Malam dan Sepotong Kenangan dalam Tubuh Waria di Negeri Syariat Islam

“Bagaimana, Bang?” dia tergugu. “Aku sudah tidak tahan, tapi aku takut!”

Saya merayap malam yang kini terbelenggu dalam pendar-pendar cahaya tengah kota. Tentu, saya pun tidak ada alasan untuk membuatnya ‘mengaku’ pada sesuatu yang tidak hanya tabu tetapi akan dicaci maki suatu waktu – dalam waktu yang lama. Saya menanti, tidak memberi jawaban, karena pada beberapa pandangan, saya merasa ngilu untuk menerima setiap hentakan nada-nada dari kalimatnya yang serak.

Ilustrasi - sumber: tempo.co

“Kamu mau mulai dari mana, dari situ kita akan mengakhirinya?” bukan pertanyaan, saya hanya memberikan anggapan pula. Tetapi dia, memiliki pandangan-pandangan dari sudut mata yang mengalir butir-butir kerinduan. Saya ingin tahu dia rindu tentang apa, saya juga ingin menyelami mengapa rindu itu begitu kekal abadi dalam fana.

“Apa tidak apa-apa, Bang?” dia khawatir, saya meradang dalam gamang. Apa tidak apa-apa? Tentu akan kenapa-kenapa jika cerita itu bermuara entah ke mana. Saya tidak tahu bagaimana nanti mengakhiri sebuah pertikaian, bahkan kesenduan dari mereka yang semerbak hujat akan sebuah kehidupan orang lain.

Jika demikian, keputusan telah dibuat semena-mena, karena dia tidak tahu ke mana arah menepikan sedih, entah bagaimana sehingga cerita ini saya mulai dari sini!
***
Senjakala, sebut saja namanya dengan sebutan itu. Karena jika nama dirinya tersebut, maka cemoohan akan merayap ke sendi-sendi terdalam dalam hari-harinya kelak. Bahkan, pembenaran yang terburai airmata tidak akan mampu menutupi kekejaman mereka yang terbahak di atas penderitaan orang lain. Kehidupannya baik-baik saja, bahkan bisa saya sebut sangat normal sebelum tsunami tiba. Dia bahagia dengan apa yang dijalani dan melupa apa yang tidak bisa dirinya dapat, termasuk kasih sayang dari seorang ayah. Kekalutan itu, kengerian itu, mungkin ketidak-pastian dari dalam hidupnya, arah yang melintang, membelok ke jalan terjal, belum lama ini terjadi.

- Bang, kalau kamu sudah sampai di Banda jangan telepon ke nomor aku ya. Nanti langsung ke kos aku saja, aku nggak bisa jemput ke bandara! -

Saya begitu terkejut menerima pesan itu. Ini tidak biasa. Ini karena apa-apa. Buat apa susah-susah dia mengirim pesan kepada saya padahal waktu itu, saya masih berada di Bangkok, Thailand. Saya menerka-nerka, di tengah kemacetan Kota Bangkok, di antara liuk air di Sungai Chao Phraya, orang-orang yang cuek dalam Bangkok Sky Train, dan lalu-lalang orang-orang rupawan di negeri Gajah Putih itu, tak mampu membuat saya nyaman kembali. Saya menyadari keganjilan yang Senjakala alami. Ini tidak biasa dan pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan.

Pesan singkat yang dia kirim kepada saya menguak perkara yang semestinya tertutupi secara tiba-tiba. Saya tiba di Banda Aceh pada cakrawala telah menjemput malam. Angin kencang terasa pengap dalam perjalanan saya ke kos Senjakala. Hidupnya seakan telah berada pada waktu senjakala, di mana sedikit senggolan ia akan terjatuh, tersungkur bahkan lebih dari itu, kehilangan napas saat bangkit dari derita.

“Aku nggak butuh perhatian dari orang-orang, Bang!” ujar Senjakala seperti menghardik saya saat tiba di kosnya. Saya yang masih merasakan jet lag dari perjalanan jauh, Bangkok ke Jakarta, lalu Jakarta ke Banda Aceh, masih belum genap menyisakan lelah. Pikiran saya masih kalut untuk mencerna tetapi saya harus mendengar saja. “Orang-orang itu nggak peduli sama aku, terserah. Pria itu nggak anggap aku anak sejak kecil, aku nggak peduli. Tapi, ketika aku kayak begini, mereka menghujat, mereka mencaci, mereka menghina, mereka menampar aku dengan kata-kata. Di mana mereka saat aku susah? Kapan mereka ngasih uang jajan untuk aku? Kapan mereka kasih makan aku?”

Saya tahu, siapa mereka, siapa orang-orang yang dimaksud olehnya. Terlebih pria yang seharusnya ia sebut Ayah. Pria yang kemudian saya ketahui tak pernah menampakkan jati dirinya lagi sejak meninggalkannya dan saudara-saudaranya, bersama Ibu, saat dirinya masih kanak-kanak.

“Aku nggak ngapa-ngapain, Bang!” tegasnya. “Aku cuma lewat, aku nggak pakai make-up, aku kayak begini, aku biasa saja, tapi mereka menangkap aku!”

Senjakala mulai terisak. “Memang sial aku malam itu, motorku mogok saat mereka datang!”

Saya mengarah ke satu kompas kehidupan di dalam dirinya. Ini sesuatu yang menjadi tanya dari dalam diri saya sejak di Bangkok.

“Jam berapa?”

“Jam 2 lewat,”

“Tapi, cuma kamu yang ditangkap?”

“Cuma aku. Yang lain berhasil kabur padahal mereka lengkap semua!” maksud ‘lengkap’ itu adalah menggunakan pakaian wanita dan memakai make-up. “Mereka nggak peduli aku kayak apa, mereka tetap bawa aku ke kantor itu!”

“Tapi, kamu tidak kena hukuman, kan?”

“Mereka nggak tangkap aku lagi transaksi, jadi aku cuma kena wajib lapor, tapi smartphone aku disita. Semua ada di sana, foto-foto aku dengan rambut panjang, aku dengan pakaian wanita, aku dengan make-up!”

Saya mendengus. Kepanikannya mulai tampak.

“Kamu nggak sempat hapus?”

“Nggak sempat. Mereka cuma kasih kesempatan sekali aku hubungi dia yang nggak mau kuhubungi itu. Saat itu pula aku hapus semua kayak BlackBerry Messenger, Line, WhatsApp dan Facebook, tapi foto-foto….,”

“Dan, dia datang?” tanya saya hati-hati.

“Dia datang. Dia marah-marah. Dia memaki aku. Dia membuat seolah-olah aku manusia paling hina di dunia ini. Dia lupa aku lahir dari spermanya!”

Kasar. Amarah. Begitulah yang saya baca dari raut wajah Senjakala. Kasih sayang yang tak pernah ia miliki. Keinginan yang sejatinya ingin ia gapai tetapi tak mungkin bermuara ke mana. Saya sebenarnya tidak memedulikan bagaimana kondisinya tetapi saya iba mengapa ia harus menjadi begitu, menjadi waria, seperti itu jika kamu menyebut kepada mereka yang demikian perangainya!  
***
Mengulang kisah yang lewat, pada awal tsunami, mungkin pertengahan 2005, saya bertemu dengannya yang terbahak di depan kos saya. Dia pindah ke kamar di sebelah dengan segenap kemelut yang kemudian tersibak satu persatu. Dia duduk manis di dalam kamar kos tanpa berbuat apa-apa. Dia keluar malam hari lalu pulang dengan lesu. Dia bekerja sebagai penjaga warung telepon (wartel), lalu berpindah ke kios kecil untuk menjual pulsa saat telepon umum tidak lagi bernyawa. Dia juga sempat berpindah-pindah kerja ke tempat-tempat yang saya tidak ketahui letaknya. Saya yang sibuk kuliah dan bekerja pada masa itu begitu cuek dengan kehidupan pribadi orang lain.

Dan, di situ semua bermuara menjadi nyata akan kehidupannya kelak. Dia tergopoh masuk ke kamar kos saya hampir dini hari. Saya yang baru pulang siaran malam di salah satu radio rasanya ingin segera mengusir dirinya. Tetapi, dia mempunyai kabar baik, menurutnya dan membuat kening saya berkerut.

“Aku jadian sama dia, Bang!”

Tidak mungkin. Mana mungkin dia jadian sama sosok yang gagah perkasa demikian. Mana mungkin sosok gagah itu mau sama dia. Mana mungkin cowok yang dideskripsikan dalam kata-kata ‘sempurna’ itu mau menjalin kasih dengan sesama, ah, sudahlah. Saya bingung memikirkan kata-kata yang sesuai, juga saya tidak mengucapkan selama untuknya karena lelah begitu menyesak dada. Di bait lain setelah itu, dia datang dengan raut wajah sendu.

“Bang! Dia itu cemburuan!” dia memulai pembelaan pada senja saat dia – mungkin – dengan kekasih tampannya telah jadian hampir dua bulan. “Dia main pukul dan tampar. Tahu nggak apa yang dia lakukan kemarin malam, dia tampar aku padahal aku lagi jalan sama kawan. Di mata dia, aku nggak boleh jalan sama siapa-siapa selain sama dia!”

Perkara yang rumit. Mungkin saja tidak jika melihat kemesraan mereka setelah itu. Dia sering membawa pulang makanan ringan begitu malam. Dia pun sudah ada uang jajan dari pacarnya yang rupawan. Entah bahagia apa yang kemudian merengkut kepercayaan mereka sampai akhirnya putus. Lalu dia mulai menjalin kasih dengan si itu dan si itu. Saya tak mudah mengabadikan semua kenangan dalam kata-kata. Saya mengiyakan. Saya melupakan. Pacar-pacarnya pun saya tidak tahu bagaimana wujudnya, dia hanya menyebut gagah, tampan, perkasa dan lain-lain, dari segala definisi seorang pria.

Di awal 2008, barangkali karena kesibukan saya yang padat mengejar ketertinggalan kuliah dan pekerjaan di radio serta tentor bimbingan belajar, kami sulit sekali komunikasi. Tiba-tiba, dia datang dengan kebahagiaan yang merebak, menggebu-gebu sampai benar-benar syahdu untuknya namun bukan untuk saya. Dia berubah, sama sekali telah mengubah penampilannya menjadi ‘baik-baik’ saja dengan kondisi yang saya lihat begitu seketika.

“Kamu baik-baik saja?”

“Aku nyaman dengan keadaan kayak begini, Bang!”

“Apa ini pelampiasan?” maksud saya karena nggak mungkin menemukan pekerjaan lain.

“Aku baik-baik saja dengan begini!”

“Kamu nggak cari pekerjaan lain?”

Senjakala mendengus. “Ini pekerjaan aku!”

Pekerjaan apa yang dia maksud, aku bingung menjabarkannya sampai sejauh ini. Dia memanjangkan rambut. Dia bersolek. Dia mengukir bibir dengan gincu merah. Dia memakai sepatu hak tinggi. Dia memakai pakaian wanita lalu menemani malam di persinggahan remang dengan tangan melambai!

Di waktu yang berbeda, di saat semua orang sibuk dengan apa yang dikejar. Saya lalu benar-benar paham saat dirinya menepi dalam sudut. Bukan sekali dua kali ia mengejar kerja ke warung kopi, menjadi sales, penjaga toko, atau apapun yang pernah ia hinggapi. Semua sama memberi jawaban, bahwa dirinya tidak mampu bekerja.

“Aku dianggap lemah, Bang!”

Pilihan yang tidak mungkin saya tebak akan ke mana. Tetapi pilihan itu kemudian bermuara kepada apa yang ingin dia capai. Dia kembali ke semula, bekerja seperti yang ‘enak’ didefisini segala kata. Dia menepi ke sudut-sudut kota saat jam malam membuat orang-orang bahagia dalam mimpi-mimpi mereka.

“Pelanggan aku banyak, dari semua kalangan!” saya tidak meminta detail tetapi cukup tahu maksudnya. Pelabuhan yang dia arungi kian bermuara ke sisi keinginannya. Tetapi dia tidak berubah. Kehidupannya tetap kacau seperti sediakala. Dia tidak berkecukupan. Dia tidak juga berada di atas awan meskipun tiap malam menerima banyak ‘tamu’ dengan bayaran tinggi.

“Si Nona – nama samaran temannya – sudah bisa beli sepeda motor dan tinggal di kontrakan mahal!” iri di hatinya ketika menceritakan kisah temannya, si Nona, entah siapa nama pria itu.

“Si Nabel – juga dengan bukan nama sebenarnya – sering keluar negeri bareng pacarnya!” tidak hanya iri, namun luka yang membara dari kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Aku kayak begini saja, aku selalu sial. Orang bilang aku cantik, tapi tetap saja aku nggak sanggup kayak si Nona, aku nggak dapat pacar kayak si Nabel, aku harus bekerja sampai pegal seluruh badan!”

“Sanggup bagaimana?” tanya saya.

“Dia sanggup terima tamu banyak dalam semalam, nggak ada lelahnya dia main!”

‘main’ ya begitulah arah yang dituju. Saya menyelami apa yang dialami Senjakala seperti kata-katanya. Dia terusir dari satu kos ke kos lain karena tidak sanggup membayar biaya bulanan. Dia menahan lapar sepanjang hari karena tidak ada selembar pun di kantong celananya. Dia harus puasa berhari-hari karena tidak ada ‘tamu’ yang bisa digaetnya untuk menyicipi sesuap nasi. Dia lantas sakit, terkapar di rumah sakit berkali-kali. Operasi lambung. Operasi usus buntu.

“Aku capek, Bang!” ujarnya kini. Di mana masa tak lagi bermuara baik kepadanya. Usai kejadian malam itu, dia tak lagi memoles diri dengan make-up atau pakaian wanita. Dia berjalan sebagaimana kehidupan normal. Berlari ke sana-sini untuk mendapatkan sesuap nasi. Tetapi dia tidak tahu ke mana akan mewujudkan bahagia yang selama ini mengekang dalam dirinya.

“Aku kayak dikutuk oleh Tuhan, apa-apa yang ingin aku capai selalu ada rintangan. Aku nggak bisa bahagia sekali saja!”

“Jangan berkata begitu, Tuhan punya janji lain untuk kita!”

“Tapi, aku nggak dapat apa-apa. Aku selalu sial, aku selalu dapat hambatan, aku selalu menerima hukuman!”

“Ada masa untuk kita bersabar,”

“Aku sudah sabar, Bang. Aku selalu sabar bahkan sejak dia meninggalkan kami waktu kecil dan kawin dengan wanita lain!”

Saya yang menjadi bingung. Saya yang kalut untuk memecahkan harmoni menjadi melodi yang benar-benar indah didengar. Saya sudah tidak tahu menjalin keindahan, biarpun saya membagi sedikit berkah dari menulis untuknya tetapi itu hanya mampu membuat kehidupannya bertahan dalam satu dua hari. Setelah itu, tentu dia harus memikirkan kembali tentang isu perut yang tidak boleh kosong dalam waktu lama.
***
Saat saya menceritakan ini, Senjakala tak ubahnya manusia yang hidup di alam Alice and Wonderland. Dia bercita-cita bahagia tetapi itu hanya ada di dalam angan-angannya saja. Dia tak lagi mengubah diri menjadi pribadi berbeda, dia tidak lagi memakai sepatu hak tinggi, dia juga tidak lagi mencari ‘tamu’ untuk membuka pintu rezekinya. Dia terkurung dalam kamar pengap tanpa ada waktu untuk keluar. Dia terkatung-katung dalam lautan manusia bahagia. Dia mengharap iba. Dia menginginkan kasih. Dia membutuhkan belaian dari apa yang selama ini sulit digapainya.

Senjakala – mungkin kamu menyebut telah kembali ke kodratnya. Mungkin juga saya bingung menjabarkan apa maksud dari semua itu. Saya hanya merasa tidak ada perubahan sama sekali dari dalam diri Senjakala. Dia masih menggapai-gapai angan. Dia masih menari-nari dalam kegamangan. Dia masih kalut mencari jati diri dan sesuap nasi.

“Kamu jangan kembali ke sana,” ujar saya sebelum meninggalkan kosnya. “Kamu harus optimis ada pekerjaan lain di luar sana yang menanti kehadiranmu!”

Senjakala tidak mengangguk, juga tidak mengeleng. “Aku cuma takut ditangkap lagi dan dihukum cambuk!”

“Maka, kamu jangan mengulang kisah yang sama!”

“Tapi, apa yang harus aku kerjakan?”

“Tebalkan telinga, biarkan orang lain menghujat. Kamu akan mendapatkan yang terbaik setelah itu!”

Saya hanya memberi sesuap ucapan dalam asa. Tetapi palu yang telah diketuk tak mudah dicabut. Senjakala masih sama seperti mencari pekerjaan halal dahulu. Dia melamar ke sana-sini. Dia dibuang karena dianggap lemah. Dia melamar lagi ke tempat lain. Dia masih tidak bisa dipercaya untuk bekerja sebagai seorang ‘lelaki’ pada umumnya.

“Aku selalu dianggap lemah!”

“Pasti ada pekerjaan untuk kamu. Pasti ada jalan untuk menemukan itu!”

“Aku tidak tahu ke mana, aku cuma pintar pakai make-up!”

“Bukan itu tujuan. Bukan itu satu-satunya jalan. Kamu sudah menjalani dan sudah merasakan hasilnya. Itu bukan jalan kamu. Jalan kamu ada di tempat lain!”

“Tapi, apa? Aku tidak bisa apa-apa!”

“Orang lain juga berpikir tidak bisa apa-apa sebelum mendapatkan apa yang mereka inginkan!”

“Aku tidak tahu,”

“Jangan gengsi dan malu. Itu kunci kamu saat ini!”

Dan, perlahan tetapi pasti. Senjakala menuai hasil dari sabar. Meskipun, dia kerapkali mengirim pesan malu dan takut dilihat orang rendahan. Dia juga tak jemu mengirim ijazah Paket C untuk mendapatkan pekerjaan layak. Dia mondar-mandir dari satu pintu ke pintu lain untuk mengikuti proses wawancara. Lalu hinggap di salah satu warung kopi yang makin hari bersemak di kota kami.

“Apa kamu juga menganggap pelayan di warung kopi sebagai profesi rendahan?”

“Tidak!”

“Mereka bekerja dengan halal, mengapa kamu tidak mencoba untuk itu!”

Berlalu waktu, mengubah semua pandangan, mengubur sendu yang selama ini bertalu-talu. Senjakala bekerja. Pekerjaan yang halal tanpa harus mengayunkan tangan ke sisi gelap malam, tanpa perlu memburu waktu di dini hari, tanpa memakai atribut hak tinggi maupun make-up tebal. Dia hanya membawa nampan atau sebuah tanya, “Mau minum apa?” atau “Mau pesan apa?”

Itu cukup. Untuk mengurung kenangan dalam lupa. Saya percaya di satu saat nanti, dia akan lupa pada masa di mana kenangan pahit mengiris sendu tubuhnya dengan ngilu.

Kamu yang di sana, ini sepenggal cerita. Jika pun menghujat dalam kata, jangan sampai tersurat dalam suara. Hidup kita berbeda, hidup kamu, hidup saya dan hidup Senjakala. Jalan yang kamu lalui barangkali mulus seperti jalan teraspal, jalan yang Senjakala lalui masih terjal di mana-mana yang membuatnya rentan terjatuh.

Sepenggal kisah, sebuah hujatan, tetapi begitulah jalan hidup bermuara ke mana tujuan. Angin malam di sini bisa lebih dingin daripada angin malam di sekitarmu. Lalu, lupakan kisah ini seperti angin yang terbang ke kerinduan pada suatu kenangan!
***

Inspirasi dari kisah nyata, tokoh cerita adalah narasumber terpercaya!

Comments

  1. Terlalu banyak orang yang menghujat seperti Senjakala, padahal mereka tidak tahu apa yang dialami Senjakala sampai dia seperti itu. Kebanyakan mereka yg menjadi perofesi seperti senjakala bukanlah keinginannya mereka, hanya untuk menyambung kehidupan mereka mau melakukan apapun. Kisahnya cukup memilukan hati bg!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya berharap kisah ini bisa menolong mereka yang sedang mencari jati diri, semoga hari-hari mereka selalu bahagia dalam setiap langkah.

      Delete
  2. Keren bang ceritanya, penyusunan kalimatnya pun juga bagus untuk dinikmati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Ogi, semoga menginspirasi ya.

      Delete
  3. semoga si senjakala dimudahkan hidupnya yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amin. Doakan yang terbaik untuk mereka yang demikian ya.

      Delete
  4. Bang Rui menuliskannya penuh romansa. TKP di Banda kah bang?

    ReplyDelete
  5. Semoga diberi hidayah & tetap di jalan lurus-Nya.

    ReplyDelete
  6. jadi kayak terbawa alurnya gitu, perangkaian kata nya pas banget, boleh nih buat buku :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Andrie, semoga ada penerbit yang tertarik untuk dibukukan ya.

      Delete
  7. kok air mataku menetes perlahan, menyedihkan hdpnya

    ReplyDelete
  8. saya kira di aceh "bersih" dari hal-hal macam ini bang, ternyata tidak.

    baru beberapa kali mampir kesini, tapi setiap tulisan yang tak baca mesti sukses bikin terbawa suasana, alurnya enak banget buat dibaca bang :) semoga hidup si senja bisa berubah kearah yang lebih baik & ngga terjerumus ke dunia itu lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya rasa di mana-mana tetap sama, hanya saja tabir dibalik itu sukar diungkap.

      Delete
  9. Udah lama nggak baca tulisan Indonesia seindah ini *ketauan jarang baca buku lagi* 😂

    Terima kasih sudah sharing in a beautiful way. Semoga Senjakala dijaga Tuhan, di manapun dia berada 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak Nindy, saya berharap dapat meninggalkan bekas dari tulisan ini.

      Delete
  10. Tak sangka hidup dia kacau begitu. Aku pikir salahnya di perhatian orang tua sejak kecil, makanya dia begitu karena susah dapat kerja dan orang menghina-hina terus karena fisiknya lemah. Coba kalau orang lebih peka lagi mungkin saja dia punya sisi yang bisa diandalkan dalam bekerja. Pengalamanku, orang seperti dia itu setia dan jujur sekali kalau sudah dipercaya.

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"