Gadget Bagi Siswa SD adalah Teman Sehati


Sejujurnya, saya sangat peka terhadap penggunaan gadget bagi anak-anak. Bahkan, bisa disebut saya sangat cerewet terhadap penggunaan perangkat elektronik tersebut secara berlebihan. Saat anak-anak yang lain dibiarkan oleh orang tua mereka terlibat aktif di depan smartphone atau komputer tablet, dengan penetrasi jaringan internet kencang, saya lebih memilih menonaktifkan data seluler atau mengaktifkan mode airplane.

Kecerian anak-anak tidak boleh diganti dengan gadget - antaranews.com

Anak-anak saat ini tidak pernah bisa dipisahkan dari gadget, terutama komputer tablet yang dijual lebih murah. Orang tua pun dengan senang hati membeli komputer tablet ini karena kebutuhan gaya hidup, ikut perkembangan lingkungan atau karena rengekan anak tiap pulang sekolah. Orang tua melakukan berbagai cara agar anak-anak mereka dapat memegang komputer tablet. Sebagian dari orang tua bahkan bangga saat anak-anaknya mencapai level tertinggi dalam sebuah permainan. Di sisi lain, anak-anak lebih paham soal setting dari gadget dibanding orang tua yang telah ‘ketinggalan zaman’ ini.

Bagai buah simalakama, penggunaan gadget bagi anak-anak seolah butuh tak butuh. Tetapi, bukan berarti orang tua harus membatasi hal-hal demikian karena masa terus berubah, teknologi semakin berkembang, informasi semakin mudah didapat dan anak-anak pada pengembangan karakter maupun pengetahuan sangat butuh pembaharuan tersebut. Orang tua – orang dewasa di dekat anak-anak – yang kemudian paham betul bagaimana membatasi interaksi anak-anak dengan gadget tersebut. Bukan pula soal gaya hidup yang harus dipenuhi tetapi penggunaan gadget akan berlangsung secara kontinu di masa mendatang. Anak-anak akan terus terlibat dengan gadget, apakah untuk menjalankan hobi atau kebutuhan pekerjaan kelak.

Orang tua mengeluh tidak dapat mengoperasikan komputer – perangkat elektronik dengan baik – maka jangan berlaku hukum ini kepada anak-anak. Anak-anak yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) tak terlepas dari ini. Bagi anak SD, gadget adalah teman sehati. Di mana gadget mampu memberikan banyak jawaban dari semua keinginan anak-anak. Seorang anak yang tidak memiliki gadget juga bisa mengoperasikan perangkat ini karena bergaul dengan anak yang memilikinya. Aktivitas yang dekat dengan saya ini terjadi pada pola hidup yang demikian kompleks. Dua sepupu saya, Haikal (8 tahun) dan Wilda (10 tahun) adalah objek khusus bagi saya dalam pengunaan gadget.

Bicara sedikit tentang mereka. Keluarga kami memang bukan tipe yang mau memberi terhadap semua keinginan anak. Kami telah membatasi dengan tidak membeli gadget untuk mereka. Tetapi, pada apa yang tidak dicegah terjadi begitu saja. Saya memiliki smartphone dan komputer tablet. Paman saya memiliki smartphone. Adik saya juga demikian. Ayah mereka juga memiliki meski jarang ada di rumah.

Pelampiasan mereka adalah saya, sebagai orang yang mudah didekati meski saya cerewet di beberapa bagian. Saya kemudian membangun ketidaktahuan mereka dengan tidak mengajari hal-hal yang tidak perlu, seperti di mana bagian untuk menghidupkan internet, apa yang harus dilakukan jika internet mati dan lain-lain. Anak-anak seusia mereka, sekali diajar langsung memahami sampai ke akar-akarnya karena pembelajaran berlangsung secara praktek. Saat mereka bertanya, saya akan menjawab tidak ada internet. Mereka memahami dalam kapasitas sebagai seorang anak SD, meski tidak tahu apa maksud lebih mendalam tetapi karena perkembangan yang demikian mereka tahu apa tujuannya. Mereka lantas tidak menghardik karena gadget yang mereka pegang adalah milik saya. Lalu, mereka bermain seadanya tanpa konektivitas internet.

Solusi apa yang saya berikan untuk mereka? – solusi ini juga berlaku untuk anak-anak lain, siapapun mereka harus dijaga dari penggunaan gadget berlebihan.

Pertama, saya tidak memasang kartu SIM pada komputer tablet yang sering saya tinggal di rumah. Haikal dan Wilda bebas bermain dengan perangkat ini, apakah memainkan beberapa permainan yang telah terinstal atau menonton video yang sebelumnya telah saya simpan. Games yang saya unduh pun hanya sebatas pada permainan ringan saja seperti My Tom atau Ludo King. Video yang saya simpan adalah film-film anak seperti Barbie atau Power Rangers. Meski tidak ada aturan tertulis, tidak ada yang protes mengenai apa yang tersimpan di dalam komputer tablet ini. Adik-adik saya seolah tahu bahwa Haikal dan Wilda belum layak untuk menerima ‘beban’ lebih berat.

Kedua, saya mengandalkan Youtube Offline. Jika orang tua bijak, apapun bisa dilakukan untuk membatasi anak dalam gadget. Youtube Offline salah satu pilihan terbaik di mana video tersimpan tanpa perlu koneksi internet. Komputer tablet saya hubungkan dengan jaringan Wi-Fi untuk mendapatkan update video secara berkala. Video yang saya unduh adalah bagian dari gaya hidup mereka sendiri seperti Upin & Ipin, Adit Sopo Jarwo maupun Marsha & The Bear. Belakangan, saya menyimpan salah satu reality show populer Korea Selatan, The Return of Superman, episode Ko Seung-jae. Seung-jae, anak lima tahun ini mendapat perhatian dari didikan ayahnya, Ko Ji-young. Nilai edukasi yang tinggi dari program ini setidaknya mampu mengubah pola pikir kedua sepupu saya tersebut. Saya melihat pendidikan anak dalam program ini sesuai dengan komposisi mereka sebagai anak-anak. Cara didik yang baik tetapi dekat dengan anak seperti kemandirian, kesabaran, kepekaan, persahabatan dan lain-lain yang harus dicontoh oleh kedua sepupu saya ini. Senangnya, Haikal dan Wilda menyukai reality show ini.

Ketiga, clear history adalah kewajiban penting. Pada dasarnya saya tidak memerlukan hal demikian karena tidak ada riwayat yang merisaukan dari browser maupun Youtube. Tetapi, saya tetap menghapus riwayat terutama di Youtube agar Haikal dan Wilda tidak dapat melacak jika tak sengaja internetnya terhubung ke sana. Orang tua harus benar-benar peka terutama terhadap Youtube di mana media sosial ini akan langsung merekomendasikan tontonan serupa. Misalnya, saat kita banyak menonton Upin & Ipin, maka film anak sejenis akan dikaitkan ke akun kita. Bisa dibayangakan jika ada jenis tontonan ‘unik’ yang ditonton, maka begitu Youtube dibuka langsung terlihat gambar-gambar ‘asyik’ tersebut. Saya memang telah mematikan internet, tetapi saat saya tidak di rumah tiada yang tahu adik saya menghidupkan portable dari smartphonenya.

Keempat, mode anak di satu sisi memang perlu tetapi tidak saya terapkan. Haikal dan Wilda begitu kritis sehingga penguncian aplikasi tertentu akan menimbulkan tanda tanya. Mereka akan mencari tahu dan membuat penasaran yang tidak penting bagi perkembangan aktivitas selanjutnya. Komputer tablet yang seolah khusus untuk hiburan mereka telah saya batasi seperti tertuang dalam poin 1 sampai 3. Mode anak ini berlaku di gagdet orang tua atau gadget yang khusus dibelikan untuk anak-anak – meski saya tidak menganjurkan gadget khusus untuk anak.

Kelima, satu jam adalah batasan maksimal Haikal dan Wilda menggunakan komputer tablet. Awalnya memang saya biarkan mereka bermain games sepuasnya, menonton sejenuhnya, sampai kemudian mereka tidak mau melakukan hal serupa. Haikal lantas sibuk bermain bola sore hari. Wilda tak mau ketinggalan main masak-masakan. Namun bukan berarti mereka lupa, mereka tetap pakai komputer tablet ini untuk menonton Seung-jae, Upin & Ipin maupun Barbie.

Keenam, beberapa aplikasi edukasi saya unduh untuk kebutuhan mereka misalnya tata cara mengaji, belajar membaca, sampai bahasa Inggris dasar. Anak-anak lebih senang belajar dengan audio visual maka aplikasi yang terunduh mudah mereka pahami. Banyak sekali aplikasi yang tersedia di Play Store harus benar-benar diseleksi oleh orang tua. Saya mengunduh terlebih dahulu sehingga Haikal dan Wilda tidak paham bagaimana cara menginstal aplikasi. Hal ini penting sekali agar mereka tidak terbiasa membuka toko aplikasi dan memasang aplikasi-aplikasi lain di luar kendali.

Penggunaan gadget yang baik bagi anak-anak tak pernah lepas dari peran orang tua. Meski saya bukan orang tua Haikal dan Wilda, saya memposisikan diri sebagai bagian dari kepekaan tersebut. Haikal yang sudah hapal episode Upin & Ipin pernah bertanya tentang penggunaan komputer tablet di salah satu episodenya. Saya kemudian memberi alternatif seperti yang tertuang pada poin nomor enam. Di mana proses pembelajaran yang terjadi di episode tersebut bukan untuk bermain tetapi belajar sambil bermain dengan gadget.

Fenomena anak-anak paham gadget telah menjadi rutinitas yang tak terbatasi. Anak-anak paham karena ini masanya, hanya saja bagaimana pola asuh yang benar dari orang tua. Enam poin yang telah saya terapkan memang kecil sekali, bahkan bisa disebut hal biasa tetapi akan berdampak luar biasa kepada anak-anak. Orang tua terkadang abai terhadap hal ini dan membiarkan anak-anak terlihat aktif di dalam dunia maya.

Indonesia Hottest Insight menyebut bahwa 40 persen anak di Indonesia telah paham teknologi atau disebut juga sebagai active internet user, survei ini dilakukan pada tahun 2013. Tahun 2014, Kementerian Informasi dan Unicef menyebut bahwa anak-anak mengunakan gadget untuk kebutuhan informasi, hiburan dan menjalin relasi sosial. Anak-anak cenderung memiliki akun media sosial untuk interaksi bersama orang yang telah dikenal maupun belum sama sekali. Selain itu game online juga menjadi salah satu kebutuhan dari anak-anak generasi ini. (liputan6.com, 17/03/16).

Ernest Doku, ahli telekomunikasi dari uswitch.com menyebut bahwa sekitar dua juta anak di bawah usia delapan tahun telah memiliki komputer tablet. (republika.co.id, 14/01/17). Bahaya yang mengintai antara lain pengeluaran yang besar dari game online berbayar. Orang tua yang membelikan anak-anak gadget beralasan bahwa dengan perangkat ini mudah memantau anak-anak. Orang tua yang sibuk dapat menjalin komunikasi lebih instan dengan anak tanpa perlu bimbingan. (blog.unnes.ac.id, 05/11/15).

Survei lain dilakukan oleh Joan Ganz Cooney Center di Amerika Serikat, di mana 27 persen anak-anak usia lima tahun mengalami peningkatan kosakata melalui aplikasi edukasi. Dalam survei ini juga menyebutkan 17 persen anak-anak usia tiga tahun juga mengalami peningkata kosakata. Dalam hal ini, penggunaan gadget yang bijak dapat menumbuhkan kesadaran akan kepentingan pendidikan. Anak-anak tidak pernah tahu tanpa bimbingan orang tua. Orang tua yang memilih aplikasi mana yang cocok untuk anak-anak, berapa lama anak-anak boleh berinteraksi dengan gadget, maupun tontonan apa yang layak mereka saksikan.

Penggunaan gadget yang baik bagi anak-anak adalah tidak melepas mereka dengan perangkat ini. Saya sendiri telah melewati masa-masa kritis mereka, keingintahuan terhadap hal-hal baru, tetapi karena saya batasi, akhirnya kedua sepupu ini tidak melampaui batas ketidaktahuan mereka. Saya selalu menyarankan kepada orang tua – bahkan siapapun yang membaca ini – untuk menerapkan enam hal saja seperti yang telah saya sebut. Anak-anak akan memahami dengan sendirinya tanpa perlu melarang. Anak-anak paham posisi apa yang layak untuk mereka.

Saya sama sekali tidak menganjurkan untuk melepas anak – membeli gadget khusus – dengan jaringan data diaktifkan. Jangan pernah lupa bahwa bahaya sebuah gadget saat internet aktif. Anak-anak bebas mengunduh, menonton dan melakukan apapun meski tidak diajarkan oleh orang tua. Orang tua yang saat ini cenderung membiarkan anak bersama gadget, saya rasa sudah boleh menarik kembali keputusan tersebut. Berkali-kali saya sebut, enam hal di atas adalah hal penting. Anak dapat belajar, anak dapat bermain, anak dapat melakukan apapun, namun orang tua berhak memiliki opsi khusus. Orang tua yang layak mencari solusi untuk anak-anak. Posisi orang tua lebih penting dibandingkan guru mengingat penggunaan gadget bukan di sekolah.

Ibarat memakan sebuah Apel manis, anak-anak akan melahap sampai habis. Demikian juga dengan gadget. Orang tua yang memberi, melepas anak sendirian dengan gadget maka jangan salahkan anak-anak usia SD menonton hal-hal negatif, membaca informasi sensitif karena hal ini tidak bisa diblock. Anak-anak akan menyentuh responsifnya layar gadget tanpa henti. Anak-anak akan mengeklik gambar yang unik dan asyik. Anak-anak akan terlarut dalam dunia maya tanpa batas. Anak-anak akan terlibat dengan mereka yang tidak dikenal. Semuanya mungkin, semuanya terjadi begitu saja.

Maka, stop hal-hal demikian. Buat mereka tidak tahu, buat mereka tidak peka, buat mereka tidak terlibat, maka mereka tidak akan membiasakan diri untuk melihat, merasakan dan mengalami hal-hal yang tidak kita ingini. Anak-anak perlu diajarkan bermain gadget. Anak-anak tidak dilarang untuk bermain game. Anak-anak tidak dibatasi menonton kartun kesukaan mereka. Semua batasan itu milik kita. Kita yang mengarahkan peluru itu ke mana sasarannya. Siap atau tidak siap orang tua yang memiliki peranan penting penggunaan gadget yang baik bagi anak. Siapkah Anda menerapkan enam hal yang saya sebut? Jika siap, Anda akan mendapatkan hasilnya dengan segera. 

Comments

  1. Luar biasa triknya. Buat belajar saya jika besok sudah punya anak.
    Memang sangat dilematis saat ini. Dan yg jadi keputusan yang baik adalah mengikuti perkembangan zaman namun orang tua menjadi benteng dan pelindung anak anak kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dapat diterima dan diterapkan dengan baik ya mbak Nurul.

      Delete
  2. Anakku juga hpnya gak ada kartu sim nya. Wkwkwk....

    ReplyDelete
  3. Hal yang hampir sama juga saya lakukan untuk putri kecil saya yg berusia 8tahun. Sy menyimpan film film favoritnya atau pun game offline untuk dia mainkan. Itupun tidak setiap hari. Hanya saat saat tertentu saja atau saat dia ingat. Anak sy lebih suka meminjam hape sy sambil menyalakan video dan dia bicara sendiri seperti orang yg lg ngevlog wkwkwk. Sejauh ini sy sll dampingi jika dia ingin meminjam gadget saya. Sy termasuk ortu yg tidak suka melihat anaknya asyik didpn hape.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara yang bijak untuk anak-anak ya mbak, semoga mereka terjaga dari hal-hal berbau negatif.

      Delete
  4. jujur aja, saya menyesal adik saya lebih fokus ke gadgetnya daripada kehidupannya nyatanya. memang ada sisi positifnya. seperti adik saya bisa belajar bahasa inggris dari film kartunya yang dia tonton. tapi, gara-gara hal itu, dia jadi malas belajar. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga dapat diterapkan tips di atas ya!

      Delete
  5. sip mas, mantap dan selalu ajak mereka untuk beraktivitas di luar sana, agar tubuh mereka bergerak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siap mbak, semoga dapat membatasi aktivitas mereka di depan gadget ya!

      Delete
  6. saya save buat dikasihtau suami, yaa ^^

    ReplyDelete
  7. Anak2 saya usia balita, tidak dipungkiri mereka suka YouTube, video dll. Cara2 kyki youtube offline jg saya lakukan. Saya pun batasi dan gak tiap hari mereka boleh nonton. Saya pun gak suka anak saya pegang hape.
    Akhirnya saya arahkan main keluar atau main permainan lain kyk lego, mewarnai dll.
    'Tapi saat ini anak saya bukannya suka nonton video, melainkan motret2 gtu pakai hp hehe. Ini saya bingung cara kasi taunya gmn, soalnya seneng jg liat anak suka motret, mungkin dia melihat kami ortunya suka selfie2 apa ya haha :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, maka bijak-bijak orang tua dalam mengatur aktivitas tersebut. Nama juga anak kecil, apa yang dikasih pasti akan disantap.

      Delete
  8. Mau ditiru resepnya, Makasih ya baii..

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"