BlackBerry ‘Segera’ Gulung Tikar Dua Kali dengan Seri Android KEYone Seharga Rp.8 Juta

BlackBerry KEYone - detik.com
Harga mati BlackBerry kembali dipertaruhkan. MWC di Barcelona akan menjadi saksi proses rekonstruksi BlackBerry dari yang pernah sangat berkuasa dalam sekejap dan jatuh terguling-guling dalam sekejap pula. BlackBerry rupanya tidak mau belajar dari pengalaman dan tetap mempertahankan ego, bahwa mereka masih memiliki penggemar terkuat. Keypad fisik yang masih dipertahankan belum tentu memberi nilai lebih apabila tidak didukung oleh spesifikasi dan harga terjangkau.

BlackBerry akan siap-siap terjungkal dua kali dengan seri BlackBerry Android KEYone. Alasan terkuat tentang itu adalah soal harga yang tidak sejalan dengan spesifikasi sebuah smartphone. Dengan spesifikasi BlackBerry KEYone, konsumen bisa memiliki smartphone dengan harga pada kisaran Rp.3 juta. Tampaknya BlackBerry menutup mata dan dengan bangga menghadirkan seri Android tanpa memedulikan kompetitor yang semakin banyak. Tidak hanya banyak, kompetitor bahkan melahirkan produk-produk dalam sekali waktu dengan beragam harga (beberapa seri).

BlackBerry mempercayakan TCL Communications sebagai produsen yang melahirkan BlackBerry KEYone. Dilihat sekilas, BlackBerry ini tidak jauh berbeda dengan generasi terdahulu. Namun sayang dengan harga antara Rp.7,3 juta sampai Rp.8 juta (tergantung negara penjualan), BlackBerry telah kalah terlebih dahulu sebelum pedang terangkat dalam perang sengit tahun ini.
BlackBerry KEYone dijual dengan harga mahal - detik.com 
Spesifikasi BlackBerry KEYone Tidak Menjual
Layar BlackBerry KEYone mungkin saja ingin memodifikasi seri terdahulu dengan bentang layar 4,5 inci. Layar ini cukup populer di kalangan penggemar BlackBerry namun tidak lagi untuk pencinta Android. Layar ini tidak cukup karena rata-rata smartphone dengan harga Rp.3 juta saja telah memiliki layar 5 inci ke atas. Layar yang kecil rupanya berdampak pada resolusi yang tidak memukau. BlackBerry KEYone memiliki resolusi 1620x1080 pixel dengan kerapatan 434 ppi yang cukup rendah untuk ukuran sebuah smartphone dengan harga mahal.

Bicara kamera, angka 12 MP dengan fitur sederhana bukan lagi barang mewah ditengah gempuran smartphone lain di harga yang sama namun fitur kamera tingkat dewa. Fitur rekaman video yang sampai 4K belum tentu menarik perhatian karena tidak semua pengguna merekam video atau bisa disebut rata-rata pengguna hanya mengandalkan foto saja. Sisi kamera depan sebesar 8 MP barangkali cukup untuk selfie namun belum bisa diandalkan atau tidak sebanding dengan spesifikasi lainnya.

Barangkali, yang membuat mencengangkan adalah BlackBerry KEYone cukup percaya diri dengan besar RAM 3GB dan internal memori sebesar 32GB. Barangkali, orang akan berpikir keras untuk membeli seri ini, orang akan tertawa karena di rentang harga ini, mereka dapat membeli smartphone dengan RAM 4GB bahkan 6GB dengan internal memori sebesar 64GB atau lebih besar dari itu. Kepercayaan diri BlackBerry juga terlihat dari baterai yang sangat kecil yaitu sebesar 3505 mAh. Memang belum diketahui bagaimana optimalisasi baterai namun bisa diprediksi seperti pendahulu bahwa baterai BlackBerry selalu membuat emosi atau harus dekat-dekat dengan colokan listrik.

BlackBerry KEYone rupanya tidak hanya menantang saja tetapi cukup berani berspekulasi akan laku keras. Dukungan Google dengan Android 7.1 Nougat saja tidak cukup untuk prosesor Qualcomm Snapdragon 625. Dari sini, terlihat bahwa BlackBerry telah kehilangan arah namun tidak tahu kiblat mana yang akan dituju. Kepercayaan diri BlackBerry tersirat dari anggapan petinggi perusahaan ini.

“Bayangkan, (menekan tombol) F untuk Facebook dan U untuk Uber. Ini dirancang untuk lebih sekadar perusahaan, tapi ini untuk konsumen profesional dan orang yang mencari (smartphone) yang berbeda.” Logan Bell, Senior Product Manager untuk BlackBerry Mobile, dikutip dari Detik.com bersumber dari PC World.

Jalan pintas sebuah smartphone bukanlah hal yang penting untuk saat ini. Jika berbicara jalan pintar, pengguna akan lebih memilih pemindai sidik jari dari pada menekan tombol fisik yang jauh lebih ribet. Pada rentang harga yang demikian mahal pula, kompetitor telah membenarkan pemindai sidik jari dengan akurasi yang cukup ramah pada persekian detik.

Kebanggaan BlackBerry tampaknya hanya pada nama besar saja jika melirik ke belakang, saat mereka masih berkuasa dengan keypad fisik.

Apakah Itu Cukup?
Sejatinya, BlackBerry telah kalah. Di ajang yang sama saja, kompetitor menghadirkan beberapa seri dari termahal, menengah dan termurah. BlackBerry tidak cukup membuang muka saja dalam hal BlackBerry KEYone. Juga tidak cukup untuk membuang hajat pada ajang teknologi terpopuler dunia. Tidak juga untuk dikenang bahwa mereka masih ada. BlackBerry harus memberikan terobosan yang cukup baik agar mampu bersaing bersama kompetitor dengan spesifikasi tinggi namun harga lebih bersaing.

BlackBerry KEYone merupakan satu lagi penerus keterpurukan brand asal Kanada. Ramalan ini mungkin saja salah tetapi coba dilihat ke sekitar, gemerlap MWC di Barcelona atau lirik saja toko-toko terdekat, bahkan toko online yang menjual smartphone. Rata-rata produsen bermain ‘cantik’ dengan banyak pilihan. Konsumen juga berhak memilih harga satu juga sampai sepuluh juta sekalipun. Dengan satu produk saja, BlackBerry akan kembali terjungkal, gulung tikar kedua kali dengan harapan tak bisa bangkit lagi.

BlackBerry sungguh kebal terhadap pemberitaan. Dihujat tak jatuh. Dicemooh tak diambil pusing. Ulasan di media-media besar menyebutkan bahwa riwayat BlackBerry telah tamat. Kini pembuktian itu segera terjadi dengan memperkenalkan produk harga mahal (seperti yang sudah-sudah). Namun sekali lagi, saran terbaik untuk BlackBerry dihadirkan pada akhir bagian ini.

Pertama, jangan lupakan kompetitor yang telah meluncurkan produk-produk dengan beragam seri dan rentang harga (termurah sampai termahal).

Kedua, spesifikasi sebuah smartphone harus sesuai dengan harga. Spesifikasi rendah maka harga juga tidak mahal. Harga yang masuk akal akan membuat pembeli mendekat.

Ketiga, nama besar BlackBerry telah dilupakan dalam 2 atau 3 tahun terakhir. Untuk bangkit ke tahta, paling tidak merangkak ke peringkat beberapa besar, BlackBerry harus menjual produk dengan harga Rp.2 juta sampai Rp.3 juta, bahkan lebih rendah dari itu.

Keempat, interface BlackBerry telah sangat ‘kuno’ untuk bersaing dengan interface smartphone Android masa kini. Maka pembaharuan interface mutlak dilakukan untuk menarik minat pasar.

Kelima, BlackBerry sepertinya belum membuka diri untuk media, tidak ada salahnya untuk menarik media ke dalam pusaran ‘kasih’ mereka agar mendapat pembelaan. Jika media dibungkam maka segala apapun akan musnah juga.

Saran ini hanya sebagian kecil dari harapan. Tetapi keputusan mutlak ada di penggemar setia BlackBerry. Seri terbaru, BlackBerry Android KEYone, mungkin saja pertarungan terakhir BlackBerry sebelum menutup episode terindah dalam hidup mereka. Kita tunggu berapa ribu episode lagi BlackBerry memainkan drama penuh haru! 

BACA JUGA
Missing You in Chao Phraya Thailand

Comments

  1. Sebenarnya saya rindu dan kangen dengan BB Gemini saya yang dulu sih.
    Putarin waktu kembali ke masa itu dong @Bai!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, udah nggak bisa diputar lagi Fred!

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"