Cerita Dia yang Ingin Pulang ke Aceh Pada Paruh Mei Lalu


“Bang, jadi ke Jakarta?” begitu dia bertanya kepadaku dalam sebentuk pesan di satu baris layar smartphone itu. Mungkin, ada sebutir kecemasan dalam nada itu. Entah apa, tetapi kemudian kutahu saat kami bertemu sepuluh hari setelah itu. Derap nadi yang tidak bisa aku jabarkan menjadi pendar-pendar emosi yang dibentuk oleh wajar putih memucat. Bahwa dia, butuh teman pulang ke Aceh dengan pesawat terbang yang belum pernah ia jejaki.  

Tepatnya, dia menyebut, “Aku ingin pulang juga, Bang!” kutahu, dia hanya sementara di Ibu Kota, melepas rindu kepada saudara kandungnya yang telah lebih 10 tahun merantau. Pulang adalah kata hemat penuh aroma setelah sebulan penuh merantai diri dalam kemacetan dan kejenuhan kota metropolitan. Sebait lalu, beberapa saat sesudah aku mendapatkan undangan ke Jakarta, aku mengabarkan kepadanya. Desir dari Ayahnya, tetangga rumah, yang pernah menyebut bahwa putrinya ingin pulang tetapi tidak tahu ‘jalan’ untuk itu.

Dua hari sebelum aku termangu di kursi keberangkatan Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, aku kembali berkabar dengannya. Pesanku waktu itu, “Beli saja tiket pesawat dengan nomor penerbangan ini, hari ini, jam ini!” tegas dan mudah untukku menyebutkan. Tetapi, tidak mudah dicerna olehnya.

Tak lama, aku kembali mendapatkan pesan singkat darinya, “Bang, tidak ada tiket pesawat nomor penerbangan itu!” kecemasan melanda kala itu, tiba-tiba aku merasakan kecemasan yang sama. Ketakutan dirinya tidak mendapatkan tiket pesawat, tidak bisa dia pulang denganku, tidak bisa pula dirinya tenang sampai ke rumah yang dirindukan.

“Nggak mungkin,” aku mendesis dalam diri. Pasti ada nomor penerbangan yang kusebut tadi. Tidak mungkin tidak ada, toh aku juga akan naik pesawat dengan nomor penerbangan yang tertera tersebut, pada hari yang telah kusebut, pada jam yang pasti itu juga.

Sekadar memastikan, aku masuk ke aplikasi Traveloka yang telah kuunduh sebelumnya. Kusebut; ini adalah pertolongan pertama situs penjualan tiket online kepada sepupu jauh itu yang gelisah belum bisa pulang. Aku memasukkan Kota Asal dan Kota Tujuan serta Tanggal Berangkat. Mei itu, tidak mungkin nomor penerbangan yang tertera di e-ticket yang kudapat dari sponsor mendadak hilang. Aplikasi Android Traveloka berjalan cepat, memberikan beberapa alternatif penerbangan dari CGK (Soekarno-Hatta, Jakarta) menuju BTJ (Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh).

Pesan tiket pesawat mudah dan cepat di Traveloka.

Mataku langsung menemukan nomor penerbangan yang sama dengan e-ticket yang kupegang. Aku memastikan hari, tanggal dan jam penerbangan. Semua telah sama. Lalu, aku screenshot pencarian tersebut dan langsung kukirim kepadanya melalui pesan WhatsApp. Kuberi penjelasan, “Ini nomor penerbangan yang harus dipesan!”

Dia hanya membalas, “Iya, Bang!” dan kemudian tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan memesan tiket untuk pulang. Tetapi, aku yakin sekali dia akan memesan, entah di aplikasi Traveloka atau di agen travel lainnya. Aku tidak bertanya, aku beralasan telah membuka jalan, aku pun tersibuk dengan packing kecil-kecilan; karena lepas acara aku akan menjemputnya beberapa hari di rumah kakaknya di kawasan Jakarta Selatan.

Traveloka membantu pesan tiket pesawat di mana saja dan kapan saja.

Kutarik koper cokelat dengan gembok kecil dua di tiap resletingnya, terseok menuju pintu toko yang masih terbuka. Salam terucap dari mulutku. Dia bergegas tersenyum senang mendapatiku berdiri di pintu toko kelontong itu; usaha kakaknya yang kusebut telah berhasil. Senyum cerah di wajahnya menjawab tiap tanya yang belum kulontarkan sama sekali. Dia yang tersipu malu terus digoda kakaknya.

“Tahu nggak? Dia itu nggak bisa tidur sebelum kamu sampai ke sini,” ujar Yusri, kakaknya yang selama ini curi-curi waktu mengirim pesan kepadaku. Rupanya, Yusri tidak memberi tahu kepada dia bahwa aku telah sampai di Jakarta dan juga telah dalam perjalanan ke tempat mereka, sekitar satu jam lalu kutekan send di layar smartphone kesayanganku.

“Mana ada,” dia tak bisa memanipulasi gusarnya.

“Dia takut kamu nggak jadi ke sini dan nggak bisa pulang,” Yusri tidak mau kalah.

“Nggak mungkin, kan, Bang?” dia juga tidak mau kalah. Aku hanya mengangguk dalam lelah.

Yusri membuka smartphone miliknya dan menyodorkan kepadaku, “Ini tiketnya,”

Aku memeriksa dan memastikan e-ticket yang terlihat itu sama dengan e-ticket milikku. Terlihat di layar smartphone itu, Yusri, memesan tiket pesawat di Traveloka. Aku memang tidak menyebut membeli tiket di sini atau di tempat lain. Saat aku ingin mengetahui jadwal penerbangan beberapa hari lalu, hanya Traveloka yang terlintas di benakku. Kupikir, wajar jika Yusri memesan di Traveloka karena aku mengirimkan gambar kepadanya dari hasil screenshot di aplikasi yang sama.

“Ini e-ticket yang dikirim ke e-mail ya?” tanyaku.

“Iya. Apakah perlu diprint lagi?” ada bingung di pertanyaan Yusri.

Print saja, buat jaga-jaga kalau nanti smartphone habis baterai saat check-in!” saranku yang langsung diiyakan oleh Yusri dan dia, adiknya Yusri, Rauzah namanya. Seorang gadis tinggi, putih, dan berperawakan bagai model. Wajahnya tidak lagi memudar seperti pertama kutatap beberapa menit lalu. Wajahnya kini tampak makin cerah, mungkin karena harapan untuk pulang segera tersampaikan. 

“Rauzah sudah bisa tidur malam ini,” seru Yursi yang langsung ditepis Rauzah dengan lambaian tangannya. Mungkin, dia memang bisa tidur. Mungkin juga, dia masih harap-harap cemas. Aku menangkap kemungkinan kedua dari sorot matanya. Wajar jika itu terjadi. Karena, aku berkata begini sebelum kami terlelap malam itu, “Nanti waktu check-in kursinya bisa jauh karena tiket kita berbeda,”

“Maksudnya, duduknya jauh ya, Bang?”

“Iya. Tapi nggak apa-apa kok. Kalau jauh nanti bisa ganti sama penumpang lain, bisa juga kamu beranikan diri, kan, masih satu pesawat,”

Tiba di hari kami pulang, Yusri yang mengantar kami, bersama ipar dan keponakan mereka, masih membuat senda-gurau. “Bagaimana ini, Rauzah? Kayaknya kita nggak akan sampai ke bandara!” gurau pertama Yusri sambil menyetir pelan menembus kemacetan.

“Jangan begitulah,” Rauzah mengeluarkan nada tidak biasa, sulit kuartikan waktu itu antara emosi dan marah.

“Kamu nggak lihat sendiri, ini macet sekali,” Yusri tidak mau kalah.

Kan bisa cari jalan lain,”

“Nggak bisa keluar kita!”

Benar, seolah kami tertahan dalam kemacetan. Aku melihat raut wajah Rauzah di belakang. Dia pias. Yusri tersenyum puas.

“Dari sini ke bandara mana jauh sekali,” ujarku kemudian.

“Benar, Bang?” tanya Rauzah.

“Iya,”

Yusri terkekeh. Rauzah menepuk pundak kakaknya dengan keras. Terdengar suara teriakan Yusri yang melengking. Selanjutnya, adalah cerita-cerita seru antara Rauzah, iparnya – istri Ipan kakaknya Yusri, keponakannya yang berusia tiga tahun dan adik ipar mereka yang ikut mengantar kami.

Selfie sebelum berangkat.

“Rauzah, coba kamu lihat lagi benar nggak bandaranya?” Yusri mulai candaan kedua.

“Maksudnya apa?” Rauzah kebingungan.

“Mana tahu kamu naik pesawat di Bandara Halim,”

Rauzah buru-buru mengeluarkan e-ticket yang telah diprint. “Mana keterangannya?”

Aku melirik ke belakang, lalu menunjuk ke kertas dengan logo Traveloka di bagian atasnya.

“Bandara Soekarno-Hatta,” ujar Rauzah girang.

Kan, mana tahu kamu salah alamat,” Yusri masih saja bercanda.

“Sudah ah, Yus, kasihan Rauzah,” ujar ipar mereka menenangkan. Kupikir, iparnya itu lebih ingin menenangkan suasana hati Rauzah yang sedang meraung-raung tentang penerbangan kami nanti.

Kami memasuki area Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten. Yusri memarkir mobil di depan Pintu Keberangkatan. Kami turun, mereka saling bersalaman dan berujar hati-hati dalam perjalanan. Aku menanti dan berjaga waktu check-in telah mendesak. Rauzah ke Jakarta waktu itu melewati jalanan darat bersama Yusri, Ipan, istri Ipan dan dua anak mereka.

“Ayo, kita check-in!” ajakku. Rauzah mengikuti di belakang sambil melambaikan tangan kepada mereka yang ditinggal. Aku mendorong koper seperti biasa, mengeluarkan tiket, kartu tanda pengenal, untuk diberikan kepada petugas di pintu masuk nantinya. Rauzah juga mengikuti arahanku. Tiap jengkal kuajarkan Rauzah untuk melewati masa itu, di X-Ray yang terkesan rumit Rauzah melewatinya dengan santai. Mungkin dia berdegup saat kami mengantri untuk check-in.

“Sini, aku check-ini saja,” aku meminta Rauzah berdiri di belakang. Mendorong sedikit kopernya untuk masuk ke bagasi nanti.

“Mbak, ini tiketnya berbeda. Apakah kursinya bisa berdekatan?” tanyaku kepada petugas check-in.

“Mohon ditunggu ya, Pak. Saya coba cek terlebih dahulu,” ujar wanita dengan rambut sebahu itu dengan ramah.

Aku menanti beberapa menit. Rauzah tampak gusar. Dari bibirnya sekonyong keluar isyarat, bisa? Aku mengangguk, mungkin jawabannya lebih tepat tiket dari Traveloka yang telah dirinya print tidak masalah, bukan seat yang akan kami dapatkan di dalam perjalanan ini.

“Mohon maaf ya, Pak. Sistem membaca otomatis jadi nggak bisa dipilih seatnya lagi,” petugas check-in itu memperlihatkan penyesalan yang mendalam.

“Oh, tidak masalah, Mbak,” ujarku sangau.

“Tapi, nanti jika ada penumpang lain yang mau berbagi, bisa dicoba ya, Pak!” pesan petugas check-in itu sambil memberikan boarding pass dan mengembalikan kartu tanda pengenal serta tiket kami.

Saatnya pulang dengan menarik langkah ke ruang tunggu. Pemeriksaan akhir kami lewati dalam diam. Aku melihat gurat tidak tenang di wajah Rauzah. Satu tahap dia telah melewati masa krisis itu dengan bantuan Traveloka, yang membantunya menyamakan tiket sama denganku; nomor penerbangan, hari dan jam yang sama. Di sisi lain, dia gusar karena seat sangat jauh dariku.

Suasana bandara yang sibuk seorang diri.

“Jangan khawatir, kita satu pesawat, kok,” ujarku menenangkan hati Rauzah. Aku khawatir pun dengannya. Aku berharap dia baik-baik saja. Niat untuk menukar seat dengan penumpang lain tidak terlaksana karena, “Nggak apa, Bang. Aku coba berani saja!”

Dan itu telah berlalu pada paruh Mei lalu. Rauzah telah sampai di rumah dan memulai aktivitasnya kembali dan aku juga demikian. Kupikir, tidak ada rasa senang selain membantu orang lain meski hanya segelintir kisah yang dihembus sekali lalu dilupakan begitu saja.
***

Catatan: informasi mengenai pemesanan tiket di Traveloka tidak lagi tersimpan dalam bentuk screenshot maupun print out. Mengingat, perjalanan ini terjadi pada bulan Mei dan pemesanan tiket dilakukan oleh Yusri, kakaknya Rauzah. 

Comments

  1. Ikut lega rasanya. Bisa pulang kampung berkat traveloka ya. Sambil uji nyali hehehe..

    ReplyDelete
  2. Paperless ya kalau traveloka, jadi nggak perlu diprint tiketnya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, cuma untuk jaga-jaga diprint aja :)

      Delete
  3. enaknya booking pake traveloka kan praktis dan gak perlu print lagi.. kalau tiket pesawat tinggal cetak boarding pass aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, Ded. Karena ini pengalaman pertamanya saya sarankan untuk print saja biar nggak khawatir klu terjadi sesuatu.

      Delete
  4. memang traveloka mantap ya, semua bisa beres dengan cepat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, membantu mereka yang butuh cepat dan mudah aplikasinya.

      Delete
  5. Memang dengan traveloka bisa lebih memudahkan dalam perjalanan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar Mas, sangat membantu yang sudah sering traveling dan jarang (bahkan belum pernah sama sekali).

      Delete
  6. Kereeen bai tulisannya gak langsung ke Traveloka ada cerita dulu... mantaaaf

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Kang, cuma berbagi pengalaman saja mungkin ada yang butuh hal serupa.

      Delete
  7. Walau udahh ada di aplikasinya dan masuk email, tapi amannya di-print yah. Jaga2 kalau ponsel lowbat...kan suka dimainin di jalan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak, jaga-jaga saja agar tidak panik di jalan.

      Delete
  8. proses reservasinya cepat banget...bisa diandalkan nih traveloka

    ReplyDelete
  9. Saya selalu print tiket, buat jaga-jaga aja. Gak pernah kepake sih :D tapi ya mana tau. Judulnya bagus, Mas. Ceritanya apalagi :) salaam kenal ya dari Bandung :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, yang penting kode bookingnya jelas terbaca ya :)

      Delete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"