Bunyi Hukum Gravitasi Menulis, ‘Mereka Menulis, Maka Mereka Ada’

Begitu pesawat mendarat dengan selamat di Don Muaeng Internasional Airport, Bangkok, saya menghela napas panjang. Alhamdulillah. Inilah perjalanan terjauh, lintas negara, dari seorang penulis yang dianggap ada tak ada oleh mereka yang terlalu sumbang menyuarakan hak blogger. Sejauh saya menjangkau, memikirkan bahkan sampai merencanakan, sisi keuangan tidak memungkinkan raga saya ditarik ke tanah basah di Bangkok oleh gaya gravitasi yang begitu kuat di sini. Namun saya telah berada di negeri terasing, jauh dari bahasa ibu, jauh dari budaya sendiri, jauh dari apa yang bisa saya jangkau dalam segala definisi.

Salah satu momen di Grand Palace, Bangkok, Thailand. 

Saya telah terbang tinggi. Angkasa yang mendengungkan telinga hampir mengeluarkan isinya. Di atas ribuan kaki pesawat terbang mengantarkan saya ke sini, ke negeri Gajah Putih dengan segala kemolekan tubuhnya. Pesona yang kian memperparah kerinduan akan sesuatu yang sulit saya jabarkan. Kemudian saya mulai melambaikan tangan ke media sosial; memposting status dan beberapa foto sebagai bukti bahwa perjalanan saya telah dimulai.

Chao Phraya yang menderu ombak sungai, akibat benturan antara kapal-kapal yang berlalu-lalang. Angin segar menerpa ke wajah dengan panas membuat kulit wajah kusam. Tetapi waktu tidak bisa diajak berlari ke pesona lain karena di sinilah pusat keunikan, keindahan, kemewahan dan segala arti lain yang mungkin akan kamu jabarkan sendiri jika suatu saat nanti datang ke mari.

Gedung pencakar langit di Chao Phraya, Bangkok, Thailand.

Gedung-gedung tinggi seakan melayang di atas sungai. Wat Pho dan Wat Arun dipenuhi oleh wisatawan. Kapal-kapal hilir-mudik ke tepian; menaikkan dan menurunkan penumpang. Kesibukan yang menghipnotis saya untuk berbenah, bersyukur sampai menitikkan airmata karena menulis membawa saya bersama mereka ke tepian ini!

Saya Menulis, Lalu Saya Traveling
Bangkok menjadi lagu kelu tersendiri bagi saya. Perjalanan prestisius untuk anak kampung yang tidak memiliki ‘virus’ apa-apa untuk menebar pesona kepada orang lain. Saya telalu sibuk ‘menganggur’ di warung kopi dengan segelas susu panas, laptop menyala, halaman dokumen terkadang kosong, browser menampilkan dashboard blog, mata sayu menatap apa yang akan dikerjakan, orang-orang memperhatikan dengan penuh selidik, bahwa saya hanya anak muda yang menghabiskan waktu tanpa menghasilkan apa-apa.

Itu kata mereka; entah siapapun mereka!

Namun saya telah terbang ke beberapa destinasi di Indonesia karena tulisan-tulisan dalam diam itu. Lombok menjadi aroma segala ketakutan dan kegelisahan dari perjalanan pertama tahun 2014. Gundah dan gelisah bercampur menjadi tidak bisa makan, susah tidur, sebentar-sebentar ke kamar mandi karena takut naik pesawat terbang kali pertama. Permulaan yang landing sempurna beralih ke Yogyakarta dan Jakarta pada tahun 2015. Saya meyakini kekuatan menulis itu begitu kuat menarik saya sampai ke pusat terdalam dalam gravitasi tanpa wujud. Saya membulatkan beberapa lingkaran pada tempat-tempat indah lainnya.

Saya terus menulis kisah terpanjang di sebuah artikel blog. Lalu saya dihempaskan ke Pulau Dewata yang menjadi impian seenak rasa manja siapapun mereka yang saya kenal. Bali pada penghulung 2016 menutup tahun begitu indah dengan aroma Hindu, keelokan tubuhnya yang seksi, pantai dengan deru ombak begitu lembut, pematang sawah yang bertingkat, dan di mana-mana itu adalah bule dengan pesona mereka tersendiri.

Pantai Kuta, Bali.

Bangkok pada awal 2017, seakan menjadi sebuah benturan kuat antara gaya gesek dengan gaya gravitasi Bumi. Saya dihajar oleh pertanyaan-pertanyaan, saya dimintai keterangan bagai seorang selebriti yang membuat skandal, saya diminta oleh-oleh ini itu yang tidak mungkin saya borong dari jauh dalam jumlah banyak.

Cara traveling saya tentu berbeda dengan cara traveling kamu. Saya jalan-jalan tidak terjadwal, kapan menang lomba maupun kapan diundang oleh mereka yang telah terpesona dengan gravitasi di dalam setiap tulisan. Tarikan gaya ini tidak hanya kuat tetapi menghempaskan tubuh lelah saya ke hotel-hotel bintang lima, ke restoran mahal, acara-acara besar sampai menatap penyanyi sekelas Rossa, Bunga Citra Lestari, bahkan Joe Taslim, dari jarak dekat. Konser mereka yang tidak bisa saya dapatkan tiket premium, tetapi dapat saya nikmati lebih dari ‘rasa’ premium karena saya menulis!

Gravitasi itu semakin kuat ketika saya pulang, membawa kenang-kenangan, melebur kembali dengan siswa dan siswi yang kerap minta foto selfie. Pencar di mata mereka tak bisa saya jabarkan, bahkan lebih dari bangga telah mengenal saya sebagai guru mereka. Saya keceplosan teramat panjang tentang perjalanan, walaupun oleh-oleh tak pernah bisa saya kasih untuk mereka yang hampir mendekati 600 orang (dua sekolah).

“Pak, ceritain dong Bangkok itu bagaimana?” siswi-siswi biasanya lebih antusias tentang cerita perjalanan itu sendiri.

“Pak, mana oleh-olehnya,” siswi lain yang lebih dekat dengan saya menodong pakai senjata air mineral atau kerupuk singkong.

“Pak, ada ketemu cewek bikini nggak?” siswa-siswa terlalu biasa menanyakan hal-hal demikian karena ya begitulah pemikiran kami; cowok itu begitu adanya. Saya lantas memberi bayang-bayang, mereka terkekeh, ingin melihat langsung dan memengkur wajah karena malu sendiri.

“Di Terminal 3 Soekarno-Hatta saja kita mudah mendapati cewek pakai tangtop – istilah pakaian terbuka,” ujar saya yang membuat mereka melongo.

Cerita-cerita lain adalah mengapa, bagaimana, apa yang saya dapatkan dari sebuah kisah perjalanan. Mereka seakan hapal betul saya akan berangkat tiap tahun. Mereka juga tahu saya akan ganti smartphone sepulang dari sebuah perjalanan. Lalu, tidak hanya cerita yang saya suguhkan menjadi pusat perhatian namun smartphone generasi terbaru yang baru saja launching dan belum dijual di pasaran, mereka elus-elus dan tes kameranya dengan selfie bersama.

Selfie ceria setelah pembagian hadiah 'permen' kepada pemenang.

Traveling itu tidak saya tahu akan bermuara ke mana. Kisah perjalanan itu pula tidak jemu saya bagikan untuk siswa-siswi yang tiap tahun berganti rupa. Mereka tahu saya menulis, mereka sadar saya ke mana-mana secara gratis, mereka terpesona dan bertanya kapan bisa menikmati apa yang saya alami saat ini?

Mereka Menulis, Maka Mereka Ada
Saya ditempatkan antara pilihan mengejar ketidakmampuan atau memberi mereka jalan untuk traveling. Lalu saya membuat sebuah slideshow untuk memotivasi siswa kelas dua belas. Kur mereka terdengar begitu bagian akhir ditampilkan. Tugas itu adalah menulis dan membuat sebuah blog. Bukan tanpa alasan saya memberi tugas ‘berat’ kepada siswa-siswi kelas dua belas. Cuap-cuap sebelum itu adalah survei yang tidak perlu saya tulis lalu dimasukkan ke dalam grafik terhebat sekalipun.

“Pak, ajarin kami buat blog dong!

“Pak, bagaimana cara buat blog?

“Pak, bagaimana jalan-jalan dari menulis?”

“Pak, mau dong dapat uang dari blog?”

Dan, banyak sekali pertanyaan lain yang tidak saya jawab, saya butuh waktu untuk merenung. Ini bukan gravitasi biasa, ini gravitasi yang membuat saya terkubur dan tidak bisa menarik diri dari inti Bumi yang panas. Saya tidak mungkin memberi tutorial untuk satu dua orang saja. Saya tidak tahu si Cantik yang pendiam di sudut kelas seorang yang bagus dalam menulis. Saya tidak mengenal dengan baik di Tampan yang digandrungi cewek-cewek dapat mengutak-atik blog. Maka saya memberi pelajaran menulis dan membuat blog pada mereka di semester dua kelas dua belas.

Saya ditarik oleh gravitasi mereka yang berjumlah hampir 100 orang. Gravitasi saya juga mereka tarik sampai benar-benar lelah dalam suatu waktu. Saya mondar-mandir dari si Cantik, ke si Tampan, ke si Ribut, ke si Gagah, untuk menatih mereka dari awal. Semua mau berbaur dengan menulis, membuat blog dengan segenap pesona yang telah saya hadirkan sebelummya. Barangkali, mereka tidak tertarik jika bukti nyata dari saya itu belum sempurna dalam arti sebenarnya.

“Saya akan memilih 3 orang dari masing-masing kelas untuk mendapatkan hadiah permen!” tegas saya untuk memacu adrenalin mereka, memecahkan isi kepala untuk menulis 300 kata saja. Ada yang tiba-tiba merajuk tidak tahu harus menulis apa. Ada yang histeris karena telah menulis lebih 500 kata. Ada yang terburu-buru ingin langsung menayangkan blog padahal tulisan belum ada. Ada yang ingin langsung ‘terkenal’ padahal baru satu tulisan tayang di blog. Ada yang langsung ingin bermain iklan tetapi blog masih gratisan.

Ada lelah, ada hasil. Begitulah pelajaran itu bermuara. Walaupun 5% dari seluruh siswa kelas dua belas ini tidak mengerjakannya. Saya tidak bertanya alasan, saya hanya mengajarkan mereka tepat waktu, istilah ‘deadline’ yang sangat ditakuti blogger saat ini. Saya lelah mengajarkan mereka satu persatu, mereka juga lelah memikirkan apa hasil yang akan saya umumkan.

Maka, di sini pula gaya gravitasi itu menarik minat mereka untuk tahu siapa pemenang itu. Mereka tidak lagi mengakar diri pada nilai, mereka telah terobsesi untuk menjadi seorang pemenang.

“Ini isinya permen, sesuai janji saya!” saya menampakkan hadiah yang telah dibungkus dengan kertas kado. Kur mereka di dalam laboratorium komputer itu menggelegar. Tentu tidak mungkin saya memberikan permen. Saya sudah menyiapkan buku (novel dan kisah inspiratif) dan gantungan kunci dari Bangkok dan Bali untuk para pemenang ini.

“Masa permen bungkusannya besar, Pak!” celutuk seorang dari mereka. Kur kembali terdengar.

“Saya nervous,” ujar saya sebelum menampilkan slide yang berisi pengumuman pemenang. Entah karena ekspektasi saya terlalu tinggi, entah karena harapan mereka yang menguap. Saya menggerakkan kursor ke halaman Power Point itu. Tayangan slide pertama muncul, saya terbata. Berdiri di depan siswa-siswi tiga kelas sekaligus membuat gugup itu melambung tinggi. Ini tidak sama seperti saya bercerita tentang kisah perjalanan, daya tarik menarik di sini terjadi bagai degup jantung saya dan tepukan tangan mereka nanti.

Saya memulai pada satu kelas; juara 1, juara 2, dan juara 3 berhasil diumumkan. Suara tepuk tangan dan kur memengkakkan telinga. Lalu berlanjut ke kelas berikutnya, tepuk tangan dan kur masih sama. Pada kelas terakhir, tepuk tangan dan kur juga tetap ada. Lalu, saya memberikan surprise kepada siswa dengan tulisan terbaik, hadiahnya telah saya sisipkan dalam amplop putih. Begitu saya umumkan, tepuk tangan dan kur itu lebih keras dari sebelumnya!

Di antara tulisan mereka yang masih begitu adanya, kamu dapat membaca dari semangat dan perjuangan yang mereka lahirkan melalui link ini!


Saya berpikir, inilah awal dari perjalanan mereka. Mereka menulis, maka mereka ada. Ini adalah ‘hukum gravitasi’ dalam menulis. Mereka lalu datang kepada saya menjelang ujian akhir sekolah, bertanya tentang bagaimana serius menulis.

“Tulis saja apa yang terdekat dengan kamu!”

Dan mereka menulis, saya cek beberapa blog dari mereka yang telah terisi dengan tulisan-tulisan ‘curhat’, cerita galau dan cerita remaja lainnya.

Gravitasi Itu Saat Catatan Perjalanan Dimuat Media Cetak
Bagaimana rasanya ketika tulisan dimuat oleh media massa? Ada satu ruang yang terhentak begitu kuat saat itu terjadi. Gravitasi yang terjadi dari inti Bumi terasa lebih kuat dari biasanya. Media massa yang merakyat membuat kita mudah sekali dikenal, belum lagi jika hanya itu satu-satunya media terbesar pada daerah dimaksud. Saya berada di sini saat catatan perjalanan diabadikan oleh media massa Aceh, Serambi Indonesia.

Bangga. Tentu. Harian umum terpopuler di Aceh ini memiliki rubrik khusus yang disebut Citizen Reporter. Anak-anak Aceh yang malang-melintang ke seluruh penjuru dunia dapat membagikan catatan perjalanan mereka di sini. Aroma yang begitu kuat begitu tulisan dimuat dalam koran ini. Masyarakat yang notabene masih mengandalkan koran untuk membaca berita pagi, langsung tertuju pada satu kisah yang cuplikannya termuat di halaman depan.

Ada foto saya, berikut nama dan identitas sebagai seorang blogger Aceh yang melaporkan dari Bangkok, Thailand. Bertubi-tubi pesan masuk ke smartphone saya dengan isi foto saya di halaman depan koran tersebut, ada juga teman yang telepon untuk mengucapkan selamat. Saya juga mengabari teman jauh dengan mempublikasikan foto itu di media sosial, ada yang terharu, ada yang salut, ada yang bangga, ada yang menyebut inspirasi dan lain-lain. Bahkan, siswa-siswi saya juga berlaku hal demikian, seakan pamer bahwa guru mereka masuk koran dengan berita yang tidak biasa.

Pemuatan catatan perjalanan di Harian Umum Serambi Indonesia.

Bagi saya, ini gravitasi yang tidak hanya kuat namun juga menghempaskan nama saya untuk dikenang. Jika selama ini saya hanya dikenal orang mereka yang suka membaca di internet, setelah dimuat ini masyarakat – terutama di lingkungan saya – tahu keberadaan saya, mereka yang sering berbisik di warung kopi kemudian sadar bahwa saya tidak hanya ngopi sampai larut tetapi ada hasil setelah itu.

Media cetak masih menjadi salah satu media yang tepat untuk mengenalkan nama ke khayalak ramai. Saya menarik pelatuk untuk menebarkan virus menulis melalui pemuatan ini. Catatan yang ringan namun perjalanan gratis itu menjadi sebuah kisah lain yang menjadi daya tarik tersendiri.

LUNA Smartphone Gravitasi Lain dari Menulis
Menulis telah menjadi keseharian saya. Bahkan, bisa disebut saya menjalani dua profesi sekaligus yaitu pengajar dan penulis. Pagi sampai siang saya berinteraksi dengan siswa-siswi di sekolah. Lepas dari itu saya fokus menulis, mengutak-atik blog dan interaksi lain di dunia maya. Saat menulis di blog, saya membutuhkan smartphone untuk membantu pengecekan view saat tidak sedang aktif di laptop, membalas komentar dengan mudah, diskusi di grup menulis (blogger), dan tentu saja mengambil gambar sebagai pelengkap sebuah artikel. Gambar yang diambil tentang apa saja karena ‘apa saja’ itu akan jadi tulisan suatu saat nanti. Smartphone yang menarik perhatian saat ini adalah LUNA Smartphone.

LUNA Smartphone tampil manis dengan layar 5,5 inci. Layar besar didukung oleh resolusi layar Full HD cukup baik untuk berselancar di dunia maya, bermain game maupun menulis blog. Smartphone ini tidak hanya besar dilayar saja tetapi juga besar pada RAM dan ROM. Prosesor dari Qualcomm juga akan menambah gesit dalam bekerja.


Bodi besar didukung pula oleh InLife UI 2.0 sehingga membuat smartphone dengan sistem operasi Android Marshmallow ini tampil cantik. Jaringan terkencang pun telah tersemat sampai 4G LTE dengan beberapa fitur tambahan yang cukup baik untuk menangkap jaringan. Bicara daya tahan, LUNA patut mendapat perhatian dengan kekuatan 2,900 mAh. Baterai ini dapat bertahan dalam kondisi standby selama 480 jam dan bicara selama 11 jam pada jaringan 3G. Tidak hanya itu, pada jaringan 4G waktu standby sampai 500 jam!


LUNA Smartphone juga unggul di sektor kamera dengan beberapa fitur menarik. Memang, kamera selalu menjadi sisi terpenting sebelum membeli sebuah smartphone. Kamera utama (belakang) smartphone ini memiliki resolusi 13 megapixel dengan fitur-fitur yang disempurnakan. Kamera depan sebesar 8 megapixel cukup baik untuk selfie. LUNA menyebut Built iCatch untuk menangkap hasil kamera dengan baik. Tiga mode andalan yaitu 13 kinds of shooting modes, 22 scene options dan 25 kinds of filter effects. Mode-mode ini akan menjadi lebih baik setelah dibenamkan sensor yang baik pula yaitu ambient light sensor, approaching sensors, magnetic sensors, acceleration sensors, electronic compass, dan gyroscope.






Musik juga menjadi perhatian dari LUNA Smartphone. Tak salah jika smartphone ini menyertakan 3.5mm headphone jack micro-B USBonnector untuk mendukung audio dan video lebih enak didengar. Apalagi saat menulis, musik dapat memengaruhi adrenalin agar cepat mencapai puncak dan kata-kata yang keluar begitu tepat, menyentuh sudut-sudut yang sulit dijangkau kala menulis di tengah keributan panjang warung kopi atau tempat keramaian lain.



Material bodi yang menarik dipadu dengan warna kalem menjadi daya tarik tersendiri dari LUNA Smartphone. Warna silver maupun space grey dapat menjadi pilihan dalam bergaya. Smartphone elegan ini akan menemani saya selama dalam perjalanan suatu saat nanti. Ia juga akan menjadi teman yang baik dalam menuangkan ide-ide di blog maupun cerita lain yang dikirim ke media cetak. Dentang musik yang didengungkan melalui smartphone ini akan menjadi penyemangat tersendiri dalam menulis. Hasil foto akan menjadi kenang-kenangan terbaik selama traveling.

Bagaimana LUNA Smartphone Bekerja dengan Saya?
Ada hal yang tidak bisa saya jabarkan tetapi selalu membentuk lingkaran di dalam kepala. Hal itu adalah menyangkut dengan dunia menulis yang semakin hari terus mengasah kemampuan dan kesabaran saya, termasuk dalam urusan rejeki. Tiap hari saya harus menulis, menuangkan ide-ide yang biasa sampai luar biasa. Dari menulis pula saya menemukan sisi-sisi yang selama ini tidak pernah terpikirkan sama sekali. Sisi mana itu, adalah tentang kekuatan pintu rejeki yang kian terbentang hanya dengan merangkai kata-kata.

Sebagai seorang blogger, saya tentu butuh dua hal utama yaitu kamera dan internet. Dua hal ini yang akan mengabadikan apapun yang saya rasa. Tidak bisa dielak lagi bahwa blogger dan kamera ponsel telah bersatu sekian lama. Jika orang lain menjadikan hasil foto sebagai kenang-kenangan saja, blogger akan berbuat lebih dari itu. Foto yang ‘aneh’ dan ‘nyeleneh’ sekalipun akan menjadi bahan tulisan unik dan menarik.

Kamera Terbaik dari LUNA Smartphone
LUNA Smartphone dengan kamera utama 13 megapixel cukup baik menemani saya atau blogger lain. Tiga mode yang telah disebutkan di atas lebih dari cukup untuk menggerakkan tangan pada objek di depan mata. Sekali klik pemandangan itu akan abadi, semakin dikenang dengan dibubuhkan story dari foto itu dalam postingan blog.


Kekuatan foto tidak bisa diabaikan begitu saja. Kekuatan itu akan semakin terasa dengan hasil foto yang jernih dan detail dari LUNA Smartphone. Kenapa saya butuh kamera ponsel yang bagus? Alasan itu lebih kepada saya tidak terlalu repot lagi dengan kamera besar. Saya cukup menenteng smartphone dengan kamera mumpuni, memotret, memindahkan ke laptop, lalu menulis kisah tentang itu. Tidak sampai di sini, dengan smartphone saya juga begitu mudah membagikan momen tersebut dengan cepat ke media sosial.

Koneksi 4G LTE sangat Membantu Blogger
Saya butuh internet hampir 24 jam. Internet yang saya perlukan juga harus berada di jaringan terbaik. Maka, LUNA Smartphone menjawab tantangan ini dengan kehadiran jaringan 4G LTE. Pada jaringan ini, saya begitu mudah bermain di dunia maya, mudah mempublikasikan tulisan, mudah membalas komentar, mudah berbalas pesan di grup dan mudah pula dihubungkan ke laptop melalui portable hostpot.


Saat menulis, saya juga leluasa mencari informasi tambahan di internet. Dengan kecepatan yang gesit dari LUNA Smartphone halangan itu tidak lagi ada. Saya mudah saja membuka browser, membaca dengan cepat, menulis ide-ide yang bermunculan pada note yang tersedia, membuat kerangka tulisan, bahkan diskusi dengan orang tertentu untuk mempertajam ide melalui aplikasi chatting. Bersama LUNA, seakan waktu dipacu begitu cepat sekali. Tidak ada lagi waktu untuk main-main, yang ada hanyalah gerak langkah menuju satu tujuan, mencapai cita-cita dan terus berbagi tentang ‘apa saja’ yang akan menjadi ‘apapun’ saat dibaca banyak orang.


Dua hal ini lebih dari cukup untuk saya bersenang-senang sebagai seorang blogger. Bagaimana dengan kamu? Kapan lagi menikmati suguhan manis dari LUNA Smartphone?
Catatan: foto Smartphone LUNA dikutip dari Twitter LUNA Indonesia.
***
Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Menjadi Gravitasi Dunia Bersama Smartphone Luna. Tertarik untuk berbagi? Daftar saja di sini!

Comments

  1. Wowww.. Aku jadi mupeng dengan smartphone Luna. Kapan ya aku bisa jalan-jalan gratis kayak Ubai

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya yakin suatu saat Eki bisa jalan-jalan dari menulis. Tetap semangat berbagi ya!

      Delete
  2. Seneng kayaknya kalau punya guru kayak pak bairuindra ini😀.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Sil, semoga saya terus diberi kesempatan untuk berbagi ya :)

      Delete
  3. Smartphone luna menawan kelebihan salah satunya pengalaman menarik dari pelanggannya. Recommended!!

    ReplyDelete
  4. Blogger produktif memang butuh kamera dan gawai yang mendukung aktivitas blogging ya Bai... Selalu salut sama blogger yang bisa mendapat banyak rejeki tak terduga dari blogging... ^^ dan pasti ada usaha tak biasa dibaliknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, tiap usaha pasti akan ada hasil. Semangat terus berbagi ya :)

      Delete
  5. Keren bang ubai bisa memotivasi murid2 a untuk menulis di blog, awal yang baik tu bg, siapa tahu satu dari mereka menjadi blogger ternama melebih bang ubai, sungguh luar biasa keberhasilannya, seorang murid yang bisa melampaui gurunya. Salut deh! Btw, sekarang sudah tertarik sama Luna ya? ASUS a mana? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mencoba menjadi inspirasi, Yel. Eh, banyak smartphone sudah jadi kebutuhan saat ini, apalagi tuntunan sebagai blogger yang harus online hampir 24 jam :)

      Delete
  6. bener bener keren bang ...motivasi murid untuk menulis mantappp

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas, semoga dapat dipetik manfaat dari catatan ini ya :)

      Delete
  7. mantap ubai. Aku kebalikannya kali ya.. traveling dulu baru nulis :D . Salut euy.. Smartphonenya juga keceeee #mupeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda langkah kita ya, Mira. Barangkali rejeki saya dari menulis bisa traveling gratis. Saya berharap Mira juga mendapatkannya suatu saat nanti!

      Delete
  8. diksi nya diawal-awal bagus banget bang...
    bikin geleng-geleng kepala ini, keren sumpah!

    semoga murid-muridnya tambah semangat buat aktif ngeblog, biar kaya bapak gurunya yg bisa terbang kesana-kemari gratis, free, tanpa bayar. aamiin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas Wisnu. Saya juga berharap bisa menularkan 'virus' menulis kepada murid dan mereka bisa seperti saya bahkan lebih dari itu suatu saat nanti!

      Delete
  9. Tersentuh banget bg. guru dan blogger terkece dan kekinian deh pokoknya.. mantraappp....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Tina, semoga menginspirasi dan jangan jenuh untuk terus berbagi, suatu saat nanti Tina akan sampai ke langkah ini!

      Delete
  10. Suka sekali untaian kata demi katanya...
    Belum pernah merasakan dapat bonus terbang free...semoga nanti ikut merasakan juga...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mas, semoga diberikan langkah terbang gratis dari menulis ya!

      Delete
  11. Ubai.... terus berjaya yaaa.... kamu udah nemuin passionmu, tetap konsisten dan persisten :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih, Ihan, doakan yang terbaik ya :)

      Delete
  12. u nail it, u will get next prize my bro

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat, Awal! Saya yakin kamu pasti bisa mendapatkan apa yang sedang dikerjakan saat ini :)

      Delete
  13. Keren pak, tulisannya inspiring dan inbound marketing. Good Job !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Ichsan, semoga menginspirasi ya!

      Delete
  14. Keren mas, mereka yang konsisten yang akhirnya mampu manjadi gravitasi. Ya seperti mas ini.....sukses selalu ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Yuni, semoga langkah kita sebagai blogger semakin dilancarkan ke depan ya!

      Delete
  15. Keren bgt ubay sering menang, jln2 gratis kpn yaa diriku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Kak, konsisten, usaha dan terus belajar untuk mencapai titik ini. Semoga ada langkah jalan-jalan dari menulis ya Kak!

      Delete
  16. Wah keren nian bang, Thailand gitu loh..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesuatu banget, Kang, apalagi ini dari menulis :)

      Delete
  17. Inspiratif sekali, Bapak. Kami selaku pegiat pendidikan sangat mendukung kinerja Bapak dalam mencerdaskan anak bangsa. Maju terus dalam mengajar dan mendidik anak-anak kita....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih dukungannya ya, semoga saya terus bisa berbagi :)

      Delete
  18. Semoga selalu menginspirasi murid2nya ya pak. Kece skali kliling dunia krn menulis, bnr bgt yaa i write therefore i am hehe. Mampir blog saya jg yu ikut #bethegravity jg hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Semoga setiap langkah saya selalu menginspirasi ya mbak :)

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"