Lebih Baik Bertanya Daripada Ditinggal Pesawat

Kepak sayap yang gagah di langit Sumatra menuju Jawa dalam sinaran sinar matahari yang mulai tenggelam dan gumpalan awan putih seperti permandani - Photo by Bai Ruindra
Bagaimana rasanya ditinggal pesawat?
Saya selalu khawatir tiap kali bepergian dengan pesawat terbang. Kekhawatiran ini wajar karena saya tidak mau “rugi” dan harus membeli tiket baru apabila pesawat dengan nomor penerbangan di tiket sebelumnya telah berangkat. Manusiawi ketakutan ini mendera saya – mungkin juga Anda – karena banyak alasan sehingga tidak mau mengeluarkan biaya lain. Dan saya, kebanyakan naik pesawat itu karena berkah dari menulis. Artinya, lebih sering “kantong kosong” selama perjalanan. Bisa dibayangkan nasib saya apabila tiket pesawat hangus dan saya nggak ada biaya lain untuk membeli tiket baru!

Bahkan, untuk orang berada – kaya – sekalipun tidak mau mengeluarkan biaya lain untuk membeli tiket baru karena biaya yang harus dikeluarkan lumayan besar. Harga tiket pesawat tak sama dengan angkot dalam kota. Satu tiket pesawat kelas ekonomi minimal – rata-rata – satu jutaan. Dengan biaya segitu besar, saya bisa hidup selama sebulan di kampung. Efek hidup penuh perhitungan beginilah jadinya. Namun perhitungan itu penting banget dari pada nyesal dan merugi di kemudian hari.

Akhir November 2015, saya kembali menuai berkah dari menulis dengan diundang ke Jakarta oleh salah satu perusahaan teknologi asal Taiwan. Keberuntungan ini bagaikan undian yang telah lama saya idam-idamkan. Keseringan menulis review produk mereka akhirnya undangan tersebut nyasar juga ke alamat email saya. Acara sehari semalam itu penuh dengan launching produk smartphone terbaru, mulai dari kelas menengah sampai premium. Gemerlap acara begitu menggugah hati anak kampung ini yang baru sekali duduk manis menyaksikan penyanyi terkenal mendendangkan lagu indah di panggung utama.

Lepas dari acara tersebut, saya tidak langsung pulang karena ingin menikmati suasana Ibu Kota. Dua hari jalan-jalan di Jakarta membuat saya senang bukan kepalang. Rasanya ingin teriak sekencang-kencangnya biar semua orang tahu saya telah sampai di Jakarta. Agak norak memang episode ini. Namun yang lebih noraknya lagi saat saya mengabarkan berita maha penting kepada saudara tempat saya numpang makan dan tidur.
“Kamu sih berlagak orang kaya, naik pesawat yang nggak pernah kami pesan!” ujar Yus begitu saya kasih tahu nama pesawat yang menerbangkan saya kembali ke Aceh.
Saya terkekeh sambil berujar, “Tiket gratis!”

Malam sebelum keberangkatan, saya mencari jalan keluar untuk sampai ke Terminal 2, Bandara Soekarno-Hatta, tepat waktu. Yus yang tidak pernah mengantar penumpang bahkan jika pulang ke Aceh pun belum pernah menggunakan pesawat “plat merah” ini, mengatakan dengan jujur tidak tahu jalan masuk ke terminal tersebut. Kemudahan internet saya pergunakan dengan baik.

Pertanyaan pertama saya ajukan kepada Google Maps!

Saya membuka aplikasi Peta milik Google yang telah terinstal otomatis di smartphone dengan penuh semangat. Saya cukup yakin bahwa Maps tidak akan membuat saya nyasar, apalagi di kota besar dan ke tempat yang tiap saat dikunjungi orang. Maps secara otomatis langsung membaca keberadaan saya dan cukup memasukkan tujuan untuk diarahkan melalui peta online ini. Tahap pertama, Maps cukup membantu kami dalam mengejar pesawat yang selalu on time tersebut.

Pagi Senin yang cerah, kami bergegas menuju bandara. Kami memilih berangkat sekitar pukul 9 pagi untuk mengejar jadwal keberangkatan pukul 12 siang. Perjalanan di dalam kota aman karena Yus paham betul jalan tikus. Tetapi saya tetap mengaktifkan Maps supaya kami benar-benar terarah. Masuk ke dalam tol menuju bandara, barulah Yus melirik Maps karena jalan tersebut memang “awam” baginya. Walaupun sesekali Yus nyelutuk, “Itu jalan ke terminal kita kok,” maksudnya ke Terminal 1 B.

Yus memutar kendaraan menuju Terminal 2 sambil sesekali bertanya sudah benar arah yang ditunjukkan oleh Maps. Kendaraan silih berganti berhenti di depan terminal keberangkatan. Dari papan nama tertulis bahwa kami telah memasuki Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Perasaan cemas selama perjalanan telah terobati karena kami tidak terlambat. Sayangnya, Yus memarkirkan kendaraan di depan Terimal 2 D yang ternyata bukan terminal untuk penerbangan dalam negeri. 

Pertanyaan kedua adalah pada orang di dekat tempat tujuan.

Maps saja tidak cukup. Begitu sampai ke dekat lokasi tujuan, sebaiknya bertanya pada orang yang berlalu-lalang. Apabila ada petugas keamanan misalnya, dia adalah sosok terhebat dalam menunjukkan arah.

Saya turun di depan Terminal 2 D dan tergopoh-gopoh menghampiri petugas bandara. Yus memaksa saya bertanya, katanya saya lebih bagus berbicara dengan orang asing dibandingkan dengannya. Padahal, baru kali ini saya ke Jakarta dan Yus telah puluhan tahun menetap di sini.  
“Maaf, Pak. Penerbangan domestik terminal berapa ya?”
“2 F, Mas,” ujar petugas muda itu sambil menunjuk ke depan. Di sana tampak papan nama Terminal 2 F dan kendaraan parkir silih berganti.

Seakan waktu cepat sekali berlari. Orang-orang di bandara terlihat tak ada yang jalan santai. Semua tergesa-gesa. Semua nggak peduli dengan sekitar. Semua sibuk membereskan barang bawaan. Semua memegang selembar kertas sebelum masuk ke dalam terminal keberangkatan.

Saya kembali duduk di samping Yus yang sepertinya lelah menyetir akibat kemacetan sepanjang jalan. Saya menunjuk ke Terminal 2 F dan dengan tersendat-sendat kendaraan kami melewati kendaraan lain yang sedang menurunkan penumpang.

Kendaraan kami terparkir. Saya turun. Yus juga turun. Takut salah langkah, saya kembali bertanya pada petugas yang berdiri di depan terminal keberangkatan itu.
“Maaf, Pak. Benar terminal ini untuk penerbangan domestik?”
“Benar. Silakan check in!” ujar petugas itu sambil mengarahkan tangan ke dalam. Dengan cepat Yus menurunkan bagasi dan kami pun berjabat tangan seadanya. Lambaian tangan saya pun telah sirna karena Yus bergegas meninggalkan bandara dan saya telah berhadapan dengan “robot” pendeteksi barang bawaan penumpang.

Saya bernapas lega setelah check in dan menerima boarding pass. Sisa waktu setengah jam lagi saya pergunakan untuk beli roti dan ke cuci mata ke toko buku.
Menikmati suasana Terminal Keberangkatan 2 F yang tidak begitu sesak; membeli sepotong roti dan cuci mata di toko buku - Photo by Bai Ruindra
Menatap jalan menuju ruang tunggu di ruangan yang sejuk dan sepi - Photo by Bai Ruindra
Pulang ke Aceh lewat sini, jelas dan nggak perlu tanya-tanya lagi - Photo by Bai Ruindra
Saran saya, apapun jenis smartphone milik Anda saat ini, peta online seperti Google Maps wajib terpasang. Pada orang yang lalu-lalang mungkin masih malu bertanya, tetapi pada Maps yang hanya kita sendiri yang tahu jangan ragu untuk bertanya. Bertanya pada Maps bahkan lebih akurat dengan penunjuk jalannya. Teknologi yang mudah ada baiknya dipergunakan dengan tepat dan efisien. Anda bisa bertanya kepada orang begitu sampai ke titik tujuan saat Maps telah berhenti menunjuk jalan. Apakah itu nomor rumah, nama tempat yang ingin disinggah dan lain-lain. Maps hanya memberikan gambaran umum saja namun sangat membantu mereka yang tidak ingin nyasar.
Screenshot Google Maps for Android. Penunjuk jalan menuju Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Tidak begitu detail karena dicaption baru-baru ini bukan saat melakukan perjalanan di November lalu - Caption by Bai Ruindra
Lebih baik bertanya dari pada kehilangan tiket pesawat. Saat seperti ini bukan saja soal waktu namun materi yang harus dipertaruhkan. Sebuah tanya – sesederhana apapun – tetap bermanfaat. Tak hanya orang saja, internet pun bisa menjawab semua pertanyaan selama Anda dalam perjalanan. Masih malu bertanya? Atau lebih memilih mutar-mutar dulu sampai budget terkuras baru mulai mencari celah. Stop! Bertanya tak hanya menghemat waktu namun tenaga dan biaya.
Malu bertanya jalan-jalan dulu deh nggak apa-apa, siapa tahu ketemu yang bening-bening! #gubrak. 
***

Guru Blogger | Email: bairuindra@gmail.com

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

38 komentar

avatar

Malu bertanya jadinya wet2 ya bai tp untung skrg udah canggih nisa tanya om google. Kl mau terbang kmn pun pasti udah di bndara lbh awal.

avatar

Kok saya bacanya malah jadi deg degan ya. Berasa baca cerpen dan deg degan endingnya bakal happy atau sad nih.. Bakal ketinggalan pesawat gak nih? Hehe

Google maps juga jadi andalan saya kalau bepergian mas. Rasanya aman aja gitu kalau setiap jalan ke tempat yang belum pernah didatangi, menyalakan google maps ��

avatar

Aku klo di bandara suka bingungan karena saking banyaknya terminal

avatar

Nggak kebayang kalo sampe ketinggalan pesawat...bisa nombok berapa jutaa...itu..

avatar

betul ya mas, kalau gak nyasar, aku juga kalau ke tempat baru selalu cerewet nanya

avatar

aku pernah hampir ketinggalan pesawat, berjuang ngos-ngosan hahaha

avatar

Iya wet-wet hana jelas. Benar tu dtang lebih cepat lebih bagus Meutia :)

avatar

Takut endingnya ketinggalan pesawat ya Mbak. Hehehe.

avatar

Saya juga bingung mbak, apalgi bandaranya besar sekali :)

avatar

Takut sekali Mbak Ika, bisa nangis darah hehehe.

avatar

Saya cerewet aja Mbak Tira daripada nyasar, hehehe.

avatar

Wah... pengalaman yang tdak mengenakkan ya Mbak. Smg tidak terulang kembali :)

avatar

saya pernah naik pesawat berdua aja sama anak, was2 banget. takut salah dan ketinggalan pesawat. karena biasanya ngekor suami. tp ternyata kalo kita baca petunjuk dg benar dan berani nanya, selamat sampai tujuan juga. :D

avatar

Pertama kali sendiri naik pesawat begitu juga. Saya nanya aja sm org-org biar gk salah ;)

avatar

wow kren pengalamannya !Menginspirasi untuk mau bertanya !
Semoga sukses lombanya !
Salam Kenal : http://iwansmtri.blogspot.co.id/2015/12/bni46-askbni-fitur-cerdas-bagi-orang.html

avatar

mantap sama dengan yang saya lakukan. bertanya, daripada ketinggalan pesawat hehe. walau awalnya malu, tapi akhirnya bersyukur, sebab bisa sampai Jakarta dengan selamat

avatar

Terima kasih Mas Iwan, supaya kita menjaga waktu menjadi lebih baik. Salam hangat ya :)

avatar

Iya Mas Sandi. Jangan malu bertanya, apalagi jika di kota besar :)

avatar

Saya kalo lagi di tempat asing mending tanya aja daripada nyasar, daripada nurutin malu ntar jadi rugi. Sukses ya Mas buat lombanya, pengin ikutan juga.

avatar

Pengalaman berharga ini Mas Ihwan. Saya paling takut kehilangan kesempatan dan materi.
Ayo mas ikut juga :)

avatar

Kudu hati-hati kalo mau naik pesawat mah, kalo gak rugi neo, nice pos :D

avatar

Halo, thanks ya. Semoga selamat dalam perjalanan :)

avatar

Wah, pengalaman yang berharga banget, kalo aku takut naik pesawat

avatar

Wah... sayang sekali kak, bisa tu jd pengalaman paling berharga klu takut naik pesawat :)

avatar

Membacanya jdi teringat fragmen2 di novel hehe... keren. Salam kenal. Boleh nnti mmpir ke blog sy. Smga sukses.

avatar

Wah kalo naik pesawat ini kita kudu harus rajin bertanya, kalo kita malas bertanya bisa bisa kita nanti nyasar dan salah tujuan -_-

avatar

Terima kasih banyak. Semoga bermanfaat ya :)

avatar

Betul Mas Afif, bertanya penting banget lho :)

avatar

Saya nasabah BNI, baru tahu kalau ada ini.hahaha... dan belum pernah gunakan. Kemarin pas ke Jakarta, saya juga banyak nanya mas. Hehhe

avatar

Budaya bertanya mmng penting sekali Mas, mantap kalau begtu bisa digunakan fasilitas #AskBNI :)

avatar

mesti sering2 bertanya kalau mau naik pesawat, takutnya kalau tdk, tau2 sudah sampai di zimbabwe

avatar

Bgeni ini yg ditakutkan Mas Darwin, ntar smp Zimbawe boro-boro mau pulang bahasa aja kagak ngerti. Yuk jgn malu bertanya :)

avatar

bener.. bener....

ane juga udah pernah ngalamin, waktu itu pertama kali dateng ke Soetta, ga tau terminal internasional.
nanya ke orang yang lagi duduk eh malah disuruh naik taksi yang bayarannya 50 ribu.

berhubung ane ga mau keluar modal, tanya lagi ke satpam, eh katanya tunggu aja, bentar lagi dateng bus bandara yang mau kesana

Oooo......

nah kan, makanya kalo nanya ga bakal rugi (tapi jgn kebanyakan juga kali, ntar yang ditanya marah :D)

bagus artikelnya mas, mengalir gitu kerenn...
semoga ane nanti bisa menulis seperti ini

salam bloggerhoki

avatar

Terima kasih telah berbagi. 50 ribu sangat berharga lho buat saya, bisa beli makan atau minum slama wktu menunggu boarding.
Ayo semangat menulis, yakin saja menulis itu sebagai sarana berbagi dan diterima manfaatnya banyak orang :'

avatar

Hahahah iya mas. Aku pernah tuh dulu nyasar di bandara yang sama. Harusnya ke terminal 3, malah turun di terminal 1. Untung masih keburu buat pindah tempat :p

avatar

Bai, sampai sekarang saya masih parno loh pergi ke Jakarta hehehehee... kebanyakan nanyak juga ntar malah keliatan udiknya :) Seneng loh bisa ketemu Bai yang datang jauh-jauh pas event kemarin itu. Semoga ada kesempatan berikutnya ya kita jumpa lagi.

avatar

Ini nih yang mesti disiasti Mas, kalau waktunya kepepet udahlah akan ditinggal pesawat hehehe

avatar

Saya juga belum berani sendiri klu di Jakarta, ke mana-mana mesti ada yang temani. Saya sih nanya aja daripada ntar salah.

Saya juga senang banget bisa ketemu langsung. Amin, nggak ada yang tahu ke depan kita bisa kopdar lagi :)