Catatan UNBK dari Guru Honorer, Tak Ada Komputer ‘Sewa’ Pun Tidak

Fajar menyingsing begitu cepat. Padahal, semalam saya benar-benar tidak bisa tidur. Pola pikir yang beda. Kekhawatiran yang nyata langsung menghujam ulu hati soal keberhasilan hari itu. Kali pertama memang membuat jantung seolah berhenti berdetak. Pengalaman pertama adalah kegelapan yang membawa saya kepada titik terang kemudian. Saya bergegas, meski tidur tidak pulas namun mata tidak pula mengantuk.

Pukul enam pagi di sini, dalam kabut yang masih memeluk pagi, udara masih segar dari aroma pucuk padi habis dipotong, belum terlihat banyak bayangan hanya beberapa pejalan kaki yang berolahraga ringan. Saya menarik pedal gas dengan kencang sekali, sinkronisasi data dua hari lalu tidak lantas membuat saya senang. Walaupun hari itu adalah simulasi, saya tetap waspada pada apa yang mungkin akan terjadi.
Jalanan benar-benar sunyi. Sepuluh menit lewat begitu saja dan saya telah memarkirkan sepeda motor warna merah dan hitam di halaman sepi. Daun-daun dari pohon yang telah ditebang jatuh entah karena layu atau kedinginan. Mungkin juga ditampar embun dalam jumlah banyak. Mulai dari bawah itu, saya berlari ke kantor untuk menekan jari ke mesin fingerfrint yang disebut wajib pula untuk guru honorer.

Belum setengah tujuh saat saya membuka pintu laboratorium dengan 30 laptop dan sebuah komputer server di dalamnya. Saya menyibak tirai jendela agar sedikit terang, di mana matahari dari sudut timur langsung menancap ke dalam ruangan itu. Komputer server dihidupkan, jaringan LAN disambungkan, lalu satu persatu laptop di atas meja – milik siswa – dinyalakan. Saya menunggu 24 laptop menyala, sisanya adalah cadangan, saya mengetuk-ketuk meja dengan irama lagu Korea yang saya hidupkan dari smartphone. Irama pagi yang lebih berdegup daripada lagu beat itu.

Tujuh di layar jam tangan pintar saya menyala begitu saja. Semenit setelah itu, operator sekolah datang dengan napas sedikit terengah-engah. Di depan kami, 24 laptop telah memperlihatkan halaman login di aplikasi Exam Browser UNBK yang terkoneksi dengan Google Crome. Kedap-kedip nyala laptop juga seirama dengan jantung kami yang belum stabil. Setengah delapan, saya refresh komputer server dengan logout lalu login kembali sesuai arahan. Sayangnya, komputer masih Stand By berwarna biru yang artinya belum siap digunakan; di keterangan belum terkoneksi dengan server pusat.

Kami menunggu, harap-harap cemas. Anak-anak sesi pertama ricuh di luar laboratorium komputer itu. Jam delapan tepat, komputer kami belum juga terkoneksi dengan server pusat. Tentu saja, kami tidak lagi khawatir tetapi kalang-kabut. Entah komputer server kami yang tidak sempurna dalam sinkronisasi data, entah jaringan internet kami yang putus, entah karena faktor lain yang sama sekali di luar kendali kami.

Tawa di luar mungkin dalam cemas yang juga berlebihan atau mungkin demikianlah anak-anak zaman now – seperti orang sebut – tidak khawatir sama sekali. Operator menghubungi operator sekolah lain, ada yang sudah Aktif, ada yang masih Stand By, bahkan ada yang Offline. Saya gemerutuk dalam diri, menggoyang-goyangkan kaki dan menunggu waktu agar cepat berlalu. Saya ulangi logout login. Tidak ada tanda-tanda komputer server terhubung ke server pusat. Sebut operator, setelah menghubungi orang berkepentingan di dinas, katanya, “Server pusat belum dibuka, Bang!”

Saya melongo. Dalam hati, tentu menyesali sebagian pagi indah yang terburu dari biasanya. Waktu mendekati setengah sembilan ketika komputer server Aktif digunakan, warna biru yang sangat dinanti. Di status tes telah keluar Token – kode unik untuk akses ke soal di komputer client.

Anak-anak sesi pertama masuk dengan riuh, mungkin karena bosan menunggu lebih dari satu jam. Kartu ujian dibagikan kepada tiap siswa yang masuk. Kami tidak memberikan kartu ujian kepada siswa bawa pulang dengan alasan akan lupa bawa keesokan harinya. Kartu ujian ini tertera ID dan password untuk masuk ke aplikasi UNBK yang telah menyala di depan mereka. Selesai siswa login, kartu ujian kami ambil kembali dan simpan untuk besok diberikan lagi.

“Pak, tidak bisa login,” mulai gaduh saat satu dua siswa tidak bisa masuk ke sistem. Saya mulai tidak bisa mengatur napas, berlari di antara kabel, meja berhimpitan, menuju siswa yang mendadak pucat wajahnya. Saya telusuri, geram dalam hati tetapi tidak bisa disampaikan karena mungkin baru beberapa kali dirinya memegang laptop. “Kamu menekan 8 bukan *, masukkan ulang password dengan tekan Shift+*,”

Di sudut lain, siswa dengan kerudung yang telah basah oleh keringat pagi mendadak meradang. Dirinya telah berulangkali memasukkan token tetapi tidak berhasil juga. Saya tergopoh, dalam keringat yang tiba-tiba telah ada dalam ruangan yang hanya memiliki dua kipas angin itu. Saya mau memekik tetapi lagi-lagi tidak bisa melakukannya. “Kamu perhatikan, huruf mana yang tertinggal?” lalu siswa ini berhasil masuk ke soal ujian setelah memasukkan token dengan sempurna.

Berlari ke depan, tiba-tiba laptop siswa itu menjadi error, warna putih dengan deretan peringatan yang menyebutkan komputer tidak tersambung ke server. Saya menarik napas lebih dalam, menekan F5 lalu loading kembali. Saya minta ke operator untuk melakukan reset siswa yang baru bermasalah itu sampai dia bisa login kembali. “Jangan banyak tekan yang lain di keyboard, cukup masukkan ID dan password dan Submit!” dirinya mengiyakan, namun kejadian serupa terus terjadi sampai UNBK nantinya.
Sejenak saya menghela napas. Duduk di kursi kosong di belakang dengan secangkir teh yang tidak lagi panas bahkan hangat. Sepotong kue pagi juga terasa hambar ketika siswa di sebelah kiri berteriak minta tolong. Keterangan yang disebut, unplug, artinya kabel LAN terputus dengan laptop. Saya memasang kembali kabel LAN ke portable dengan posisi aman. “Jangan geser dan angka laptop!” tak lama kemudian siswa itu kembali bisa login setelah reset di komputer server.

Begitu terus terjadi. Sesi pertama masih dengan suasana tenang. Sesi kedua permasalahan sama terjadi saat matahari menanjak cepat. Sesi ketiga di siang hari adalah sabar dalam menghadapi error berkepanjangan. Hari kedua, dan seterusnya sampai Simuladi Gladi, siswa telah terbiasa dengan fenomena. Saya dan operator juga sudah terbiasa dengan keadaan, termasuk upload hasil ujian ke server pusat yang mau tak mau, dan butuh waktu lama.

Simulasi usai, gladi usai bahkan UNBK telah selesai. Namun, banyak sekali catatan saya terhadap ujian yang ‘dipaksakan’ bagi kami di sini. Mungkin benar, sekolah-sekolah besar dengan kemampuan tinggi, dukungan perangkat dan anak-anak terbiasa dengan teknologi, wajar ujian komputer diadakan. Tetapi kita Indonesia, negara kepulauan dengan pelosok-pelosok seperti kami yang tawa saja tertahan.

Mungkin lagi, engkau yang duduk manis di sana berujar UNBK wajib dan segala cara dilakukan untuk pelaksanaan. Namun, engkau yang terhormat tidaklah datang ke sini, tidaklah melihat bagaimana saya – kami – dikerumuti oleh ‘cercaan’ dan kekhawatiran anak-anak yang laptop mereka dijadikan pendukung ujian ini. Saya telah berbuih, berujar yang bukan hak sebenarnya karena yang harus bercakap demikian adalah yang punya kuasa. Seolah, saya yang mengemis kepada anak-anak tentang laptop mereka, memberikan waktu mereka berpikir, memberikan pemahaman, merayu agar mereka mau memberi.

Lepas UNBK, engkau yang berkuasa senang sekali karena sukses. Tetapi saya – kami – di sini diteror oleh anak-anak yang laptopnya bermasalah. Rayuan saya yang terdahulu entah ke mana bermuara. Saya telah meyakinkan bahwa laptop mereka tidak akan rusak secara perangkat keras maupun perangkat lunak. Barangkali sial selalu menyertai hidup saya, lelah yang panjang, dipangku pula oleh harapan anak-anak yang laptopnya telah bermasalah. Tentu ini diperbaiki, lalu bagaimana dengan laptop siswa lain? Ada 30 laptop siswa yang ‘ditidurkan’ dalam waktu lama di sekolah.

Saya ingin memberi gambaran – mungkin di sekolah lain yang serupa. Simulasi pertama dengan simulasi kedua selang waktu seminggu lebih. Gladi dengan ujian sebenarnya juga selang seminggu lebih. Engkau bisa bayangkan usai simulasi pertama, 30 laptop saya cek lagi, dikembalikan kepada siswa yang punya. Ketika simulasi kedua dimulai, laptop diminta lagi, lalu dikembali setelah usai. Begitu seterusnya sampai UNBK. Sekolah tentu tidak mau menginapkan sepanjang 2 bulan di dalam laboratorium itu di mana biaya penjagaan akan membengkak.

Bongkar-pasang kabel LAN ke portable laptop adalah tugas saya. Saya memastikan kondisi laptop itu ‘baik-baik’ saja namun tetap saja ada yang bermasalah. Saya berpikir, tidak mungkin selalu sempurna. Kekhawatiran anak-anak telah bermuara. Mungkin mereka tidak percaya lagi dengan ucapan saya. Mungkin mereka akan mengabaikan pelajaran saya. Tetapi, mesin itu begitulah keadaan. Sebaik apapun saya – engkau – menjaga, tetap saja akan merana suatu ketika.  

Mungkin ini hanya curahan hati saja. Mungkin juga saya kembali dianggap guru honorer yang tidak berkualitas. Saya ingin berbagi, saya ingin engkau tahu, bahwa kita telah memaksakan pendidikan begini begitu di negeri nan indah dengan tawa dan duka ini. Saya tidak yakin semua sekolah dari Sabang sampai Merauke memiliki sarana untuk UNBK. Saya yakin bahwa sekolah-sekolah lain juga melakukan hal yang sama; yaitu ‘menyewa’ laptop kepada siswa meskipun tidak ‘dibayarkan’ nantinya.

Apakah ada budget khusus untuk membeli komputer client? Jika tidak ada dalam Dana BOS, untuk apa memaksa kehendak? Saya tidak tahu. Kita telah memaksa, engkau lebih dari itu. Orang dewasa telah membuang waktu, engkau tidak mau tahu. Anak-anak khawatir laptop mati, engkau mana peduli. Kami hampir merasa dunia berakhir, engkau hanya peduli nama besar disanjung orang. Perangkat lunak bermasalah usai ujian, engkau hanya berkata biasa saja tetapi diam untuk mengeluarkan ‘seribu rupiah’ dari kantongmu. Jangankan engkau bertanya kami yang meraung lelah dari jam enam ke pukul enam, cuitan motivasi dari engkau tak kami terima. Padahal, ini lho kebiasaan pendidikan kita, kebiasaan pendidikan seluruh dunia; ujian akhir sekolah!

Begitulah potret ujian akhir sekolah negeri kita. Mungkin ini hanya dianggap ‘sampah’ cengeng dari seorang guru honorer tidak berkompetensi. Saya yakini, beberapa tahu ke depan hal ini terus terulang. Toh, sebut engkau tidak ada dana khusus untuk membeli sebanyak 30 komputer. Lalu, mengapa engkau wajibkan UNBK?

Tidak ada alasan menyebut orang tua siswa menanggung laptop. Itulah besar pasak daripada tiang. Besar mimpi daripada kenyataan. Meskipun saya tersedu menceritakan ini, tetap saja dianggap angin lalu. Mungkin juga engkau akan berkata, “Kamu siapa?”

Guru Blogger | Email: bairuindra@gmail.com

Post a Comment

"terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat"

3 komentar

avatar

Pemangku kebijakan seringkali melupakan kondisi sarana-prasarana di daerah.. Mereka hanya melihat Jawa sebagai tolok ukurnya.. Ini mesti dibenahi secara serius..

avatar

Sama halnya seperti di Kalimantan Barat, statusnya adalah 100% UNBK. Tapi kenyataannya??? Ada beberapa sekolah yang harus "mengungsi" ke sekolah yang memiliki infrastruktur dimana operasional yang dibutuhkan per siswa untuk mencapai sekolah tersebut cukup tinggi. Sudah cukup efisiensikah mekanisme pendidikan seperti ini???

avatar

Tamparan keras nih, pemerintah ingin bergaya, seakan-akan negara kita sudah keren mengikuti perkembangan teknologi dengan membuat sistem ujian komputer, padahal gak semua sekolah bisa seperti itu. semoga yang bersangkutan membaca artikel ini. semangat untuk guru-guru di Indonesia