K-Drama Runtuhkan Telenovela


Hari minggu, saatnya menulis yang beraroma informasi hiburan. Seminggu ini, saya membaca beberapa ulasan di situs berita hiburan populer. Berita menarik itu adalah ulasan mengenai kedigdayaan telenovela sekitar tahun 1990-an. Benar saja, di tahun tersebut saya sendiri masih kanak-kanak tak luput dari tontonan sangat melankolis tersebut.


Bahkan, salah satu telenovela yang sampai kini tak pernah saya tahu ke mana akhir ceritanya, pernah menjadikan saya terlena akan jagad hiburan Amerika Latin. Begitu kuatnya pengaruh pertelevisian Brazil dan kawan-kawan kala itu.

Dimulai oleh TVRI sebagai televisi milik negara (sekarang BUMN), kemudian di susul TPI (MNCTV), lalu RCTI. Beragam tema dihadirkan namun sangat membekas di hati penonton Indonesia. Judul-judul seperti Rosalinda, Marimar, Cinta Clarita, Amigos dan lain-lain menjadi ikon penting telenovela. Sayangnya, TVRI sebagai pelopor telenovela di Indonesia harus mengalah dengan TPI maupun RCTI. RCTI termasuk televisi swasta yang paling sukses menayangkan telenovela pada saat-saat prime time.

Telenovela yang saya sebutkan tak pernah tuntas itu, Hati Yang Mendua. Ditayangkan oleh TVRI dengan ikon mobil truk besar dan soundtracknya lumayan keren. Anda bisa menikmati cuplikan lagu tersebut yang saya kutip dari Youtube di bawah ini.
K-Drama gemparkan dunia.

Telenovela yang diadaptasi oleh televisi swasta dalam negeri ini menyuguhkan aktor berbadan kekar, ganteng dan romantis. Hal ini sangat berimbang dengan artis yang menjadi lawan mainnya yang cantik, tinggi, dan seksi.

Kata seksi lebih saya identikkan pada saat mereka berdialog (walaupun kebanyakan di dubbing), maupun tata cara berpakaian yang benar-benar menggundang gairah lawan jenis.

Nah, seandainya pada tahun penayangannya tersebut sudah aktif KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) maka sebagian besar telenovela tak pernah bisa tayang. Sebabnya, penampilan artis hanya mengenakan underwear saja sungguh mengerikan untuk ranah edukasi.

Namun tahun 1990-an masalah yang krusial ini benar-benar luput dari teguran bahkan sampai denda pada televisi bersangkutan.

Beranjak ke tahun 2000-an, mulailah telenovela ditinggal oleh penonton Indonesia. Televisi swasta nasional mulai menayangkan drama-drama dari negeri gingseng. Saya berani mengatakan bahwa Indosiar salah satu pelopor masuknya drama Korea Selatan ke Indonesia. Sebutan K-Drama menjadi salah satu penanda bahwa telenovela sudahlah tinggal kenangan.

Tepat tahun 2004, saat Full House yang dibintangi oleh Rain dan Song Hye Gyo mulai ditayangkan maka tak bisa dielak telenovela sudah tamat riwayatnya. Setelah itu, menyusul drama-drama lain yang memiliki tema beragam. Barangkali Boys Before Flower menjadi K-Drama tersukses lainnya setelah drama pertama yang saya sebutkan tadi.

Beranjak ke tahun-tahun berikutnya, kedatangan Man From The Star menjadi salah satu pertanda bahwa kekuasaan K-Drama di Indonesia masih berpengaruh besar. Walaupun Indosiar sudah teramat jarang memutar drama seri terbaru (mungkin karena pengaruh mahalnya royalti yang harus disetor kepada pihak Korea dan alasan lain), para penikmat K-Drama masih tetap bisa menikmati drama-drama terbaru dari internet.

Kehadiran K-Drama sangat berbeda dengan telenovela. Saya berani acungi jempol untuk pegiat seni Korea Selatan. Rata-rata K-Drama menonjolkan sisi budaya dan sosial, kehebatan teknologi maupun sifat dari masyarakat Seoul sendiri.

Saya membenarkan jika sebagian drama menampilkan aura keseksian, tetapi kebanyakan dari mereka malah lebih sopan dalam berpakaian dan bertutur kata. Anda bisa bedakan sendiri artis Korea Selatan membungkus tubuh cantik mereka dengan pakaian tertutup.

Kesempatan seksi mereka terlihat saat ada penjamuan makan malam maupun kesempatan tertentu. Namun di luar itu, tidak hanya dipengaruhi cuaca dingin alam Korea, mereka benar-benar berpakaian tertutup.

Menilai karakter tokoh antara K-Drama dengan telenovela sungguh berada antara langit dan bumi. Telenovela menghadirkan aktor gagah dan macho, sedangkan K-Drama menyuguhkan aktor yang lebih feminin dan memiliki warna kulit bagai persolen.

Di dalam telenovela, artis-artis cenderung mengumbar keseksian dari bentuk tubuh dan dan pakaian seksi, sedangkan K-Drama lebih mengedanpan kesopanan dalam berpakaian. Sifat seksi seorang artis akan terlihat saat mereka merajuk pada lawan main mereka.

Dengan jumlah fans yang begitu besar, K-Drama akan bertahan di ranah pertelevisian dan perfilman Indonesia tanpa bisa diprediksi. Walaupun belakangan seri drama dari India sudah mulai dipelopori oleh ANTV tetapi imbasnya masih sedikit sekali.

Tak hanya ANTV, MNCTV juga sudah mulai mencuri start menaikkan rating dengan menghadirkan drama seri India. Kita lihat saja siapa yang akan bertahan. Telenovela sudah ditinggal penggemar dan televisi.

K-Drama sudah jarang ditayangkan televisi namun begitu mudah ditonton maupun diunduh melalui internet. Drama Seri India baru mulai menarik minat penonton Indonesia yang masih mencintai sinetron-sinetron tanpa edukasi produksi dalam negeri. Kita tunggu saja kapan perang ini berakhir! 

0 Response to "K-Drama Runtuhkan Telenovela"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel