” (H.R Muslim). – (muslim.or.id, 23/04/15).

Desember pasti akan berlalu, seperti badai pasti berlalu. Duka kami hari ini akan terganti dengan bahagia pada saatnya tiba. Gundah kami detik ini akan menjadi dentuman manja di waktu berbeda. Gempa di Aceh pada bulan Desember akan terulang kembali? Tiada yang tahu soal ini. 
*Gambar dari PKPU Aceh dan sumber lain. 

Comments

  1. Sedih :(
    Jumlah korban terus bertambah. Semoga yang luka-luka segera pulih ya Bai...semoga bantuan terus mengalir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih doanya mbak Andy :)

      Delete
    2. Gempa Aceh desember 2016 sering terjadi, muhasabah diri bagi kita semua bahwa Allah berkomunikasi dengan hambanya mengingat kan kembali tentang apa yang sudah di tetapkan dlm Alquran..sudah terhitung +- 7 kali gempa pd desember 2016 ini, andaikan di gabungkan dari semua gempa yang sering terjadi di bulan ini menjadi 1 peristiwa gempa di bulan desember ini mungkin lebih dahsyat, sayang nya Allah memecahkah dan masih meringankan..
      #Renungan untuk kita semua

      Delete
  2. Gempa di aceh atau di dunia setiap harinya terjadi, hanya sebahagian kecil yang terasa oleh manusia. Dan proses yang terjadi di bulan desember mungkin anggapan sebahagian orang, karena terbawa masih suasana kelam tsunami medio 2004. Semoga saudara kita yang menjadi korban diberikan ketabahan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua telah tertuang dalam al-Quran kan. Kita harus bersyukur lebih banyak lagi.

      Delete
  3. Kutukan atau bukan, kita semua memang hrs selalu instrospeksi dan membenahi diri. Tapi secara geologi, gempa disebabkan oleh pergerakan lempeng tektonik bumi. Sama sekali berada di luar pemikiran manusia. Gempa tdk dpt diprediksi kapan terjadi dan berapa kekuataannya. Dan semua daerah bisa terkena gempa, bukan cuma Aceh saja. Turut ber-belasungkawa utk korban gempa di Aceh.

    ReplyDelete
  4. Semoga semuanya segera membaik ya Mas Bai. Doa kami dari pulau seberang yg juga mengkhawatirkan gunung Merapi yg ikut menggerakkan seismograf saat Aceh bergetar. Semoga kita semua selalu dalam lindunganNya. Aamiinn

    ReplyDelete
  5. Semoga semua baik2 aja ya Bai.. doa kami untuk saudara2 di Aceh..

    ReplyDelete
  6. Menurut saya kalau dikatakan sebagai kutukan sangat tidak tepat, karena memang penyebutan kutukan itu mencerminkan suatu yang dimurka, kita berdoa jangan sampai Aceh menjadi demikian

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kita harus lebih banyak instropeksi diri ya.

      Delete
  7. Iya kan bukan kutukan tapi karena ritme alam dari patahan yg bergerak tiap tahun, kebetulan terjadinya di bulan Desember

    ReplyDelete
  8. Turut berduka mas... Anyway, saya setuju komennya mba Evrina diatas.

    ReplyDelete
  9. Semoga mereka yang di timpa misibah tetap di beri kesabaran dari Allah swt aminn..

    ReplyDelete
  10. Orang2 hobinya menghubung-hubungkan yang nggak berhubungan. Kalo masalah gempa di Aceh, nggak selalu bulan Desember kok. Tahun 2012, bulan April juga gempa di Simeuleue, 8 SR lebih. Tahun 2013, gempa di Aceh Tengah, 6 SR lebih. Orang fokus ke bulan Desember karena gempa dan tsunami 2004 yang terjadinya di bulan Desember. Dan sepanjang 2016, kayanya gempanya jalan2 dari ujung barat sampe timur Indonesia, nggak cuma di Aceh.
    Kalau dihubung2kan begitu, nantinya orang di Aceh paranoid tiap bulan Desember.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga semua masyarakat Aceh tabah ya.

      Delete
  11. seluruh indonesia mendoakan yang terbaik buat aceh..

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"