Konservasi dari Sadar Diri Beranjak ke Kehidupan ‘Abadi’


Dulu, masa kecil yang selalu merasa bahagia, saya merajuk kepada Ibu untuk diajak ke kebun karet. Imajinasi saya sebagai kanak-kanak, kebun karet itu adalah taman bermain dengan segenap ‘kawan’ yang berceloteh dalam bahasa mereka masing-masing. Ibu abai terhadap saya yang merengek. Ujarnya, “Kebun karet bukan tempat bermain bagi anak kecil!”

Lantas, Ibu berlari kecil mengejar Ayah yang telah mendayuh sepeda. Ayah sama sekali tidak menoleh saya yang histeris dengan pengetahuan sendiri, bahwa Ibu tidak memedulikan kepentingan saya waktu itu. Ibu pun acuh kepada saya dan berjingkrat sedikit lalu duduk aman di belakang Ayah yang terus mendayuh sepeda perlahan-lahan.

Cerita itu, tidak sampai pada satu hari saja. Di hari setelahnya, lalu di hari berikutnya lagi, saya masih merengek untuk dibawa serta ke kebun karet. Bayangan saya, di sana masih banyak ‘kawan’ yang menanti daripada di rumah bersama Nenek yang kerapkali ditinggal tidur. Saya bosan mencongkel kerikil di halaman rumah. Saya malas berlarian sendirian sekeliling rumah. Saya pun selalu kalah tarung saat bermain petak umpet bersama teman-teman yang lain; entah mereka memang sengaja menjahili saya yang usianya lebih muda.

Di hari entah kesekian dari rayuan gombal menurut definisi anak-anak itu, Ibu membungkus saya dengan kain dan ditariknya ke kebun karet. Jalan setapak yang kami lewati begitu indah dan menakutkan di sisi berbeda. Keindahan itu dari pohon-pohon karet tinggi menghijau, suara daun-daun yang seakan bersenandung dengan melodi terstruktur, burung-burung bercicit di kejauhan, Elang terbang menukik dari celah daun pohon karet, monyet melompat dari satu batang pohon ke batang lainnya dengan girang, dan air berwarna hitam pekat mengalir di parit yang dibuat oleh pekebun. Ketakutan saya begitu bertemu dengan ladang yang sepi sementara kacang siap panen tumbuh mekar, sunyi yang mendadak terjadi saat suara alam berhenti, dan saat Ibu meninggalkan saya di bawah batang pohon yang lebih rimbun daunnya.

“Kamu jangan ke mana-mana, Ibu menakik karet di pohon sebelah. Kalau ada apa-apa, kamu cukup bersahut sekali saja!” bergegas, Ibu langsung meninggalkan saya dan menakik karet dari satu batang ke batang lainnya. Alam yang dingin di sekeliling terasa masih begitu perawan dengan jati dirinya. Air yang mengalir di parit tak jauh dari saya duduk, berirama ke dataran lebih rendah. Sesekali, terdengar orang bersahut dan dibalas oleh orang lain dan terus diteruskan oleh orang lain lagi.

Di mana-mana, adalah batang pohon yang tumbuh dengan mekar, subur sebagaimana mestinya, dan berair sebagaimana keinginannya. Daun-daun yang jatuh dari pohon sepertinya sulit sekali kering karena tertutup dari sinar matahari. Batang pohon yang patah karena usia tampak masih ‘segar’ meskipun tidak lagi bernyawa. Ke mana arah mata saya memandang, pohon-pohon kokoh dengan kekuasaannya. Ranum daunnya melebat sampai saya tidak tahu di mana Ibu menakik karet. Saya bersahut dengan suara kecil, Ibu menjawab sekali, lalu dibalas oleh orang lain, dibalas lagi oleh orang yang lain di jarak yang lebih jauh sampai kemudian berhenti. Selang beberapa menit, saya kembali bersahut, Ibu menjawab dan dijawab kembali oleh orang lain, seterusnya sampai kembali hilang dari pendengaran saya.

Nyamuk menjadi teman yang karib. Maka kesimpulan dari saya dibungkus dengan kain karena sengatan nyamuk hutan benar-benar membuat kulit terbakar. Saya menampar pipi. Tidak berbekas jasad nyamuk di sana. Saya menampar kembali, hanya rasa sakit yang terasa. Ingin rasanya saya membakar obat nyamuk, atau membakar daun-daun di dekat itu agar pasukan nyamuk berhenti mengajak perang dengan aliran darah di badan saya. Namun, Ibu pernah berkata, bahkan sampai saat saya dewasa sekalipun berujar demikian. “Jangan buang sepuntung api pun di dalam hutan, karena dia mudah membakar gambut kering lalu menjalar ke mana-mana!”

Mungkin, begitulah pengalaman yang tak perlu aljabar dari bangku kuliah manapun. Pelajaran terpenting dari seorang wanita yang membesarkan saya, juga dari Ayah yang jarang berbicara, tentang kehidupan ‘abadi’ di dunia ini sebenarnya kita yang memulai, dari kita yang sadar diri bawah kehidupan – lingkungan sekitar – adalah kita yang mengarahkannya ke mana tujuan.

Kebakaran hutan di Aceh Barat - Photo by Bai Ruindra

Pelajaran penting dari apa yang Ibu saya ‘larang’ baru kini saya rasa benar adanya. Saya merasa sendiri perih di mata dan hidung kesusahan mendapatkan oksigen bersih ketika Aceh Barat diterpa kebakaran hutan belum lama ini. Jarak pandang yang berkabut begitu saya keluar rumah di pagi hari. Langit menjadi gelap karena asap yang kian sulit dibendung. Debu-debu tampak beterbangan sampai masuk ke kamar saya. Di sekolah tempat saya mengajar, beberapa siswa dan siswi tumbang. Mereka dilarikan ke puskesmas untuk mendapatkan pertolongan tercepat. Proses belajar terpaksa terhenti dengan siswa dan siswi dipulangkan lebih cepat mengingat kondisi di sekolah yang dekat dengan lokasi terbakarnya hutan, makin pekat oleh asap. Kabut asap begitu cepat menyebar, cnnindonesia.com (24/07/2017), menyebutkan bahwa 60 hektar lahan terbakar di Aceh Barat. Disebut, sebab dari kebakaran tersebut karena warga setempat yang membakar hutan secara tradisional untuk membuka lahan perkebunan baru.

Kabut asap yang berdampak kepada siswa di sekolah - Photo by Bai Ruindra

Entah karena ‘sepuntung api’ atau bukan, atau disengaja atau bukan, saya merasa bahwa hutan terdekat dengan rumah kami, hutan yang dulu pernah saya injaki sewaktu kanak-kanak, telah tidak lagi ‘perawan’ dan meradang dalam kepungan kekecewaan. Hampir dua minggu berita tentang kabut asap di Meulaboh dan sekitarnya menghiasi media massa cetak, online bahkan elektronik. Sampai kini saya – kami – masih harap-harap cemas soal lingkungan yang mudah berkabut dan jalan tertutupi asap. Berbagai pendapat digulir seenaknya, berbagai pandangan masuk ke ranah debat, namun kehidupan kami tetap begitu, mengalir ‘abadi’ dalam patah-patah membenarkan apa yang telah carut-marut.

Kabut asap di Aceh Barat - Photo by Bai Ruindra

Musim kemarau yang panjang menjadi sebab lain kebakaran yang mudah menjalar. Hutan yang dulunya benar-benar sempurna sebagai tubuh perawan makin ke sini begitu mengiba kepada tangan manusia agar berhenti menyakiti. Manusia yang tidak pernah puas terus melakukan hal-hal sedemikian untuk kepuasan batin dan derajat hidup lebih baik. Jika mengukur kepada masalah kerusakan hutan itu sendiri, ngekul.com (03/08/2016), menjabarkan bahwa orientasi masyarakat soal hutan adalah kepentingan ekonomi berkepanjangan di mana pembukaan lahan secara terus-menerus dilakukan, mudahnya pembukaan lahan secara tradisional dengan melakukan pembakaran hutan, sistem perkebunan yang berpindah-pindah sehingga membutuhkan lahan baru untuk dibuka, penegakan hukum yang belum maksimal soal pelanggaran maupun kejahatan di dalam hutan seperti perambahan lahan, ilegal logging dan lain sebagainya.

Lahan yang ditinggal setelah ditebang dan dibakar beberapa waktu lalu - Photo by Bai Ruindra

Lalu, kapan hutan kita yang rindang sedari dulu kembali segar?

Pertanyaan ini justru menjadi hal yang tabu di saat kebakaran hutan, seperti kasus di atas, adalah hal yang wajar. Pola masyarakat yang berpindah-pindah untuk membuka lahan perkebunan yang menggiurkan tak terbendung, lalu masyarakat yang semula memusatkan diri kepada hasil karet kini beralih ke sawit semenjak harga karet kian tergerus pangan yang lain. Masyarakat yang memiliki lahan tersertifikat dengan sukacita membuka lahan perkebunan untuk menyambung hidup. Biarpun subsidi dari pemerintah soal papan dan pangan telah ada, keseharian dari itu lebih besar tantangannya. (aceh.antaranews.com, 11/01/2017).

Masalah masyarakat yang tak bisa diminta berhenti karena kebutuhan demi kebutuhan sehingga masyarakat yang semula tabu, lantas sama sekali tidak memedulikan isu konservasi sumber daya alam. Alam yang semula enak dihirup aromanya kian hari masih semak untuk menciptakan oksigen bersih. Masa kanak-kanak saya yang ke kebun karet penuh suka, sekarang malah ranting kering bekas terbakar adalah pemandangan mengharu-biru. Ini persoalan, tentu saja. Jika di dewasa ini kembali ke kebun karet kami yang telah terbakar, maka cicit burung tidak lagi mudah didengar, suara gesek daun menjadi sunyi dan mungkin saja parit yang berisi air berwarna hitam khas hutan itu telah sirna.

Konservasi dan Sebuah Keharusan Lingkungan Hidup
Bicara konservasi rasanya begitu berat untuk mengamalkan dengan baik. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebut konservasi sebagai pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan pelestarian. Definisi konservasi sumber daya alam dijabarkan pula oleh bangazul.com (01/02/2013), yaitu penghematan penggunaan sumber daya alam dan memperlakukannya berdasarkan hukum alam.

Bicara teori selalu mudah namun untuk berangkat ke keharusan menjaga lingkungan hidup agar selalu kondusif, tidak semudah membalik telapak tangan. Saat saya tersengal-sengal menghidup udara berdebu, saat itu pula saya membayangkan tentang kehilangan taman bermain di hutan untuk pasukan nyamuk yang begitu menyengat jika disuntik jarumnya. Hukum alam tidak tertuang dalam perdata maupun perdana, tidak pula melewati penjara di atas bukit maupun di bawah gunung. Hukum alam terjadi jika, bagaimana dan seterusnya, dari secuil masalah kemudian membesar.

Kata ‘harus’ untuk konservasi sumber daya alam karena kita hidup dengan alam, setiap hari kita berinteraksi dengan polusi di alam bebas ini, karena alam adalah sumber kehidupan terpenting bagi manusia. Saat kabut asap menyerang, serangannya lebih besar daripada sengatan nyamuk untuk seorang pekebun di kebun karetnya yang asri miliknya. Tiap hari adalah pasukan nyamuk di telingannya, tetapi udara yang dihirup lebih segar, lebih adem, lebih bertenaga meski mereka pulang dari kebun karet menjelang azan dhuhur.

Kebun karet yang Ayah dan Ibu saya takik – sebelum pensiun karena harga terjun bebas – adalah bagian yang tidak ada habisnya. Hukum alam yang berlaku di sini adalah makin ditarik getahnya, si pohon karet makin girang mengeluarkan hasil bumi. Makin tua batangnya, makin bergetah pula isinya ke dalam tempurung kelapa sampai tumpah menjuntai ke tanah. Jika disebut pekebun karet ini tidak menghemat dalam memperlakukan sumber daya alam, maka anggapan tersebut telah salah. Entah sejak kapan bermula, orang-orang masih tetap ke kebun karet untuk menakik getahnya meski harga telah turun sekalipun. Mereka menjaga kebun karet sebagaimana hukum alam menjaga peradaban yang bernama ‘konservasi’ yang secara tidak sadar telah mereka lakoni sejak waktu lama.

Sumber Daya Alam dan Kepentingan Kehidupan Manusia Dengannya
Kita, butuh bertahun-tahun untuk melakukan regenerasi sebatang pohon karet agar benar tumbuh maksimal dan menghasilkan hasil unggul. Kebun karet adalah sumber kehidupan manusia bertahun-tahun lamanya. Masyarakat yang hidup dari kebun karet tidak sedikit di Aceh ini. Tidak hanya saya yang dapat menikmati hidup ‘mewah’ saat ini dari pontang-panting Ayah dan Ibu ke kebun karet sejak subuh. Ada banyak dari kita yang lain menikmati keringat orang tua dari panen karet yang tak seberapa.

Karet bisa saya sebut sebagai sumber kehidupan manusia yang tak terbendung kisahnya. Mungkin ini hanya secuil tetapi begitu masuk ke ranah konservasi maka karet adalah bagian terpenting dalam pelestarian lingkungan. Tak terkira airmata mereka yang buru-buru ke kebun karet usai subuh, saat kebunnya dilahap api. Mereka telah menjaga, mengumpulkan dahan untuk berteduh dan memulai tarikan di pohon karet meski airnya tak sepenuh dahulu. Tetapi para pekebun karet tidak mengubah pola dengan menebang bahkan ‘membakar’ kebun karet lalu ditanam dengan pohon baru. Kesabaran mereka adalah bagian dari ‘konservasi’ lain dari sumber kehidupan manusia yang tiada batas.

Kepentingan manusia terhadap alam tidak hanya oleh Ayah dan Ibu saya sebagai pekebun karet. Mereka yang lain, tiap waktu dengan alam adalah bagian dari hukum alam itu sendiri. Pekebun karet tahu saat hujan getahnya tidak keluar, bahkan ini masuk ke dalam pelestarian lingkungan yang lagi-lagi urusan berat dari ‘konservasi’ yang telah disebut berkali-kali. Tanpa disadari sekalipun, masyarakat yang awam telah menjalankan pola dari konservasi yang sejatinya berangkat dari teori-teori. Kepentingan dari konservasi telah diterapkan oleh masyarakat awam ilmu ini sejak mereka pertama kali menarik pisau ke batang pohon karet. Mereka tahu bagaimana menyabit dengan benar, bagian mana dari pohon yang tidak boleh ditakik, pohon mana yang daunnya luruh lebih banyak maupun pohon mana yang mengeluarkan getah lebih besar atau sedikit, mengapa batang pohon karet tidak boleh ditebang sembarangan, atau di mana posisi yang tepat menanam bibit unggul yang baik.

Tahukah kamu bahwa kebun karet itu ditanam seperti siswa sedang upacara bendera di Senin pagi. Mereka berbaris rapi, tegak mengacung langkah, semangat tumbuh dengan air cukup, dan berbagai urusan lain atas kepentingan menaikkan derajat ekonomi pemiliknya. Pola penanaman kebun karet yang telah diterapkan oleh nenek moyang kita telah menjadi tolak ukur bagaimana pelestarian ‘konservasi’ itu terjaga dengan baik.

Hukum alam yang tidak tertuang dalam teori kampus ternama ini terus diterapkan oleh masyarakat. Penting atau tidaknya ‘konservasi’, kedekatan mereka dengan alam tak tertutup sampai di mana akan bermuara. Tak terkira pula, sarjana mana, doktor mana bahkan profesor mana yang lahir dari ‘kebun karet’ ini. Sumber kehidupan manusia yang berasal dari hutan ini terlindungi secara hukum alam. Maka, sumber daya alam ini harus dijaga sebagaimana menjaga diri kita sebagai manusia bermartabat, eksploitasi dari sumber daya alam ini harus berimbang antara kebutuhan dan kelangsungan hidupnya, tidak merusak yang ada dan mengembangkan yang baru demi memberi dukungan kepadanya.

Solusi Konverasi dalam Kehidupan Manusia
Di mana-mana adalah hutan untuk mata pencaharian. Saya sadar bahwa keberadaan hutan telah tergerus untuk kepentingan ekonomi. Tetapi, dalam konservasi maka dibutuhkan dukungan untuk melestarikan kembali sumber daya alam hayati di sekitar kita. Sama-sama menjaga adalah solusi terbaik dalam melestarikan kembali lingkungan. Saya mungkin tidak bisa menyebut, “Jangan buang puntung rokok di dalam hutan!” tetapi sadar diri di atas segalanya sebelum kerugian terjadi.

Kesempatan kita saat menyeru konservasi adalah bagaimana interaksi manusia dengan lingkungan. Orang tua kita lahir dari pekebun karet maka tak semestinya mereka keluar dari ‘hutan’ ini untuk menggais rejeki di tempat berbeda. Kesempatan membuka lahan perkebunan baru karena faktor ekonomi yang tak kunjung usai. Pengaruh zaman yang mengubah sistem ekonomi dan kebutuhan menjadi akar yang kuat.

Di sini, di saat kabut asap masih tersisa akibat hujan turun dua hari terakhir, ada alasan mengapa lahan dibuka terus-menerus. Pekebun karet yang semula merasa aman dengan keuangan mereka beralih ke pembukaan lahan untuk menanam sawit yang lebih menjanjikan akhir-akhir ini. Belum lagi pekebun karet yang harus rela menjual kebun mereka untuk perusahaan yang membuka pabrik sawit. Mereka yang semula menakik karet kemudian menjadi pekerja di kebun sawit milik orang lain.

Kebun sawit yang terbengkalai karena hasil panen tidak memuaskan - Photo by Bai Ruindra

Miris ini terjadi begitu saja, tetapi jika konservasi masih diingini maka mereka yang telah satu jiwa dengan hutan harus dieratkan kembali. Di hati pekebun karet, agar mereka tidak menebang dan membakar lahan di hutan, kenaikan harga jual getah karet menjadi jawaban dari kerisauan. Harga getah karet perkilogram yang menyentuh Rp. 5000 tidak sebanding dengan sandang pangan yang harus mereka beli tiap hari. (aceh.antaranews.com, 11/01/2017).

Pemilik ‘konservasi’ yang mengaungkan pentingnya isu ini harus benar-benar mampu memberi jawaban. Kami yang di sini telah lelah dengan kabut asap sejak dua tahun terakhir. Saya juga masih ingin melihat Ayah dan Ibu kembali ke hutan untuk menakik karet. Setidaknya, orang tua kami di sini bisa selalu menjaga kebun karet dari kepunahan. Kebun karet yang tidak terawat karena ditinggal pekebun akan kembali bersenyawa dengan dinaikkan harga panen. Hutan yang dulunya sunyi, bisa kembali bersenandung dengan sahutan pekebun. Irama ini yang dibutuhkan dalam menjaga konservasi bukan saja merujuk kepada ‘taman’ baru yang menjanjikan dan mengangkut pekerja abadi di dalamnya.

Saya sadar, kebun karet sangat berarti bagi kehidupan kami. Seperti liukan Tari Saman, maka sedemikian indahnya dayung sepeda dari Ayah yang kembali ke kebun karet tiap pagi. Ayah dan Ibu dengan kawan-kawannya yang lain, hanya segelintir kisah yang menghidupkan konservasi sebelum saya lahir. Bagian ini tidak bisa diubah karena telah menjadi satu jiwa.

Kebun karet yang asri, idaman pekebun yang sampai kini masih menakik karet - Photo by Bai Ruindra

Di kesempatan lalu, saya telah menulis tentang Mr. Jali yang menjaga habitat Gunung Leuser dengan baik. Perjuangan tanpa pamrih dalam tubuhnya sebagai ‘guide’ telah bersarang akan kebersihan, kepekaan sampai menjaga lingkungan hutan lindung tersebut dengan bijaksana. Secarik sampah saja akan dipungutnya dan setiap pekebun yang membuka lahan baru akan ditegurnya untuk mengelola yang sudah ada terlebih dahulu. Tiap kata darinya adalah penggalan demi penggalan dari makna ‘konservasi’ yang selama ini sangat tabu. Masyarakat kita yang – kembali lagi – berangkat soal kepentingan ekonomi, terus mengerus hutan demi sayur-mayur menghijau. Kisahnya bisa dibaca kembali di sini!

Dan, konservasi yang kita ingini sebenarnya telah tercoreh cukup lama hanya saja siap dan tidak siap untuk menjaga lebih baik lagi. Dukungan dari berbagai pihak akan memberikan harapan pula kepada mereka yang selama ini berjuang sendiri mengonservasikan alam dalam dirinya – pekebun karet itu sendiri. Di sisi lain, masih banyak sumber daya alam yang menjadi sumber kehidupan. Ditulis atau tidak, mereka ada, di mana-mana dan sepatutnya dijaga habitatnya! 

Comments

  1. aku juga suka banget kak kalo pergi ke kebun karet. Tapi di kotaku lumayan jauh jarak rumahku sama kebun karetnya .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada rasa yang sulit dijabarkan ya begitu tiba di sana :)

      Delete
  2. Baca artikel ini, mata jadi perih, sesak nafas ingat bapak ibu kampung

    ReplyDelete
  3. Cerita yang mantap terkait lingkungan hidup.

    ReplyDelete
  4. Sayang org Mbo hrus menghirup asap, aplgi kmrin itu ada liat seorang siswi yg sesak gegara asap.

    ReplyDelete
  5. Nice sharing mas, miris kalau liat kondisi sekarang ini 😢 banyak perburuan liar, pembalakan liar tidak hanya hutan sungai" pun juga penuh dengan sampah dan limbah limbah. Hmmm 😥 semogaa banyak yg makin sadar kalau bumi ini perlu dijaga, dirawat dan juga dilindungi dr ancaman kemusnahan yg selalu mengintai. Aamiin. .

    begitu beruntungnyaa bisa bertemu dengan Pak Jali ya mas 😄 bisa langsung dengar dari ahlinya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Mbak Lucky semoga dimudahkan segala urusan yang berkenaan dengan ini ya.

      Delete
  6. Bang Ubai memang jagonya mengulas yang beginian, apalagi di cerita pembukanya, bikin orang penasaran dan betah untuk membaca paragraf berikutnya.
    Yel harus banyak belajar lagi ne dari bg Ubai.

    Semoga berhasil untuk lomba ini ya bg, saatnya mengenalkan diri di lingkungan sendiri, jangan di Jakarta aja, hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, iya ni saatnya dikenal di Aceh, masa nggak ada yang tahu saya blogger :(

      Terus belajar Yel, soal diksi akan datang sendiri seiring pengalaman menulis.

      Delete
  7. Ngeri juga asap kemarin di MBO ya , Bai..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Semoga ada pencerahan ke depan.

      Delete
  8. semoga pembakaran hutan kedepannya bisa berkurang ya, Bang. kasihan dngn masyarakat yg terganggu aktivitas dan kesehatannya :(

    Baca tulisan bang Bai enaknya bawa cemilan, santai dan informatif :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Terima kasih Annafi semoga mencerahkan ya.

      Delete
  9. efek bakar2 ini
    emang berasa sampai kemana2

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, bisa merugikan banyak pihak pula.

      Delete
  10. bai, kapan ada waktu kita jalan2 ke kawasan hutan? :)

    ReplyDelete
  11. Sedih deh kalau masuk musim kemarau, berasap lagi..pernah merasakan sesaknya waktu tinggal di Palembang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, apalagi kalau merasakan kabut asap bisa susah bernapas.

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"