Dua Malam Bercinta dengan Kamar Mandi Transparan Hotel Pullman, Jakarta Central Park


Lorong-lorong dengan aneka lukisan seakan mencekam di lantai sembilan, Hotel Pullman, Jakarta Central Park. Aku mendorong koper berwarna cokelat menuju kamar dengan nomor cantik yang tertulis di card yang baru kuterima dari resepsionis. Bunyi lift terbuka masih terngiang di telinga, meski waktu berburu melihat arah kamar yang kutuju. Sunyi bukan lagi sebuah tawa yang bisa kuajak bicara. Roda koper tersendat-sendat di atas permadani lorong dengan lampu temaram itu. Berderit bunyi gesekan lain yang kutaksir hanya angan-angan di ambang batas kekhawatiran yang kurasa.

Langkahku terhenti di depan pintu kamar dengan nomor – sekian – yang telah kuhapal betul. Nomor kamar ini juga nanti, besok pagi, akan kusebutkan di depan pramusaji di lantai L saat sarapan dengan menu terlezat mereka. Kutempelkan card yang masih tersarung dalam sangkarnya berupa kertas putih dengan tulisan ID dan password Wi-Fi di bagian depan, ke gagang pintu dan bunyi klak dengan lampu warna kuning menyala. Kudorong pintu yang terasa berat itu. Kutarik koper mengikuti langkah ke dalam. Dan aku terbinar dalam gelap saat lampu belum menyala dan gorden yang menghadap ke Central Park masih tertutup.

Kamar Hotel Pullman, Jakarta Central Park.

Aku memutar pandangan ke sudut tempat tidur yang lengang. Lampu hias dengan warna keemasan terbungkus dalam bingkai indah berputar bagai tangga rumah tingkat dua. Bantal merah sebagai pemanis berbaring sendirian, oh, berdua di sisi masing-masing di atas tempat tidur double bed itu. Aku menyibak gorden sekali, tertahan begitu saja, kusibak kembali dengan keras sampai kedua lapisnya berpencar ke kiri dan kanan. Kuraih pandangan ke segala sisi dan terhenyak dengan alam Jakarta yang berkabut dari kamar ini.

Jakarta berkabut dari kamar Hotel Pullman.

Central Park yang padat dari kamar Hotel Pullman. 

Pullman Hotels and Resorts dengan warna kaca biru adalah tempat bermanis manja punggawa di sisi lain Jakarta. Hotel ini termasuk salah satu penginapan yang mewah dan elegan bahkan melankolis karena berada di tengah-tengah pusat keramaian. Di mana Neo Soho, salah satu peradaban manusia masa kini yang seakan tak ada habisnya sepanjang waktu. Di mana-mana adalah mereka yang menenteng tas branded, sepatu yang seolah tak menginjak tanah, baju yang berwarna-warni seakan tak boleh masuk mesin cuci. Serta, jembatan yang menjadi bagian dari arena foto bagi kami dan bagi semua yang melewatinya di bawah pandangan mataku dari lantai sembilan itu.

Lampu di samping tempat tidur yang indah.

Double bed yang nyaman untuk tidur berdua.

Lukisan di samping televisi sebagai pemanis ruangan.

Aku berbalik badan, mencari sesuatu yang memang perlu kucari saat itu juga. Kamar mandi. Ya, di mana kamar mandi? Aku melingkari – tepatnya mondar-mandir di sisi tempat tidur, ke westafel, ke ruangan kecil di mana WC berada, namun aku tidak menemukan sesuatu yang biasa dipakai orang untuk mandi. Bukan aku ingin mandi, bukan badanku gerah tetapi aku harus segera tahu di mana kamar mandi itu, tempat di mana aku harus membasuh seluruh tubuh menjelang tidur malam nanti.

Tanganku tergerak untuk menyentuh gagang pintu kaca di depan cermin, di atas westafel. Itu kamar mandi. Aku yakin itu kamar mandi. Dan itu benar saat aku menemukan shower di dalam ruangan persegi yang transparan. Oh, tidak salah. Ini benar, kamar mandi ini adalah transparan meski tidak seluruhnya tetapi bagian bawah begitu jelas dapat melihat orang lain mondar-mandir di dalam kamar. Aku harus tegar, aku akan ‘bercinta’ dan aku akan ‘bercumbu’ dengan kamar mandi ini selama dua malam dari hari itu. Tak perlu kubayang bagaimana rupanya nanti, tak pula harus kuubah posisi saat mandi tetapi aku benar-benar harus bercinta dengannya sepanjang waktu saat perkara mandi tiba.

Kamar mandi Hotel Pullman, Jakarta Central Park.

Sejarah akan mencatat cekikian air yang turun dari shower yang membasahi tubuhku. Rongga-rongga kamar mandi itu seakan memperlihatkan jejak sabun dan sampo yang seolah membekas tanpa sempat kubilas. Kamar mandi di tengah ruangan itu tak ubahnya piramida di tengah padang pasir Kairo. Ia menjadi pusat perhatian dan segala rahasia dari siapa saja yang mandi di dalamnya. Dinding-dinding kaca transparan seolah tidak malu kepada mereka yang tiba-tiba masuk ke dalamnya. Namun, irama lain muncul saat upacara mandi terjadi.

“Jangan ngintip ya!” Mas Bocah yang sekamar denganku berujar dengan galak.

“Awas kalau kamu ngintip!” ujarku sambil menarik handuk dan bergegas menghidupkan shower.

Cerita yang sebenarnya basi, kami sama-sama tahu tidak perlu mengintip satu sama lain. Masuk ke dalam kamar mandi transparan itu telah menjadi suatu keajaiban untuk bergegas membersihkan diri, berpacu dalam waktu untuk segera memulai aktivitas yang seharusnya.

Lukisan besar di samping televisi menjadi teman bercakap-cakap saat Mas Bocah mandi. Siaran televisi tidak semenarik yang kuinginkan karena channel Korea Selatan tidak begitu banyak. Ingin ku berjingkrat ke sebelah, ke dekat pintu masuk, mengambil gelas, memanaskan air dan menuangkan teh beserta cream ke dalamnya, tetapi tidak bisa kulakukan karena Mas Bocah pasti akan meneriakiku. Aku menelan ludah saat haus tiba karena botol air mineral belum sempat kuambil di depan cermin samping westafel.

Kamar Hotel Pullman yang buram di malam hari. Segala sisi yang seolah berbicara dan mandi menjadi tradisi menyelidik bagi kami. Rasa lapar tak bisa ditepikan seusai acara dan langkah tak tergerak untuk turun ke bawah, ke lantai L untuk mencicipi aneka makanan lezat.

Central Park di malam hari.

Karena, pada malam hari hidangan ‘gratis’ sudah tidak ada lagi dan tersisa hanya menu-menu yang harus ditukar dengan rupiah. Berlalu hari seakan menjadi pelampiasan tersendiri saat kembali mandi di kamar mandi transparan ini. Tetapi lagu tetap harus didendangkan dan keran air terus mengeluarkan air yang dingin jika ditarik ke warna biru dan panas jika ke warna merah.

Kursi berderit saat kutinggalkan di pagi itu, kutengok kamar mandi transparan sekali lagi, mungkin akan bertemu dengannya di waktu berbunga rindu lainnya. Kususuri seluruh ruangan sebelum meninggalkannya, mungkin rindu akan berbuah simalakama akan rasa yang tak bisa kujabarkan dalam raga. Kutinggal sepi yang bertalu-talu menuju pintu kamar. Kutarik berat dan kukeluarkan kunci dari tempat sebenarnya ia berada untuk menghidupkan lampu – listrik – di seluruh kamar.


Dan, lorong-lorong kembali sunyi. Padahal, kutaksir hotel ini dipenuhi oleh banyak orang tetapi tak pernah bersenggolan senyum mereka dengan senyumku. Lorong itu bersenyawa dengan udara dingin yang kurasa dari pendingin ruangan yang entah berada di sisi mana. Kutarik koper dengan berat hati, masih enggan kutinggal kenangan di dalam kamar mandi transparan dan segenap kegelian yang ada di dalamnya. Tertahan langkahku menuju lift ke lantai G, untuk menyerahkan kembali kunci kepada resepsionis sambil berujar, “Terima kasih,” kepadanya.

Lorong menuju kamar yang sepi dan dipenuhi lukisan.

Begitu pintu lift tertutup, aku merasa bahwa daya tariknya tertahan tetapi pembenaran akan bunyi pintu terbuka terjadi tiba-tiba. Aku keluar, menghidup panas di Central Park. Mungkin, besok kembali lagi ke hotel ini, bercinta lagi dengan kamar mandi transparan Hotel Pullman!



Comments

  1. uhuk uhuk... teman bobonya sapa hayo..

    ReplyDelete
  2. Eh... Jadi Bai dan Mas bocah nganuuuu.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nganu gimana mbak. Wkwkwkwk. Awas jangan ngintip... Tp join boleh dah. Hehehehe

      Delete
  3. Pasti sering jadi salah tingkah. Hehe

    ReplyDelete
  4. ih asyik, ngidam pemandangan sky parknya itu...

    ReplyDelete
  5. Boleh numpang ngikik gak? Jadi inget lagi nih ama kamar mandi Pullman 😁😁
    Btw, bercinta tapi kok gak saling ngintip? Gimana siih.. Huahahahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pengalaman seru ya mbak, mungkin bisa ketemu lagi nanti hehehe

      Delete
  6. wah mewah ya ya, kamar mandi trasnparan bikin imajianasi jd liar

    ReplyDelete
  7. Kwkwkwkw, cekikkan aku bacanya bg. Mending mandi di kolam rame-rame dari pada di kamar mandi transparan itu, pasti nggak disediain kain basahan tu.

    ReplyDelete
  8. Kamar mandi yg kelihatan kakinya 😁😁😁

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"