Bangkok Sky Train dalam Tingkah Polah Kegantengan Pria Gajah Putih


DNA menghentakkan telinga, dibalut dengan nada-nada menggebu oleh Bangtan Sonyeondan, atau mungkin lebih dikenal dengan BTS. Lagu-lagu mereka saya akui memang tidak masuk ke dalam list putar, entah kenapa lagu dengan banyak bagian rap dan musik yang memengkakkan telinga kurang peka didengar. Beda selera mungkin, di mana saya lebih menyukai EXO atau Wanna One yang memiliki main vocalist dengan suara merdu. Chen dengan suara lengking, D.O Kyung-soo dengan suara berat, Jaehwan dengan cita rasa musik tinggi atau Minhyun dengan suara lembut dan menggoda.

Mungkin, mereka mendengar salah satu dari musik itu. Mungkin juga, mereka tidak melakukannya sama sekali. Saya ‘hanya’ tahu mereka dengan mesranya bercumbu dengan earphone dalam dinginnya BTS. Oh, ini bukan grupband Korea Selatan yang diawal saya sebut, ini adalah aroma menggelora dan penuh sentuhan tak sengaja dalam Bangkok Sky Train atau sering disebut BTS. Kereta api cepat di tengah kota Bangkok ini tergolong idaman banyak orang, berjejer mereka mengantri di pintu masuk pada jam-jam sibuk, terlebih sore sepulang kerja dan sekolah.

Berbaur dengan mereka yang beda suku dan juga bahasa, membuat saya seolah berpikir bahwa hari itu berlaju dengan kencang seperti lajunya BTS. Tak ada kata ‘sebentar’ atau ‘tunggu dulu’ di depan gerbang yang telah menanti mesin penggesek kartu masuk ke BTS. Gerbong kereta api cepat itu berdecit dengan merdu, berdiri di depan orang-orang yang menunggu, membuka pintu secara otomatis, di sisi kanan penumpang turun dan di sisi kiri calon penumpang naik dengan tergesa-gesa; berharap dapat kursi.
Stasiun BTS yang sepi, menunggu penumpang dan kereta datang.
Tak ayal, saya yang mengekor pada guide dengan langkah cepatnya, tidak bisa bernapas lega karena kursi BTS telah diisi oleh mereka yang elok fisiknya. Namun, di antara saya, dengan santainya mereka yang lain, tampan rupawan, seksi menggoda, memegang pegangan di atas kepala, kembali larut dalam lagu-lagu entah apa bunyinya dari earphone di telingannya. Sama dengan kami, saat guide kami menyebut tempat tujuan, mungkin mereka juga telah hapal betul berapa lama waktu akan sampai ke ‘rumah’ dengan selamat dalam lelah seharian.

Di stasiun tertentu, entah apa namanya, sama dalam bahasa Thailand dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris sepatah-patah, pintu BTS dibuka dengan cepat penumpang keluar dan diganti lagi dengan penumpang lain. Begitu seterusnya di stasiun-stasiun lain. Pemandangan tetap sama, mereka yang masuk terburu, mereka yang keluar juga dalam keadaan terburu, memasang earphone di telinganya. Mereka abai sekeliling. Mereka tidak berkutik dari layar smartphone di genggaman tangannya, meskipun pada menit-menit berlalu rem BTS berderit kuat sekali.
Sebelum naik BTS, calon penumpang harus memiliki kartu ini dulu yang dapat ditebus di stasiun.
BTS itu tak pernah sepi dari waktu ke waktu. Mungkin sore, adalah puncak kepadatan itu terjadi. Kereta api cepat itu melaju kencang, musik yang terdengar dari penumpang di samping saya juga kencang sekali. Saya malah mengira, penumpang itu telah kebal dengan suara melengking sampai keluar earphone.

Dan, seolah tidak ada yang berwajah biasa-biasa saja dalam BTS ini. Silih-berganti penumpang yang datang adalah mereka yang terpoles dalam kegantengan dan kecantikan ‘gajah putih’ serupa dengan yel-yel negara mereka. Lihatlah bagaimana pemuda tampan ini abai terhadap penumpang lain, ia memutar musik, menikmati perjalanan sambil berdiri namun tidak tahu ‘saya’ beserta orang lain mengarahkan kamera smartphone ke dirinya.
Memotret yang tampan di dalam BTS, 'dia' juga ketahuan melakukannya.
Penantian yang panjang tetapi terasa melesat cepat sekali. BTS itu menurunkan saya bersama yang lain di stasiun dekat pusat perbelanjaan termewah, Siam Paragon. Dan lagi-lagi, di jalan setapak, langkah kaki cepat, earphone terpasang dengan kuatnya di telinga mereka. Saya tidak tahu irama apa yang didengar. Entah pula apa yang mereka lihat dari layar smartphone, mungkin juga menengok jual beli online yang menarik minat. Mungkin juga, mereka hanya memutar-balikkan layar dalam jenuh perjalanan.

Tak mungkin pula mereka mencari promo tiket lebaran, kecuali saya yang melakukannya. Cepatnya waktu, naik-turunnya penumpang dari BTS, gerak langkah yang tak terbendung, adalah irama yang lebi menarik dan tidak boleh saya lewati. Kesibukan masing-masing dalam BTS yang mungkin dari earphone juga keluar musiknya BTS, menjadi nikmat yang kemudian saya syukuri. Bahwa, di negara itu tak ada kata untuk melambankan langkah, tak ada waktu untuk ngobrol panjang bersama teman, tak ada pula waktu untuk menikmati alam yang gaduh dengan kendaraan!
Wajah lelah seharian mengitari Bangkok.
Semua berirama. Semua menarik mata saya. Dan semua membuat saya ingin kembali, mungkin nanti, mungkin kapan-kapan lagi!

Comments

  1. What i don't realize is in fact how you are no longer actually much more well-appreciated than you might be right
    now. You're so intelligent. You understand therefore significantly with regards to this matter, made me personally believe it
    from so many numerous angles. Its like men and women don't seem to be
    interested except it is one thing to accomplish with Lady gaga!

    Your individual stuffs outstanding. Always take care
    of it up!

    ReplyDelete
  2. Wah, kapan ya bisa jalan ke negeri Gajah Putih. :-)

    ReplyDelete
  3. Itu org sana ternyata kaya org Indonesia suka foto candid ga jelas ya bang :)

    ReplyDelete
  4. Wah bangkok... Semoga bisa ke sana

    ReplyDelete
  5. keren banget dari dulu pengen banget ke thailand tapi blm kesampean. suasananya bangkok itu indah, wajahnya sama seperti kita. kapan ya kesana hehe

    ReplyDelete
  6. Tulisan sederhanan nan menyentuh. Saya 2 kali ke Bangkok blm jg nyentuh BTS, cm dpn stasiun doank haha

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"