Pasangan Ini Ditangkap Warga Saat Merayakan Malam Pergantian Tahun Baru

mesum di aceh
Ilustrasi - tobatabo.com
“Bang ada di Banda kan?” begitu bunyi pesan singkat yang masuk ke smartphone saya. Waktu itu saya belum memakai smartphone yang luar biasa, hanya mengikuti zaman saja tetapi sudah mampu untuk media sosial dengan baik.


“Cut Nyak ada di Banda ini, Bang,” sepupu saya yang tadi meneruskan pesan singkatnya. Saya merasa tidak ada apa-apa dengan pesan singkat tersebut. Sepupu saya ini kemudian meminta untuk bertemu karena Cut Nyak juga ingin bertemu. Padahal, saya masih ingin merayakan tahun baru di hari itu, ke Pantai Lampuuk bersama teman-teman. Rencana tersebut batal karena Cut Nyak ingin ketemu, padahal minggu lalu saya baru saja bertatap muka dengannya di kampung, dan dia tidak berbicara sepatah kata pun bahkan tidak memberi senyum kepada saya yang merasa pria paling ganteng dari berbagai definisi saya sendiri. Pikiran negatif juga tidak muncul seketika waktu itu, mungkin karena saya masih terbawa suasana malam kembang api terakhir di Aceh itu – setelah itu tidak boleh lagi perayaan tahun baru dengan kembang api. Saya dengan gagah ke warung kopi sesuai dengan janji, mendekati siang.

“Cut Nyak mana?” tanya saya begitu bertemu dengan sepupu yang terlihat gusar. Sepertinya ada yang tidak beres. Di kampung apalah meminta tolong, tegur sapa pun saya sangat jarang dengan Cut Nyak. Bahkan, saya tidak tahu kalau wanita ini sedang menikmati masa liburan paling menyenangkan di Banda.

“Begini, Bang,” sepupu saya langsung ke inti permasalahan.

Begini apa? Cut Nyak kehabisan ongkos untuk pulang? Itu gampang, bisa langsung pesan kendaraan lintas barat, sampai di rumah bayar.

“Cut Nyak dalam masalah,” sepupu saya mulai gagap. Masalah besar ini. Saya yakin dan antena mulai konek ke stasiun dekat Bulan, mengitari sebentar, ucap salam lalu kembali ke Bumi dan dada saya sesak.

“Kapan?”

“Semalam,”

Sudahlah. Benar. Kejadian. Momen yang paling berharga digunakan untuk bersenda gurau dengan kekasih tercinta karena merasa masa depan hanya ada untuknya saja.

“Dia mana?” saya sudah tidak sabar. Rasanya ingin melayangkan genggaman yang telah tergepal ke wajah Cut Nyak. Jauh-jauh liburan ke Banda hanya untuk membuat malu begini.

“Di belakang ini, rumah saudara cowoknya,” ujar sepupu saya sambil mengarahkan telunjuk ke lorong samping kanan kami. Kenapa tidak lari saja kalau begitu. Kan mudah nggak ada yang jaga, langsung ke terminal dan nggak ada yang tahu kejadian semalam.

“Daerah mana kejadiannya?”

“Sekitar Ulee Lheu, Bang,” ngapain ke situ tengah malam buta? Saya benar-benar naik darah. Orang lain menghabiskan uang membeli kembang api di Simpang Lima, si Cut Nyak malah bangun catwalk sendiri di daerah sepi.

Kamu sudah tahu arah pembicaraan ini?

Begitulah Aceh. Cut Nyak itu dengan bangga memadu kasih di tengah malam, merayakan tahun baru di tempat sepi, bermanja-manja penuh kemenangan, berbuat apa saja karena malam buta tak memberi saksi, sampai digebuk warga setempat karena meninggalkan tinta darah yang menyala di malam pekat.

Kesal saya menyala begitu berhadapan dengan Cut Nyak. Raut wajahnya tidak merasa bersalah apa-apa. Lho, kamu baru ditangkap warga semalam! Saya menahan diri untuk tidak mengeluarkan emosi bertalu-talu. Sabar itu membawa pahala apalagi sampai membantu kesulitan orang lain. Tetapi, permasalahan yang saya bantu ini adalah urusan malu.

“Bang, jangan telepon ke kampung ya!” lho, apalagi ini? “Aku nggak mau orang rumah tahu, mereka cuma tahu aku sampai Calang saja!”

Kepala saya tiba-tiba pusing. Sepupu yang mengirim pesan ke saya tambah kalut. Kami yang masih ‘brondong’ tidak tahu apa yang mesti dilakukan untuk masalah besar ini. Saya masih dalam masa keemasan untuk bersenang-senang, menghabiskan waktu untuk ketawa sana-sini, lepas dari beban hidup yang semena-mena. Sepupu saya yang kalem itu lebih tahu urusan asmara. Saya mah pacaran saja nggak pernah, sampai tulisan ini ditulis pun masih memiliki titel pria tampan belum laku-laku, menurut saya sendiri!

“Jam 2 kita diminta ke sana, Bang,” sepupu saya menegaskan. Raut wajahnya juga tidak menyukai Cut Nyak yang seakan-akan benar keturunan darah merah Aceh. Padahal kata Cut di belakang namanya adalah arti kecil, atau anak bungsu. Kepalanya yang nyaris selalu terangkat bagaikan model kelas dunia, tanpa beban dengan masalah yang baru saja menimpa. Orang lain bersenang-senang dengan kembang api dia malah dengan ‘kembang api’ lain yang tidak bisa menyala apalagi sampai mengeluarkan bunyi dan warna-warni di angkasa raya.

“Kenapa sampai kejadian?” saya bertanya dengan nada dibuat sangat lembut. Mau marah, si Cut Nyak yang masih memakai gaun malam nan cantik seperti ratu endorse jutaan rupiah, saya tidak bisa. Saya tidak mau meluapkan emosi kepada orang yang bukan berasal dari atap yang sama dengan kehidupan saya. Saya menganggap kedatangan ke hadapan Cut Nyak sebagai bantuan kasih sesama umat manusia dan sesama orang kampung yang namanya telah tercoreng.

“Kami berhenti karena Ibu dia telepon!” tegas dan tanpa ‘tipu-tipu’ cantik seperti yang tertuang dalam drama queen pada waktu prime time. Lewat pukul 12 malam, telah masuk ke tahun baru, apa benar telepon dari orang tua, seberapa penting? Bertalu-talu bertanyaan itu menggantung sendirian, saya buang dalam emosi di kemudian hari dan masih menjadi tanda tanya sampai sekarang ini. Intinya, saya tidak percaya.

Kami tidak menyusun rencana. Saya bingung mau melakukan apa tetapi saya telah dituakan. Saya mengejar-ngejar perempuan saja tidak pernah bagaimana harus menjabarkan alasan-alasan nanti di persidangan.

“Aku minta, Bang, jadi keluarga aku,” masih tetap angkuh. “Aku bilang kalau abang sampai siang ini, mereka nggak mau lepas kalau tidak dijemput oleh keluarga sendiri,”

Nasi telah menjadi bubur ini. Malu Cut Nyak sudah tak terkira di mana puncanya. Dari apa yang diucap, gerak tubuh sampai kebiasaan lain, kejadian mesum malam tahun baru itu tidak ada apa-apa baginya. Saya dan sepupu hanya menghela napas panjang. Mau lari memancing di pantai kasihan si Cut Nyak yang tidak pucat wajahnya. Mau bilang saya sedang ada kencan, ketahuan bohongnya bahwa saya tidak ada ikatan kasih sama siapapun, tepatnya sih malu mengakui jomblo budiman. Mau alasan belum makan, belum pula jatah makan waktu itu.

Kami sampai di rumah orang yang dituakan tempat si Cut Nyak dan pacarnya – entah apapun sebutan itu – ditangkap warga semalam. Kendaraan roda dua dan roda empat terparkir rapi. Ini bukan masalah kecil, besar jadinya dengan orang tua di daerah itu berkumpul semua.

“Kamu yakin tidak apa-apa semalam?” maksud saya tidak ngapa-ngapain. Cut Nyak mengeleng dan baru terlihat pucat di wajahnya. Masih untung Cut Nyak yang tidak memoles wajahnya dengan make-up itu tidak dipukul warga.

Kami masuk ke dalam rumah besar itu. Lantai keramik dipadu dengan cat warna putih dan langit-langit cokelat pudar. Orang-orang ‘tuan rumah’ telah duduk dengan rapi. Mata saya merona, bulu kuduk merinding, saya lihat sepupu ia mengeleng, Cut Nyak menunduk lesu. Mau saya bantai dengan kata-kata penuh perjuangan tetapi iba telah tiba. Orang-orang itu cukup bermartabat, dari polisi, tentara, orang kantoran dan semua tersirat maupun tersurat dari cara berbicara. Kami yang masih ‘anak baru gede’ ini pun nggak tahu harus lompat dari mana untuk keluar dari masalah ini.

Maka, kamu jangan main-main dengan mesum. Dan beginilah negosiasi dimulai. Cut Nyak berharap banyak kepada saya. Pacarnya si Cut Nyak yang saya nggak tahu namanya juga demikian. Sepupu saya memohon agar cepat bisa keluar dari tatapan matanya. Dan, yang paling saya kasihani adalah ayah dari pacarnya si Cut Nyak yang datang dari kampung menanggung malu. Sebelum sampai ke rumah besar ini, orang tua itu telah menaruh harapan besar kepada saya. Wajah lelahnya mengingatkan saya kepada orang tua di rumah. Saya mengaku ke Banda untuk bersenang-senang saja. Bagaimana jika saya berada di posisi pacarnya si Cut Nyak, kecewa pasti tak bisa dibendung.

Negosiasi dimulai. Saya yang tidak punya pengalaman melerai orang ‘berkelahi’ dalam enak ini kalang kabut mencari kalimat yang semanis madu. Malu ditahan ke sudut terdingin agar tidak terbakar emosi di sekitar. Tetapi, orang-orang itu, perwakilan dari mereka, berbicara dengan sangat lembut, berirama dengan melodi pas, namun pada bagian akhir memecahkan pot mutiara yang telah saya bangun dengan rapinya. Meledak tanpa dibentak-bentak sekalipun tetapi saya ciut seperti semut di antara permadani yang digelar rapi.

“Kami telah ada qanun untuk itu, barang siapa yang melanggar harus membayar denda 10 juta perorang!” saya hampir menepuk jidat tetapi tidak jadi karena tidak ada dalam skenario di ruangan tanpa kamera ini.

Qanun ini berlaku untuk orang dalam dan luar, jam malam yang berlaku di sini sampai pukul 10 malam. Lepas dari itu kami akan meminta akta nikah jika ada yang lewat tidak dikenal. Orang yang lewat saja kami berhentikan, bagaimana dengan orang yang berhenti. Iya kan, Dik?” pertanyaan itu diarahkan ke Cut Nyak yang terus menunduk. Mata saya seperti menganak mutiara, saya tahan untuk tidak terjadi apa-apa. Takut mutiara itu diculik orang-orang dan mereka jadi kaya raya!

“Pilihannya ada dua, kami nikahkan atau bayar denda tersebut!” saya tidak sanggup lagi. Saya tidak akan menyetujui pilihan pertama. Saya tidak mau disalahkan sampai di kampung telah menikahkan anak gadis orang, padahal memang itu kemauannya untuk ‘liburan’ ke Banda. Saya lirik sepupu, juga mengeleng. Pilihan kedua mau tidak mau saya olah. Malu yang tiba-tiba meraba nadi, saya tembak dengan peluru berbahan kimia sampai meledak tak keruan. Saya meminta untuk berdiskusi, Cut Nyak akhirnya menelepon Ibunya di kampung dan tidak menangis tersedu-sedu. Rupanya, Cut Nyak telah memberitahu sebelumnya dan saya geram karena itu tetapi lagi-lagi tidak bisa marah, dan untuk apa saya marah karena Cut Nyak bukan siapa-siapa, saya hanya malaikat yang kesasar tahun baru malang. Saya juga berdiskusi dengan Ayah si pacarnya Cut Nyak yang terdiam bagai musang di siang hari. Semalam enak-enak makan ‘roti’ manis, giliran gunung meletus orang tua yang sibuk.

Panas terasa menyengat. Saya berkilah lidah. Saya ikut permainan yang diciptakan oleh Cut Nyak yang penuh kebohongan. Saya bahkan tidak bisa membedakan mana yang benar dan kontradiksi. Sekali Cut Nyak berkata ini, kemudian akan mengubahnya. Saya kemudian berbicara seperti orang yang telah berpengalaman mendamaikan perkara ini. Dalam malu yang menyeruak kembali, saya bernegosiasi sampai putus perkara di angka 5 juta untuk dua orang ini. Juaranya tentu saya yang tidak mendapatkan honor sepersen pun yang bisa saya bagikan untuk sepupu yang membantu pemecahan masalah urusan orang berkasih ini.

Saya menghela napas lega panjang. Helaan itu lenyap pada detik kemudian karena mereka langsung meminta uang cash saat itu juga. Saya melihat Cut Nyak gusar. Saya mengeleng. Saya mau pelit soal ini. Ayah si pacar Cut Nyak meradang namun mencari pegangan pada saudaranya yang tadi menitipkan Cut Nyak dan anaknya di sana. Tebusan itu kemudian dipinjamkan oleh saudara yang baik hati itu, diberikan kepada tokoh yang tadi berbicara dengan terulis di atas putih.

Inilah harga perayaan mesum malam tahun baru di Aceh. Cut Nyak dan pacarnya yang kini telah putus merayakan malam tahun baru dengan cara berbeda. Saya tidak mau menyalahkan tahun yang berlalu. Saya juga tidak menyalahkan hukum (qanun) yang berlaku di Aceh. Kemudian, saya menyalahkan diri sendiri, kenapa harus menanggung malu untuk urusan kenikmatan orang lain? 

Comments

  1. Semoga Allah menjauhkan kita dari segala perbuatan keji dan mungkar

    ReplyDelete
  2. Semoga kita tidak terperosok dilubang yg sama. Semoga Allah menyertai kita semua, sehingga dijauhkan dari perbuatan yg mengundang murkaNya.

    ReplyDelete
  3. Halo. Mas Bairuindra. Ini kali pertamanya kesini.
    Pelik sekali ya mas masalahnya. Harus merasakan sidang seperti itu di tahun baru demi Cut Nyak. SEMOGA KITA DIJAUHKAN dari hal2 mesin itu, dimanapun dn kapanpun. Mending nikah aja,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Mei, semoga kita selalu menjaga diri lebih baik ya.

      Delete
  4. Panas dingin bacanya, sepertinya cerita ini sudah pernah dituliskan dengan judul yang berbeda sebelumnya, tapi tampilan ini lebih terasa alurnya karena dialog langsung., kayaknya nanti bisa jadi novel lah bg! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berasa emosi ya bacanya kali ini hehehe

      Delete
  5. waduh ngeri, bacanya jadi berpikir kalau itu saya yang ada di situ, astagfirullah.. semoga kita selalu dijaga mas

    ReplyDelete
  6. kasihan banget si mas ini jadi ketempuhan. wah ternyata di aceh yg sudah diberlakukan syariat islam juga masih ada toh yg mesum2 begituan, wah.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya rasa yang 'bandel' di mana-mana tetap ada kok mbak.

      Delete
  7. Mantap sekali bairuindra,setiap kalimat tegas & jelas mampu membawa pembaca ke dalam suasana menegangkan yang sedang terjadi saat itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Yona, semoga kita dapat mengambil hikmah dari kejadian ini ya.

      Delete
  8. Replies
    1. Santai, jangan terlalu diambil hati hehehe

      Delete
  9. Astaghfirulloh.. Semoga kita terhindar dari hal-hal begitu. Jam malam di daerahku pun berlaku. Jam 9 malam masih pada nongkrong di alun-alun, langsung digiring ke satpol PP.


    Hmmmm, aku bacaya merinding juga. Melongo juga dg kenekatan Cut nyak.

    Kok berai ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua kembali ke personal mau atau nggak. Di sini bukan cuma satpol PP dan polisi syariat, warga juga akan menghajar kalau kedapatan.

      Delete
  10. ceritanya bikin penasaran bang,,mau ga mau jadi baca sampai akhir...
    mantap..

    ReplyDelete
  11. Semoga bisa jadi pelajaran buat lita semua ya, Bai.. Jangan sampai berbuat seperti itu. Selain dosa, juga bikin malu..

    ReplyDelete
  12. wkwkwk ada" aja dah itu org bikin malu. nice artikel mas.

    mampir jg ketulisan ini ya Karya sastra makasih

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"