Kantuk Hilang dengan Secangkir Kopi di Gunung Terindah di Aceh

Kopi terenak di Aceh
Kopi yang bikin candu! - photo by Bai Ruindra
Kopi bisa menghilangkan kantuk? Seorang traveler wajib tahu tentang ini. Namun semua kembali ke soal rasa sih. Saya mengatakan kopi bisa menghilangkan kantuk, belum tentu kamu mengiyakan.

Sepeda motor matic saya melaju kencang di jalan lintas barat Aceh. Saya memang bukan pengendara ulung namun cukup sering berkendara selama 4 sampai 5 jam ke Banda Aceh. Nikmat saja berkendara sambil menikmati pemandangan laut yang biru, alam yang sejuk, pengunungan yang tinggi, sisa-sisa tsunami yang membisu dan hal-hal lain yang membuat rasa syukur itu melankolis.

Lelah sudah pasti, kantuk bisa saja datang. Saya harus mencari tempat yang cocok untuk berhenti sejenak. Selain SPBU, puncak gunung ini menjadi salah satu pilihan terbaik untuk istirahat sejenak.

Karena apa?

Saya ingin ngopi, ingin makan mi atau minum air kelapa muda.

Saya menepikan sepeda motor di tempat parkiran yang telah tersedia. Angin sepoi-sepoi dari laut terasa menyejukkan wajah. Jalanan sepi berbaur dengan keheningan yang kemudian menjadi kekhusyukan tersendiri. Adik saya telah terbirit-birit terlebih dahulu, mencari kamar kecil. Saya memilih tempat yang cocok untuk menghadap ke lautan lepas. Sebuah pulau dengan megah dan kokoh ada di sana. Pulau itu tak goyah bahkan menghilang akibat tsunami akhir tahun 2004. Pulau itu tetap saja menarik dan eksotik. Entah siapa yang pernah ke sana. Entah siapa pula yang tinggal di sana.

“Mau pesan apa, Bang?” seorang wanita yang saya taksir berusia 35 tahun itu bertanya saat adik saya telah duduk dan mengarahkan kamera ponselnya ke segala sisi.

“Kopi, kelapa muda dan mi,” tiga menu ini adalah favorit di sini. Terlebih kopi itu. Aromanya khas sekali. Kekentalannya terasa sampai ke ubun-ubun. Ampasnya bahkan lebih banyak dari kopi itu sendiri. Namun soal rasa, kopi ini bisa menghilangkan kantuk seketika!

Pesanan kami datang kira-kira sepuluh menit kemudian. Kami siap menyantap mi dengan lahap, mengisi perut yang keroncongan. Setengah perjalanan telah dilalui dan kami butuh tenaga untuk menggerakkan tubuh kembali. Kelapa muda yang segar menambah kebutuhan akan air di dalam tubuh. Sebagai candu yang kuat, kopi telah tersedia dengan manis, menggoda, kafein tingkat tinggi dan sekali aduk aromanya langsung menyengat.
“Inilah kopi Geurute!” seru saya seakan kepada diri sendiri. Cangkir kopi yang sederhana. Kemasan yang sama sekali tidak menarik untuk pecinta kuliner kelas atas. Ampas yang nggak banget jika menilai dari estetika sebuah minuman berdasarkan level lebih tinggi. Cara seduh yang ‘kampungan’ sekali padahal harganya jauh lebih mahal. Tetapi, tahukah kamu keunikan dan kenikmatan itu bisa datang dengan sendirinya?

Rasa kopi di atas Gunung Geurute ini memang tidak seberapa dengan kafe-kafe kelas atas. Kopi ini diseduh dan disajikan dengan rasa kampung. Keunikan inilah yang kemudian membuat kamu terbelalak dan membahak dalam hati. Sedikit saja kamu meneguk kopi ini, pelurunya langsung menancap ke dasar otak, memberikan atmosfer lebih baik, membidik kantuk, meledakkannya seketika. Kekuatan kopi Aceh di atas Gunung Geurute memang tiada tanding. Kopi ini sangat cocok untuk kamu yang melintasi barat selatan Aceh. Persinggahan yang beraroma laut, gunung tinggi, jalan sepi dan aneka makanan yang dijual lebih mahal jika kamu turun ke bawah gunung ini.

Gunung Geurute dikenal sebagai salah satu tempat termenarik jika kamu melintasi barat Aceh. Gunung ini adalah akhir dari perjalanan panjang untuk melepas lelah. Terletak di kawasan Aceh Jaya, Gunung Geurute menjadi objek wisata tersendiri. Tidak hanya kopi yang bisa menghilangkan rasa kantuk saja, pemandangan Lamno di bawah sana cukup baik seperti hamparan lukisan mahakarya. Hitung-hitung, jika kamu sedang mencari wanita mata biru di kawasan Lamno, secangkir kopi di atas Gunung Geurute ini bisa mengobati rasa penasaran terlebih dahulu. Dari atas ini pula kita dapat melihat panorama alam yang terhampar luas. Laut biru mengarung dengan kencang.
Kopi di atas Gunung Geurute membuat saya kangen sesekali. Jika bepergian dengan sepeda motor, saya sempatkan untuk berleha-leha sejenak di sini. Sebenarnya rasa yang membuat kopi di sini nikmat karena saya butuh tenaga lebih kuat agar sampai ke Banda Aceh atau sebaliknya ke Meulaboh. Rasa kantuk itu tentu perlu obat agar saya tidak kelabakan dalam berkendara.

Jalan yang dilalui juga menarik kok. Gunung terbelah menjadi objek foto menarik jika kamu berani di tengah jalan. Kudu hati-hati kalau soal ini, kendaraan yang melintasi jalanan ini selalu dalam kecepatan tinggi. Eh, kamu boleh juga menyediakan pisang untuk memberikan kepada tamu istimewa di tengah-tengah jalan.
Tamu itu adalah monyet yang selalu manja jika ada yang menepikan kendaraan mereka. Pasukan monyet tak akan malu menyerbu karena insting akan pisang enak akan mereka dapatkan begitu saja. Monyet-monyet ini biasanya berkelompok dan mereka cukup sering bermain di jalanan yang sepi, yang tiba-tiba dilintasi oleh kendaraan satu persatu.
Kamu yang akan melintasi barat Aceh, boleh deh mampir dulu di atas Gunung Geurute ini. Secangkir kopi akan membuat kamu kangen akan keindahan alam Aceh dari atas gunung ini. Saya juga yakin, kantuk kamu akan hilang karen secangkir kopi di sini!

Comments

  1. Kebiasaan para pelintas memberikan makanan pada pasukan monyet bukan hanya merusak pola hidup alami mereka. Tapi juga menjadi pemicu yang membuat mereka berani mendekati manusia yang melintas. yang mencemaskan kelak bila mereka berani terlalu dekat, bahkan menyerang untuk makanan, apa yang akn terjadi? Mereka akan di buru. Padahal kita yang semula melatih mereka bertabiat begitu.

    Sedangkan hal kopi dan pemandangan dari Geurute, itu memang menerbitkan rindu.

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"