Sudut Perempuan Dalam Iklan Rokok

Seberapa besar pengaruh iklan rokok? Saya tidak tahu apakah pernah ada lembaga yang melakukan survey mengenai pengaruh iklan rokok. Tampaknya, rokok tetap menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar laki-laki di Indonesia. 

Dikutip dari Kompas.com, Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, Untung Suseno Sutarjo, “Jumlah Perokok di Indonesia diperkirakan mencapai 53,7 juta orang dewasa.” Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Global Adult Tobacco Survey (GATS) tahun 2008 sampai 2013 terdapat lebih 85 persen orang dewasa Indonesia terkena paparan asap rokok di rumah, lebih dari 78 persen di tempat makan, dan lebih dari 50 persen di tempat kerja. 

Ini adalah survey yang dilakukan oleh GATS tanpa melibatkan populasi penduduk Indonesia secara keseluruhan, di daerah-daerah terpencil yang tak bisa didatangi tanpa menyeberang sungai, di pengunungan, di kota-kota kecil yang hanya dijadikan tempat wisata, di mana-mana, semua orang yang punya keinginan merokok dengan mudah membeli rokok karena produsen rokok mati-matian menjual barang dagangan mereka dengan mudah, tanpa kebijakan atau larangan dari pemerintah.

Tanya kenapa?

Saya sendiri tidak tahu nikmat apa yang disuguhkan rokok terhadap mulut, sampai seluruh organ tubuh lainnya. Saya hanya tahu, berdekatan dengan perokok, tubuhnya bau rokok dan bau rokok melekat pada baju saya setelah itu!

Rokok tidak mengenyangkan. Kita hanya makan asap dan “api” yang itu-itu saja. Sejatinya, rokok semakin mudah diperoleh karena produsen rokok berdiri kokoh di negeri kita. Lepas jam 21.30 WIB, iklan rokok berserak di semua televisi nasional (swasta).

Apakah ini mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia? Nyatanya, KPI diam saja dan iklan rokok jalan terus. Beragam model rokok terbaru terus diterbitkan dengan beragam variasi. Iklan pun dibuat lebih menarik dengan menggandeng perempuan seksi.

Iklan rokok yang muncul pun saling kejar antara satu produsen dengan produsen lain. Semakin larut, semakin bertebaran iklan rokok dan mengalahkan iklan susu bayi atau iklan makanan lain. Tak ada yang gubris. Ada yang yang protes. Toh, produsen rokok membayar mahal pada televisi yang mau menayangkan iklan mereka.
Sumber: Kompas.com
Baru-baru ini, Kemenkes RI menayangkan iklan layanan masyarakat mengenai bahaya rokok. Semula, iklan tersebut adalah seorang kakek tua yang terkena imbas besar dari merokok. Iklan pertama ini tidak begitu “menarik” bagi saya karena korban adalah perokok.

Namun, mulai 17 Mei 2015, Kemenkes menayangkan iklan layanan masyarakat yang lebih menarik. Seorang perokok pasif. Dalam iklan ini adalah seorang perempuan, tetapi jangan lupa, perokok pasif tidak hanya perempuan saja.

Saya mendapat dorongan yang kuat untuk menulis tentang ini. Bahwa iklan layanan masyarakat ini “terlambat” dibangun dari mati suri. Pemerintah (Kemenkes) baru bermain dengan iklan ini setelah gempuran iklan rokok di mana-mana, tak hanya di televisi maupun media online, di poster-poster dari kota besar sampai kecil terpampang nyata iklan rokok.

Siapa yang mau menurunkan poster laki-laki ganteng itu?

Iklan layanan masyarakat yang baru ditampilkan tidak cukup untuk “membunuh” perokok aktif. Pemerintah harus menekan lebih aktif dalang rokok. Saya tidak yakin, pemerintah berani meninabobokan produsen rokok yang semakin meraksasa.

Penonton yang menonton iklan layanan masyarakat tidak akan terbuai apalagi jika disanding dengan iklan rokok yang menampilkan mobil balap maupun perempuan seksi.

Usaha yang dilakukan pemerintah melalui iklan layanan masyarakat patut diberi apresiasi, sedikit saja. Selama pemerintah belum mampu memberantas iklan rokok yang semakin hari semakin bertambah, iklan layanan masyarakat ini sama saja.

Mau seperti apapun kesedihan, penderitaan yang ditampilkan oleh korban yang terpapar asap rokok, bungkus-bungkus rokok akan tetap dijual sesuka hati.

Selain iklan layanan masyarakat, Kemenkes jangan terlena di pusat dan bermain aman di atas kursi panas. Rokok satu-satunya pembunuh berdarah dingin yang semakin hari dikonsumsi oleh beragam usia. Sudah rahasia umum – tidak usah survey lembaga legal ­– perokok aktif di mana-mana itu ada, dari lulusan sekolah dasar sampai orang tua.

Ayolah, gunakan sedikit dana untuk terjun ke lapangan, ke daerah-daerah, berikan sosialisasi bahaya rokok. Pendekatan ini jauh lebih penting dibandingkan iklan layanan masyarakat yang muncul sekali-kali disela-sela sinetron melankolis dan tak masuk logika. Jika orang menonton, jika langsung diganti channel. Jika orang memahami, jika menganggap hanya sebagai skenario televisi. Apa yang harus dilakukan?

Tetap, sosialisasi!

Kemenkes – siapa saja dari mereka – datangkan seorang korban ke acara sosialisasi, jadikan mereka fasilitator. Bukti fisik lebih menyentuh menggambarkan kanker paru-paru akibat merokok, dibandingkan “bolong” di bagian leher pada iklan yang dianggap manipulasi bagi orang-orang “pintar” menelaah acara televisi.

Rokok lebih dari candu narkoba. Karena perokok tidak dipenjara. Karena rokok bebas dijual di mana suka. Karena pembeli rokok, boleh siapa saja! 

0 Response to "Sudut Perempuan Dalam Iklan Rokok"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel