Resolusi Itu, Tentang Pertemuan dengan 'Goblin' di Negeri Wanna One


Wanna One tanpa Kim Jaehwan ibaratnya kimchi tanpa cabai dan garam. Hentakan nada yang begitu menggelora seakan bagai lagu irama datar jika tidak ada tarikan kencang main vocal. Nada tinggi dari seorang main vocal di grup-grup K-Pop telah menjadi ciri khas. Maka, suara melengking Jaehwan berada di antara nada-nada tinggi atau nada susah lain yang tidak mampu dijangkau oleh kesepuluh ‘pemenang’ survival Produce 101 Session 2.

Pesona Wanna One adalah satu dari sekian ‘reproduksi’ industri hiburan Korea Selatan yang menusuk ke seluruh dunia. Grup vokal generasi pertama mungkin tidak begitu familiar, lantas grup vokal generasi kedua menghipnotis dunia dengan lagu-lagu yang benar-benar menarik. Kita sebut Super Junior, Girl Generation, Wonder Girl, Big Band dan lain-lain. Lantas, generasi ketiga melanjutkan estafet ‘promosi’ Korea Selatan ke penjuru dunia dengan pesona yang benar-benar tidak bisa diabaikan. Mereka adalah EXO, BTS, Twice, GFriend, Red Velvet dan beberapa grup lain, kemudian sampai kepada Wanna One.

Pesona musik lalu membayang kepada drama seri dengan tema-tema unik dan dikemas dengan menarik sampai menjadi candu. Winter Sonata bisa disebut sebagai salam pembuka bahasa hangul yang berhasil menghantui dunia. Lalu Full House menjadi sebuah drama ringan yang menjadi kenangan manis berikutnya. Tak lupa, Boy Before Flower menjadi salah satu drama yang menarik bahkan diputar berulangkali sampai saat ini oleh televisi yang membeli hak siarnya. Berpacu dalam irama yang pas, komposisi yang benar-benar alot, kemasan yang enak dilihat dan alur yang berbelit tetapi mampu meninggalkan bekas. Drama Korea menjadi hentakan ‘bom’ yang meledak begitu saja, meski hanya tayang sampai 16 episode. Descendats of the Sun menjadi sebuah drama yang membuat penonton terpukau, bahkan dari kalangan yang selama ini sama sekali tidak menyukai drama Korea Selatan, atau menganggap drama dari negeri ginseng ini adalah pengantar tidur yang manja.
Monumen Song Jong Ki dan Song Hye Kyo di Taebaek, lokasi syuting Descendats of the Sun - hellokpop.com
Drama populer sudah pasti membawa pengaruh besar kepada pemerannya, penulisnya, produser, sutradara, rumah produksi bahkan televisi yang menayangkannya. Namun, berbeda dengan drama-drama dari negara kita atau drama impor dari beberapa negara lain. Ciri khas dari drama Korea Selatan adalah mengenalkan tempat wisata, suasana kota yang adem, damainya hidup di sana, makmurnya kehidupan mereka, sampai teknologi terbaik dari hasil produksi dalam negeri. Lantas, promosi tersembunyi – ada juga yang ditayangkan berkat kerjasama dengan lembaga pemerintah – membuat wisatawan berbondong-bondong merujuk Seoul sebagai kota yang asyik untuk dikunjungi.

Misalnya, kafe tempat pertemuan malaikat maut dengan kekasihnya dalam Goblin menjadi sebuah tempat yang seakan wajib berdiri di depannya jika ke Korea. Lokasi syuting Descendats of the Sun di bekas tambang batu bara Taebaek, Provinsi Gangwon, digadang-gadang tengah menjadi objek wisata lainnya. Jauh sebelum itu, Nami Island adalah destinasi ‘wajib’ bagi wisatawan mancanegara kala telah mencap pasport di imigrasi Korea Selatan. Nami Island adalah bukti di mana pemerintah Korea Selatan sangat serius mengarap apa yang telah divisualkan dalam drama menjadi nyata. Winter Sonata yang pernah tumbuh di pulau ini kemudian menjadi sebuah keabadian hakiki dan saksi sejarah akan kemajuan negara tersebut.
Monumen pemeran utama Winter Sonata di Nami Island - thepoortraveler.net
Maka, siapa yang tidak tergiur dengan Seoul atau Pulau Jeju di Korea Selatan? Saat ditanya sebuah resolusi, tidak bermaksud untuk menafikan hal-hal sensitif dalam aktivitas keseharian, tetapi Seoul adalah sebuah resolusi yang menjadi mimpi terindah. Resolusi yang saya miliki bukan saja apa yang semestinya saya capai di tahun-tahun berikutnya, tetapi juga tentang cita-cita, tentang mimpi dan harapan yang membawa serta bahagia dalam tawa. Resolusi soal pekerjaan, soal karir, soal asmara, barangkali sebuah hal yang lumrah dan memang harus dicapai jika ada usaha.
Pulau Jeju yang indah - blogspot.com
Bubuhan cap di pasport dari petugas imigrasi Bandara Internasional Incheon menjadi sebuah resolusi untuk bertemu ‘Goblin’ di negeri Wanna One. Jalanan kota yang lengang di malam hari, tempat-tempat yang indah serta tata krama dari negara maju itu ingin saya gapai dalam sebuah nyata. Meski, untuk mencapai kepada resolusi ini membutuhkan tenaga yang lebih ekstra, saya pikir tidak ada yang salah dengan mimpi itu.

Pertengahan 2014, saya datang dengan tidak nyaman ke kantor imigrasi di kota yang kecil ini. Saya khawatir, petugas imigrasi akan bertanya ini itu saat saya menyerahkan berkas untuk pembuatan pasport. Kekhawatiran saya tidak terjadi saat mendaftar di loket pertama. Dengan keringat mengucur, hampir jam tiga siang itu saya berburu waktu ke bank untuk melunasi sejumlah biaya. Kembali ke kantor imigrasi, saya langsung diarahkan ke lantai dua untuk menemui petugas yang mengurus pembuatan buku berhalaman 48 itu.

Saya termangu dalam diam, dan menghitung denyut nadi yang seakan kendur. Dua orang duduk di barisan depan, seorang dipanggil terlebih dahulu. Wawancara singkat dengan petugas yang memintanya menghadap ke kamera.

“Ke mana buat pasport?” tanya petugas dengan badan tegap itu sedikit sinis.

“Malaysia, Pak,” jawab pemuda yang saya taksi berusia 25 tahun ke atas.

“Mau kerja kau di sana?” masih dengan nada yang sama. Nyali saya ciut.

“Iya, Pak,” jawab pemuda itu gugup.

“Yakin kau dapat kerja?” sinis itu makin tak karuan. Saya menyela dalam hati, apa urusannya orang dapat kerja atau tidak.

“Sudah ada, Pak?”

“Ilegal?” kalau ilegal buat apa dia bersusah payah ke imigrasi, nggak usah pakai pasport bebas saja dia berangkat, pikir saya waktu itu.

“Tempat saudara, Pak,”

“Bukan perusahaan? Mana sanggup kau kerja kalau begitu,” dialog panjang yang tak usai dan terulang kembali kepada temannya, pemuda yang duduk di depan saya dengan gigi gemerutuk.

Tiba giliran saya, dengan sedikit gemetar menyerahkan berkas dalam map ke tangannya.

“Malaysia juga kamu? Cari kerja juga? Apa di Meulaboh – Aceh – nggak ada pekerjaan buat kamu?” saya gagap dan kalut. Ini petugas imigrasi apa rentenir yang ingin menagih utang. Saya makin tidak nyaman dan ingin buru-buru keluar dari ruangan itu. Saya melirik ke belakang, hanya bangku kosong di pukul mendekati angka empat sore.

“Jangan kau tergiur kerja di Malaysia kalau di sini masih banyak pekerjaan,”

“Saya mau liburan ke Korea, Pak!” pangkas saya. Tiba-tiba dan menjadi ‘resolusi’ kala itu juga, meski entah kapan itu akan terwujud.

“Tegakkan badan,” ujar petugas itu mengabaikan jawaban saya yang mungkin saja tidak terpikirkan olehnya. Tanpa sadar, gambar saya telah diambilnya. Saya menggerutu kenapa tidak ada aba-aba darinya, saya yang tidak setampan dirinya sangat berharap foto di pasport nanti terlihat lebih keren. Entahlah. Saya melupakan itu.

“Seminggu lagi kau ambil pasport ini ya!” saya mengangguk dan dengan cepat menuruni tangga, lalu menarik pedal gas sepeda motor meninggalkan kantor imigrasi yang sepi di dekat pantai kota Meulaboh!
***
Batu terjal untuk mencapai resolusi itu tidak berhenti. Pasport yang telah siap seminggu kemudian terbengkalai karena tidak ada keberanian saya ke Jakarta, mengurus VISA Korea Selatan. Pasport itu tersimpan di dalam lemari sampai kemudian memiliki cap dari imigrasi Bangkok di Internasional Bandara Dong Muang. Awal tahun 2017 yang membawa ketidaksengajaan. Sebuah hasrat untuk terbang ke luar negeri setelah bertubi-tubi menulis artikel di salah satu situs toko online.

Tetapi, ‘resolusi’ saya membuat pasport adalah benar untuk terbang melintasi awan ke negeri Wanna One yang baru saja debut. Bukan karena pesona lagu-lagu mereka semata, jauh sebelum itu pesona hidup di Korea Selatan menghipnotis saya. Gedung pencakar langit yang indah terlihat. Sungai Han yang menjadi objek wisata menarik di tengah kota. Kali Cheonggyecheon dengan payung-payung maupun lampion menari di atasnya. Papan iklan dari aktor maupun artis terkenal di penjuru kota. Suasana teratur dan bersih dari segala sudut. Semua hal ini menjadi sebuah keinginan terpenting selain perbedaan musim yang mencolok.
Sungai Han yang kerapkali menjadi lokasi syuting drama populer - bomanta.com
Korea Selatan adalah resolusi; meski ini menjadi sebuah ‘hiburan’ yang menghabiskan uang tetapi sebelum sampai ke sana seakan mimpi panjang belum usai. Aturan main yang ada di negara maju ini benar-benar membuat saya salut. Misalnya, kewajiban wajib militer untuk semua pria. Padahal, untuk apa wajib militer lagi di saat Seoul menjadi kota dengan penetrasi internet tercepat dunia. Namun, budaya ini sangat menarik, elegan dan menjadi sebuah ‘promosi’ lain bagi penggemar K-Pop akan kebiasaan di negara itu. Pemberitaan seorang idola akan hiatus selama 2 tahun untuk menjalani wajib militer, ditangisi oleh penggemarnya serta disusupi oleh rasa kangen untuk segera comeback.

Begitu menarik, berjalan semestinya, dan juga seiringan antara tradisional dengan modern. Di saat negara lain melupakan jajanan pinggir jalan, Korea Selatan memiliki tradisi ini di malam hari dan bahkan hampir semua drama mempromosikan tenda-tenda dengan makanan babi panggang dan minuman soju. Di saat media massa cetak gulung tikar di beberapa negara, para aktor dan artis Korea Selatan dengan bangga menjadi model sampul majalah terkenal. Di saat orang lain berbangga menyantap makanan made in luar negeri, masyarakat Korea Selatan lagi-lagi mempromosikan kimchi, ramyeon, kimbap, jajangmyeon maupun tteokbokki. Dan di saat kunci rumah masih mengandalkan gembok, masyarakat Korea Selatan telah menggantikan kunci dengan perangkat elektronik – pintu dengan PIN.
Ramyeon adalah mi populer tidak hanya dalam drama yang selalu ada tetapi juga dalam beberapa promosi lain - blog.reservasi.com
Perpaduan yang menarik dan tidak ingin saya lewatkan dalam tiap scene drama maupun film. Scene ini pula yang ingin saya rasakan sendiri apabila resolusi itu terwujud di tahun depan. Kembali lagi, memang tidak mudah karena saya belum memiliki VISA Korea Selatan. Tetapi, dalam mimpi ada mimpi lagi dan lagi. Langkah yang tertahan hari ini, keinginan yang terpendam, kata hati yang terpanggil bisa oleh apa saja. Mungkin dari menulis blog, mungkin dari tabungan yang telah disiapkan, mungkin juga dari apa dan mengapa lainnya sehingga saya benar-benar menginjakkan langkah di negeri itu.
Wanna One, grup vocal rookie yang menutup 2017 dengan baik - wowkeren.com
Resolusi saya adalah sebuah mimpi, bertemu ‘Goblin’ di negeri Wanna One. Dan, bukankah resolusi itu berangkat dari mimpi-mimpi?

Comments

  1. aku pun juga pengen ngayal tahun 2018 lebih sering keliling indonesia dan luar negeri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo Ded, mana tahu khayalan itu menjadi kenyataan seperti yang sudah-sudah :)

      Delete
  2. aku lagi ngerayu pak suami kepingin ke Korea lagi, tapi backpacker, masih ketagihan pingin ke sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk Mbak, catat baik-baik di buku catatan harian mana tahu benar rejeki ke sana :)

      Delete
  3. Koreeeeeaaa, kapna giliran aku ksna ... smga bisa ngikutin jejaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo kita banyak berdoa semoga bisa sampai ke sana ya Mas :)

      Delete
  4. Sedia payung sebelum hujan, semoga sehat selalu mas...

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"