Kokoh Melingkari Iman

Siapa yang tidak kenal Masjid Raya Baiturrahman? Masjid yang terletak di pusat kota Banda Aceh merupakan salah satu ikon wisata religi kota seramoe Mekkah. Sejarah mencatat, Masjid Raya Baiturrahman pernah dirusak oleh Belanda namun kembali direnovasi guna menarik simpati warga Aceh kala itu.

Masjid Raya Baiturrahman
Tetapi, warga Aceh tetap teguh dalam mengusir penjajah sehingga Belanda gigit jari dan harus pulang kembali ke negaranya tanpa bisa mengambil alih pemerintahan Aceh.

Masjid ini termasuk salah satu masjid terindah di Indonesia dan di Asia Tenggara. Dari tahun ke tahun, masjid ini sudah direnovasi sehingga semakin cantik dipandang mata.

Seseorang belum dikatakan ke Banda Aceh sebelum menginjakkan kaki di halaman Masjid Raya. Berfoto di depan Masjid Raya Baiturrahman lumrah dilakukan karena di sinilah tempat wisata dimulai. Masjid yang terletak di tengah kota menjadi salah satu tempat kembali jika tersesat di kota yang tergolong kecil ini.

Berulang kali saya menginjakkan kaki di Masjid Raya Baiturrahman, berulang kali pula memotret berbagai sudut. Saya tidak bisa menampik, masjid ini selalu menyisakan sesuatu untuk diabadikan. Sampai waktu tak tentu, kejayaan masjid ini akan abadi.

Bagi kami orang Aceh (muslim pada umumnya), masjid adalah tempat kembali. Semua masalah dapat terselesaikan di dalam masjid. Semua perkara dapat dipecahkan di dalam masjid.

Kedamaian selalu tertinggal begitu melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, maupun shalat wajib (jika berbarengan dengan waktu shalat lima waktu). Mengelilingi masjid ini pun terasa enteng karena kewajiban sudah ditunaikan.

Itulah keistimewaan kita – sebagai muslim – tidak ada batasan untuk beribadah di masjid mana saja. Berkunjung ke masjid, kita adalah tamu yang patut mengucapkan salam dengan cara tersendiri (salah satunya shalat sunnah).

Setelah shalat sunnah maupun shalat wajib. Ayolah kita berkeliling halaman masjid yang sejuk. Di bawah menara menjulang tinggi adalah pilihan terbaik untuk berteduh. Di bawah pohon palem yang semakin menanjak adalah tempat khusus untuk memandangi sekeliling masjid.

Jepret sana-sini adalah keharusan. Saya tidak hanya berpuas diri memotret suasana “sibuk” di perkarangan masjid kebanggan kami ini. Sesekali narsis juga tidak masalah. Berselfie dengan latar belakang menara Masjid Raya Baiturrahman yang terbengkalai.

Ya. Menara ini pernah sangat kokoh sebelum tsunami. Di antara kami pernah naik ke puncaknya, melihat seluruh kota Banda Aceh bahkan kepulauan Sabang nan indah. Sayangnya, bangunan di belakang saya ini sudah tidak seperti dulu lagi.

Setelah tsunami, pintu menara tidak pernah dibuka lagi untuk umum. Selintas berita, kerusakan yang terjadi cukup parah sehingga tidak dibiarkan masyarakat umum menginjaki tangganya mencapai puncak tertinggi.

Menara ini tetap kokoh. Dia pula saksi kengerian konflik dan tsunami Aceh. Menyaksikan referendum Aceh pada tahun 1999. Menemani ketakutan kami saat tsunami di 2004 silam. Dan beragam kisah lain yang tidak bisa diucapkan olehnya.

Kisah penting dari semua kisah manis itu adalah detik-detik saat azan berkumandang. Lima kali dalam sehari. Sekali di hari Jumat. Takbir di dua hari raya. Panggilan Ilahi adalah alunan merdu yang didengar menara ini.

Kokohnya menjulang udara juga menemani kokohnya iman ribuan langkah yang memasuki Masjid Raya Baiturrahman, tiap hari tanpa cela. Doa-doa yang dipanjatkan seakan-akan diamini oleh menara bisu ini. Tiada yang tahu. Niscaya seluruh benda di Bumi sedang bersenandung kepada-Nya.

Siapa pun Anda, jika ke Banda Aceh, sempatlah melirik menara “usang” ini. Kesepiannya tak bertepi. Kesaksiannya tak terdefinisi. Menari ini akan menjadi teman, smartfren bagi Anda; yang memperdengarkan syahdu bumi Aceh melalui caranya.

0 Response to "Kokoh Melingkari Iman"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel