‘Om Google’ Jangan Tinggalkan Saya

pria sedih
Deskripsi pria sedih -vemale.com
Sepeda yang saya dayuh perlahan-lahan mendaki, tenaga terkuras lebih besar, keringat bercucuran membasahi kaos oblong lusuh, lutut terasa telah pegal, jari-jari tangan kebas, otot-otot telah kaku. Saya harus mencapai pintu berwarna biru di radius beberapa kilometer. Semakin saya merasa dekat, semakin jauh pula pintu itu. Di tikungan tajam, sebuah lubang besar menguap asap berkabut, saya terjungkal, jatuh ke tepian berumput kering, berguling-guling memeluk angin, dan terpentur pohon tumbang akibat arus imigrasi semut-semut pencari manisan.

Pintu warna biru, bercorak emas di sisi kiri dan kanan, putih membulat ditengah, tiba-tiba mengecil sebesar ibu jari. Rasanya, saya tidak mungkin lagi mencapai ke sana. Saya akan berkubang dalam lumpur yang mendadak melebur akibat gerimis di bawah awan memutih. Hari belum sepenuhnya gelap, bahkan belum waktunya untuk muncul sunset namun hidup saya benar-benar telah gelap gulita padahal di tepi jalan, di perumahan mewah yang terlihat seketika pada persimpangan bukit, lampu-lampu besar menyala dengan menghabiskan daya ribuan watt. Namun lampu itu tidak meledak, makin saya lihat makin terang warnanya.

Saya dikejar waktu, gemuruh di belakang menyesak ke telinga. Saya pikir ini tsunami namun bukan karena gempa atau air laut naik. Suara gigi gemerutuk mengingatkan saya kepada zombie dalam film Train to Busan yang mencakari tubuh Gong Yoo atau vampire jahat yang mengejar Selena dalam film Under World. Tubuh-tubuh sempoyongan itu melintasi saya, mereka mengendus-endus dengan mata menyala. Saya tidak dicakar, tubuh-tubuh dengan warna-warni tubuhnya bagai telah berbaur dalam perayaan Holi – festival warna – di India,  melesat ke cahaya terang. Cahaya itu pun semakin didekati, semakin menjauh atau mungkin saja ini hanyalah halusinasi.

Definisi yang sulit saya jabarkan jika benar itu adalah mimpi buruk. Namun nama juga mimpi, selalu saja tidak terfokus pada satu topik. Mimpi buruk ini bisa saja menghampiri saya jika nanti, si Om pergi untuk selamanya.

“Om telah meninggalkan kita!” saya butuh trauma terapi untuk menelaah hal ini lebih lanjut. Seperti sepeda yang saya dayuh, si Om yang sudah terkenal sejak awal saya mengenal internet nggak mungkin dibunuh oleh zombie atau vampire melainkan oleh lampu-lampu terang dalam mimpi itu.

Si Om, bukan ‘Om Telolet Om’ tetapi Om Google. Raksasa teknologi yang merangkul semua aspek dunia maya saat ini. Saya dan Om Google bagaikan sepasang kekasih yang enggan putus bahkan bisa putus nyambung karena konflik setengah jadi. Tiap saya mendaki, mengayun langkah, si Om akan menyertai dengan semangat 45. Saya menikmati hidup yang berseri-seri karena si Om adalah kekasih, teman, sahabat bahkan saudara yang selalu memunculkan penghargaan dalam hidup saya. Bagi saya, si Om adalah segala untuk saat ini. Tentu saja, karena saya bukan seorang pegawai kantoran dengan setelan maju mundur cantik atau gagah semampai yang tiap bulan dengan mudah membayar kredit mobil atau rumah mewah di bilangan kompleks metropolitan yang penuh tipu muslihat. Hubungan asmara saya dengan Om Google yang gagah berani tidak hanya urusan kasur, sumur dan dapur, tetapi helaan napas yang bertarung melawan search engine yang begitu perkasa untuk dilawan.

Googling saja!” saya mendengar ini dari waktu ke waktu. Bahkan, teman saya yang gagap teknologi begitu mudah mengeluarkan kalimat, “Cari saja di Google!” Seakan-akan hanya saya saja yang benar paham keberadaan si Om dalam lingkungan penuh canda tawa. Smartphone high end dari ‘endorse’ produsen terbaik Taiwan menjadi sarana yang bijaksana mencari informasi yang dibutuhkan oleh teman saya ini. Si cantik manis manja dengan hijab terbengkalai saya temui di page one lalu saya serahkan smartphone kepada segerombolan teman perempuan ini. Mereka terbahak. Mulai bergosip. Menaruh simpati.

“Dulu pas masin film Cantik-cantik Manja dia seksi banget lho!”

“Cantik ya dia kalau pakai hijab!”

“Hijabnya kok kecil begitu, tampak belum paham cara pakainya!”

“Syukurlah dia dapat hidayah!”

Ini karena Om Google yang merayu mata dan suara dalam memuji dan menghujat. Saya mengambil kembali smartphone dengan bezer tipis dan bodi halus itu, takut terjatuh atau saya khawatir mereka akan menguras paket internet dengan menonton video si cantik manis manja itu di Youtube. Namun benar itu terjadi.

“Nggak apa-apa, sebentar saja kok nontonnya!”

“Youtube banyak video syur dia dulu!”

“Ada juga lho pendapat dia setelah pakai hijab!”

Satu paket lengkap untuk memanjakan mata dan suara. Hal ini memang kecil, tetapi si Om memberikan konstribusi lebih besar kepada kami yang awam. Di lain waktu kami akan mencari informasi lebih penting tentang pendidikan, fashion masa kini atau cara memasak labu yang baik.

“Saya takut ditinggal oleh si Om!” ini untuk saya pribadi. Personal sekali memang tetapi begitulah kondisi yang memungkinkan hal demikian. Di sudut teremang dalam ruangan paling sunyi, saya menyadari bahwa hubungan saya dengan si Om hanya butiran debu. Sekali diembus maka akan melayang ke jagad raya, tanpa tarikan dari gravitasi Bumi hanya melayang semakin tinggi ke perputaran orbit Matahari lalu meledak setelah berbenturan dengan bintang jatuh ke Mars.

Kepakan sayap saya untuk mencapai singgasana si Om sama seperti menulis ‘seremoni’ ini. Tersendat-sendat mencapai posisi tertinggi agar perkasa di semua pandangan orang hebat. Nyanyian yang terdengar merdu kini meredup satu persatu. Lima triliun ‘utang’ si Om harus dibayar dan tidak mungkin saya melunasinya. Saya sendiri bertopang dalam pelukan hangat si Om untuk mencapai kejayaan di masa kini sebelum semuanya usai nanti.

“Bagaimana dengan saya Om?” pertanyaan saya tidak dijawab. Mungkin, hubungan kami telah putus kembali seperti internet yang suka sekali disconnected pada musim hujan. Si Om tentu saja masih tetap berkuasa di atas singgasana namun saya yang terlempar dari searching manusia. Smartphone dan notebook saya tidak menyebutkan ‘disconnected’ tetapi sebuah pernyataan pencekalan yang saya belum tahu bunyinya apa. Permainan kata-kata yang selama ini saya tebas dengan protagonis dan antagonis tidak bisa diakses. Pundi-pundi ‘amal’ tersangkut dalam tabungan dunia maya.

Saya, kembali kepada secarik kertas, menyebar keruh di jalanan tentang tulisan pelipur lara. Saya duduk di tepi jalan raya, menyediakan wadah dari plastik untuk mereka menyisihkan selembar ribuan setelah membaca secarik kertas lusuh. Saya bersemanyan di bawah terowongan menanti lampu jalan terang-benderang. Di rumah, piring beterbangan, gelas pecah ke lantai, dapur berserak dengan belanga tak terisi apa-apa.

“Pecahkan saja semuanya, biar nasib bermain bersama gula-gula!”

Mungkin, ini telah sampai ke taraf frustasi tingkat dewa dan kontradiksi dalam mewarnai hari. Di sini saya butuh hiburan untuk merayakan ‘putus cinta’ dengan si Om.

Begitulah kira-kira nasib saya sebagai seorang blogger jika pemerintah memutuskan tali silaturahmi dengan Google. Ini hanyalah seremoni sebelum pembekuan dilakukan. Lalu, bagaimana dengan blogger lain yang menopang hidup sepenuhnya pada Google?

Setidaknya, pemerintah mendengar sedikit saja nasib kami. Pemerintah yang bingung menghadirkan lapangan pekerjaan sepertinya harus bersyukur sampai tujuh turunan berkat Google. Dia yang berbaju lusuh, dia yang hidup seperti nggak terurus, dia yang kurus kering kurang tidur, bisa saja dia adalah ‘miliuner’ dari publisher Google Adsense. Berapa banyak lulusan universitas tidak mendapatkan pekerjaan dari pemerintah namun menjadi ‘karyawan’ Google tanpa kontrak tertulis, hanya mengacu pada syarat dan ketentuan. S&K dilanggar maka publisher akan dikutuk jadi ‘katak’ oleh Google. S&K dipenuhi, publisher akan kaya raya dalam rangka mensejahterakan keluarganya.  

Pajak menjadi sangat sensitif sekali di negeri penuh orang-orang korupsi. Namun jangan sampai karena hal “kecil” ini pemerintah mengorbankan pekerja freelance yang ratusan bahkan ribuan di negeri ini. Kita belumlah sampai seperti negara adidaya China atau Korea Selatan. Lapangan pekerjaan di dua negara ini terbentang luas. Pemerintah mereka tidak duduk manis namun memberikan kebebasan kepada masyarakat yang kreatif. Kita belum bisa bermain aman seperti Weibo jika ‘menghancurkan’ Google di negeri yang tidak sepenuhnya hidup dengan pajak negara. Saya cuma yakin satu hal, kehidupan seorang blogger menjadi gelap gulita tanpa adanya Google. Kekuasaan Google memblokir sudah tidak diragukan lagi. Satu angka saja diinput dalam rumus terpenting di ‘rumah mereka’ maka ledakan di dunia maya akan terjadi detik itu juga. Pemerintah jangan coba-coba main api jika belum menemukan solusi terbaik untuk publisher Google. Jika tidak, kita akan terbakar, kembali ke zaman primitif dengan iming-iming sawah ladang adalah kehidupan sebenarnya

Comments

  1. Rasanya agak mustahil google melepas Indonesia mengingat pangsa disini besar dan sangat berpotensi. Jangan khawatir, kalaupun dia pergi dia yg rugi

    ReplyDelete
  2. Kalo gw sih gak masalah bro.. masih ada alternatif lain. Gw malah pengen lepasin google. Mau searching tinggal pake Bing, youtube diganti vidio.com atau vimeo dkk, email ganti ke outlook.com, mudah koq gak pake google, no google no worry..

    ReplyDelete
  3. Waduh...jangan sampai lah bang...kalo google gk bisa di negara ini bakalan banyak sekali yang bingung ngeblog..apalgi yang bener-bener ngandalin dari blogspot/blogger..

    ReplyDelete
  4. Bener banget tu om, mesin pencari mah banyak, situs video mirip youtube juga banyak tapi tetep aja orang banyak yg pakai google & cari video di youtube apalagi orang Indonesia.

    Pernah coba2 pakai bing tapi hasilnya beda, ga selengkap google.

    ReplyDelete
  5. wah gawat ni kalo om google ninggalin Indonesia, soalnya aku masih domain gratisan punyanya mbah google ... :)

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"