Jangan Paksa Isi Dompet Kamu Keluar untuk Smartphone Mahal!

Jika mengikuti gaya hidup mewah, apapun akan dilakukan. Untuk mendapatkan sebuah produk branded, segala cara dilakoni termasuk tahan makan, berhemat di berbagai kebutuhan bahkan rela melakukan sistem pembelian kredit yang harganya bisa dua kali lipat dari beli kontan. Fenomena ini telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat kita dan terjadi secara kontinu. Mau tidak mau, gaya konsumtif yang terkena rayuan iklan tersebut merasuki banyak kalangan yang mampu maupun yang hidup pas-pasan.

Ilustrasi - jalantikus.com

Kebutuhan akan smartphone terus meningkat dan dalam rangka memanjakan gaya hidup, tidak sedikit dari pengguna mengorek koceh terlalu dalam. Mungkin saja mereka akan marah membaca poin ini tetapi pada kenyataannya yang terus terjadi adalah demikian. Mereka yang memiliki kepentingan akan memberikan alasan-alasan terkuat untuk menopang segala keinginan. Padahal, di sisi berbeda sebagian dari mereka barangkali tercekik hidupnya, bahkan tak cukup makan tiga kali sehari karena mengejar setoran untuk melunasi utang-piutang.

Pemaksaan terhadap sesuatu akan berimbas kepada sesuatu yang lain. Memaksakan diri untuk membeli smartphone mahal sedangkan dapur akan berhenti mengepulkan asap, tentu saja bukan bagian dari gaya hidup yang harus dipenuhi. Demi memiliki sebuah smartphone mahal, mereka harus menjual sepetak tanah di depan rumah padahal di sana mungkin saja rumah masa depan  yang segera dibangun, juga bukan alternatif terbaik. Hingga kemudian, sebagian dari mereka yang tergiur, putus asa, hilang harapan karena sebuah produk mahal, rela melakukan berbagai cara seperti terjun bebas ke dunia prostitusi bahkan menjual organ tubuh.

Bagian yang dipaksakan ini tak lantas menjawab solusi tetapi akan mendatangkan pekara yang lain. Jika dulu sebuah ponsel hanya memiliki interaksi pesan singkat dan telepon saja, saat ini bisa disebut komunikasi lebih kepada dunia maya yang makin hari makin semerbak harumnya. Sebuah smartphone mahal, konsumsi jaringan data semakin kuat (3G atau 4G), maka mereka yang belum lunas mencicil akan semakin tercekik untuk memenuhi kuota yang juga tidak murah. Salah satu provider terbesar di Indonesia yang dipercaya memiliki basis kuat dan jaringan sampai ke pelosok, mematok harga yang benar-benar mahal untuk 2GB data yang bisa habis seketika di smartphone mahal. Kamu dipaksa untuk membeli paket baru karena komunikasi – mungkin saja – hanya dilakukan melalui media sosial dan layanan chatting. Kondisi ini lebih parah karena kamu lebih memilih membeli paket data daripada mengisi pulsa lima ribu rupiah untuk komunikasi konvensional. Kamu bisa mengalikan sendiri berapa jumlah paket data dalam sebulan dan akan terus dilakukan dalam jangka panjang. Belum lagi jika kamu nongkrong di warung kopi dengan mengeluarkan dana segelas kopi padahal hanya untuk menggunakan Wi-Fi.

Beli smartphone kini bukan hanya untuk disimpan, sebagai kamera dan mendengarkan musik saja. Intensitas penggunaan smartphone yang benar-benar menyita waktu membuat kamu terus terkoneksi dengan jaringan internet. Bagaimana jika kondisi ekonomi kamu begitu saja, tidak tinggi dan tidak rendah, lantas membeli smartphone mahal dan tidak tertutup kemungkinan kamu hanya bisa mengandalkan koneksi Wi-Fi secara gratis di kantor atau di tempat umum lain. Mungkin juga kamu mengandalkan ajakan ngopi dari teman karena dia yang bayar dan kamu bebas bermain internet gratis di warung kopi tersebut!

Pakai smartphone mahal mungkin saja telah jadi fenomena. Alih-alih memikirkan kebutuhan ‘rumah tangga’ yang banyak, mereka lebih mementingkan gaya hidup dan aksi pamer ke orang lain. Belum puas batin mereka yang masuk ke dalam golongan ini jika belum memiliki smartphone dengan logo biru, merah, kuning, atau warna lain. Belum rela hati mereka jika belum mendapatkan smartphone sesuai keinginan terpendam. Belum terealisasi balas dendam mereka sebelum mendapatkan smartphone mahal untuk diberitahukan kepada seluruh dunia melalui media sosial.

Jauh sebelum memutuskan membeli atau tidaknya smartphone mahal, pertimbangkan juga beberapa kebutuhan lain yang akan tertutupi atau bolong di sana-sini. Sudah pas posisi tiang di dapur? Sudah sesuai takaran garam dalam menu sehari-hari? Sudah terpenuhi sabun sebulan ke depan di kamar mandi? Sudah cukup dana untuk membayar air dan listrik? Atau pantaskah ‘saya’ memakai smartphone mahal sedangkan rumah masih beralaskan semen kasar?

Pantas tidak pantas sebenarnya kembali kepada pengguna itu sendiri. Nanti, akan ada jawaban uang saya, usaha saya dan sah untuk melakukan apapun untuk itu. Tetapi, hidup kita bukan cuma untuk sebuah smartphone mahal saja, juga bukan untuk memenuhi gaya hidup saja, banyak pertimbangan lain sehingga jangan gegabah untuk langsung meloncat hati mendapatkan sebuah smartphone mahal.

Hari ini kamu membeli sebuah smartphone mahal, lalu pada beberapa jam kemudian membutuhkan dana mendesak, harga smartphone mahal tersebut bisa langsung terjun bebas. Jika besok kamu jual juga demikian. Minggu depan, bulan depan sampai tahun depan, harganya makin turun. Kasus pertama bisa menjadi penyesalan terpanjang di mana kamu membeli smartphone mahal berjuta-juta, bisa hilang berjuta-juta dalam beberapa jam saja. Namun bila kamu termasuk golongan yang ‘tidur’ dengan uang masalah apapun tidak menjadi alasan.

Jangan paksa kantong Kamumembeli smartphone mahal karena akan ada dua kemungkinan setelah itu. Kemungkinan pertama, Kamuakan bahagia. Kemungkinan kedua, Kamuakan sengsara. Kebahagiaan Kamuakan terpancar dari pemenuhan gaya hidup yang semakin ganas. Hidup Kamusengsara karena berkat sebuah smartphone mahal bisa saja beras di dapur tak terbeli lagi!

Solusi dari kegelisahan ini, jika kamu berniat membeli smartphone baru tahun ini, maka belilah yang benar-benar sanggup dan sesuai isi dompet. Toh, pada dasarnya smartphone tersebut memiliki fitur yang sama dengan smartphone lainnya, hanya beda beberapa fitur saja pada smartphone mahal. Saya yakin, saat kamu memposisikan diri pada dasar kesanggupan tersebut, kebahagiaan akan datang dengan sendirinya. Mau smartphone kamu murah atau mahal, tidak akan disebut oleh media sosial dan tidak pula tertulis pada grup chatting. Keputusan ada pada diri kamu, pertimbangkan dengan hati-hati sebelum menyesal kemudian! 

Comments

  1. aku mah beli yg gak bikin dompet jebol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jebol tetapi tetap sesuai budget kan mbak :)

      Delete
  2. Benar banget bang, makanya kemarin tu saat abang ketawain smartphoneku yang nggak jelas merknya, aku nggak masalah dan tidak pula merasa iba karena aku memang belum sanggup untuk membeli yang lebih bermerk. Tapi, aku tidak putus asa untuk berusaha, akhirnya dengan ikut lomba menulis dan alhamdulillah menang aku pun bisa beli HP Asus Zenfonelife.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sesuai dengan kebutuhan ya Yel. ZenFone Live sudah cocok untuk banyak aktivitas dan harganya juga murah untuk speksifikasi yang ditawarkan.

      Delete
  3. Teman saya beli iPhone 7 plus harus nyicil 2,3 juta/bulan selama 7 Bulan. Kasih hidupnya, serba sengsara hanya buat social climber

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah turut prihatin ya karen gaya hidup harus demikian.

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"