Dua Turis, Dua Kebodohan dalam Bahasa ‘China’ yang Tidak Dimengerti



Saat itu, menerima e-mail dengan titah ‘undangan’ traveling menjadi idaman, berbunga meski hanya membaca subjek surat elektronik itu saja. Semula, saya memang tidak berharap banyak – bahwa – dengan menulis dapat menelusuri senja di langit negeri mereka yang jauhnya tak bisa saya jabarkan. Hanya waktu yang terus, menggebu, membingkai kenangan, dalam kubangan keelokan hari, meski panas atau gerimis menerpa sayap pesawat terbang yang saya tumpangi.

Begitu rasa menggiba pada kasih sayang di ruang tunggu, terminal keberangkatan, di bandar udara, tiap itu saya berharap bahwa waktu segera berlalu. Saya sering termangu, menatap mereka yang lebih dulu mengejar pintu pesawat yang nyaris ditutup pramugari cantik, dalam bingkai senyuman semanis permen yang mereka sodorkan – kadang ada kadang tiada. Earphone yang terpasang di dua telinga sekonyong-konyong telah habis memutar semua lagu yang tersimpan dalam memori smartphone. Padahal, jelas sekali itu hanya ilusi yang membunuh suntuk seketika tak mau pergi.
Pengalaman transit pesawat terbang.
Lain ruang tunggu yang disemuti oleh kebosanan, lain pula saat transit, dalam tergopoh-gopoh menuju gate yang telah tercoret di boarding pass. Bandara yang luas, berkelok dengan tangga seolah tak henti, mungkin akan tersesat bila saya lupa bahkan mungkin tidak mengerti arah panah di atas kepala kami. Klaim bagasi. Transit. Toilet. Semua memiliki panah. Semua diterjemahkan pula ke dalam bahasa Inggris.

Perjalanan jam 06.00, pagi menggelora dalam dingin, selalu membutuhkan energi lebih untuk mengejar penerbangan pertama dari Banda Aceh ke Jakarta. Pesawat terbang ‘Singa’ itu bisa saya sebut, selalu tepat waktu jika penerbangan pagi buta, lain halnya dengan penerbangan pada jam-jam sibuk lain. Dari tanah rencong ke Ibu Kota dengan maskapai ini membutuhkan waktu lebih kurang 5 jam dari waktu normal 2 jam 50 menit atau 3 jam perjalanan nonstop.

Pulang pergi, adalah hal yang wajar singgah di Bandara Kualanamu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Kira-kira 40 menit berjalan untuk mengganti penumpang yang turun di Medan dan berangkat ke Jakarta. Kejenuhan terjadi tak bisa dialamatkan kepada siapa bila pengumuman menjerumus kami untuk tetap di dalam pesawat terbang, dengan tanpa hiburan apapun. Kegundahan dalam waktu menerpa hati saat pramugari mengumumkan untuk turun ke terminal kedatangan, melapor kembali ke petugas darat untuk melanjutkan dengan pesawat berbeda atau dengan nomor penerbangan yang sama.
'Lorong-lorong' di bandara yang selalu panjang.

Di Mei 2017, hampir separuh waktu berlalu, saya pulang dengan segenap harapan dan melupakan kenangan di Ibu Kota. Pesawat kami terbang tinggi di langit Jawa, lalu berjajar dengan awan di atas Sumatera, pukul 11.50, sepenggalah. Dua jam lagi, pesawat itu akan merapat ke ‘dermaga’ di Deli Serdang. Di pengumuman keberangkatan, suara indah itu telah menyebut bahwa penerbangan ini transit di Medan lalu ‘berlabuh’ kembali ke Banda Aceh.

Suing mendera, pesawat dengan logo orange di ekor dan sayapnya itu direm atas landasan pacu. Tergopoh penumpang asal Medan turun ke ‘rumah’ mereka dengan selamat, atau penumpang yang ‘singgah’ ke Medan memburu waktu agar acara tak terlewatkan dalam semenit. Kami menunggu pengumuman, masa yang tak lama, ujar pramugari itu, lebih kurang begini, “Kepada penumpang transit agar dapat turun dari pesawat udara dan melapor kepada petugas darat,”

Mau tidak mau, bagasi kabin harus dikeluarkan. Ikut antrian di lorong kabin yang sesak. Lalu, bergegas menuju petugas transit yang entah di mana. Lurus. Belok kanan atau kiri. Naik turun tangga. Saya merasa kasihan – terkadang – kepada mereka yang menarik koper ke atas kabin. Saat ganti pesawat begini, lelah dalam keringat di siang terik tak bisa dijabarkan kembali. Nahasnya, jika pesawat yang diganti adalah pesawat yang sama, akan duduk di kursi yang sama, kesal itu tak tahu mesti diteriakkan kepada siapa.

Di sini, bermula dua kebodohan, dari dua turis yang mengangga menatap papan pengumuman di atas kepala kami. Semula saya tidak mengubris, saya pikir, turis China itu tahu ke mana tujuan dan apa yang mesti dilakukan. Meskipun, saya kasihan mereka tidak tahu suara-suara bising berujar apa di lingkaran kami.

Saya menaiki tangga, berjalan di atas kapet yang serasa seperti karpet merah ajang penghargaan film dunia. Dua China dengan mata sipit – semua orang juga tahu mereka dari negeri Tirai Bambu – menguatkan diri dalam bahasa Mandarin. Saya tak paham. Tentu, karena saya lebih suka drama Korea Selatan sehingga tahu bentuk bahasa Negeri Ginseng dibandingkan bahasa Jackie Chan. Dua turis China itu terus bercakap-cakap, menunjuk penumpang yang turun tangga atau penumpang lain yang berjalan lurus.

Saya beberapa langkah di belakang dua turis China yang gamang dan terhenti langkahnya di sisi tangga, atau lanjut mengikuti penumpang lain yang rata-rata berjilbab – perempuannya. Dalam hati, saya didesak untuk menegur. Di sisi lain, saya malah kelu mengingat bahasa Inggris yang benar-benar bagai kambing jantan naik tangga. Namun pias di wajah keduanya membuat saya iba. Saya tegur. Terbata dalam bahasa Inggris yang saya sendiri malu menulis bentuk percakapannya di sini.

Saya pikir saya adalah ‘turis’ yang tidak beruntung. Saya cukup mampu mengerti tiap kata yang tertulis dalam bahasa Inggris di papan pengumuman terminal kedatangan ini. Namun keberuntungan sepertinya lebih tidak memihak kepada dua turis China ini. Saya menyapa dalam bahasa Inggris ‘standar’, keduanya melongo dan mengerutkan kening.

Kebingungan saya melanda. Saya sepertinya salah alamat, menyapa kedua turis China ini. Mungkin, mereka pikir, saya entah siapa dan mengapa menyapa mereka yang tak perlu bantuan sama sekali. Lantas, saya membungkukkan badan ala orang Korea Selatan, dan mengangkat kaki mengejar ketertinggalan penumpang lain yang telah menyentuh pintu masuk ke ruang ganti pesawat.

Saya tidak mau di pengeras suara itu nanti, keluar nama saya sebagai ‘panggilan terakhir’ yang masuk ke dalam penumpang yang kemungkinan ditinggal terbang. Langkah yang belum tersentuh ke karpet bukan warna merah itu seolah ditarik kembali ke belakang. Bapak China itu menepuk pundak saya, ia menyodorkan boarding pass dan menunjuk tujuan perjalanan mereka.
Ruang tunggu yang tidak pernah sepi.

Oh, ini bukan alamat palsu. Saya tidak salah menegur dalam bahasa yang terbatas, di mana juga turis China itu sama sekali tidak bisa berbahasa Inggris. Ada keceriaan dalam wajah saya yang memitam karena lelah. Saya terbata kembali dalam bahasa Inggris, dengan isyarat tangan ke ‘gerbang’ yang menutup otomatis itu dan mengisyaratkan juga untuk mengikuti saya.

Dua turis China, entah siapa dan apa namanya, tujuan mereka adalah ke Banda Aceh. Bicara andai kata, bila saya tidak berani menegur mereka yang terlena di depan tangga yang turun ke bawah itu, bisa saja mereka telah tertinggal di Kualanamu. Saya juga tidak sempat membaca nama Bapak China itu di boarding pass yang disodorkannya. Saya hanya mendahulukan mereka melapor ke petugas darat, yang mencoret gate dan nomor penerbangan, menggantikan dengan yang baru.

Dua turis China itu, dalam diam mereka menanti saya yang baru saja menyerahkan boarding pass kepada petugas dengan seragam putih di balik meja. Saya berbalik, dua turis China itu melempar senyum dan saya menunjuk gate mana yang harus kami tuju, yang sebenarnya mereka pasti paham karena itu berkenaan dengan angka. Entah kenapa mereka menunggu. Entah kenapa pula saya cemas terhadap mereka berdua.

Ruang tunggu yang sesak membuat kami berdiri. Saya sibuk memainkan smartphone dan kedua turis China itu mengamati sekeliling. Mereka tak bercakap. Saya pun demikian. Saya mau mengeluarkan jurus ‘pamungkas’ dalam bahasa Inggris yang terbatas, lebih khawatir lagi mereka tidak paham sama sekali. Saya mau berujar sedikit kata dalam bahasa Mandarin, yang terlintas di pikiran saya adalah annyeonghaseyo.

Banda Aceh. Banda Aceh. Disebut oleh petugas yang berdiri di pintu menuju pesawat udara yang membawa saya pulang, saat itu pula saya melihat ke kedua turis China itu. Bahasa kami adalah isyarat yang seolah-olah telah menjabarkan segala hal. Saya menyerahkan boarding pass kepada petugas itu, demikian pula dengan dua turis China. Saya menyelusuri lorong dalam hening, dua turis China itu juga tidak bercakap-cakap.

Saya masuk terlebih dahulu ke dalam pesawat, mencari seat di ‘ekor’ yang jauh. Dua turis China itu telah lenyap di antara seat-seat bagian badan pesawat yang kami tumpangi. Demikian pula, saat kami mendarat dengan selamat di Bandara Sultan Iskandar Muda, menuju senja itu, saya tidak lagi mendapati dua turis China dengan wajah pias mereka. Mungkin, mereka telah bahagia bertemu saudara China-nya, yang paham penggalan demi penggalan kata dalam lelah seharian.

Dua turis, dua kebodohan, dalam bahasa yang sulit dimengerti. Itu adalah saya dan dua turis China itu. Mereka dengan bahasa sendiri, saya juga demikian. Di akhir ini, saya selalu galau tentang bahasa yang sulit dimengerti. Namun keajaiban selalu datang untuk orang-orang baik. Entah, jika saya berada di posisi dua turis China itu di negeri terasing!

Comments

  1. Aduh... Kasihan banget Tyris China itu, mereka seperti orang buta yang kehilangan tongkat. Untung ada penyelamat yang baik hati dan rajin menabung inj

    ReplyDelete
  2. Sebagai traveler rutin, aku slalu brusaha utk bantu turis2 yg mungkin kebingungan ketika baru landing di bandara yg asing buat mereka. Krn bbrp kali, akupun slalu ditolong oleh orang ga dikenal begini saat di bandara :) .

    ReplyDelete
  3. wahh kirain pengalamannya di bandara china. hehehe.

    kadang-kadang saya juga suka mengamati orang-orang di bandara atau stasiun yang sedang kebingungan, kalau bisa, dibantu. karena kadang-kadang di tempat lain kita juga butuh dibantu kan. jadi ya saling membantu lah

    ReplyDelete

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"