Lho, Kok Saya Nggak Dapat THR?

Tunjangan Hari Raya (THR) kok seperti monster menakutkan ya? Di mana-mana orang sedang hangat membicarakan THR ini, entah itu tetangga, kerabat, teman dekat, teman jauh, media sosial sampai jadi trending topic, sampai anak-anak kecil pun tahu THR itu sesuatu kayak istilah bekennya Princess Syahrini. Eh, tapi, Inces satu ini dapat THR nggak ya? Katanya Inces mau lebaran di Hongkong sekalian liburan bareng 25 orang termasuk asisten rumah tangganya. Eh, lagi, kok ini jadi sesuatu tentang gosip ya!
Sumber: ariefyanto.files.wordpress.com 

Nah, nah, THR itu memang sesuatu banget. Lho, kok saya nggak dapat THR? Bagaimana dong? Gelap dunia begitu saja, nggak jadi lebaran, nggak ada baju baru, nggak dapat paket lebaran, nggak bisa silaturami di Idul Fitri, nggak berani keluar rumah, nggak berani cuap-cuap di media sosial karena takut dibully, nggak aktif smartphone karena uang menipis, nggak ini, nggak itu, serius nggak lirik invoice bulan ini? Coba kamu lihat-lihat lagi notifikasi bank atau cek saldo kredit di bank untuk tahu soal itu.

Bagi sebagian blogger yang merangkap buzzer tentu saja nggak khawatir – kalaupun ada, keluhan manja saja – karena bulan ini saja beberapa invoice cair mengalir ke rekening bank. Ini kok jadi curahat hati blogger ya? Tetapi memang begitu, seharusnya bersyukur masih ada notifikasi dari bank menjelang lebaran ini. Jangan asal nyeplok telur bahwa THR sangat jauh dari nominal yang diinginkan atau membandingkan dengan nominal PNS yang sekali gaji berdasarkan golongan atau pegawai swasta yang memiliki rentang gaji bulanan. Mau seratus ribu pun yang masuk ke rekening tetap saja itu namanya THR, walaupun kerjanya sudah dua bulan lalu. Anggap saja begitu, THR, karena masuknya menjelang lebaran.

Blogger sih enak dapat THR – invoice cair. Lho, nggak semua blogger dapat THR kok. Ada pula yang invoicenya nggak cair-cair, ada juga yang nggak pernah ikut campaign apapun, adapun yang nggak mau terima buzzer karena dibaginya terlalu murah padahal blog masih sedikit pengunjung bulanan dan rangking blog secara global maupun nasional jutaan. Banyak kok dari mereka yang masih memegang kondisi ‘kronis’ ini karena baginya, ngeblog itu suka-suka saja dan kesampingkan soal biaya internet blogger jenis ini. Memang sih, itu pilihan hidup selebblog yang saya maksud tetapi nggak mesti tanya-tanya “Kok saya nggak dapat THR?” padahal kesempatan telah ada.

Jadi blogger itu simalakama ya, ini curhat, itu curhat, tapi itulah beda dengan media mainstream yang tunduk kepada kode etik jurnalistik. Blogger itu mau curhat seharian, mau nggak nulis sebulanan juga nggak ada untung ruginya. Media massa online yang artikel publish sehari ratusan sampai ribuan itu dengan banyak gawang – wartawan – tentu akan nyungkep di rangking kelas bawah jika nggak nggak ada artikel tayang. Jika dalam sebuah kelas terdapat 30 siswa, maka anak yang nggak berprestasi dan selalu tidur dari jam masuk sampai jam pulang, pastilah dia yang masuk ke rangking 1 dari urutan terakhir. Jurnalis yang publish di media massa online tentu saja setelah melalui editing editor yang kadang banyak typonya juga, mereka dapat THR karena diupah bulanan oleh perusahaan. Kita-kita yang blogger perusahaannya milik kita dan kita pula yang ngasih THR ke diri kita sendiri. Dari mana THR itu? Dari kerja keras, kerja paksa semalam suntuk, dari rutinitas menembus pagar laman satu mesin pencari, atau dari mana-mana asalkan ada saja post berbayar di blog.

Masih ingat banyak jalan menuju Roma? Demikian pula banyak jalan menuju kesuksesan seorang blogger. Mau jalan pintas, tikung-menikung, salip-menyalip, tunduk-menunduk, goyang ngebor, jatuh bangun, tidur lagi, tetap saja ada rejekinya masing-masing. Masa keemasan blogger ya saat ini di mana banyak perusahaan melalui agensi mencari jasa blogger untuk mempromosikan produk mereka dengan lebih murah daripada iklan di media besar. Kerja sama dengan blogger mudah sekali, kirim e-mail, tawar-menawar, chat WhatsApp atau grup, jadilah sebuah kerja sekali post atau berkala. Demikian pula bulan puasa ini, banyak perusahaan melirik blogger untuk membagi-bagikan ‘THR’ kepada mereka dengan biaya yang relatif murah namun mendapatkan banyak jasa.

Kita yang blogger dengan suka cita menerima e-mail masuk. Tawaran cocok ya diterima. Tawaran nggak sesuai ya ditolak. Ibarat jual beli, kayak kamu beli baju lebaran, tawar-menawar itu penting juga. Namun jangan dipaksakan pula maunya dapat ‘THR’ jutaan padahal belum pernah kerja sama dengan brand manapun atau blog masih berada di rangking paling kurus. Kadang benar, ada yang memberi pendapat, nantilah kalau blog sudah bagus baru terima endorse, atau, nggak mau pasang harga murah karena ngeblog kan susah. Terus, kita tunggu blog manis imut ciut manja bening sejahtera itu meledak kayak bom Hiroshima Nagasaki? Tentu saja nggak bakal jika ngisinya sebulan satu artikel terus nggak naik pula di laman pertama mesin pencari. Ingat lagi beragam tipe blogger muncul dari hari ke hari, ada yang travel, techno, beauty, lifestyle dan macam-macam jenisnya. Kita yang udah lama banget ngeblog sejak masa Multitply merasa ‘senior’ sehingga menunggu ‘THR’ dari sekarung emas yang jatuh ke permukaan Bumi lalu dipeluk erat-erat.

Eh, bukan juga harus ‘murahan’ tetapi pasang aba-aba bahwa itu cocok dan itu nggak cocok. Di awal dapat e-mail tentu lelah sekali karena bayaran rendah atau feedback nggak banyak untuk kita. Agensi punya penilaian tersendiri saat menjatuhkan harga dan blogger telah paham akan hal ini. Tetapi satu e-mail diterima maka banyak e-mail yang masuk dengan tawaran lebih menantang. Namun jika satu e-mail ditolak, maka ribuan e-mail akan sulit masuk ke inbox. Kita nggak sesabar si Cinta dalam menunggu Rangga sampai ratusan purnama. Kita juga harus kembali ke hukum alam bangun terlambat di pagi hari rejeki dipatut ayam. Dua tokoh yang girang gembira adalah Upin & Ipin yang gemar sekali e wai e em yam tiap waktu makan!

Lho, kok saya nggak dapat THR? Lagi? Dapat sih, mungkin saja belum waktunya, atau mungkin saja pernah menolak banyak tawaran kerja sama sehingga rejeki itu beralih dulu ke orang-orang dengan jam ‘tayang’nya nggak tidur malam. Sebenarnya, ada beberapa alasan mengapa seorang blogger menerima ‘THR’ itu. Rajin-rajin ikut campaign dengan mengisi formulir dari agensi, ikut grup blogger, atau punya kenalan yang mau ngasih kerja sama. Jika selama ini nggak pernah mengirim form kerja sama, ya nggak mungkin agensi melirik. Jika grup cuma infotemen sampai ribuan chat, kapan akan ketemu perusahaan yang mau kasih produk. Jika pernah menolak kerja sama dari seorang teman, yakin dia akan hubungi lagi kapan-kapan?

Semuanya sih kembali kepada kita, mau THR bulan ini atau ‘THR’ di kapan-kapan. Kadang ada anggapan, dia yang nggak terkenal blognya kok banyak dapat kerja sama, dia yang sering buat post viral nggak pernah ikut buzzer, dia yang selalu juara lomba nggak pernah ikut endorse. Satu alasan kembali ke prinsip si blogger. Alasan lain karena agensi nggak mau melirik dengan alasan akan jadi ‘viral’ atau alasan lain blog bersangkuntan cuma isi artikel untuk lomba saja!

Hm, sejatinya saya tetap bangga menjadi blogger suka-suka yang nggak memiliki prinsip ‘ulala’ Princess Syahrini – kok ini lagi. Jadi ya nggak perlu menyalahkan si ini atau si itu, toh kembali ke prinsip ekonomi (muamalah) ada jasa ada bayaran. Saat nggak dapat kerja sama, tulisan itu bertabur bunga. Saat menerima kerja sama, maka tunduk kepada syarat dan ketentuan perusahaan. Saat ikut lomba maka harus menaati syarat-syarat dari lomba tersebut. Semuanya tepat, melaju kencang, kena sasaran!

Dan, selamat bersuka-suka dengan invoice ‘THR’ untuk blogger sebaik-baiknya manusia di Nusantara tercinta! 

Comments

  1. Ngomong" soal invoice masih ada yg belum cai, padahal sudah 2 bulan kayaknya :(

    ReplyDelete
  2. Lebaran kalau belum dapat THR mungkin belum jodoh... 😂

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah ada invoice sebagai THR ya mas, saya pun telah merasakannya....

    ReplyDelete
  4. Meski gak dapet THR, alhamdulillah rezeki menjelang hari raya lancar jaya

    ReplyDelete
  5. Trus ini kenapa Cinta dibawa-bawa? hahahaha.

    Ya bener, semua berproses. Aku pun sebelum dapet tawaran yang lumayan, nerima tawaran yang sampe dikomenin sama orang, "cieh yang nulis dapet cepek." Hwhw, lama-lama ya ningkat. Jika dirasa nulisnya butuh effort gede, ya sesuain. Gak cocok, tinggalin. Tapi jangan ngiri sama sejawat yang banyak dapet "THR" karena mereka dapat mengira kapasitas mereka.

    Invoice, segeralah caiiiirrr *lha ujung2nya numpang doa hwhwhw

    omnduut.com

    ReplyDelete
  6. Wah, sama nih. Saya juga gak dapet THR. Tapi Alhamdulillah, invoice banyak yang cair. :D

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"