Kuil Erawan; Aroma Kemenyan dan Sujud Doa di Tengah Kemewahan Bangkok


Seperempat waktu, mungkin kurang lagi dari itu, pernah saya lewatkan di tengah gemerlap, Bangkok, Thailand. Saya pikir, awal yang manis di pembukaan tahun 2017 setelah pertengahan 2014, passport tersimpan dengan ‘merana’ di dalam lemari pakaian. Usai galau yang panjang, kekhawatiran yang merebak, saya tiba di Bangkok dengan tarikan napas berat. Negeri Gajah Putih yang khas, kental dengan aroma ‘kemenyan’ dan ‘gajah’ di mana-mana. Lihat itu, saya seolah terdampar ke bawah langit Bali, yang seolah mendung tetapi terik mendidih isi kepala.

Dua aroma yang sama; kekhusyukan dalam ‘beribadah’ sesuai kepercayaan yang dianut. Jika Bali bersahaja dengan Brahmana. Maka, Bangkok adalah miliknya Siddhartha Gautama dengan patungnya hampir di tiap sudut kota. Hindu dan Buddha. Dua keyakinan yang berbeda dengan saya. Dua pengetahuan yang saya ‘hampa’ di dalamnya. Di mana, di dua tempat ini saya hanya melihat, meresapi, merasakan khidmatnya umat beribadah sesuai ajaran masing-masing.

Bali dengan candi-candi peninggalan Hindu yang kuno dan eksotik. Bangkok dengan gagah dalam patung-patung Buddha yang kokoh mencakar langit, bahkan berbaring dengan melankolis. Namun keduanya memiliki kesamaan yang kentara. Keduanya memiliki perbedaan yang serupa. Bali dalam adat dan budaya yang ‘tertinggal’ sedangkan Bangkok dikemas dengan sangat modern.

Saya menelusuri sudut kota Bangkok, di antara klakson kendaran yang padat di banyak ruas jalan. Gedung pencakar langit sama miripnya dengan gedung di kota besar lain yang pernah saya kunjungi, hanya saja arsitekturnya yang berbeda dan mencerminkan gaya ‘busana’ Bangkok yang pucat dalam kebisuan dan keheningan. Di selokan pinggir jalan, sulit sekali menemui sampah apalagi di tengah jalan setapak – trotoar. Kota ini bersih, sebut saya dalam hati. Kota ini berpacu dalam waktu, ujar sisi hati saya yang lain. Dan kota ini fashionable, kagum saya tak terkira.

Di perempat jalan, di sisi manapun hampir terlihat butik-butik dengan aneka pakaian ‘mahal’ dan pusat perbelanjaan seperti Siam Paragon, adalah konteks kemewahan yang tiada terkira. Saya memang tidak begitu baik dalam mengingat tiap kenangan maupun tempat yang pernah disinggahi. Hanya aroma yang menyengat tak bisa dilupakan begitu saja. Ini lantas menjadi alasan saya mengaitkan Bangkok dengan Bali, dalam suatu waktu tidak penting jika ingin menganalisisnya. Tetapi, jika kamu singgah ke negara tetangga ini, akan dengan mudah mendapati patung Buddha bahkan tempat peribadatan di tengah kota, di tempat terbuka, di bawah Bangkok Sky Train (BTS) yang melaju di jalurnya, di tengah sempitnya jalanan dan di semraut sopir taksi memarkirkan kendaraan mereka, saat menaikkan atau menurunkan penumpang.

Duduk dengan mata terpejam, menghayati alam dalam ketidakinginannya, patung Buddha itu dipayungi ‘emas’ berkilau; ramai dalam bau kemenyan dan berdesak mereka yang membakar dupa. Saya berdiri di dekat itu, lalu mendekat, melihat sejenak keriuhan, desak-desakan dengan mereka dari berbagai negara, dideru BTS dan cicitan rel kereta kota cepat itu. Di sini, Kuil Erawan berdiri dengan penuh pesona!
Kuil Erawan di tengah Kota Bangkok, Thailand.
Kuil Erawan di tengah kota Bangkok, dipugar di tengah-tengah jalan raya. Mudah saja turis singgah karena dekat dengan jalan setapak, tempat perhentian taksi, dan juga Amarin Plaza serta Hotel Grand Hyatt Erawan Bangkok. Seperti saya, tak sengaja dibawa oleh guide kami melintasi jalanan ini, saat sebenarnya kami ingin mencari taksi kembali ke hotel hari itu. Tak mau melewatkan pemandangan eksotik, saya mampir memotret dan mencari tahu tentang Kuil Erawan.

Unik di tengah kota mungkin menjadi nilai jual tersendiri dari Kuil Erawan. Patung Phra Phrom adalah representasi Thailand terhadap Dewa Pencipta, Brahma, dalam agama Hindu. Dibangun pada tahun 1956, Kuil Erawan dipercaya untuk mengusir kemalangan. Meskipun kuil ini milik umat Hindu, banyak sekali umat Buddha yang bersembahyang di kuil penuh kilau warna emas itu. Saya juga melihat, mereka yang bukan berwajah pribumi, bule-bule tampan dan cantik juga membakar dupa, lalu sujud dalam doa entah berdasarkan ajaran apa.

Orang-orang sembahyang tiada batasan di Kuil Erawan ini. Mungkin juga mereka ingin mengenang korban ledakan parah di 2015. Mungkin juga, mereka ingin meminta sesuatu dalam kekuatan Hindu agar pulang dengan penuh keberkatan ke negara masing-masing. Mungkin juga mereka ingin ditabahkan agar tidak tergoda dengan produk-produk bermerek di pusat perbelanjaan mewah dan mahal, di persimpangan Ratchprasong. Semua mungkin didoakan.
Siapa saja berdoa di Kuil Erawan.
Barangkali, doa pemberkatan menjadi hal menarik di Kuil Erawan. Irama yang didendangkan oleh pemukul gendang, dilenggokkan oleh beberapa orang penari dengan pakaian adat Thailand. Di depan penari, dua orang – bisa lebih atau kurang – duduk dengan kedua tangan dikatup, diletakkan di dada. Mata terpejam dan menunduk, seolah memohon agar semua keinginan segera dikabulkan. Mereka terus membungkuk sampai suara musik berhenti.

Lagu berhenti, mereka yang mencari pemberkatan lain bergantian bersimbah di tempat serupa. Irama diperdengarkan, rutinitas pemberkatan kembali digelar. Begitu seterusnya sampai usai semua ‘pendaftar’ yang telah mengantri panjang. Dalam aroma kemenyan dalam dupa yang terus dibakar, barangkali upacara pemberkatan itu telah membawa senyum kepada mereka yang melakukannya.
Upacara pemberkatan di Kuil Erawan.
Saya sempat mabuk dengan aroma kemenyan. Namun dupa yang dijual di dekat itu tidak bisa dihentikan begitu saja. Turis yang datang silih-berganti, terus membakar dupa di depan Patung Phra Phrom yang sebelah kakinya diturunkan dan sebelah lagi disilang. Gedung dengan papan iklan menarik pemandangan seketika. Jalur BTS di ruas kiri dan kanan juga demikian. Sedikit dalam cemas, saya seolah membayangkan BTS itu terjun bebas karena rem lepas seperti film-film laga. Rel BTS yang usang, mungkin karena terkena hujan dan debu; serta iklan-iklan berjalan di dinding-dinding BTS yang lewat.

Namun, tampaknya orang lain tidak begitu memedulikan BTS-BTS yang lewat di atas kepala kami. Di antara turis ada yang konsentrasi membakar dupa, bergantian dengan yang lain menempatkannya di sisi yang telah disediakan, dan juga ada yang masih mengantri untuk melalui prosesi pemberkatan. Entah doa apa yang terucap. Entah harapan apa yang keluar dari bahasa yang sama sekali tidak saya pahami. Mereka yang singgah dengan tatapan penuh harap, suatu kali pasti mendambakan harapan-harapan; seperti dapat jodoh sepulang dari Bangkok, bisa saja itu terjadi sama halnya seperti filosofi berdoa saat bintang jatuh.
Kuil Erawan yang berada di bawah rel BTS.
Lepas dari Kuil Erawan adalah kota Bangkok yang kemelut kemewahan namun dipadu dengan ringkihan mereka di kaki lima. Di dalam gedung bertingkat, boleh saja cemilan mahal dijual, atau pakaian gemerlap dipamerkan oleh model-model kelas atas. Namun di pintu masuk otomatis itu, pedagang kaki lima, mereka yang bersandal, tak bisa dilupakan begitu saja. Fashion yang kuat sangat berbeda dengan mereka yang hanya mengenakan celana sebatas lutut usang. Tas bermerek, sangat timpang dengan kantung plastik yang ditenteng oleh mereka yang lain. Promosi diskon besar-besaran di baliho besar, sangat berbanding terbalik dengan penjaja kaki lima dengan harga lebih murah namun belum laku dalam jumlah banyak.
Ketimpangan di kota Bangkok, Thailand.
Begitulah Bangkok. Mistis di tengah kota. Tidak seimbang pula di sisi lainya. Saya hanya melintas sebentar saja. Di jalanan padat, ke Kuil Erawan yang penuh dupa maupun ke Siam Paragon yang penuh kemewahan.
Rel BTS di tengah kota Bangkok.
Saat pulang di malam hari, aroma kemenyan dari dupa Kuil Erawan seolah banyak mengekor. Malam yang padat di Bangkok, jajanan yang dijual di mana-mana, membuat hidung ‘kelaparan’ tetapi kami harus tahan. Kami harus bertahan untuk tidak tergoda; karena sudah pasti sebagian besar makanan itu tidak termasuk ke dalam makanan halal. Waktu meninggalkan Kuil Erawan dalam malam pekat. Mungkin masih ada yang berdoa di sana. Mungkin juga tidak. Entah, jika saya kembali ke sini suatu saat nanti dan menengoknya di malam hari!
Malam di kota Bangkok, Thailand.

Guru Blogger | Email: bairuindra@gmail.com

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

3 komentar

avatar

nice sharing. Btw, ada post tentang budget ke thailand ini bang?

avatar

Hai Mas Suga, kebetulan saya belum menulis tentang itu. Tapi untuk belanja murah bisa ke Asiatique yang sudah saya tulis sebelumya.