Berwisata di Bawah Bayang Syariat


“sebuah peradaban selalu berawal dari sejarah”

Aceh telah banyak mengukir sejarah di kancah dunia internasional, mulai dari kisah kepahlawanan sampai dengan tsunami di penghujung 2004. Sejarah telah menunjukkan begitu kuatnya jiwa masyarakat Aceh, sehingga seorang penulis sekaliber Helvy TianaRosa sampai menulis kisah-kisah perjuangan perempuan Aceh dalam buku TanahPerempuan yang telah dipentaskan dalam teater di tingkat nasional.

Dari sejarah pula kita mengetahui banyak hal sehingga suatu kebudayaan akan dikenang selamanya. Sejarah Aceh menjadi sangat bernilai jika dibandingkan dengan kondisi Aceh masa kini. Cara yang terbaik dalam mengenal suatu daerah adalah dengan mempelajari sejarahnya. Aceh dikenal bukan karena satu-satunya provinsi pelaksanaan hukum Islam, nanggroe kita ini dikenal karena kegagahan dan ketangguhan pejuang semenjak dulu kala.

Bicara sejarah, tentu saja sangat sulit menemukan peninggalan bersejarah di Banda Aceh tanpa singgah ke Rumoh Aceh. Bicara sejarah modern pula, tidak elok rasanya tanpa berleha-leha sebentar di Museum Tsunami. Dan bicara kedekatan emosional terhadap Ilahi, tidak kuat iman seseorang tanpa sujud di lantai dingin Masjid Raya Baiturraman.


Rumoh Aceh
Photo by Bai Ruindra

Bangunan tua dari kayu ini sudah teramat sering sendiri di era teknologi di mana hampir setiap sudut kota Banda Aceh dipenuhi warung kopi berwifi. Barangkali bisa dihitung dengan jari jumlah orang yang singgah ke tempat paling beraura kepahlawanan dan adat-istiadat di ibu kota provinsi Aceh ini. Kebanyakan dari kita yang tinggal di Banda Aceh, bahkan mungkin pelancong yang datang ke Banda Aceh seakan-akan mencoret bangunan tua ini dari daftar tempat yang ingin dikunjungi.

Barangkali, begitu tidak bermaknanya sebuah benda mati yang bisa menceritakan sejarah kepada kita. Tafsiran ini terjadi jika kita tidak pernah mau menginjakkan kaki ke halaman tempat wisata yang bersih dan asri tersebut. Rumoh Aceh memiliki keistimewaan dalam membicarakan rumah di masa arsitektur penuh rekayasa komputer. Rumah yang tidak membenarkan semen pada dinding, keramik untuk alas maupun atap dari genteng telah mampu meninggalkan kesan tradisional dalam benak kita. Jarang sekali ditemui rumah berbentuk rumah adat tersebut di daerah-daerah Aceh masa kini. Mungkin saj, hanya Rumoh Aceh inilah peninggalan yang sama persis seperti rumah adat sebenarnya. Bayangkan saja seandainya generasi muda tidak pernah menginjakkan kaki di sini?

Banyak sekali penulis yang telah menguraikan sejarah Rumoh Aceh ini, termasuk Dinas Kebudayaan danPariwisata Banda Aceh telah mengupas seluruh isinya; tangga dari kayu, serambi depan, serambi belakang, berbagai lukisan pahlawan di dalamnya, berbagai peralatan rumah tangga zaman dulu, ayunan, dan masih banyak lagi. Sayangnya, belakangan Rumoh Aceh ini sudah jarang bisa diberi izin masuk ke dalam melihat pernak-pernik peninggalan sejarah di sana. Karena itu, sebagian pengunjung tidak dapat lagi melihat peninggalan bersejarah tersebut. Sebenarnya, masalah ini bukan alasan untuk tidak berkunjung ke Rumoh Aceh, masih banyak peninggalan bersejarah lain yang tidak bisa ditinggalkan untuk mereka yang gemar mempelajari sejarah masa lampau.

Masih di dalam kompleks Rumoh Aceh, di sebelah kanan pintu masuk terdapat benda peninggalan sejarah termasuk meriam. Di depan meriam terdapat kuburan keluarga kerajaan, di depannya terdapat makam Sultan Iskandar Muda. Semua benda mati ini meninggalkan keterangan di papan nama sehingga memudahkan kita mengetahui lahir maupun wafat serta silsilah keluarga kerajaan Aceh.
Photo by Bai Ruindra

Photo by Bai Ruindra

Photo by Bai Ruindra

Berkunjung ke tempat ini tidak hanya dihidangkan peninggalan sejarah Aceh, suasana alam di sekitar Rumoh Aceh begitu nyaman dan sejuk setelah dikelilingi pohon besar yang memayungi. Pada dasarnya, tempat ini harus menjadi tujuan utama saat berkunjung ke Banda Aceh.

Museum Tsunami
Photo by Bai Ruindra
Bencana selalu mengukir sejarah baru dan pahit dirasakan oleh mereka yang kena imbas. Tsunami yang telah meluluh lantakkan Aceh pada 26 Desember 2004 telah berlalu dan masyarakat Aceh telah menerima dengan ikhlas kepergian saudara mereka. Di balik semua kepahitan tersebut, seorang intelektual ternama yang dimiliki Indonesia, Ridwan Kamil, kemudian melahirkan sebuah gebrakan yang luar biasa dikenang. Wali Kota Bandung ini merancang museum seperti yang kita lihat saat ini.

Lain Rumoh Aceh lain pula Museum Tsunami yang terletak tidak jauh dari rumah adat tersebut. Masih dalam satu kota dan masih sanggup dijangkau seandainya berjalan kaki, nasib Museum Tsunami lebih beruntung dibandingkan Rumoh Aceh. Museum Tsunami kerap dikunjungi banyak orang di waktu yang sudah ditentukan, antara pukul 09.00-12.00 sampai 14.00-16.00 WIB. Perawatan Museum Tsunami pun tak kalah dengan rumah adat Aceh, sama-sama mengedepankan kebersihan dan keasrian.

Di antara dua bangunan bersejarah ini memiliki visi dan misi berbeda, Rumoh Aceh merupakan peninggalan perjuangan dan adat-istiadat, sedangkan Museum Tsunami merupakan kenangan sisa-sisa bencana alam terbesar sepanjang sejarah manusia khususnya di Aceh. Di dalam bangunan ini terdapat banyak sekali kerangka bekas tsunami dipajangkan sebagai saksi bisu. Selain itu, terdapat pula persebaran tsunami di peta yang menggiurkan begitu kita lihat di dinding yang bersebelahan dengan bioskop yang selalu memutar film tsunami Aceh.  Termasuk gambar di bawah ini yang punya arti lebih dari apapun bagi saya pribadi. 
Photo by Bai Ruindra
Banyak hal yang membuat Museum Tsunami memiliki daya tarik. Selain bangunan yang modern juga tempat yang strategis di tengah-tengah kota. Lukisan, foto maupun ornamen mati memang tidak akan cukup mencerminkan perihnya luka tetapi, berkunjung ke mari paling tidak cukup bisa membuat bulu kuduk merinding bagi mereka yang tidak merasakan bagaimana dahsyatnya bencana besar tersebut. Dua potret di bawah ini membuat hati teriris lebih dari biasanya, mereka yang sudah pergi memang tak akan kembali dan "mereka" yang lari di hari petaka besar itu akan dikenang sepanjang masa!
Photo by Bai Ruindra
Photo by Bai Ruindra
Menceritakan keelokan sebuah bangunan memang tidak bisa mendukung semua argumen sebelum datang dan lihat sendiri. Bagi orang yang tidak mau ketinggalan melihat kenangan pahit tersebut tentu tidak cukup sekali dua kali masuk ke dalam bangunan yang dirancang khusus untuk Aceh, hanya satu-satunya di dunia ini!

Masjid Raya Baiturrahman
Belum sampai di Banda Aceh sebelum menginjakkan kaki di Masjid Raya Baiturrahman!

Photo by Bai Ruindra
Ini hanya sebuah anggapan, tetapi memang benar adanya. Selain memiliki nilai artistik bernilai tinggi, masjid ini menjadi pusat segala janji. Bayangkan saja, jika buat janji ingin bertemu seseorang paling mudah di masjid dengan halaman luas, kolam ikan persegi panjang di depan, menara, serta bendera merah putih kokoh berkibar di sampingnya.

Masjid yang sudah dikenal ke seluruh orang yang pernah membaca sejarah Aceh ini selalu penuh oleh pengunjung. Sampai-sampai saat pertama kali kita masuk ke perkarangan masjid seseorang pasti segera menarik kita untuk dipotret. Sekali lagi, masa telah mengerus semua yang tak biasa menjadi biasa. Jika dulu fotografer di depan masjid bisa panen rejeki sekarang malah terkuras oleh kamera pribadi yang dibawa pengunjung. Namun, jika ingin menghasilkan hasil cetak dengan cepat tidak ada salahnya menggunakan jasa fotografer yang sering berdiri termangu di sana.

Photo by Bai Ruindra
Sampai di Masjid Raya Baiturrahman seakan wajib hukumnya menyegerakan shalat sunat dua rakaat. Kewajiban ini bisa dilakukan untuk kita yang kebetulan mampir ke masjid ini diluar waktu shalat wajib, jika berbenturan pun tidak ada salahnya shalat sunat bukan?
Photo by Bai Ruindra
Sejarah Masjid Raya Baiturrahman sendiri begitu ajaib untuk dilupakan. Masjid yang diagung-agungkan masyarakat Aceh ini menjadi saksi sejarah begitu panjang sekali. Sebelum kemerdekaan sudah menjadi saksi bisu kegagahan pejuang mengusir penjajah, konflik berdarah, masa referendum, dan terakhir tsunami. Dari berbagai kisah pilu tersebut, banyak pula nyawa yang terselamatkan saat berada di masjid ini. Seandainya masjid ini punya catatan penting yang bisa ditulis, sudah saatnya kita akan mengetahui siapa yang berkhianat, jujur, amanah, dan lain-lain dari kesaksian bisunya. Tetapi masjid ini tidak pernah menolak apapun, bahkan sejarah bahagia telah lahir dari pernikahan di dalamnya.

Terakhir, melengkapi tulisan ini setelah mengenang sejarah yang terlupa karena banyak orang sibuk dengan celana ketat dan jilbab, ingin sekali rasanya kembali naik ke menara di depan saya melihat-lihat seluruh kota Banda Aceh. Mungkin; sebelum tsunami terakhir kali kita bisa melihat Masjid Raya Baiturrahman secara utuh dari atas sana; seluruh kota, Krueng Aceh, bahkan Pulau Sabang sekalipun. Semoga saja mata dunia kembali melihat indahnya Aceh dari berbagai sudut pandang mereka. Pelaksanaan syariat Islam bukan pula halangan berkunjung ke mari asal tetap mengedepankan tata krama dan sopan santun dalam bersikap maupun berbusana. Saya rasa, semua orang memiliki kesopanan menurut makna masing-masing! 
Photo by Bai Ruindra

0 Response to "Berwisata di Bawah Bayang Syariat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel