Guru Gamer, Kenapa Tidak?

Banyak cara untuk tergiur dengan game. Bukan faktor keberuntungan seperti filosofi hidup yang selalu digaungkan oleh mereka yang paling bahagia di dunia. Dunia game yang gemerlap hadir di sisi lain hati seseorang karena ingin mendapatkan hiburan, ingin mendapatkan tantangan bahkan penasaran terhadap trik demi trik si pencinta game dalam tubuh tokoh yang dimainkan. Banyak pula pilihan game yang bisa dipilih menjadi alternatif bagi siapa yang baru memulai atau sudah profesional di dunia gaming. Mereka yang mendapat jatah amatir akan bersenandung dengan game kelas ‘teri’ atau merenggut anak bawang di game kelas atas yang selalu kena peluru atau sasaran kibasan pedang lawan. Mereka yang bergelar gamer profesional telah malang melintang di dunia persilatan untuk mendapatkan pundi-pundi sampai miliran rupiah.

Saya pernah berujar – bahkan selalu berujar pada tiap kesempatan – kepada siswa dan siswi di sekolah, “Jika kalian ingin jadi bandit, jadilah bandit yang sebenarnya jangan setengah-setangah!” atau “Jika kalian ingin jadi gamer, jadilah pemain ulung jangan setengah jadi!

Guru gamer, kenapa tidak?

Memang, ini tidak lantas menjadi api yang meledakkan tabung reaksi di dalam kelas. Mereka yang mungkin tidak tersentuh dengan ucapan saya, atau menganggapnya angin lalu tidak mudah memutarbalikkan fakta bahwa di lingkungan kami baru Play Stations (PS) yang mudah mereka mainkan. Alasan utama yang kemudian menjadi kuat adalah tidak tersedia sarana mendukung agar mereka mampu bermain atau menjadi pemain ulung dalam sebuah game tingkat dewa. Belum lagi berbicara orang tua yang tidak mau membeli notebook untuk mereka bermain game karena tabu soal gamer bukanlah pekerjaan mengingat tidak ada kantor yang dihinggapinya atau gaji bulanan yang berada di angka yang sama tiap bulan.

Saya lalu menangkis bahwa profesi gamer telah menjanjikan dengan menyebut beberapa gamer Indonesia yang telah menang di banyak penghargaan dunia. Nama seperti Clarissa Punipun maupun Chandra Liow masih sangat asing bagi mereka. Meski, keduanya dikenal sebagai gamer dan Youtuber terkenal di Indonesia. Lalu, saya memulai imajinasi bahwa dalam menciptakan satu tokoh atau mengalirkan ide cerita dibutuhkan tim yang kuat agar permainan terbentuk.

Cerita Strong Woman Do Bong-soon saya sisipkan untuk mengawali bagaimana prosesnya sebuah game. Drama Korea Selatan yang dibintangi oleh Park Hyung-sik, Park Bo-young dan Ji Soo ini mengangkat tema tentang proses kreatif seseorang menciptakan game. Hyung-sik sebagai pemilik perusahaan game memiliki karyawan yang kreatif dan menyeleksi ide-ide sebelum dijadikan sebuah game. Proses yang tidak mudah ini saya paparkan untuk membuka jalan bahwa permainan yang selama ini siswa saya mainkan tidak seperti menghadirkan ice cream di tengah terik matahari.

Lalu, mulailah kami bercerita tentang DOTA 2, Call of Duty: Advanced Warfare, Grid 2 sampai Games of Thrones. Semua punya cerita dan siswa saya terlibat di dalamnya melalui penyewaan PS di sekitar tempat tinggal mereka. Games yang telah saya sebutkan lahir untuk versi desktop setelah melewati penyempurnaan di banyak bagian. Misalnya, grafis yang lebih cerah, kualitas game yang semakin baik sehingga hanya bisa dimainkan melalui notebook dengan spesifikasi tinggi. Saya menyambung semua bagian yang diceritakan oleh siswa yang membuat mereka berpikir keras, kenapa saya tahu, mengapa saya mengerti dan bagaimana saya paham soal permainan mereka sedangkan game itu bukan bagian dari kehidupan seorang guru.

Mungkin, sudah begitu pemikiran mereka di mana guru bertugas mengajar mata pelajaran dan menyiapkan segala kebutuhan yang berkenaan dengan sekolah. Barangkali, mereka beranggapan tidak pantas seorang guru mengetahui seluk-beluk game sampai memainkan game tertentu. Tetapi, saya tahu dan ingin membuka memori mereka bahwa gamer yang serius bisa menjadi ‘sesuatu’ di suatu saat nanti. Hanya saja, gamer ini butuh batu loncatan untuk mencapai taraf tertinggi agar mampu bersaing dengan gamer lain.

Guru Gamer, Butuh Notebook Kelas Dewa
Kini, bisa disebut bermain game adalah sekadar hiburan untuk saya. Tetapi, bukankah dari hiburan atau senang-senang ini bisa menghasilkan sesuatu jika dilakoni dengan serius? Hari ini boleh saja kamu menganggapnya butiran debu, tetapi di masa mendatang kamu bisa tercengang dengan apa yang mereka lakukan dalam diam.

Gamer hanya membutuhkan sebuah notebook untuk memuluskan langkah mereka. Sudut ruangan yang remang akan menjadi saksi nyata kesuksesan seorang gamer. Saya yang baru memulai, bermimpi tinggi tidak masalah asalkan tokoh dalam game seolah-olah menjadi nyata di dalam grafis terbaik notebook tingkat dewa.

Main game dalam remang tidak masalah dengan ASUS ROG Zephyrus GX501.

Seiring pengembangan game oleh pengembang, sejalan dengan itu pula produsen notebook menghadirkan notebook gaming tingkat dewa untuk mengalahkan musuh-musuh. Grafis yang baik senantiasa seirama dengan gerak mouse di medan perang. Kecepatan kinerja akan membuahi sisa-sisa perjuangan sampai darah penghabisan. Maka, notebook kelas dewa adalah pilihan seorang gamer, termasuk guru gamer seperti saya!

Ini bukan masalah pemula, kawan. DOTA 2 tidak akan sejalan dengan notebook biasa. Games of Thrones akan tersendat-sendat jika dimainkan di notebook bukan gaming. Mobil-mobil balap akan terhenti lajunya dalam Grid 2 jika mesin notebook cepat panas. Maka telunjuk saya mengarah kepada ASUS ROG Zephyrus GX501, notebook gaming tertipis di dunia dengan spesifikasi gahar!

Nanti, saya tidak lagi bingung membuat perangkat pembelajaran saat notebook berhenti bekerja, tidak lagi galau memikirkan slideshow bahan ajar saat notebook cepat habis baterai. Keluarga terbaru ROG ini memberikan suguhan yang lebih besar daripada yang saya pikirkan selama ini. Sebentar saja bahan ajar akan siap saya kerjakan karena CPU dari Intel® Core™ i7-7700HQ mampu bekerja dengan kecepatan tinggi. Saya pun bebas untuk segera balapan ‘liar’ di Grid 2 atau mengadu pedang dalam Games of Thrones.

ASUS ROG Zephyrus GX501 Sahabat Guru Gamer
Saya bukan gamer tetapi ingin memainkan game dengan sentuhan magis dari notebook terbaik. Kilau cahaya dari keyboard ASUS ROG Zephyrus GX501 tidak hanya pemanis tetapi menambah tenaga dalam mengatur amunisi agar tepat sasaran. Touchpad yang berada di sisi kanan tidak menganggu jari yang melentik di atas deretan huruf dan angka. Numpad yang senyawa dengan touchpad tampil manis dan elegan dengan cahaya tersendiri saat disentuhnya. Kilau cahaya ini memberikan konstribusi kepada saya saat menyelesaikan tugas sebagai guru atau saat menembakkan lawan dalam Call of Duty. Sasaran tembak saya klik di atas pancaran biru keyboard yang terus menyala penuh kelembutan dalam tubuh gahar yang dimiliki oleh notebook ini.

Wajah kusam, mata lelah seorang gamer, itu biasa!

Logo ‘mata’ ROG begitu silau dengan merah menyala. Gagahnya senada dengan kesempurnaan dalam bodi tipis tersebut. Meski bagian lain dari bodi belakang itu tidak mengilap tetapi mata tersebut cukup mewakili intepretasi siapapun itu terhadap dirinya. Tak bisa saya bayangkan bagaimana deru mobil balap di Grid 2 dalam layar 15,6 inci dengan tipe IPS FHD pada kerapatan1920 x 1080 pixel. Mobil-mobil akan saling kejar mencapai finish sementara di lain dalam diri saya memikirkan bahan ajar untuk esok hari. Tetapi, permainan ini tidak bisa saya pause karena DDR4 2133 MHz 24GB mengacu melebihi ekspektasi saya terhadap kinerjanya.

Logo ROG yang berwarna merah.

Saya begitu bangga memangku notebook dengan berat 2.2 kg ke mana suka. Di sekolah saya menentengnya dengan memamerkan logo ROG ke segala sisi. Tampaknya, pengaruh media sosial seperti Instagram cukup menusuk hati siswa-siswi. Belum kesampaian waktu saya membawa fisik ROG ini ke hadapan mereka, tersebut sudah di ucapan mereka tentang Zephyrus yang selama ini bertengger di akun Instagram saya.

Mereka tahu ROG, mereka paham dunia gaming semakin gahar dan mereka sadar bahwa bermain game itu bisa menjadi sesuatu. Sesuatu sekali itu kapan ada waktu untuk bermain game tanpa henti. Dengan apa yang dimiliki oleh Zephyrus, notebook ini tidak hanya berjalan bersama gamer tingkat dunia tetapi sejalan pula dengan gamer pemula.

Bagaimana Zephyrus bersahabat dengan guru? Ibarat virus ia menyebar ke segala sisi dan benar terjadi bersama guru yang gemar bermain game. Profesi guru gamer tampaknya akan menantang sekali mengingat sebagian besar siswa bermain game – yang telah saya sebutkan di atas. Interaksi guru gamer dengan siswa akan lebih dekat mengingat kehidupan siswa tidak pernah jauh dari hiburan ini. Profesi gamer yang makin menjanjikan menjadi bumbu-bumbu bagi guru dalam menaikkan tahta siswa yang telah bermain game sampai ke level paling tinggi.

Zephyrus adalah sahabat guru yang berperan ganda sebagai gamer. Cobaan terberat bukan lagi saat berada di dalam kelas tetapi saat mengangkat pedang dalam game. Guru yang paham benar akan trik bermain game begitu mudah mencuri hati siswa. Guru yang tahu banyak game akan mampu menarik siswa ke dalam pusaran pembelajaran yang lebih efektif. Di akhir semester nanti, boleh saja guru gamer mengadu kekuatan bersama siswa sebagai utang janji jika mereka mampu belajar dengan tekun.

Zephyrus adalah jawaban. Ia elegan. Ia manis. Ia mencuri perhatian. Ia tipis. Ia gahar dan gagah. Ia dibutuhkan oleh guru gamer yang selama ini belum mampu memantik hati siswa untuk tekun belajar sambil bermain. Notebook ini akan membangun interaksi guru dan siswa yang selama ini bermain game sendiri-sendiri. Interaksi setengah hari, kemudian beralih satu hari lalu berhari-hari karena guru dan siswa telah memiliki satu kesatuan.

Namun, syarat main game adalah belajar terlebih dahulu!

Bolehkah Guru Jadi Gamer?
Guru harus mengikuti perkembangan zaman. Poin ini yang tidak dimiliki oleh sebagian besar guru. Selama interaksi saya dengan sesama guru, mereka hanya fokus mengajar, urusan administratif, gosip di kantor dan pengembangan diri atau sekadar mengetahui cerita luar hanya sedikit sekali. Maka, saat siswa-siswi meninggalkan guru dalam bidang teknologi, bagian ini dianggap tidak penting oleh guru yang telah dewasa. Alasan tentang ini karena guru merasa tahu segala padahal saat smartphone tidak bisa diapa-apakan, guru berani bertanya kepada siswa!

Dunia game juga ikut perkembangan zaman ini mau tidak mau harus dipahami oleh guru muda. Siswa-siswi lebih leluasa bertanya kepada guru muda atau lebih mudah berbagi kepada guru yang lebih muda karena lebih banyak tahu. Guru menjadi gamer sah-sah saja mengingat aktivitas mengajar hanya setengah hari. Guru gamer punya waktu lebih banyak untuk mengetahui trik dalam game yang kemudian menjadi ‘bahan ajar’ di dalam kelas.

Bahkan, guru gamer menjadi guru kesayangan siswa mengingat aktivitas ini dilakoni siswa hampir tiap hari. Siswa yang pulang sekolah mampir di PS akan paham betul gerak dalam game. Jika hari ini mereka mati di sudut kanan, maka besok mereka akan menghindari sudut tersebut karena tahu ada musuh yang menembakinya di sekitar itu. Jika babak awal mobil mereka tersungkur karena senggolan mobil lain, maka di babak selanjutnya trik kecepatan maupun banting stir akan mereka terapkan.

Guru gamer setidaknya harus tahu trik dan tips bermain game yang baik. Saat Zephyrus dihadapkan kepada siswa, maka guru sudah tahu bawa pedang dalam DOTA 2 akan melayang meski tidak ditarik oleh tokohnya. Lalu, trik selanjutnya adalah siapa yang dapat nilai 90 sampai 100 diperbolehkan main game usai jam pelajaran. Tentu, siswa akan tergiur akan hal ini. Belum lagi jika lawannya adalah guru mereka di mana sifat ingin mengalahkan akan muncul seketika.

Kenapa ASUS ROG Zephyrus GX501 Layak untuk Guru Gamer?
Rasanya, guru gamer memang harus memiliki ASUS ROG Zephyrus GX501. Alasan yang cukup kuat adalah notebook gaming tertipis di dunia ini mudah dibawa ke sekolah. Guru gamer harus memperlihatkan notebook – logo ROG – di depan siswa untuk memulai pertandingan usai jam pelajaran.

Begitu Zephyrus didudukkan di atas meja guru, maka siswa akan memulai kur panjang dan mengebut untuk siapa cepat menyelesaikan soal. Lantas, bukan saja siapa cepat tetapi siapa yang cepat dan benar akan memiliki hak paten dalam bertarung mengalahkan guru. Guru punya banyak cara dan alasan untuk menaikkan nilai siswa. Demikian juga dengan alasan guru gamer layak memiliki notebook ini.

ROG Zephyrus GX501 notebook gaming tertipis dunia.

Dan, memotivasi siswa dalam belajar melalui game adalah alasan terkuat lain bagi guru gamer. Siswa akan berlomba mencapai nilai tertinggi, guru juga berlomba dalam dirinya untuk bermain ‘aman’ dalam sebuah permainan di Zephyrus. Saat palu kemenangan diketuk, siswa akan terbahak jika mereka berhasil mengalahkan guru. Besoknya, mereka akan mengulang kembali dengan menjawab soal-soal lebih serius untuk bermain DOTA 2, Grid 2, Game of Thrones atau Call of Duty: Advanced Warfare.

Saya sudah tidak sabar menjadi guru gamer bersama ASUS ROG Zephyrus GX501, notebook gaming tertipis di dunia!

Comments

  1. kadang banyak juga materi yg cukup nyambung sama game
    anak2 lebih paham klo dianalogikan sama game, cuma biasanya ya anak cowok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, anak laki-laki itu paham banget lho.

      Delete
  2. aku mainnya feeding fish aja :D

    sebagai rog tertipis di kelasnya, desain yang ini anti mainstream.. dengan trackpad di samping.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, game ringan-ringan aja ya Koh, mau nggak mau ya :)

      Delete
  3. Guru gamer, nanti muridnya diajak main DOTA terus :D

    ReplyDelete
  4. Ujian guru gamer, harus naik level di game Dota hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, apalagi siswanya pada jago main DOTA.

      Delete
  5. Baru kemarin Ibnu lihat langsung Asus Rog, Mata merahnya nantang banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, keren banget notebook ini mah :)

      Delete
  6. mANTAB sEKALI ya Profesi barunya ini!... Baru tahu sih tapi semoga bermanfaat ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha, harus berbaur dengan mereka :)

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"