Guru Honor, Mereka yang Bodoh Tidak Beruntung

Begitu sebut pria setengah baya yang tidak kuketahui namanya. Aku diam dalam alunan lagu-lagu dangdut Aceh di perjalanan pulang dari Banda Aceh. Ingin sekali aku hantam mulut pria itu dengan pedang tertajam abad ini. Namun, aku tidak mampu berkata banyak. Aku juga tidak menaikkan ke permukaan bahwa diriku juga seorang guru honorer. Nanti, aku akan semakin terhina di matanya, aku akan disebut ‘mereka’ yang bodoh dan tidak beruntung, tidak seberuntung dirinya yang telah mengabdi puluhan tahun sebagai pegawai negeri sipil. Dan aku, tidak meratapi nasib karena ocehan rendahan dari dirinya yang menua dan berpendidikan tinggi. Bagiku, dia hanya bergurau atas dasar kebodohan dirinya sendiri yang belum kesampaian.

Pembagian hadiah lomba blog yang diselenggarakan untuk siswa kelas XII, lomba diadakan seadanya dan hadiah berupa buku-buku koleksi pribadi.

Tak sengaja, obrolan pria setengah baya itu dengan temannya yang lama tak bertemu. Asap rokok mengepul ke seluruh mobil yang kami kendarai. Santai sekali pria setengah baya berpendidikan tinggi dengan status pegawai negeri ini membuat batuk kepada balita di depan kami. Balita itu berkali-kali mengeluh hidungnya perih namun tak peka juga pria setengah baya itu untuk iba di ego dalam dirinya. Aku menarik masker putih dari dalam ransel di depan, kututup mulut dan hidung untuk tidak terinfeksi penyakit dari pria setengah baya itu. Sakit hatinya boleh saja kudengar kepada ‘mereka’ yang bodoh dalam status guru honorer.

Bermula dari sebuah tanya dari temannya yang lebih muda, pria setengah baya itu mulai menggebu-gebu dalam kenaifan hatinya. Tanya temannya, “Bang, tahun ini apakah tidak dibuka tes CPNS?” tanya yang lumrah dan biasa saja – mungkin – karena temannya itu bekerja di swasta dan pria setengah baya itu sebagai pegawai negeri sipil, dianggap lebih paham isu ini.

Emosi meledak, asap rokok mengepul ke seluruh mobil, pria setengah baya itu menjawab, “Kuota CPNS sudah diisi oleh guru-guru honorer yang bodoh itu!”

“Bagaimana maksudnya itu, Bang?”

“Guru-guru bodoh itu minta diangkat jadi CPNS, maka tak ada alokasi bagi mereka yang pintar baru lulus kuliah ikus tes!”

“Mana bisa, Bang, mereka disebut bodoh?”

“Jika tak bodoh mereka sudah lulus CPNS waktu itu tes!”

Kan tes CPNS sudah tak dibuka tiap tahun, Bang!”

“Ya mereka bodoh kenapa tak lulus waktu itu?”

Semburat emosi yang mendalam, oh, bukan, semburat itu adalah sifat merendahkan dari nada, mata dan semua yang kubaca dari pria setengah baya itu. Dadaku berdetak tak keruan. Aku mendekam dalam amarah yang meledak ke mana-mana. Aku tak berhak disebut bodoh olehnya. Aku tidak mau disebut tidak beruntung oleh dirinya yang sama sekali tidak mengetahui apa yang kurasa dan kualami bahkan prestasi apa saja yang pernah kuraih, di luar batas aku sebagai guru honorer yang bodoh menurutnya.

Perjalanan kami masih panjang untuk sampai ke Meulaboh, Aceh Barat. Lima jam dalam dekapan kata-kata pria setengah baya itu akan menjadi candu yang memabukkan. Sejujurnya, aku sudah tidak tahan, aku ingin menghempaskan sepi ke dalam tidur, aku ingin membunuh sedih dalam mimpi-mimpi, namun suara terbahaknya membuatku terbengkalai dalam mata terbelalak. Aku sangat ingin melepaskan diri dari cengkraman emosi yang dia bangun sendiri untuk menjatuhkan guru honorer yang bodoh dalam pandangannya. Aku sengaja diam karena tidak ada pembelaan yang mesti aku curahkan ke dalam semua amarah yang barangkali tak sengaja dilontarkannya.

Aku guru honorer, lalu aku harus berbuat apa sampai diakui oleh ‘mereka’ yang mengatasnamakan ‘pria setengah baya’ dengan pengalaman hidup lebih banyak dari kami. Keberuntungan hidup tak selalu berada di sisi keajaiban menjadi pegawai negeri sipil dengan kebingungan tiap bulan. Guru honorer malah tidak ambil pusing saat gaji tidak ada karena sudah segitu hasil jerih payahnya. Tak ada urusan dengan bank, tak ada ketukan pintu dari penagih utang, tak ada keelokan tubuh dengan pakaian mewah dengan bayaran bulanan agar lunas. Namun hidup seadanya, pasrah kepada keberuntungan tidak berada dalam garis hidupku.

Aku guru honor, lalu aku menulis dan melanglang buana ke tanah basah milik mereka yang bahagia tanpa mengeluarkan uang dari hasil mengemis sebagai guru honorer. Aku tidak tahu bagian mana dari keberuntungan yang belum kuraih. Aku menari di atas tanah basah karena segitulah lingkaran yang mampu kutarikan. Aku melangkah di jejak langkah setapak seukuran tubuh, karena begitulah kesanggupan yang kudapatkan.

Aku bodoh? Aku tidak tahu. Aku tidak memahami dengan baik ucapan pria setengah baya itu. Akan diriku yang kini berada di titik nadir, sebentar ditendang akan jatuh ke jurang malapetaka, maka sebenarnya ucapan pria setengah baya itu benar adanya. Kenapa aku mengatakan demikian, karena tanpa kusebut pun  di mana-mana posisi guru honorer adalah ‘hina’ dalam berbagai kacamata. Anggapan yang bertele-tele, keberuntungan yang tak ada, menjadi sebuah petaka untuk guru honorer di mata ‘mereka’ yang sempurna cara hidupnya. Namun, begitu guru honorer berprestasi di luar pagar sekolah, adalah sebuah ‘ejekan’ bahkan dianggap angin lalu karena guru honorer itu ‘tidak bisa apa-apa’ melainkan mengajar banyak jam di sekolah – bahkan melebihi guru pegawai negeri itu sendiri, dan juga mengajar tidak sesuai dengan ijazah strata satu yang dimilikinya.

Kebodohan yang kubuat sebagai guru honorer karena tidak seberuntung mereka yang telah menjadi pegawai negeri. Aku tidak mau membela diri karena benar saja kami adalah ‘mereka’ yang dilingkari oleh kebodohan bertubi-tubi. Meski, apa yang telah kuperbuat bersarang di ingatan dalam waktu lama tetapi kondisi di mana ‘kamu belum beruntung’ karena tidak memiliki slip gaji adalah petaka bagi mereka yang tiap bulan menandatanganinya.

Pria setangah baya itu mungkin sedang tertidur nyenyak saat ini, tetapi bagiku, perkataannya adalah jawaban atas sendu berkali-kali. Aku bodoh, kami bodoh, lantas bodohkah anak didik yang diajarkan mata pelajaran oleh guru honorer? 

0 Response to "Guru Honor, Mereka yang Bodoh Tidak Beruntung"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel