Friday, February 9, 2018

Dimanja Teori Menulis; Sampai Mata Berkabut Tak Ada Satu Tulisan Lahir dari Anganmu

Sebuah status dari Dee Lestari masa itu, saat merampungkan draf Serial Supernova: Gelombang, adalah dirinya duduk di warung kopi, menikmati hari dalam mengulik kembali jiwa Alfa Sagala akan bernapas melawan Si Jaga Portibi, serta ‘keanggunan’ para Savara dan lucunya kisah es cendol yang terasa begitu kuat melekat di hati pembaca. Dee juga ‘memamerkan’ coret-mencoretnya di papan pengumuman tentang alur, tokoh dan segala rupa yang akan dideskripsikan dengan kata-kata.
Belajar menulis adalah dengan menulis!
Jauh sebelum Dee duduk manis di warung kopi, J.K Rowling si ibu dari Harry Potter juga melakukan hal yang hampir serupa. Perjalanan kereta api dari Manchester menuju London pada tahun 1990 adalah perjalanan sebenarnya dari kereta menuju sekolah Hogwarts, yang stasiunnya harus menembus dinding bata. Imanjinasi J.K Rowling kemudian mengantarkan novel-novel fiksi serupa bertebaran di dunia. Kita mengenal cerita vampir tampan dalam Serial The Twilight Saga karya Stephenie Meyer. Tentu, kita juga tidak bisa melupa Serial Eragon, The Lord of The Ring maupun The Hunger Games.

Imajinasi yang merangkak tajam membuat penulis-penulis ini dikenal dunia. Mereka menulis apa yang disukai dan belajar dengan menulis pula. Novelis Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi adalah contoh cerita kehidupan diadaptasi ke dalam sebuah karya fiksi. Lalu Ahmad Fuadi mengikuti dengan kisah-kisah anak pesantren yang notabene pengalaman dirinya dalam serial Negeri 5 Menara. Jika mengulik lebih jauh, Habiburrahman ElShirazy adalah penulis Indonesia pertama yang membawa unsur sosial ke dalam fiksi – dalam hal ini kemudian membumi dan best seller ­– yaitu Ayat-ayat Cinta. 

Asma Nadia, salah seorang penulis yang dikagumi membubuhkan sebuah tanda tangan terindah kepada calon penulis, bahwa “Membaca adalah sekolahnya penulis, bergabung dengan komunitas penulis membuat seseorang terdorong menyelesaikan tulisannya!” Tak heran jika beberapa buku Asma Nadia difilmkan lalu sukses seperti Surga yang Tak Dirindukan. 

Sebuah pesan yang disampaikan oleh kakak Asma Nadia, Helvy Tiana Rossa, belajar menulis itu adalah dengan menulis. Beberapa kali saya bertemu dengan kakak beradik ini, pesan serupa selalu disampaikan dengan tegas dan lugas. Menulis dan terus menulis akan terasah sampai di mana kemampuan dan bahkan gaya bahasa yang menjadi senjata pamungkas seorang penulis. Seperti warna suara seorang penyanyi, gaya bahasa ini juga menjadi ciri khas yang tak tertandingi. Dalam lagu, kita mudah membedakan mana suara Fatin, Agnez Mo, Rossa maupun Kim Jae Hwan atau Taeyeon (karena saya suka K-Pop jadi wajib masukkan nama ini). 

Seseorang yang ingin belajar renang, tak akan mampu mendayuh sebelum dilempar ke sungai. Demikian pula dengan seorang calon penulis, penulis andal sampai penulis terkenal sekalipun bahkan ghost writer. Teori itu ibarat jembatan gantung, jika tidak dilatih berjalan di atasnya maka sampai jembatan itu usang pun kita tidak mampu melewati. Teori dasar menulis saya akui sangat penting; baik itu mengenai ejaan, tanda baca, penggalan kata maupun penggunaan huruf kapital. 

Semua orang bisa menulis, baik berdasarkan teori maupun menulis saja sedemikian adanya. Tetapi, pembaca akan enggan meneruskan apabila tanda koma hilang, titik terlalu banyak, judul huruf kecil semua, ejaaan banyak yang salah (bukan typo – salah tulis), maupun persoalan lain yang sekali baca akan dipahami dengan baik. 

Saya sendiri lebih banyak belajar dari buku-buku maupun artikel ilmiah yang telah melewati meja editor. Sering membaca novel membuat saya paham kaidah kepenulisan yang benar. Pada sebagian orang mungkin novel tidak ada artinya sama sekali. Tetapi, karena saya seorang penulis, saya butuh mesiu, saya perlu senjata, maka novel adalah salah satu bacaan ringan untuk belajar ejaan, tanda baca bahkan pola tulisan yang benar-benar menarik. Saat saya membaca novel Dee Lestari, saya kagum dengan gaya bahasa, penggalan kata yang dipakai maupun alur cerita yang meledak tak terduga. Saat saya membaca novel Kang Abik, kening berkerut untuk memahami tiap sendi pemahamanan agama dan ilmu sosial yang ada di kelasnya. Saat membaca novel Tere Liye, saya tahu bagaimana penulis mampu meramu tema ringan menjadi sebuah buku tebal sampai 400 halaman. Demikian seterusnya sampai saya menulis, lalu menuis, dan terus menulis! 

Jika tiap hari kau duduk manis di kelas menulis, tanpa menulis sekalimat pun, maka kau telah menghambur-hamburkan energi untuk itu. Namun, jika tiap hari kau duduk di warung kopi, dalam kesendirian, melahirkan tulisan pendek, tulisan panjang, tulisan coret-coret, tulisan penuh typo, tulisan dihiasi kesalahan ejaan; tetapi kamu telah menulis. 

Era Multiply dengan template warna-warni adalah masa di mana saya memulai tulisan galau, entah puisi maupun cerita yang jika dibaca saat ini membuat perih di dada. Tetapi, saya telah menulis, saya pernah menulis. Situs blog ini tumbang entah karena apa, berbondong-bondong kami pindah ke blogger dan wordpress. Di sini, saya juga belum move on dari cerita galau dan gusar hati. Saya mengawali 2011 dengan cerita penting nggak penting; tetapi senjata awal untuk saya menulis lebih baik. 

Saya mulai berlomba dan menulis di Kompasiana. Denyut nadi saya seolah berhenti, saya terpaku, lalu kelu. Seolah, saya telah menyia-nyiakan banyak waktu menulis selama itu. Saya berbenah. Membaca banyak tulisan orang. Membaca berkali-kali tulisan pemenang lomba yang bagusnya tidak bisa saya jabarkan. Saya ikut lomba lagi. Kalah lagi. Ikut lagi. Kalah lagi. Sampai pada batas lelah yang nyata, saya menang di tahun 2014. Sekalikah itu? Rupanya bukan, berkali-kali sampai saya bersenang-senang untuk itu. 

Saya tidak lupa belajar menulis. Saya tidak lupa teori menulis. Tetapi, cara belajar saya yang barangkali berbeda. Saya menulis maka saya belajar menulis. Saya pikir, setinggi apapun ilmu kepenulisan tanpa menulis satu paragraf saja, maka ia akan hilang ditelan asa. 

Kau akan mengenal sebutan mood. Kau akan mengenal istilah hilang ide. Namun, kau tidak akan mengenal itu jika menulis tiap waktu, suatu waktu, secara kontinu, baik tiap hari atau waktu yang telah ditentukan oleh jadwal yang padat itu. Orang sukses menulis kenangan tidak hanya untuk dikenang. Buya Hamka dikenang karena Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Ibnu Sina dikenang karena buku-buku kedokteran yang masih diadaptasi sampai saat ini. Bukhari dan Muslim adalah patokan perawi hadits sahih sepanjang masa. Di masa modern ini, Quraish Shihab adalah pemikir ulung yang menuliskan Tafsir al-Misbah 1 sampai 15 jilid. 

Mereka menulis, maka mereka ada. Lepas dari itu, mereka menulis, maka mereka belajar dari itu. Kita, tidak akan bisa mengedit tulisan tanpa menulis. Kita, tidak tahu bagus atau tidaknya tulisan tanpa menulis. Kita, tidak tahu tulisan itu sampai ke mana sebelum menulis. 

Kau ingin belajar menulis? Maka, menulislah jangan dimanja oleh teori-teori yang jika dikalikan bisa membeli sekarung nasi!

SHARE THIS

Author:

Teacher Blogger and Gadget Reviewer | Penulis Fiksi dan Penggemar Drama Korea | Pemenang Writingthon Asian Games 2018 oleh Kominfo dan Bitread | Contact: bairuindra@gmail.com

16 comments:

  1. Saya juga tak terasa udah satu tahun belajar menulis melalui blog. Biasanya nulisnya cuma di buku diari aja. Kalau penulis saya suka tere liye, kang abik, stepani meyer

    ReplyDelete
  2. Ulasan yang menarik, Mas..
    Setuju, belajar menulis ya memang dengan menulis....sehingga akan terasah ketajaman tulisan kita dari masa ke masa :)

    ReplyDelete
  3. untuk jadi penulis ya menulis, tapi juga harus banyak baca biar kosakatanya lebih beragam seperti tulisan dee yang banyak deskrispsi yang indah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, membaca adalah peljaran penting penulis.

      Delete
  4. Belajar menulis dengan menulis dan bermainlah dengan kata-kata :-)

    ReplyDelete
  5. Tulisan saya masih belum baik, masih terus belajar menulis dengan semakin banyak menulis

    ReplyDelete
  6. Entah apa yang saya rasa, tetapi melihat tulisan-tulisan lama saya itu bikin ketawa, sekaligus mikir kalo tulisannya sejelek ini lalu... ya, meskipun sekarang masih jelek juga. Tetapi, tetap ada peningkatan.

    Saya teringat pada kutipan "menulis adalah cara untuk menjadi abadi," dan itu cara yang digunakan oleh para penulis terdahulu.

    Tetap belajar menulis, dan tetap membaca buku para penulis.

    ReplyDelete
  7. Lanjutkan menulisnya gan, semoga sukses selalu

    ReplyDelete