Remaja dan Realita yang Terabaikan dalam My Generation


Aku maunya begini, aku maunya begitu, aku mau ini, aku mau itu, aku nggak bisa ini, aku nggak bisa itu, aku…

Gejolak dan pemberontakan adalah perangai masa remaja yang semua dilakoni secara naluriah. Mengapa hal ini terjadi? Karena masa-masa ini adalah waktu di mana mencari jati diri yang belum terkuak dengan terang. Perhatian yang berlebihan bisa menjadi pemberontakan, apalagi sama sekali tidak merasakan perhatian dari orang-orang terdekat, terutama orang tua. Maka, komunikasi yang paling dibutuhkan oleh remaja adalah kebijaksanaan orang tua dan pola asuh yang mengarahkan ke sisi positif dalam jiwa muda mereka.


Masa remaja yang sulit, di mana selalu ingin menang sendiri telah terukir dalam berbagai sisi kehidupan. Begitu juga dengan film. Soal masalah remaja ini begitu menyayat hati saat difilmkan. Tetapi, kebanyakan film dengan tema remaja selalu menyuguhkan isu percintaan dan percintaan lagi. Bahkan, belakangan film remaja cinta-cintaan ini sedang naik daun dengan syuting di luar negeri. Padahal, tema yang diangkat serupa tapi penggarapan yang tidak sama. Namun, belum banyak film yang mengangkat sisi remaja lebih dalam, terutama tentang kemelut hati mereka, pemberontakan yang terus terjadi dalam diam, dan pencarian jati diri yang rumit.

Upi, sutradara yang telah menelurkan film-film menarik seperti terbaik seperti 30 Hari Mencari Cinta atau Realita, Cinta dan Rock’n Roll, kembali ke layar kaca dengan film bertema remaja, My Generation. Film yang diproduksi oleh IFI Sinema ini akan mulai tayang di bioskop pada 09 November 2017. Dalam siaran tertulis, Upi menyebut bahwa dirinya akan mengenalkan bintang-bintang muda yang fresh dalam film ini untuk dapat membuat suasana dan cita rasa lebih kental. Harapannya tentu supaya penonton tidak terpengaruh dengan karakter tokoh antara satu film dengan film lain. Bintang muda ini antara lain, Bryan Langelo, Arya Vasco, Alexandra Kesasie dan Lutesha. Film ini nantinya akan didukung oleh pemain senior seperti Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalalo, Karina Suwandhi, dan Aida Nurmala.

Apa yang menarik dari film ini? Upi meyakini bahwa film remaja ini akan berbeda dengan film serupa kebanyakan. Dalam proses pembuatan film saja, Upi membutuhkan waktu 3 tahun. Riset dan kebutuhan lain dilakukan selama 2 tahun dan pembuatan filmnya sendiri lakukan selama 1 tahun. Meski tema yang diangkat begitu ‘ringan’ tetapi tampaknya Upi tidak mau bermain aman saja. Sutradara yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai Penulis Skenario Asli Terbaik oleh Tempo pada tahun 2014, mengaku bahwa tidak bisa main-main dalam menyampaikan pesan dalam film remaja. Salah sedikit, maka remaja – sebagai penonton – akan mendeskripsikan lebih jauh dalam definisi mereka masing-masing. Upi membuat film ini benar-benar selaras dengan generasi masa kini di mana aktivitas media sosial telah menjadi makanan sehari-hari.

Sutradara film sukses, My Stupid Boss, ini menyerukan bahwa film My Generation akan mewakili generasi millenilas. Realita kehidupan anak zaman sekarang cukup kentara dalam film ini sehingga mampu menghipnotis penonton, agar terus larut dalam tiap dialog yang diakui sendiri oleh Upi tak terlepas dari percakapan di media sosial. Hal yang sangat dekat dengan remaja di mana aktivitas dunia maya menjadi teman sejati mereka. Penggambaran karakter generasi millenilas yang kuat akan mampu memberikan sentuhan manis untuk film ini.

Sentuhan sutradara yang pernah masuk Nominasi Sutradara terbaik dalam ajang Festival Film Indonesia tahun 2013, tidak dapat diragukan lagi. Empat anak SMA mengawali kehidupan yang rumit dalam My Generation. Gara-gara video protes terhadap guru, sekolah dan orang tua menjadi viral, mereka gagal menjalani liburan menyenangkan dan harus mendekam dalam hukuman. Empat sahabat ini lantas menunjukkan kepada orang yang telah mencemooh, bahwa mereka mampu move on dan memberikan yang lebih baik. Keempat tokoh ini memiliki karakter yang sama-sama kuat di ‘bagian’nya masing-masing.

Upi menghadirkan Orly sebagai tokoh yang kuat melawan ketidakadilan terhadap perempuan. Suara Upi dalam jati diri Orly barangkali telah tersampaikan terutama soal kesetaraan gender. Perlawanan Orly tentang identitas perempuan yang dianggap lemah selalu dilawannya. Tokoh Orly yang tegar juga mengalami konflik yang rumit dengan ibunya. Sang ibu begitu mudah tergoda dengan pria muda dan menjalin kasih. Gaya hidup ibunya menjadi kritikan pedasr dari remaja ini.


Upi juga bermain dengan isu krisis kepercayaan diri, di mana soal ini dirasakan hampir semua remaja masa kini. Suki selalu mendapatkan pandangan negatif sehingga tidak mampu menyeimbangkan antara kehidupan normal dengan tidak percaya diri tersebut. Krisis yang dialaminya semakin diperparah dengan orang tua yang bersikap tidak baik terhadap dirinya.


Humor di antara tokoh muncul dalam diri Zeke. Upi memberikan sentuhan ‘hidup ini santai’ dalam diri tokoh ini. Dalam sikapnya yang easy going, Zeke mampu memendam luka yang sangat mendalam. Tokoh yang loyal terhadap ketiga sahabatnya ini ternyata tidak diinginkan keberadaannya oleh orang tuanya sendiri. Zeke yang rebellious kemudian membangun komunikasi yang lebih dalam dengan orang tua agar hati keduanya terbuka.


Ketidaktahuan akan dunia luar di hadirkan dalam tokoh Konji. Sifat polos dan naif dihadirkan oleh Upi pada masa-masa remaja melalui tokoh ini. Konji kemudian memberontak karena keinginannya tidak sesuai dengan tuntutan orang tua. Orang tua Konji menuntut lebih banyak hal sedangkan dirinya ingin menjalani kehidupan sesuai keinginan dan minatnya sendiri.


Empat tokoh, empat babak kehidupan yang sebenarnya cukup mewakili masa remaja apa adanya. Film My Generation adalah sentuhan manis untuk mengenang, memulai kehidupan remaja dan menelaah apa yang sebenarnya diinginkan remaja dalam hidup mereka. Remaja pada masanya sulit sekali melewati masa-masa itu, maka kehadiran orang dewasa – orang tua – sangat dibutuhkan selama masa pertumbuhan dan perkembangan itu. 


Comments