Kalau Jalan-jalan Lagi, Bawa Pulang Pesawat Terbang Ya

 
Salah satu momen berlibur bersama kedua sepupu di bibir pantai.
“Kalau jalan-jalan lagi, bawa pulang pesawat terbang ya!”

Haikal sudah mulai request oleh-oleh begitu tahu saya akan traveling. Haikal yang berusia tujuh tahun begitu peka dengan makna jalan-jalan. Tentu, sepupu saya ini telah dimanjakan pada hari-hari sebelumnya. Seiring waktu, usia yang bermain, banyak yang dilihat, merasakan banyak persoalan, anak-anak cenderung mudah meminta. Wajar sih karena saya juga memberi, seperti awal September saat saya ke Bali, Haikal sudah jauh-jauh hari minta dibelikan pernak-pernik yang dimauinya, padahal waktu itu saya belum memegang tiket ke Denpasar.


“Jangan beli baju lagi, helikopter atau pesawat!” Meskipun, saya juga membeli baju bermotif Bali. Memang, saya tidak membeli pesawat atau helikopter, namun sepeda unik yang saya dapatkan cukup melegakan hatinya. Jika sebelumnya oleh-oleh itu langsung patah-patah, berserak ke mana suka, kali ini Haikal benar-benar jeli menjaganya.
Keinginan terbesar Haikal adalah pesawat terbang tetapi sepeda ini tidak membuatnya kecewa.
Sekadar oleh-oleh saat berpergian, saya masih bisa menyanggupinya. Namun urusan pertanyaan dan pernyataan lain, saya hanya bisa menggantung tawa.

“Kapan ya bisa naik pesawat?”

“Mau naik pesawat!”

“Mau lihat pesawat!”

Imajinasi anak-anak terlalu manis untuk dilupakan. Haikal pun demikian. Terlebih saat satu orang saja di dalam sebuah keluarga pernah merasakannya, anak-anak cenderung mencatat bahwa keluarga mereka lebih hebat daripada teman-temannya. Haikal sudah pandai bersilat lidah saat bersama teman-teman, dengan bangga menceritakan bahwa saudaranya telah pulang naik pesawat.

Hati teriris mendengar keinginan Haikal untuk dapat naik pesawat. Bukan karena Haikal hanya seorang sepupu, lebih karena saya selalu ‘dibawa orang’ untuk naik pesawat. Salah satu berkah dari menulis yang tidak bisa saya abaikan. Namun, urusan saya dengan Haikal dan Wilda, kakaknya, tidak usai begitu saja. Sampai saat ini, saya memang belum bisa menerbangkan mereka ke mana-mana. Keliling-keliling kampung, jalan-jalan sore, maupun acara besar seperti 17 Agustus, mereka berdua kerapkali menjadi model terbaik dan penguras isi dompet.

Inilah yang menjadi liburan terbaik!

“Anak kamu ya?” tanya orang yang saya kenal begitu Haikal dan Wilda duduk manis di belakang. Saya sadar betul bahwa kedua kakak beradik ini sangat dekat secara personal. Apapun yang saya makan selalu saya sisakan untuk mereka berdua. Soal liburan – lebih tepatnya jalan-jalan santai ala kami– mereka selalu mengekor.

Saya membuat keduanya senang, itulah liburan terbaik. Bahkan, saya pernah berniat untuk membawa Haikal suatu saat nanti, naik pesawat seperti yang diimpikannya.

Jelang Buka Puasa
Hampir tiap tahun, jelang buka puasa adalah waktu terbaik untuk jalan-jalan. Ini liburan yang paling mengasyikkan di mana saya bisa ke tempat-tempat menarik bersama keduanya. Baik Haikal maupun Wilda begitu antusias tiap sore. Suntuk di rumah; main mobil-mobilan, nonton Upin & Ipin atau Adit, Sopo & Jarwo, main bola, main boneka, bertengkar, sampai menangis, jalan sore menjadi alternatif terbaik.

Jalan sore di bulan Ramadhan hampir sama dengan liburan pada musimnya. Suasana Aceh yang ramai jelang berbuka tidak hanya ditandai orang-orang yang lalu-lalang saja, para penjual menu berbuka pun terlihat di sepanjang jalan. Sesuai selera, kita bisa mampir ke salah satu lapak. Haikal yang tidak puasa sama dengan orang berpuasa, lihat es campur mau makan, kelapa muda juga mau, martabak pun mau. Ngidam mata yang sebenarnya tidak akan habis dimakan apabila dipaksa beli. Wilda yang puasa, jarang minta banyak karena selera makannya tidak seperti adiknya.

Liburan kami jelang buka puasa menuju ke tempat-tempat yang asyik untuk nongkrong. Haikal yang seleranya lebih mainstream sukanya lihat orang mancing, perahu yang terparkir atau pelabuhan yang belum dibuka untuk publik. Mau tidak mau, Wilda harus ikut daripada digebuki oleh adiknya.
Berdiri di perahu nelayan dengan rasa khawatir akan tenggelam.
Bibir pantai juga menjadi salah satu objek liburan kami. Deru ombak dan matahari yang terbenam menjadi dua hal yang menarik. Haikal dan Wilda sama dengan anak-anak lain, suka sekali bermain di lidah ombak yang ganas. Sebisa mungkin saya menjaga keduanya untuk tidak mandi laut. Di kiri dan kanan adalah orang lain, anak-anak, anak muda, maupun orang tua, yang sama memetik santai jelang berbuka.
Pelabuhan yang belum dibuka untuk publik ini menjadi objek menarik dalam mengambil foto.
Pekan Kebudayaan Aceh
Ini liburan yang sebenarnya jika mengambil makna dari definisi secara harfiah. Pekan Kebudayaan Aceh, Kabupaten Aceh Barat dilaksanakan akhir Agustus. Sudah jauh hari Haikal ribut sendiri untuk ke PKA. Apalagi saat anak tetangga sudah pulang, berbagi cerita dan kaos oblong yang telah disablon, Haikal makin getol memaksa ke PKA.

Liburan memang ajang untuk menghabiskan uang. PKA yang ramai sengaja kami curi waktu di pukul 10. Jam segini menjadi waktu terbaik untuk anak-anak berkeliling, saya juga lebih leluasa mengenalkan Haikal dan Wilda pada budaya Aceh, masuk ke stand polisi, keluar stand tentara atau memakai seragam pemadam kebakaran. Nilai edukasi yang tinggi di PKA menjadi liburan paling menarik selain isi dompet yang terkuras perlima menit sekali. Es krim yang sudah dimakan sekali, minta lagi tiga puluh menit kemudian. Baju tentara yang dijual lebih mahal, wajib beli jika tidak Haikal akan ogah ngapa-ngapain lagi dan tidak mau diajak jalan ke mana-mana. Haikal yang tidak mempan dirayu juga meminta jam tangan antik. Sesi akhir dengan makan bakso dua porsi. Wilda lebih banyak menurut setelah dipasang inai dan kaos oblong dengan tulisan PKA.
Wilda sedang dipasang inai di PKA dengan senangnya.
Liburan di PKA menjadi sebuah keharusan bagi saya. Anak-anak yang terbiasa dibawa ke tempat-tempat seperti pantai maupun taman bermain lainnya, mesti dikenalkan dengan nilai-nilai budaya dan edukasi. PKA yang dilaksanakan di daerah cukup baik untuk memupuk kesadaran kepada anak. Angan-angan anak-anak, juga Haikal, tentu ingin memegang senapan laras panjang, pegang pistol, lihat polisi secara langsung, dokter dengan senyumnya, maupun aktivitas lain. Praktik langsung ini mendekatkan anak-anak dengan kehidupan yang sebenarnya.

Awalnya, Haikal sangat malu-malu untuk menyentuh senapan di stand tentara. Wajar karena ramai anak-anak lain dan orang tua. Bujuk rayu saya akhirnya membuat Haikal mau mengangkat senapan dan berujar, “Berat sekali!!!”
Akhirnya berani juga bergaya dengan laras panjang.
Di stand lain, Haikal sudah lebih berani dan antusias. Saya kenakan baju karet yang biasa dipakai oleh tim sar, Haikal tidak lagi celingak-celinguk. Saya dudukkan di atas perahu dan memberikan dayung, Haikal sudah mau bergaya.
Ayo, siapa yang butuh pertolongan!
Haikal berubah jadi banyak tanya. Siang hari yang semakin panas tidak membuatnya lelah seperti Wilda. Haikal bahkan memutar balik melihat patung polisi dan tentara yang menjadi ikon di depan stand masing-masing. Liburan ini tidak hanya menumbuhkan keingintahuan tetapi juga keberanian. Materi dan tenaga yang terkuras tidak seberapa dibandingkan dengan tawa yang terlihat jelas di wajah kedua anak ini.

Saya memang bukan orang tua mereka, sejenak bersama keduanya membuat hari-hari saya berbunga dan lelah karena aktivitas seharian tidak lagi terasa. Bagi saya, anak-anak butuh liburan yang memiliki nilai edukasi selain bermain saja. Banyak kisah liburan saya bersama kedua kakak beradik ini namun tidak cukup untuk diceritakan di sini.

Mungkin, saya benar bisa liburan bersama Haikal suatu saat nanti, menonton MotoGP dan kemenangan Marc Márquez yang memesonanya tiap minggu. Haikal tak akan ke mana-mana sebelum MotoGP usai di hari Minggu. Ia juga mengoleksi kaos yang sama dengan Márquez yang dipakai saat menonton MotoGP!
Haikal yang bergaya seperti Márquez, semoga suatu saat kita bisa menyaksikannya.

0 Response to "Kalau Jalan-jalan Lagi, Bawa Pulang Pesawat Terbang Ya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel