Segenggam Rupiah untuk ‘Jajan’ Anak Negeri

Pagi itu, matahari menukik dengan cepat sekali. Siswa-siswi yang terlambat tampak berlari menuju kelas masing-masing. Mereka menarik ransel lebih kencang dalam langkah tertatih, agar tidak ada buku berserak dari resleting yang mungkin saja terbuka. Wajah pias tentu terlihat jelas. Siap-siap berdiri di halaman sekolah dengan tiang bendera sebagai ‘pemanggang’. Celingak-celinguk mereka yang terlambat, ke segala arah. Mereka mencari di mana posisi kepala sekolah yang biasanya bersembunyi di sudut tak terduga. Diam-diam. Mengendap-endap; siswa-siswi dan kepala sekolah saling kejar dalam ketidaktahuan. Sampai akhirnya, kena!

“Kamu terlambat!?” berhadap-hadapan dengan kepala sekolah di depan pintu kelas adalah nahas yang tiada ujung. Satu langkah lagi, ia hampir saja mengucapkan salam kepada guru yang sedang menerangkan pelajaran. Senyum guru di dalam kelas – yaitu saya – bukan lagi sebagai pelipur untuk siswa yang terlambat. Padahal, jika sudah berada di dalam kelas, saya tanyakan alasan terlambat, nasihat sesaat, bebaslah tugas siswa itu dari beban panjang.

Namun, jika tertangkap basah oleh kepala sekolah yang sedang patroli, mereka tidak bisa berkutik. Seorang siswa akan dikuliti kesalahan demi kesalahan; mulai dari baju yang tidak masuk ke dalam celana, celana yang kekecilan bagian bawah, sepatu tidak warna hitam sampai rambut yang panjang. Siswa yang terlambat mengikuti langkah kepala sekolah ke depan tiang berbendara, tak ada alasan untuk menolak hukuman sementara guru di kelas sudah 15 menit menerangkan pelajaran.

Berlalu begitu saja, hampir tiap hari ada siswa maupun siswi yang terlambat ke sekolah. Jika bernasib baik, berhasil masuk ke dalam kelas dan menjabarkan alasan-alasan yang mungkin, bisa juga tidak mungkin, kepada guru.

“Saya beli nasi tadi, Pak!” ujar seorang siswa yang berhasil masuk tanpa melewati ‘pos’ ronda kepala sekolah.

“Saya isi bensin tadi, Pak!” ujar siswa lain dengan alasan yang masuk akal.

“Saya telat bangun, Pak!” alasan yang biasa, klise, dan terus mengalir jika tiap hari terlambat.

Namun, dari semua alasan itu adalah; membeli nasi di warung dekat sekolah. Antrian beli nasi yang panjang, waktu yang berburu dengan cepat, nasi tak dibeli akan membuat perut meradang. Maka, saya tidak mempermasalahkan mereka yang memberikan alasan tersebut meski terjadi begitu terus. Daripada mereka pingsan, mereka lapar, tidak konsentrasi, saya biarkan 10 menit untuk ‘menyimpan’ uang jajannya kepada penjual nasi pagi itu.

Siswa dan siswi saya adalah sebagian kecil dari generasi saat ini yang terlibat aktif dalam tukar-menukar rupiah. Bicara cinta, tentu mereka mencintai rupiah lebih dari apapun yang dimiliki sejauh ini. Saya termasuk guru yang kerapkali mendengar keluh-kesah siswa dalam banyak hal. Soal cinta rupiah ini, terlihat dari beberapa siswa yang pandai sekali mensiasati uang jajan. Ada dari mereka yang membeli nasi pagi Rp.5000 namun tidak menghabiskan jajan sebesar Rp. 10.000 saat jam istirahat. Ada pula yang juga membeli nasi pagi, tetapi tidak sanggup menahan jajan di jam istirahat, bisa menghabiskan Rp.2000 sampai Rp.3000 bahkan sampai habis semua jajan yang diberikan oleh orang tua.

Dari mereka yang menyisihkan uang jajan dari hari ke hari, saya pikir telah mencintai rupiah – masa depan mereka – akan hal-hal sensitif setelah itu. Duduk bersama beberapa siswi yang memiliki perencanaan itu, saya mengulik tentang hal demikian.

“Suka simpan saja, Pak. Kan kalau disimpan banyak nanti bisa beli pulsa internet, hehehe!” saya terkagum seketika, toh mereka nggak mesti meminta uang lagi untuk kartu paket atau pulsa internet di zaman smartphone ini.

“Buat jaga-jaga saja, Pak. Saya nggak tahu besok Ibu ada uang atau nggak,” pemikiran yang lebih dewasa. Sehari dirinya simpan Rp.1000 saja, dalam sebulan bisa menyimpan Rp.30.000. Jika lebih, barangkali simpanan itu sangat membantu keuangan dirinya dan orang tuanya.

“Buat bekal kelas tiga, Pak, kan kami ada rencana mau jalan-jalan,” alasan lain yang masuk akal karena memang tiap tahun siswa-siswi kelas tiga – dua belas – akan melakukan liburan sebelum ikut ujian akhir nantinya.

Di lain waktu, saat saya memberikan tugas tetapi harus diprint atau mungkin harus mengopikan materi ajar, saya memberikan alternatif kepada mereka. Saya memang tidak menyebut, bahwa mencari uang itu sulit. Tetapi, saya memberikan sebuah kebiasaan untuk mereka dalam hal ‘menabung’ meski kemudian dibelanjakan untuk kebutuhan sekolah.

“Nah, saya ada tugas untuk kalian kerjakan. Tugas ini harus kalian perbanyak sendiri,”

Keluhan langsung terdengar di barisan siswa. Mereka keberatan, sudah saya duga. Kericuhan terjadi sesaat sebelum saya kembali menenangkannya.

“Saya tahu, saya paham, kalian susah sekali meminta jajan tambahan. Tapi, kalian bisa siasati dengan menabung tiap hari. Tugas ini kalau dikopi habisnya sekitar Rp.6000, dari jajan itu seminggu ini kalian sisihkan Rp.1000 saja,”

“Nggak mau, Pak!!!” siswa-siswa masih keberatan.

“Kalian masih bisa jajan, kok, cuma dikurangi saja dalam seminggu ini. Nanti, setelah tugas ini selesai dikopi, kalian bisa bebas mau menyimpan lagi sisa uang jajan atau menghabiskan semuanya!”

“Itu kan buat kami kelaparan, Pak,” suara melengking dari siswa yang biasanya ribut di kelas kembali terdengar.

“Saya misalkan, kamu dikasih jajan Rp.10.000. Agar kamu bisa mengkopi materi ini, juga tidak ‘kelaparan’ kamu pilih kue yang besar-besar, minum dalam bungkusan besar atau air putih saja,”

“Nggak kenyang, Pak!!!” masih tetap protes.

“Jangan didengar, Pak, anak cowok memang begitu!” Suara teriakan kembali menggelegar saat protes dari seorang siswi terdengar. Singkat dari cerita itu, sebagian besar siswa dan siswi menuruti arahan saya dan berhasil mengkopi materi ajar yang tidak tersedia di pustaka sekolah. Mereka yang tidak mengkopi, kalang-kabut mencari contekan saat ulangan harian dan ulangan tengah semester.

Di cerita lain, sambung-menyambung dari apa yang sebenarnya tidak terpikirkan oleh saya sendiri. Seorang siswi datang menjumpai saya dan dengan bangga memamerkan buku tabungan miliknya.

“Pak, saya berhasil menabung di bank!” ujarnya terharu. Saya pun demikian. “Saya turuti saran, Bapak, kan, terus saya lihat sudah banyak uang jadi saya putuskan simpan di bank saja!”
Menabung sejak dini salah satu bentuk cinta rupiah.
Apapun itu, jika lama ditumpuk akan menggunung. Saya hanya ‘menyarankan’ untuk mereka mencintai rupiah dengan caranya masing-masing. Saya tidak meminta pula untuk mereka menyisihkan jajan tiap hari, dalam jumlah banyak, tetapi apa yang telah dilakukan oleh siswi ini patut saya apresiasikan. Saya salut dengan usahanya melakukan itu dan saya juga bangga dengan apa yang dilakukannya, menahan ‘lapar’ seperti definisi siswa-siswi lain yang tiap hari menghabiskan uang jajan mereka.

“Kamu tidak jajan?” sengaja saya tanya kepadanya.

“Jajan, Pak!”

“Kamu sarapan? Nggak beli nasi di warung” – seperti kebiasaan siswa-siswi lain.

“Saya bawa bekal, Pak! Tapi…,”

Tapi?

“Kalau nggak lapar, saya nggak jajan lagi waktu istirahat!”

Cinta rupiah yang seorang siswi ini lakukan membentang harapan ke langit yang sulit saya jabarkan bagaimana lukisan awan di sana. Pemikirannya sudah diluar ekspektasi saya sebagai seorang yang telah dewasa; di mana sulit sekali memasukkan selembar seribuan dalam celengan berbentuk ikan mas. Lalu, saya mencari tahu tentangnya yang ‘nekad’ membuka buku bank. Meski sisihan rupiah tiap hari sudah bisa ditabung di bank, tetapi statusnya sebagai pelajar mungkin akan kesulitan dengan ADM bank tiap bulan, jika tidak ada tabungan yang masuk ke rekeningnya secara berkala.

“Saya juga dapat BSM, Pak!” ujarnya dengan girang. BSM sendiri adalah bantuan siswa miskin yang memengang Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau terdata sebagai keluarga kurang mampu dengan beberapa persyaratan. Hal ini tentu sangat membantu aktivitas menabungnya di bank. Sejumlah dana yang masuk dan ditambah lagi dengan tabungannya sendiri, saya bisa pastikan bahwa masa depan siswi ini akan lebih cerah begitu duduk di bangku kuliah.

“Apa kamu tidak ambil BSM itu?”

“Ambil, Pak, kalau perlu baju sekolah atau sepatu, mungkin,” mungkin, mungkin juga tidak diambilnya. Saya tidak lantas membuka buku tabungannya, hanya meminta senyum saja untuk diabadikan. Saya malah berharap kisah siswa seperti ini menginspirasi banyak siswa lain. Tidak mudah mencintai rupiah di kala kebutuhan begitu banyak. Gaya hidup yang tak ada habisnya di masa remaja. Tetapi, saat dirinya berhasil menyimpan BSM dan menyisihkan uang jajan, adalah sebuah haru yang menderu di hati saya dan sulit untuk diungkapkan.

Kamu ‘cinta rupiah’ tidak saya sebutkan di hadapannya. Barangkali, dia tidak mengerti lebih dalam maksud perkataan saya itu. Namun apa yang telah dilakukan olehnya, sedikit sekali nilainya dalam beberapa pandangan, niscaya siswi saya ini telah mencintai rupiah sebagai mata uang – alat tukar – untuk mendapatkan sesuatu di masa depannya kelak.
Mereka tersenyum untuk masa depan.
Cinta rupiah tidak mesti dengan menabung dalam jumlah banyak. Dimulai dari hal kecil, maka hasilnya tidak akan pernah menipu kita di masa mendatang! 

Guru Blogger | Email: bairuindra@gmail.com

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

8 komentar

avatar

Jadi teringat masa-masa sekolah dulu, datang telat dengan segerombolan alasan itu hal biasa bagi siswa menengah atas. Untung aku nggak menjadi golongan orang-orang yang telat itu, kalau nggak langsung di cap sebagai kudis (kurang disiplin) oleh kepala sekolah. Jamanku dulu nabungnya di kotak bedak aja, belum bisa buka tabungan sih. Tapi, alhamdulillah untuk urusan fotokopi-an tidak perlu minta uang sama orang tua lagi. :D

avatar

setuju, cinta rupiah dimulai dari nominal terkecil, adik ku nabung uang koin rupiah, pas dibuka hasilnya banyak

avatar

Belajar menabung dari kecil ya Yel, bagus banget untuk masa depan :)

avatar

Iya, harus mbak ya dimulai dari hal kecil maka lama-lama akan menggunung :)

avatar

Tapi kalau keluar negeri contohnya ke Malaysia, rupiah kita lumayan anjlok. Waktu nukar ke ringgit dari ratusan ribu cuma dpat brapa rtus ringgit saja.

Tp wlau bagaimanapun kita harus cinta rupiah, smga rencana redonominasi rupiah bsa berjalan dan berhasil.

Nice post bg!

avatar

trenyuh bacanya...

setuju mas, sama ini "Cinta rupiah tidak mesti dengan menabung dalam jumlah banyak. Dimulai dari hal kecil, maka hasilnya tidak akan pernah menipu kita di masa mendatang! "

avatar

Terima kasih DekMat, dimulai dari hal kecil saja semoga kita makin cinta rupiah ya :)

avatar

Terima kasih Mas, semoga generasi muda lebih sadar akan hal ini ya.