Wednesday, December 20, 2017

A Taxi Driver: Film ‘Sederhana’ dengan Banyak Penghargaan

Dibuka dengan sedikit aksi ‘curang’, A Taxi Driver mengalir menjadi film yang tak ingin ditinggal begitu saja. Begitulah pelaku dunia hiburan Korea Selatan, seolah tak ingin bermanja dengan satu tema universal – asmara – sehingga film yang dilahirkan sangat beragam. Apik dan menawan tentu saja. Saya hanyut dalam scene pembuka dengan sebuah kecurangan tersebut; mencuri rejeki orang yang kemudian membawa malapetaka!
Salah satu scene dalam A Taxi Driver - cloudfront.net
Song Kang Ho sangat tidak menarik jika selama ini kita hanya terbuai dengan tokoh utama drama Korea Selatan, yang mulus bagai persolen. Kang Ho adalah pria gemuk yang tidak tampan bahkan memiliki daya tarik lain dari segala bentuk fisiknya. Namun, sebagai Kim Man Seob, sopir taksi yang mengalami krisis keuangan panjang setelah istrinya meninggal, menjadikan sosok Kang Ho sebagai tokoh penting dalam kesuksesan film ini. Sopir taksi yang selalu sepi penumpang ini harus membiayai hidupnya dan juga anak perempuannya – 11 tahun – yang selalu ditinggal sendiri di rumah kontrakan, dengan pemilik rumah semena-mena terhadapnya.

Mula dari kericuhan hatinya itu, saat Man Seob ingin membelikan sepatu untuk putrinya. Di sisi lain, rongrongan pemilik kontrakan juga menjadi sebuah ‘teguran’ panjang untuk dompetnya. Mulailah babak pilu dalam sebuah dialog di warung makan, di mana sopir taksi berkumpul untuk makan siang. Man Seob mencuri cerita dari meja lain, lantas cerita itu yang kemudian mengantarnya berkenalan dengan penumpang berharga. Turis Jerman yang tak lain adalah seorang wartawan, Jurgen Hinzpeter, diperankan Thomas Kretschmann seorang bule yang telah banyak bermain dalam film lintas negara.

Man Seob mencuri start menuju Hinzpeter yang telah memesan taksi sebelumnya. Pendengarannya yang peka, iming-iming ongkos yang menggiurkan, Man Seob menarik pedal gas dengan kencang sekali menuju 100.000 won. Senang hati Man Seob berubah senyap saat pada scene-scene berikutnya. Man Seob yang tidak tahu-menahu, memacu kendaraan reotnya menuju Provinsi Gwangju pada musim dengan daun-daun berterbangan di Mei tahun 1980. Taksi hijau miliknya menembus jalanan sepi menuju tempat yang diinginkan oleh Hinzpeter. Wartawan yang bosan dengan berita bahagia di Jepang menapak tilas ke Korea Selatan dengan satu tujuan utama; membuka tabir kebengisan militer di Provinsi Gwangju, dan itu tidak diketahui oleh Man Seob. Pria gemuk itu hanya tahu dirinya mengantarkan Hinzpeter ke tempat yang jauh dari Seoul, lalu pulang dengan membawa ongkos taksi yang lebih dari cukup untuk membeli sebuah sepatu cantik lalu diberikan kepada putrinya yang sedang bahagia menanti!
Hinzpeter seorang wartawan Jerman yang meliput kekejaman militer di Gwangju - blogspot.com
Jang Hoon mengarahkan A Taxi Driver menjadi film yang lucu dan sedikit ‘konyol’ tetapi menegangkan pada beberapa bagian. Eom Yu Na menulis dialog-dialog yang menegangkan bahkan mengelikan antara Man Seob dan Hinzpeter. Sopir taksi hampir paruh baya itu seolah berbicara dengan dirinya sendiri dalam dialog bahasa Inggris yang terkumur-kumur. Hinzpeter yang tidak mengerti dan bahkan terjadi kesalahpahaman antara keduanya, membawa kepada pertengkaran kecil yang kemudian menggunung saat mereka dihadang oleh jalan yang ditutup. Man Seob sempat menghentikan taksinya, berdialog lagi dengan Hinzpeter dalam bahasa isyarat panjang namun juga tidak curiga apa yang terjadi di depan matanya nanti. Hinzpeter adalah wartawan yang membidik rahasia sampai ke ubun-ubun hatinya. Tak terbersit sedikit pun bahwa mereka akan menuju ke medan ‘perang’ kepada sopir taksi yang emosi dan meringis sendiri. Man Seob juga seakan bodoh dengan kamera yang dipegang wartawan itu; karena kembali lari kepada berapa won yang akan ia terima.

Kota yang sepi. Beberapa orang yang mereka lewati terdiam dan menuduk lesu. Pintu rumah dan toko-toko tertutup rapat. Lalu pintarnya Man Seob naik ke permukaan, ia tahu telah ‘ditipu’ oleh Hinzpeter dengan 100.000 won. Perdebatan panjang terjadi saat mereka bertemu dengan mahasiswa yang sedang arak-arakan di jalan. Mata hati Man Seob baru terbuka lebar saat bertemu Gu Jae Shik yang diperankan dengan singkat namun apik oleh aktor tampan Ryu Jun Yeol. Jae Shik pada beberapa bagian menjelaskan apa maksud Hinzpeter kepada Man Seob. Emosi meledak tetapi tidak bisa kembali dengan mudah karena Hinzpeter belum membayar ongkos taksinya.

Film yang diproduksi dengan total biaya 15 juta won ini membawa cerita dari sudut pandang seorang sopir taksi. Sudut yang unik dan menyentuh dengan keinginan-keinginan Man Seob untuk segera kembali ke Seoul; karena ia takut telah meninggalkan putrinya seorang diri. Man Seob lantas goyah mengingat ‘sepatu’ untuk putrinya yang belum dibeli. Sopir taksi itu memutar haluan untuk kembali pulang ke Seoul dengan meninggalkan Hinzpeter dalam medan pertempuran. Nama juga film, dan Man Seob adalah tokoh utamanya, maka ia harus kembali ke ‘arena’ di mana ia seharusnya berada.
Wawancara dengan Jae Shik, mahasiswa yang bisa berbahasa Inggris - blogspot.com
137 menit terasa cepat di awal namun tersendat-sendat di bagian pertengahan sampai akhir. Meski demikian, tidak membuat film ini terasa bosan, setiap babak dihadirkan dengan menawan sehingga memunculkan bekas berkepanjangan. Misalnya, babak di mana Man Seob terpaksa ‘tanpa sengaja’ kembali ke Gwangju karena alasan seorang nenek meradang di jalanan begitu tahu anaknya masuk ke rumah sakit. Alih-alih Man Seob bisa kembali ke Seoul, ia harus tertahan di rumah sakit yang sesak dengan ‘korban’ kekerasan militer. Ia kembali bertemu dengan Hinzpeter, Jae Shik dan sopir taksi baik hati Hwang Tae Sool, diperankan oleh Yoo Hae Jin. Kemudian sopir taksi baik ini yang mengantarkan cerita berbeda dalam sebuah pertolongan pulang Man Seob dan Hinzpeter ke Seoul.

Ada saat, di mana perdebatan panjang kembali antara Man Seob dengan Hinzpeter yang masih ingin segera pulang. Perdebatan kecil itu menjadi awal sebuah kerusuhan atau lebih tepatnya penangkapan mereka oleh intel militer berkuasa. Man Seob sempat pulang kembali ke Seoul setelah mengambil ongkos taksi – setengah bagian dari yang dijanjikan – melalui jalanan sepi. Sopir taksi ini kemudian memutar haluan setelah di suatu rumah makan melihat pemberitaan yang tidak benar terhadap apa yang terjadi di Gwangju. Ia memutar kembali stir menemui Hinzpeter yang pada saat itu tengah berjuang meliput berita bersama Jae Shik.
Ryu Jun Yeol memerankan mahasiswa Jae Shik yang banyak membantu Man Seob - hancinema.net
Akhir cerita yang tragis, bisa saya sebut, film Korea Selatan memang seleranya selalu begitu. Jae Shik meninggal setelah menerima pukulan bertubi-tubi dari militer berkuasa, Tae Sool dan beberapa sopir lain ikut menjadi korban saat menghalau pasukan militer yang mengejar Man Seob dan Hinzpeter pulang ke Seoul. Bagian akhir yang bagai dipacu kencang membuat degup jantung seakan berhenti. Man Seob melewati banyak rintangan namun ia lantas bertemu dengan seorang militer baik hati di salah satu pos penjagaan. Karena seorang militer ini, Man Seob berhasil membawa Hinzpeter kembali ke Seoul dengan berita menegangkan di Provinsi Gwangju.

Barangkali, ini bukan lagi menjadi spoiler tetapi cerita singkat dari kemasan menarik film yang rilis pada 02 Agustus 2017. Bisa saya sebut, Korea Selatan ‘menutup’ akhir tahun dengan film sederhana – kemasannya – namun berhasil menarik penonton lebih dari 12 juta orang. Bahkan di hari ke-11, A Taxi Driver telah meraih 7 juta penonton dan dalam 5 hari meraup 4 juta penonton! (liputan6.com, 14/08/2017).

Film yang meraih keuntungan sampai USD 88,4 juta ini berhasil mempertahanan box office dan mengalahkan film-film lain yang dibintangi aktor populer dan tampan. Kesuksesan film ini di negeri asalnya membawa pengaruh besar, salah satunya menjadi perwakilan Korea Selatan ke ajang bergengsi dunia, Academy Awards (OSCAR) ke-90 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik. Presiden Korea Selatan, Man Jae, juga ikut menonton film yang diangkat dari kisah nyata ini. (bintang.com, 22/08/2017).

Mengenang Sejarah dari Kacamata Orang Biasa
Sejarah, menyebutnya saja seperti nyesak di dada. Namun tanpa sejarah maka tanpa kita. Sebuah film kemudian menjadi saksi sejarah yang kelam jika diceritakan dengan sudut pandang seperti yang umum kita tonton selama ini. Namun, sejarah kelam itu bisa menjadi tontonan yang ‘ringan’ manakala dikemas dari sudut pandang yang berbeda; lain daripada yang lain.

A Taxi Driver adalah kemasan unik dan menarik itu. Jang Hoon menghadirkan sosok Man Seob dengan sederhana namun begitu kuat dalam sosok sebenarnya. Ia memegang kendali dari keseluruhan film tersebut sampai kemudian penonton terkesima. Kacamata sejarah dari sudut pandang orang biasa, yang bisa disebut nggak penting tetapi sebenarnya dia memiliki peran yang cukup penting. Sosok Man Seob yang mengantarkan berita masuk ke media massa dan mengakhiri konflik di Gwangju. Tanpa pedal gasnya dalam menghalau pos-pos militer dan jalanan sepi, maka mungkin saja kisruh di daerah itu terdiam begitu saja.
Man Seob sedang menghitung pemasukannya - korea.iyaa.com
Orang biasa yang dianggap tak ada sebenarnya adalah saksi bisu dari sebuah kisah, sejarah maupun perjalanan panjang lainnya. Tinggal kita mencari orang-orang ini lalu menghadirkan kisah menarik untuk dipersembahkan kepada pembaca maupun penonton. Penulis dan sutradara film ini saya kira sangat piawai mencari tokoh penting tak kasat mata tersebut. Semua bermula dari wartawan Jerman yang ingin kisahnya diabadikan dalam bentuk film. Memang, di akhir film disebut bahwa Hinzpeter ‘mencari’ sahabatnya, si sopir taksi Man Seob yang sampai kini tak kunjung ditemuinya.

Man Seob adalah kacamata biasa yang membawa penerangan kisah itu. Ia datang tanpa sengaja, terdesak waktu dan terbuai oleh uang karena alasan kebahagiaannya yang tertunda. Kisah sederhana ini membingkai film yang benar-benar menegangkan dan menghibur dalam tiap babak. Penonton akan terkesima karena alur cerita yang tak biasa – tak banyak arak-arakan pendemo – pemandangan indah Korea Selatan, dan juga ketegangan dan kesedihan di akhir cerita. Memang tiada bahagia yang terlihat pasti tetapi film ini cukup baik dalam penggarapan tema biasa menjadi luar biasa.
Film ‘Sederhana’ dengan Banyak Penghargaan
Sebenarnya, tema film ini cukup berat tetapi karena berangkat dari sudut pandang yang berbeda, menjadikannya begitu ringan dan enak dinikmati. Man Seob hadir sebagai sosok yang santai, kadang-kadang emosional, tetapi bisa membuat tawa di beberapa scene. Meski begitu, A Taxi Driver adalah film ‘sederhana’ yang merangkai banyak penghargaan selain berkompetisi di OSCAR. Di luar nominasi di berbagai kategori, berikut ini saya sertakan penghargaan yang berhasil di bawa pulang oleh Kang Ho dan tim film taksi hijau ini.

Buil Film Awards ke-26
Ajang penghargaan yang diadakan oleh Busan Ilbo ini memberikan penghargaan tinggi kepada A Taxi Driver. Di antara penghargaan yang diterima adalah Best Film, Best Actor untuk Song Kang Ho, dan Buil Readers’ Jury Award untuk Jang Hoon. Meski di beberapa kategori seperti Best Cinematography, Best Music, Best Art Direction, tidak berhasil membawa pulang piala, tetapi film ini tetap mencuri perhatian di ajang tersebut.

Fantasia Internasional Film Festival ke-21
Dalam ajang penghargaan internasional ini, A Taxi Driver hanya menerima satu kemenangan saja untuk aktor yaitu Song Kang Ho (Best Actor). Diliriknya oleh penghargaan yang berada di Montreal, Kanada, ini memberikan dedikasi tinggi terhadap film tersebut yang tidak hanya jaya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri sekalipun.

Grand Bell Awards ke-54
Ajang penghargaan yang juga bernama Daejong Film Award diadakan oleh The Motion Pictures Association of Korea sejak tahun 1962. Ajang penghargaan ini memberikan nominasi cukup banyak kepada A Taxi Driver namun hanya dua saja yang meraih kemenangan, Best Film dan Best Planning. Di antara nominasi yang tidak berhasil dibawa pulang piala antara lain Best Director (Jang Hoon), Best Actor (Song Kang Ho), Best Screenplay (Eom Yu Na), Best Music (Jo Yeong Wook), Best Art Direction (Cho Hwa Sung dan Jeong Yi Jin), Best Costume Design (Cho Sang Kyung), Best Cinematography (Go Nak Seon), Best Editing (Kim Sang Bum dan Kim Jae Bum), dan Technical Award.

Korean Association of Film Critics Awards ke-37
Penghargaan yang diberikan oleh Korean Association of Film Critics ini memberikan dua kemenangan untuk A Taxi Driver, yaitu Top 10 Films dan Best Supporting Actor untuk Yoo Hae Jin.

The Seoul Awards
Penghargaan yang baru pertama kali diadakan ini diadakan oleh Sports Seoul dilaksanakan di Grand Peace Palace, Kyung Hee University, memberikan kemenangan kepada Song Kang Ho sebagai Best Actor dan nominasi kepada A Taxi Driver di Grand Prize, yang selanjutnya dimenangkan oleh Anarchist from Colony.

Asian World Film Festival ke-3
Penghargaan ini berada di Los Angeles, California yang disponsori oleh Sher-Niyaz. A Taxi Driver menang di tiga penghargaan, yaitu Special Mention Award untuk Song Kang Ho, Best Picture dan Humanitarian Award untuk film itu sendiri. Menariknya, penghargaan ini menjadi batu loncatan untuk dikenal lebih luas oleh masyarakat dunia.

Blue Dragon Film Awards ke-38
Penghargaan ini bisa disebut sebagai ajang yang cukup bergensi bagi perfilman Korea Selatan. Penghargaan ini diadakan oleh Sports Chosun yang merupakan satu grup dengan Chosun Ilbo. Penghargaan ini memberikan piala kepada aktor maupun artis yang telah memberikan dedikasi terbaik di industri hiburan negara itu. A Taxi Driver membawa pulang 4 piala dari beberapa nominasi. Piala yang berhasil dibawa pulang adalah Best Picture, Best Actor (Song Kang Ho), Best Music, dan Audience Choice Award for Most Popular Film. Sedangkan nominasinya antara lain Best Director, Best Supporting Actor, Best New Actor (Ryu Jun Yeol), Best Screenplay, dan Best Art Direction.

Director’s Cut Awards ke-17
Penghargaan ini memberikan piala kepada A Taxi Driver pada dua kategori yaitu Special Mentions dan Best New Actor untuk Choi Gwi Hwa.

Korean Culture & Entertaiment Awards ke-25
A Taxi Driver membawa pulang piala Best Picture di ajang penghargaan ini, dan Jang Hoon membawa pulang piala Best Director.

Korea World Youth Film Festival ke-17
Jang Hoon membawa pulang piala Favorite Director dan Song Kang Ho membawa Favorite Actor for Middle-Aged Actor.

Korean Film Producers Association Awards
Penghargaan ini memberikan piala kepada Song Kang Hoo sebagai Best Actor berkat penampilan memukaunya dalam A Taxi Driver.
Tae Sool sopir taksi baik di Gwangju - thegrandcinema.com
Dengan banyak penghargaan yang diterima oleh A Taxi Driver, saya pikir tidak masalah sebuah film tanpa iming-iming asmara dan cinta ala remaja. Asalkan penggarapan yang pas, sudut pandang yang berbeda maka ia akan jadi beda dari biasanya – kebanyakan film yang beredar di pasaran. Film ini menjadi contoh yang benar-benar nyata, tanpa didukung oleh aktor yang digilai remaja masa kini, terbukti mampu menjadi film laris dan meraih banyak penghargaan, khususnya untuk pemain utama di mana dirinya tak setampan yang diidolakan oleh pemuja drama Korea Selatan.

Pesan Moral yang Tersirat
Artinya; setiap orang tua akan memberikan yang terbaik untuk anaknya dan selain itu jangan mudah tergiur dengan materi berlimpah!

Man Seob tak lain sosok yang rela berkorban untuk putrinya. Niatnya adalah membeli kado untuk putrinya berupa sebuah sepatu. Namun perjalanan panjang mendapatkan sepatu itu membawa dirinya kepada apa yang selama ini tidak diketahuinya. Man Seob seolah berpikir bahwa hanya dirinya yang susah dan kesulitan ekonomi. Namun, begitu berada di Gwangju ia merasa semuanya telah sama bahkan lebih berat. Man  Seob melihat sisi-sisi berbeda dari kehidupan dalam konflik. Maka saat itu, ia ingin segera pulang, ingin segera menemui putrinya, ingin segera melindungi putrinya, ingin segera memberikan semua apa yang dimaui putrinya sebelum semua usai, yaitu kebahagiaan.

Pesan moral yang pertama ini mungkin bagian terpisah dari kunci sejarah seorang sopir taksi. Tetapi, pesan ini tersampaikan kepada penonton melalui kegusaran hati Man Seob dan keegoisannya ingin segera kembali ke Seoul untuk menemui putrinya, setelah melihat konflik tak terselesaikan di Gwangju. Man Seob menggambarkan, tiada orang tua yang rela melukai anak-anak mereka.

Tergiur dengan uang adalah hal yang benar-benar manusiawi. Apalagi, saat kebuntuan melanda maka tiada cara untuk berpikir jernih dan apapun akan dilakukan untuk ‘meneguk’ bahagia. Man Seob ‘mencuri’ start sopir taksi pesanan karena sebuah sepatu – materi. Kemudian, karena materi menggiurkan itu perlahan-lahan membawanya kepada peristiwa yang sulit untuk kembali. A Taxi Driver mengisahkan bagaimana militer membungkam siapapun agar tidak membawa berita keluar dari Gwangju. Di satu sisi, keputusan mendadak seperti yang dialami Man Seob tidak ada salahnya. Di sisi lain, keputusan demikian akan menyengsarakan. Namun untuk Man Seob, saya bisa menyebut bahwa sejarah yang memanggil tokoh ini – sopir taksi sebenarnya – untuk membuka tabir tersembunyi dalam bingkai militer yang membantai warga sipil dengan kejam.

Akhir yang Pilu
Film A Taxi Driver cukup berani mengangkat kisah nyata setelah sekian lama. Hinzpeter adalah sosok yang membuka kisah itu ke seluruh dunia namun wartawan Jerman ini kehilangan Man Seob sepanjang masa. Di akhir cerita, dikisahkan bahwa sopir taksi yang membawa Hinzpeter ke Gwangju sejatinya bukanlah bernama Man Seob yang mengenalkan diri sebagai Kim Sa Bok. Kim Man Seob menyembunyikan identitas dirinya kepada Hinzpeter entah karena alasan apa. Mungkin karena sebuah ketakutan panjang setelah menyaksikan kisah tragis di Gwangju, mungkin juga karena di awal dirinya bukanlah sopir taksi yang dipesan Hinzpeter untuk membawanya ke Gwangju.

Hinzpeter di bagian akhir film datang kembali ke Seoul setelah Gwangju aman. Namun wartawan tersebut tidak menemukan Man Seob atau Sa Bok yang menolongnya. Prolog yang muncul adalah pesan dari Hinzpeter kepada Sa Bok untuk menemuinya; sekadar ngopi untuk mengenang perjalanan mereka dari Seoul ke Gwangju!
Perdebatan Man Seob dengan seorang militer yang menghalangi mereka ke Gwangju - variety.com
A Taxi Driver, sebuah penggalan sejarah dari kacamata seorang sopir taksi. Kemasan yang apik, ending yang menyedihkan namun dibuat dengan penuh dedikasi kepada Kim Sa Bok, maka jadilah film ini sesuatu yang menggetarkan. Meski banyak film Korea Selatan yang lahir pada tahun 2017, bagi saya film ini tetap menginspirasi dan memberikan nilai lebih dalam kesederhanaan. Apakah kamu telah menontonnya? 

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

10 comments:

  1. Uwah... jadi langsung kepengen nonton hohoho ada abang Ryu Jun Yeol
    reviewnya keren bang,,thanks for sharing ^_^

    ReplyDelete
  2. ebuset, liat trailernya aja udah mupeng, eh ditambah baca sinopsis ini bikin ga sabar :)
    mantep mas resensinya, jadi ga sabar pengen nonton...

    ReplyDelete
  3. suka sama ryu jun yeol. review film yg bagus. siap2 mau nonton juga.

    ReplyDelete
  4. film menarik yang membawanya baik direktur maupun aktornya meraih beberapa penghargaan. nggak sabar buat ikut ngicipin nonton salah satu film yang katanya terbaik ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wajar sih dapat banyak penghargaan karena memang bagus filmnya.

      Delete
  5. saya jaranv sekali nonton film korea tapi ulasannya pik saya jadi penasran dengan trilaiernya ,, cerita sungguh menarik diambil dari sudut pandang yang berbeda dan kopleksitas konflik yang berujung dengan akhir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tema berat tetapi dikemas dengan ringan itulah nilai jualnya, Awal.

      Delete