Obrolan Manja dengan Customer Service Cantik, ‘Kutanya Paket Data Kok Cepat Habis?’

Ilustrasi - media.viva.co.id
Siang yang bergerimis, gelap tiba-tiba menyelimuti kota kami. Di tengah kota yang tidak padat, partikel-partikel jaringan data seakan-akan sedang menyemarakkan pawai kebangsaan. Di sana-sini orang-orang memainkan smartphone sambil tertawa dan termenung. Di bagian lain, orang-orang sibuk mengetik di atas keyboard laptop pada warung kopi dengan fasilitas internet gratis.
“Teh panas saja, Bang!” ujarku kepada pelayan yang sudah dikenal. Mungkin saja, dia telah sangat bosan melihat rupa orang yang sama ini di warung kopi tempatnya bekerja. Teh panas adalah pesanan terfavoritku, selain murah juga karena aku tidak bisa minum kopi. Teh panas ini disajikan dalam cangkir warna bening yang akan bertahan selama beberapa jam sampai benar-benar aku teguk hingga habis.

Aku mulai memainkan jari di atas keyboard laptop butut yang telah menemani waktu hampir 6 tahun. Di beberapa bagian laptop ini telah sangat merajuk untuk diganti dengan yang lain. Portable bawaan konektivitas internet telah tercabut pada satu waktu karena tersambar petir. Aku harus mengganti external portable untuk dapat melakukan interaksi melalui jaringan internet.

Halaman dokumen masih menyala putih. Kata-kata yang telah kusiapkan untuk memulai sebuah artikel belum juga menumpuk di sana. Bingung yang kalut mendadak emosi saat dering telepon masuk. Aku sedang tidak ingin menerima panggilan dari siapapun itu karena kotak-kotak kecil di kepala tentang sebuah tulisan yang menurutku sangat menarik harus segera ditulis.

Aku menarik smartphone yang selalu diletakkan di atas meja dalam keadaan layar ke bawah. Aku juga tidak meletakkan smartphone langsung di atas meja tanpa ada tisu atau sejenisnya. Ada pula yang tanya kenapa aku selalu meletakkan smartphone dalam keadaan terbalik, “Untuk menjaga lensa kamera!” tegasku.

Nomor masuk ke smartphone itu sudah aku hapal betul. Semenjak penggunakan pascabayar dari salah satu provider penguasa, panggilan ‘darurat’ selalu masuk dari call center dengan nomor cantik empat angka. Nomor ini tidak bisa dihubungi balik jika kita tidak sempat menerima panggilannya. Aku sudah bisa menebak, seperti yang sudah-sudah, customer service ini akan bermanja-manja denganku tentang pelayanan dan tentu saja promosi peningkatan paket data.

Aku menggeser notifikasi warna hijau ke kanan untuk menerima panggilan itu. Beberapa saat aku diamkan untuk memberi harapan dan sekadar mendengar sapaan khas dari suara di seberang sana. Hening seketika menjadi lebih khidmat di antara suara ketukan di keyboard seorang pria muda di kananku. Mungkin dia sedang mengetik laporan atau sedang bermain game dengan tingkat ketelitian cepat. Hening malah putus asa kembali saat dua remaja cekikikan di depanku sambil menonton sebuah tayangan di internet yang suaranya terlempar ke luar. Aku menarik napas pendek, berharap entah pada apa yang akan terjadi dan menghanguskan kesal karena belum terlintas apa yang ingin kutulis hari itu.

“Halo,” suaraku diberatkan untuk hal yang ‘nggak’ begitu penting ini. Trik marketing provider terkenal itu telah aku hapal dan mampu menghipnotis pelanggan setia untuk pindah paket dari terendah ke termahal.

“Selamat siang, Bapak – dia menyebut namaku jelas – , saya Ratih dari Customer Sercvice…,” suaranya renyah seperti kerupuk singkong yang baru keluar dari kuali berminyak panas di atas api membara.

Ratih mengurai hari itu dengan santai menurutnya. Aku menjawab sambil lalu karena merasa masih terganggu dengan panggilan telepon ini. Aku mengambil alih kekesalan dari sudut pandang yang rawan menjadi lebih menarik atas suara ‘manja’ Ratih. Entah benar namanya itu entah aku terlupa akan hal tersebut. Biasanya, aku cepat lupa pada nama yang belum dikenal dengan baik.

“Baik, Bapak. Saya cek di sistem kami, Bapak telah mengaktifkan Paket Cantik pada tanggal 20 Februari senilai Rp.50 ribu,” Ratih memulai pembicaraan dengan to the point. Aku makin kesal karena tahu bahwa telah mengaktifkan paket yang dimaksud, alasan pasti karena paket data yang menjadi langganan bulanan tidak cukup untuk pemakaian satu bulan.

“Paket saya tidak cukup, Mbak,” ujarku acuh sambil membuka browser untuk entah apa di internet.

“Kami sarankan Bapak untuk mendapatkan pelayanan terbaik kami dengan melakukan upgrade paket data,” aku belum tertarik sama sekali untuk ini. Dua bulan lalu, aku juga telah melakukan upgrade paket data namun tidak mendapatkan kemudahan dan penghematan berarti. Ratih lalu menjelaskan prosedur naik kelas itu dan besar biaya yang akan aku bayarkan di tagihan bulan berikutnya.

“Saya butuh paket data yang hemat, Mbak. Ada nggak paket data khusus jangan telepon dan SMS saja, saya nggak pakai telepon dan SMS!” ujarku dengan amarah yang tiba-tiba kembali menyala. Ini kok sudah bayar mahal tapi paket data terkuras bagai meneguk air putih segalon sekali teguk saja.

“Mohon maaf, paket data yang Bapak minta belum terdapat dalam sistem kami,”

“Mbak ini tahu kenapa paket data cepat habis?” tanyaku penuh selidik.

“Baik, Bapak, untuk saat ini di daerah Bapak – dia menyebutkan nama lengkap kotaku – telah mengalami peningkatan kecepatan internet persekon 40 mbps. Kecepatan internet ini berpengaruh pada pengurangan paket data secara berkala. Misalnya Bapak membuka Facebook, paket data yang dikeluarkan akan semakin besar dibandingkan membuka aplikasi lain yang lebih rendah kustominasinya,” aku mulai mendapatkan titik terang dari masalah yang selama ini kacau.

“Untuk itu, kami sarankan untuk mematikan atau on off paket data apabila tidak terjadi pemakaian,” aku juga tahu kalau itu. Ratih lalu menjabarkan kembali – alih-alih promosi cantiknya untuk mendapatkan pelanggan setia – paket data yang semula ditawarkan untuk aku upgrade.

“Saya tidak berminat pindah paket, Mbak,” tegasku.

“Baik. Apabila Bapak ingin melakukan pemindahan paket bisa menghubungi kami kembali pada layanan call center,”

“Saya perlu paket data yang besar dan hemat, Mbak!”

“Baik. Kami sampaikan sekali lagi bahwa kecepatan internet di daerah Bapak telah mengalami peningkatan mencapai 40 mbps persekon, sehingga paket data cepat habis dalam suatu waktu pemakaian,” Ratih mengulang kembali pengetahuan baru itu.

Aku mengelus dada. Kecepatan naik sampai 40 mbps, paket data cepat habis tetapi tetap saja internet sesekali ngadat bukan main. Aku tak sudi bermanja-manja dengan customer service itu karena ke depan aku belum mendapatkan kemudahan seperti yang aku inginkan. Jika aku melakukan upgrade paket data apakah akan terjamin penghematan? Aku ragu untuk ini dan mendengar saja ocehan Ratih yang mengulang promosi paket ‘hemat’ seperti sales yang sedang mencari pembeli.

“Baik, Bapak, untuk permintaan paket data seperti yang diminta belum ada dalam promosi kami saat ini,”

“Saya butuh paket data hemat, Mbak,” jadi nggak penting lagi meladeni jika cuma mendengar promosi ini itu.

“Mohon maaf, Bapak, belum tersedia sampai saat ini,”

“Saya tunggu kapan ada saja, Mbak,”

“Baik. Adalagi yang bisa kami bantu?”

Bantu apa? Cuma cuap-cuap manja dan ujung-ujung minta dinaikkan status paket data? Oh, tidak. Aku tambah pusing untuk itu. Paket data yang sekarang saja telah dihematkan namun belum hemat juga. Harga yang cukup mahal tetapi tidak ada ‘dispensasi’ kepada pelanggan yang setia. Mau pindah ke ‘rumah’ lain, di sini, di kotaku hanya ada ‘rumah’ ini yang terlihat mewah.

Ratih kemudian menutup panggilan manja itu. Besok-besok, akan ada Ratih yang lain dengan segenap promosi dan permintaan upgrade paket data. Sesekali, aku mau menerima telepon dari call center dengan kabar Anda mendapatkan mobil lima ratus juta rupiah karena telah menjadi pelanggan setia!

Tahu-tahunya, pesan singkat model begini bukan dari provider yang dimaksud tetapi dari nomor-nomor cantik yang tak kalah manja dari Ratih. Jika cuma alasan aku sering aktifkan paket tambahan lalu harus pindah paket ke harga yang lebih mahal, maaf saja aku belum tertarik dengan ‘desahan’ itu. Aku aktifkan juga tidak rutin, hanya untuk menambal kebutuhan yang timpang secara brutal. Obrolan manja yang kumau adalah obrolan yang benar-benar merasuk ke dalam jiwa dan raga. Usai obrolan itu, di akhir bulan ini, sebelum jatuh tempo masuk tagihan dan paket data baru, paket data yang jatahnya 10 hari ke depan hanya tinggal sisa nasi bungkus. Aku tambah kuota karena sayang mengganti sim card di smartphone yang bagus ini. Bongkar pasang slot sim card dapat membuat bagian itu tidak lagi cantik.

Begitu saja obrolan manja itu terlampaui pada batas waktu. Di lain momen nanti, mungkin saja aku mendapatkan panggilan telah memenangkan undian mobil mewah. Siapa yang tahu? 

BACA JUGA
Missing You in Bangkok

Comments

  1. Cerita yang menarik dan berkesan.

    ReplyDelete
  2. Aku juga sering dapat telepon manja tapi dari mas2 bang ubai, dia suruh aku ganti paket karena pemakaianku melebih kuota. Mungkin kalo costumernya cewek, yang nelpon cowok dan yg cowok sebaliknha ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kebetulan aja kali Liza, ujung-ujungnya nawarin produk ya!

      Delete
  3. Untung jug a ditelpon sama ratih, jadi ada inpirasi untuk menulis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sering ditelepon jadilah ide menulis :)

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"